Kamis, 03 Mei 2012

Ratu Malam Ellena


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti
Aku genggam terus sebuah asa,  yang terus  memenuhi hati ini. Asa yang kadang menyiksa dan menyisakan ketidak tahuan, bila aku dihadapkan pada temen sekelasku,Ellena. Terus saja cewek caem ini mengintai di balik tepi hatiku, mungkin pula saat alam tersenyum lahirlah cewek ABG  ini.
Gadis berambut model jadul, terurai hingga sebatas pinggangnya, dengan bingkai kacamata yang terus menghiasi wajah ayunya, dan dibalik itu sepasang mata anggunpun sempat menorehkan sebuah bilik di sudut hati ini. Aku coba hadirkan seabreg kembang setaman untuk menggantikannya, namun tetap saja jiwa ini terbelah hanya untuk dirinya.
Ellenapun terus terbujur dingin, bila aku terus membayanginya, hingga akupun menjadi semakin tak mengerti, ataukah hanya emosi hati ini yang membelitku.
Saat rampungnya UHT di kelas sebelas IPS, .Ellena terus saja berhias dengan senyuman happy di wajahnya. Baranghkali saja aku menemukan saat yang tepat, agar hati ini tidak bergayut pada bayang saja. Maka lantas sebuah appoinmentpun aku lontarkan. Saat dia di perpustakaan, dan entah wajah yang ayu  kaya rembulan tanggal 15 itupun menjadio merah, dengan sedikit rona warna merah jambu di pipinya. Baru kali aku ngliatin wajahnya yang paling kelihatan ayu itu.
Atau memang dia harus marah terus, agar  aku dapat melihat rem,bulan itu, dan terkadang sorot mata di balik kacamatanya itu menyorotkan sebuah protes keras akan keberanianku,  mencoba menautkan bilah hati ini.
“Aku nggak suka acara kaya gitu-gituan, Rud. Aku lebih suka di rumah aja mbantu mami” sebuah protes dia sodorkan pada aku.
“Nggak masalah kan, Cuma acara modelling untuk Best of The Best Ratu Semarang, kamu kan suka acara kaya gitu, kan ?”
“Eh. . .darimana kamu tahu aku suka itu”
“Biasanya kan kalau cewek suka acara kaya gitu-gituan, aku pengin ngliatin aktiongnya para finalis” akupun coba nggak mau nyerah begitu saja. Habis cewek kaya dia,  terus-terusan aja banyak cowok yang diatas aku berusaha ndapatin dia. Maka akupun pengin kaya Rudy yang sebenarnya.
“Maafin ya. Aku nggak suka ngliatin acara kaya gitu”
“Sekali kali dong Ell, kamu kan habis tegang belajar UHT ini”
“Ya biarin ini kan urusan aku sendiri “ wah galak juga cewek gedongan ini. Aku jadi habis, tapi tetap aja berpikir seribu kali untuk menundukan hatinya yang kaya batu karang lautan.
“Sekarang kan lagi mode rambut jadul, makanya nanti juga ada seleksi The Quen of Gratefull Performance”
“Apaan itu”
“Ya seleksei casual model khusus untuk  cewek yang penampilan alami, model jadul dari mulai dari kacamata, rambut, gaun dan nggak tahu ah...aku bukan pakar penata rambut dan model, yang tahu kan kamu” aku berhasil membuat dia mulai tertarik, seringkali wajah yang caem kini sering kali berada di depanku.
Matanya yang tadinya agak serius, kini mulai memberikan sorot yang exciting, mulai aku melihat bunga mawar merah jambu dengan semerbak menghiasi ruangan hatiku.
“Eh Rud, kamu tahu dari mana ?. Kok tahu segalanya, emangnya kamu juri atau pemerhati masalah modeling”
“Kebetulan Mbak  Reni, kakaku sering jadi juri da punya agency untuk training calon modeling”
“Jadi kamu mau promosi”
“Ya nggak juga Ell, Cuma barangkali kamu tertarik, minimal kamu ngliatin dulu, ntar kalau tertarik.  aku ajak ke kakaku, tapi aku so sorry lho Ell”
“Ya nggak apa-apa”
“Maka Ell, niatan aku mau ngajak kamu ngliatin acara model malam ini, mumpung UHT kita udah rampungan, nanti juga aku kenalin sama model-model nasional”
“Aku malu Rud”
“Ngapain malu, masa cewek kaya kamu pakai minder segala sih Ell”
“Ngenyek, aku kan anak kolong “
“Kamu anak gaul kok Ell, Cuma kadang kamu tertutup nggak seneng curhat”
“Kamu tahu dari mana”
“Buktinya tadi kamu keki sama aku”
“Sekaarang sudah nggak kan ?”
“Jadi nggak marah, kalau aku ajak ngliatin finalis modeling, berpose di Cat Walk”
“ Oke deh Rud, kamu bisa kerumahku ntar sore”
Langit sekarang menjadi runtuh berhamburan menerpa hatiku, meski masih tetap memberikan biru indahnya, Sementara  rumput hijau di sekeliling sekolah, yangh tadinya bisu mendingin, kini mulai bergoyang di terpa angin kemarau. Hati yang tadinya diterkam kesunyian, kini menggeliat menebas habis kebisuannya
Xenia yang keren yang aku pakai njemput Ellena, menjadi saksi akan mekar bunga, apalagi kini Ellena telah berada di sampingku. Aku lewati setiap jalan penuh lampu warna-warni menuju malam final pengukuhan medel The Best of The Best.
Ellena sudah bukan Ellena yang aku dekati tadi. Kini dia adalah The Prince of Paradise yang akan memiliki malam ini, akupun sudah merasakan terbang memenuhi setiap penjuru langit bersama Ellena.
“Jadi kamu sering ngliatin acara kaya gin Rud”
“Nggak juga Ell, palin kalau disuruh nemenin Mbak Reni”
“Lama lama kamu kan tahu modeling Rud”
“Aku nggak suka kok Ell, Cuma kasihan aja sama Mbak Reni, apalagi kalau butuh ganterin custom untuk model”
“Kamu seneng dong Rud, punya kenalan model anak gedongan, yang cuakep-cuakep”
“Ah biasa aja, Ell. Kalau udah sering ketemu rasanya nggak ada apa-apanya, paling Cuma tampilannya yang keren”
“Ah kamu sok idealis, kalau aku lihat kamu, kayanya suka punya temen yang gedongan dan caem”
“Penginya sih kaya gitu, Cuma mereka nggak bisa jadi temen yang bener-bener Ell. Nggak kaya kamu “
“Ah ngaco kamu” sahut Ellena dengan wajah tertunduk dan memerah semua rona wajahnya, seberkas yang bada di hatikupun kini aku sodorkan untuk dirinya. Barangkali dia juga mau aku jak untuk mengantarku terbang menuju semua penjuru langit. Memang malam ini adalah The Night of Ellena.
Sekali dia memandangiku dan kedua tatapan mata berbnarpun saling bertaut, sama seperti hati yang mulai mekar di serambi malamnya Ellena.
“Ellena, kamu senengkan melihat acara ini”
Senyum manislah yang menjawab pertanyaanku, sekali sekali Ellenapun terlena dengan kata hatinya, aku tahu dari sorot matanya yang nggak lepas dari catwalk di depannya, barangkali dia lagi belajar gaya para model yang punya reputasi seabreg.
“Aku suka Rud, lain kali aku ajakin lagi ya”
“So pasti princess”
“Apa maksud kamu”
“Malam ini kamulah ratunya dan kini menjadi ratu di hatiku” aku coba untuk ngomon apa adanya.
“Aku Ellen Rud, anak biasa-biasa aja, nggak seperti lainnya. Nanti kamu nyesel punya temen aku”
Tanpa ada jawaban secuilpun dariku, hanya aku rapatkan tempat duduku lebih dekat lagi dengan Ellena, dan diapun hanya memandangku dengan sendu namun dibibirnya masih menyisakan senyum keindahan. Dan malam inipun menjadi “The Night of Ellena”.

Cinta, Emangnya Kamu Berani ?


Cerpen Remaja Effi Nurtanti

Penuh ketidaktahuan kini   dirasakan oleh  cowok yang satu ini,  Agusta demikian    fans–fansnya yang seabreg memanggilnya demikian , getar hatinya merambat sangat kuat hingga keseluruh tubuhnya.  Entah dalam jantung hatinya ada perasaan aneh, hingga terus menggrogoti dirinya, terlebih lebih bila malam telah larut.                                                                                           Terasa hanya dia dan malam saja yang saling membisu sepi, semakin malam larut semakin tertusuk jantungnya dengan keegoan malam ini. Apa lantaran dia mulai menambatkan hatinya pada Ellisa siswi baru, kala dia mengenal cewek ini pada acara Opsek siswa baru di sekolahnya. Toh perkenalannya hanya sepintas saja karena dia sendiri kala itu, sibuk sebagai ketua panitia opsek.                           
Setelah itu, pertemuannya antara Ellisa hanya sebatas ketemu di sekolah, kala kebetulan bareng di acara rapat osis. Sikapnya hanya biasa, tidak ada pandangan mata mereka berdua yang memiliki arti. Apalagi dari sikap Ellisa yang kaya mayat hidup aja. Sama sekali tidak ada desiran hati yang aneh dalam diri Agusto.                                        
Waktu berjalan terus tanpa ada yang mampu menghentikan, Agustopun larut dengan seabreg tugas – tugas guru dan ulangan. Belum lagi aktifitas midsemester. Sangat menyita waktunya untuk belajar, agar dia bisa mendapatkan nilai maksimum.
Namun pertemuan antar mereka memang harus  berlanjut. Kala sekolah mengadakan kegiatan classmeeting, usai ulangan umum semester genap kemarin.
Ellisapun aktif di kepanitiaan classmeeting tadi, yang kebetulan diketuai oleh Agusta. Sehingga hampir tiap hari mereka berdua saling dekat. Saat itupun hati mereka berduapun tetap dungin, nggak punya geter apa –apa. Ellisapun tetap bermanja-manja dengan dia kalau ada maunya saja.
Menanggapi perilaku Ellisa ini, Agustopun memaklumi karena bagaimanapun juga Ellisa dalah cewek teenager yang masih lugu dan polos. Sebaliknya kalau Ellisa lagi nggak butuh pertolongannya, berubahlah Ellisa menjadi sosok yang dingin dan membisu seribu bahasa, layaknya mayat hidup.
Namun demikian juga Agusto tak pernah menghirukan Ellisa. Bagi Agusto Ellisa adalah cewek yang tidak begitu istimewa, lantaran menurutnya masih banyak cewek – cewk di sekolahnya yang segalanya lebih baik ketimbang Ellisa. Toh ada satu dua cewek seangkatannya yang sempat hadir di hati Agsto, namun Agustopun tak tahu, harus darimana dia akan memulainya.
Waktu terus menggeliat tiada satupun yang mampu menghentikannya, tibalah saat pembaagian rapot akhir tahun sekaligus pengumuman kenaikan kelas. Sudah barang tentu baik Agusto maupun Ellisa termasuk siswa yang tidak bermasalah, aktifis osis dan santun kepada semua guru. Sehingga wajar saja bila mereka kini meraih siswa teladan di sekolahnya. Tepuk tangan yang hingar bingar dari simpatisan baik guru maupun siwa memenuhi aula sekolah mereka. Merekapun kini berdua bersanding layaknya pengantin baru, untuk meraih tropi siswa teladan putra dan putri.
Senyum yang indah terpancar dari bibir Ellisa yng tipis itu membuat Agusto sebentar-sebentar melempar pandang pada gdis yang tinggi, berkulit kuning langsat dan berambut sedang hingga bahu. Ditambah dengan harum parfum kazi feminin dari baju Ellisa, mengukir keindahan tersendiri untuk  hati Agusto, yang lagi happy hari ini. Serasa kakinya tidak menyentuh tanah kini, hatinya begitu dipenuhi wangi bunga selama berdampingan dengan Ellisa. Apalagi kini mereka menjadi pusat perhatian seluruh yang hadir di aula sekolah ini.
“ Gus kalian berdua emang mirip raja dan ratu, nah gitu dong berdiri lebih dekat lagi. Biar gambarnya jadinya bagus “ teriak Hendra sambil melangkah surut untuk mengambil gambar pasangan ideal ini. Keduanyapun hanya tersenyum tipis, sesekali Agustopun melempar pandang. Sedangkan Ellisapun hanya membalasnya dengan senyum menawan dan tidak pernah melepaskan gayanya yang fotogenik.
Kini Agustopun tidak segan lagi untuk menawarkan diri mengantar Ellisa pulang. Meski dia tahu Ellisa tentunya akan keberatan membonceng sepeda motornya yang sudah agak gaek. Sementara itu Ellisa tiap hari diantar jemput dengan mobil gedongan.
“ Lu kan bisa telepon sopir lu agar dia nggak usah jemput lu. Sekali kali aku ingin tahu rumahmu “
“ Ntar aku telepon driver papiku dulu. Sabar ya. Kok tumben lu ngebet mau ngantar gua, ono po jal ! “ seru Ellisa yang nggak tahu entah karena apa hari ini kelihatan ganjen bener.
“ Ah. nggak apa apa “ . Agusta menjawabnya dengan senyuman tipis terurai di wajahnya. Emang kalau cowok ini pemalunya minta ampun.  Klo soal wajah semua temen ceweknya mengakui, layaknya actor ganteng pemain sinetron. Tapi kalau soal pemalu nggak ada duanya juga.
Namun meski demikian Ellisa adalah termasuk cewek yang pinter menilai cowok. Dasar Ellisa adalah cewek gaul, maka jumpa dengan cowok kaya Agusta dia nggak canggung. Dia seenaknya aja ceplas-ceplos, karena Ellisapun tahu  meski Agusta adalah cowok dari kalangan keluarga yang biasa-biasa, namun dari dalam diri cowok ini ada banyak kelebihan.Dan inipun sudah lama Ellisa ketahui. Tapi karena Ellisa kala itu nggak ada perlunya maka dia cuek aja dengan cowok pemalu ini.
“Eh kenapa bengong, emang rumahku banyak hantunya ?, Ayo dong masuk !. Mam ini lho Mas Agus main ke sini . Keluar dong mam, kenalkan temenku “ pinta Ellisa.
Kini mamanya Ellisa sudah berada di ruang tamu, duduk bersebrangan dengan Agusta, di sofa berkulit bulu warna hijau. Persis di tengah ruang tamu yang besar dan mewah. Wajahnya tak jauh berbeda dengan Ellisa, meskipun usianya telah menginjak setengah baya, namun wajahnya tetap kelihatan masih ayu dan lembut, Berbeda dengan Ellisa yang suka berang. Tegas dan ceplas-ceplos.
“ Oh ini to yang namanya Agusta. Kamu yang siswa teladan itu ya mas ?.
“ Betul tante, tahu dari mana ?“ jawab Agusta dengan sikap yang malu-malu dan merendah.
“ Tadi Lis sms, selamat ya. Oke silakan diminum jus jeruknya, tante tak kebelakang dulu, masih banyak pekerjaan dapur. Lis kalau mau makan silakan kalian berdua langsung aja ke dapur “.
Kini merekapun hanya berdua duduk di ruang tamu. Suasana romantispun menjadi milik mereka berdua. Sebentar-sebenta mereka berdua diam seribu bahasa, kadang pula salah satu dari mereka mencoba memecahkan kebisuan, dengan melontarkan bahan cerita yang sebenarnya nggak perlu.
Sebenarnya ada apa, tidak biasanya aku bersikap seperti ini. Mulutku terasa terkunci, aku merasakan melayang jauh tinggi ke tempat yang aku sendiri tidak tahu. Apa lntaran aku duduk berdua dengan Ellisa. Kenapa sebelumnya sikapku nggap seperti ini, padahal aku sering ngobrol bersamanya. Dulu sikap dia seperti mayat hidup yang berparas ayu, kini wajah itu memerah dan romantis, demikian bisik hati Agusta.
 “ Lis ini dah siang, aku pulang dulu ya “ seru Agusta.
“ He..eh, makan dulu to mas, mami kan udah nyiapan makan, Ayo dong ms jangan malu “    
“ Lain kali aja Lis, aku. ..nggak tahu ah..”. Jawab Agusta dengan sikap canggung yang kentara sekali. Menghadapi sikap temannya itu, Ellisapun memaklumi, karena sikap seperti ini adalah sikap bawaan Agusta. Bersalahlkah dia dengan kesemuanya ini, Justru sikap inilah yang menjadikan Agusta berbeda dengan cowok lainnya, dan berhasil meruntuhkan kebekuan hatinya. Setelah sekian lama tiada satupun cowok yang bisa meruntuhkan kedinginan hatinya itu.
_______________ooo_____________
 “ Ndra, tolong dong! ,  aku harus bagaimana “ . Tak lama setelah Agusta duduk di teras rumah Hendra sahabatnya untuk curhat, kata-kata itu muncul begitu saja.
Harus bagaimana apaan ?. Emangnya lu lagi bentrok ama bapak lu “. Seru Hendra penasaran
“ Nggak gitu, Ndra. Itu tuh tentang Ellisa, aku harus gimana “
“ Ya nggak gimana-gimana to friend !, diakan ratumu dan kau adalah sang pangeran. Ngapain susah amat, sih !. Kalau dia milikmu, nggak usah pakai susah-susah friend ! “ .
“Ah….Lu emang susah diajak curhat “ teriak Agusta yang jadi kesel pada Hendra.
“OK. . Deh aku tak ndengerin, curhat Lu, cobadeh lu crita. Please “
“Aku kemarin nganter Ellisa pulang ke rumah “. Tutur Agusta dengan sikap malu-malu dan sejenak terdiam.
“Bagus dong, Gus !. Terus gimana “
“Aku lama ngobrol berdua aja dengan Ellisa, tapi aku tak bisa ngomong, jantungku berdegup keras, memandanginya aja nggak berani. Lantas aku harus gimana “
“ Ini pertanda lu naksir dia, lho sikapnya dia gimana. Apa dia happy atau salah tingkah diantar pulang lu atau gimana ? “ tanya Hendra pada temanya ini yang kelihatan lagi salah tingkah nggak seperti biasanya.
“Ellisapun juga sama, nggak seperti biasanya dia ngobrol sama aku lepas dan ceplas-ceplos, tapi kali ini dia banyak diam. Hanya wajahnya aja yang kelihatan malu-malu “
 “ Terus sebelum pulang lu buat janji apa ama dia
“ Nggak sih, boro-boro janji, ngomong aja aku susah. Tapi Ndra. Semalam aku nggak bisa tidur penginya cuma bertemu dia terus “
“ Kalau gitu, ya kalian berdua sama-sama naksir, Gus !. Lu yang lincah dong, jangan malu-malu. Nggak mungkin Ellisa yang lincah. Lu kan cowok, mestinya harus pandai-pandai buat acara. Eh Gus, kalau lu nggak lincah, keburu digaet Rio, aku dengar dia lagi pdkt ama cewek lu “
“Tapi aku yakin, Ellisa nggak bakalan mau “
“Itulah Gus kelebihan lu, aku liatain Ellisa selalu ceria di samping lu. Nggak seperti biasanya, kayanya lu adalah cowok pujaannya. Sikap Ellisa akhir-akhir ini berbeda dengan dulu-dulunya.
“Lho lu kok tahu “
“ Lho dia dulu adik kelasku di smp, jadi aku tahu betul. Eh Gus. .dia waktu di smp juga menjadi cewek pujaan bagi cowok-cowok. Jangan lu lepas begitu saja. Dia bukan hanya caem lho Gus, tapi cuakepnya kaya artis sinetron. Lu kemarin nganterin dia pake apa “
“ Ya tak boncengin pakai motorku “
“Ah. . Yang bener Gus, apa dia mau “
“Bener Ndra  dia mau !, tadinya kan aku cuma basa-basi, tapi dia mau beneran. Ya udah pakai motor bututku tak anterin 
“Gila lu Gus, anak gedongan lu  boncengin motor gaek. Udah nunggu apa lagi, aku yakin dia naksir lu juga. Eh Gus, aku liatin sudah seabreg cowok gedongan yang naksir dia juga. Beruntung lu nggak pake susah-susah dia mau ama lu “
 “Lantas aku harus bagaimana ?. Aku jadi salah tingkah ngadepin cewek ini, Nggak seperti biasanya aku punya temen yang  beda ama lainnya, Ndra “
“Sementara lu aktifin dia di kegiatan osis aja. Nantinya lu kan biasa berdua ama dia terus. Jadi nantinya lu nggak canggung lagi. Masa siswa teladan takut ama cewek ”
“Biasanya juga aku nggak takut, Ndra !, tapi ngadepin dia aku jadi grogi. Oh bidadariku. . . “ seru Agusta sambil berusaha tetap happy, kayanya advisenya Hendra bisa jadi obat hatinya.
“Tapi hati-hati lho, Gus “
“Hati-hati, apaan “
“Yang bikin Ellisa dingin seperti mayat hidup, adalah sikap papinya yang minta ampun galaknya. Wajar aja kalau banyak cowok yang pdkt jadi mundur teratur 
“ Galak gimana, Ndra”
“Bapaknya Ellisa itu orang sukses, maka dia menuntut anak-anaknya harus seperti dia “
“ Lho gua kan cuma teman Ellisa “
“Klo lu Cuma temen ngapain pakai kangen segala, ngapain lu semalam nggak bisa tidur. Hai sobat !, papinya Ellisa bukan orang bego, tau nggak !. Yang penting lu harus siap mental kalau ketemu papi doimu itu. Understood ? “
“ Kok jadi gitu, Ndra !, udah deh gua tak modal optimis aja Ndra, yang penting aku berteman dengan Ellisa maksudku baik “
Agusta kembali memiliki kekuatan hatinya. Meski dia tidak punya rencana apa bila kepergok papinya Ellisa nantinya. Apapun
Yang ada di dalam hatinya, hanyalah semata ingin berteman dengan Ellisa. Kalau toh lebih dari itu, kenapa harus pakai ngacir, ngadepi papinya Ellisa. Toh sekeras apaun ortunya Ellisa, pastilah akan bisa menerimanya, bila Agusta mampu menghadapi ortunya itu dengan sikap dewasa, tanggung-jawab dan jujur.
Kapan gua ketemu papinya Ellisa, tapi gue juga belum siap. Ntar bisa berabe klo aku ketemu dia. Aku nggak mau bersikap pengecut. Tapi masalahnya lain lagi bila papinya hanya mengijinkan Ellisa berteman dengan cowok gedongan. Kalau seperti itu, gua nggak bisa berbuat apapun. Tinggal Ellisa sendiri bersikap bagaimana. Seandainya Ellisa hanya menuruti kemauan papinya itu, ya itulah kehidupan. Demikian bisik hati Agusta yang terus mengalir tiada pernah berhenti.
Keduanya kini kembali aktif di setiap kegiatan sekolah, mereka berdua memang telah melupakan  perbedaan antar mereka. Karena mereka hanyalah remaja yang hanya sekedarkan ingin menghadirkan suasana romantis di kehidupan mereka. Saling memberi dan melampiaskan curhat, saling bermanja dan memberi ataupun mencari perhatian satu sama lain.
“ Mas Agus, udah siang kita langsung balik aja “ pinta Ellisa kepada cowok ganteng itu, sambil tangannya bergayut di pundak Agusta. Agusta hanya mengangguk kecil dan mereka berduapun meninggalkan ramenya kompitisi Kejuaraan Footsal antar sma se Kodya Semarang,
”Ngapain lu buru-buru pulang Lis, padahal permainan footsal lagi asyik-asyiknya ” tanya Agusta di tengah perjalanan mereka pulang.
”Lu, kecewa, Mas ! ”
” Ah, nggak, Cuma ingin nanya doang, ada acara apa di rumah ? ”
” Rencananya papi hari ini pulang, aku dah kangen ingin segera ngobrol ”
” Kok lu nggak ngomong sih, kalau lu tadi pagi ngomong, kita nggak usah lihat footsal. Kita nunggu bareng kedatangan papimu di rumah,
”Apa lu berani ketemu papiku, Mas ! “
“Kenapa takut ?. Aku nggak pernah punya niat jahat terhadap lu kan ?”
”Bukan itu maksudku, Mas. Papi memang hidup hanya untuk harta Mas. Segala sesuatu di lihat dari sudut pandang uang. Termasuk dalam mendidik anak-anaknya juga dia sangat keras, semata – semata agar anak-anaknya berhasil seperti dia”
” Tapi lu kan berhasil membuktkan sama papimu, nyatanya lu bisa jadi siswi teladan ”
” Ya Mas, tapi bukan itu saja yang diharapkan papi, nantinya papipun minta agar semua anak-anaknyapun mendapatkan pendamping hidup yang sukses, Papi nggak mau anak-anaknya menjadi terlantar karena penderitaan hidup. Sebaiknya Mas Agusta jangan ketemu papiku dulu ”
” Kok nggak boleh ketemu papimu ?, apa AKU nggak boleh punya hak untuk menemui papi dari orang yang paling aku sayangi ?. Ayo dong Lis, nggak usah takut dengan resiko apapun ” jawab Agusta dengan nada yang meyakinkan.
” Aku takut Mas Agus akan sakit hati dengan sikap papiku, Dan maaf Mas,biasanya kan Mas Agus suka pemalu dan canggung. Lantas bagaimana papiku menilai mas nanti ? ”
” Tentang sikap papimu nggak usah lu pikir, yang aku butuhkan hanya hatimu. Bila engkau mau melangkah bersamaku, menggapai masa depan, itu sudah cukup untuku ” tutur Agusta.
Ellisapun hanya terdiam dan menundukan kapalanya, namun bibir yang tipis dan menawan itu masih memberikan senyum bahagia kepada cowok yang paling dicintainya. Sebuah senyuman yang menggambarkan kebahagian dan keteduhan hatinya berada disamping cowok yang berhasil meruntuhkan hatinya. Ellisapun merapatkan duduknya disamping Agusta yang sibuk memegang stir mobil.
_________oooo___________     
Ellisa sontak berteriak kegirangan seraya berlari kecil menuju papinya, yang emang udah lama menunggunya. Keduanya lantas berpelukan mirip adegan sinetron. Rasa kangen antara keduanya memang langsung dilampiaskan dengan peluk manja antara bapak dan anaknya yang paling dimanja.
Agustapun segera mendekat mereka yang lagi kangen-kangenan, kentara dari sikap mereka, bahwa papi Ellisa sangat menyayangi putri bungsunya itu, demikian juga sebaliknya. Maka wajar saja, bila sikap papinya Ellisa sangatmemperhatikan Ellisa dalam segalanya, termasuk juga bersikap hati-hati terhadap temen-temen Ellisa.
” Oh silakan duduk, ini temanya Ellisa, ya ? ” seru Pak William Laksono bapaknya Ellisa yang segera mengulurkan tangannya untukmemperkenalkan diripada Agusta. Karuan saja Agusta segera
Menyambutnya dengan membungkukan badan pada lelaki separoh baya, tapi masih kelihatan ganteng dengan kumis melintang di atas bibirnya. Apalagi dengan hem yang bercorak garis dan gaul. Nampak sama sekali tidak terlihat angker, namun bersahaja dan lembut. Tidak sesuai dengan yang dibayangkan Agusta sebelumnya.
” Betul Om, aku Agusta temannya Ellisa ”
” Ellisa,temenmu dibuatin minum dong,Kamu tinggal di mana Gus ? ” .
” Saya tinggal di Seroja, Om ! ”
” Bapakmu kerja di mana ?, apa pengusaha ? ”
” Nggak Om, bapak hanya kerja di bengkel di kawasan LIK ”
” Lantas bagaimana nanti bapakmu membiayai kuliah kamu ” tanya Om William yang langsung menanyakan pada inti permasalahan. Agustapun menyadarinya, karena dia memaklumi sikap seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan masa depan putri kesayangannya.
” Aku berhasil lulus masuk Undip dengan program khusus Om, lagian aku mendapat program bea siswa dari Undip. Sehingga bisa meringankan biaya kuliah Om ”
 ”Oh...sungguh pandai lho, kamu Gus !. OK deh belajar yang tekun ya Gus. Sekarang jaman serba susah, tapi lain lagi bila kita pandai, itu akan sedikit menolong kehidupan kita ”
”Iya Om, terimakasih nasehatnya. Sama seperti bapak juga menasehati seperti itu. Dan hingga kini aku tetap ingat nasehat bapak ”
” Bagus, itu namanya anak yang baik. Kamu kenal Ellisa dah lama ? ”
” Belum Om, baru saja saat Ellisa masih di kelas sebelas ”
” Boleh kamu berteman dengan anaku, asal jangan seperti anak gaul yang kebablasan seperti anak sekarang. Kamu nggak boleh macam-macam dengan anaku ”
” Oh nggak . Om!. Saya adalah dari keluarga yang tidak mampu Om. Maka dalam segala hal, aku harus berhati-hati. Bila saya bertindak gegabah maka kasihan bapak-ibu ” jawab Agusta dengan lantang. Sama sekali tidak terlihat rasa canggung atau minder dari cowok ganteng ini. Hal ini menambah rasa kagum dalam diri Ellisa.
Meliahat situasi yang demikian Tante Rima, maminya Ellisapun Cuma tersenyum senyum kecil, berbeda dengan Ellisa yang hanya duduk dengan wajah yang ditundukan.
” Oh ya, kamu mau kuliah di Undip mengambil jurusan apa ? ”
” Jurusan sipil, karena yang paling aku sukai Om ? ”
” Bagus semoga kamu berhasil, yang tekun belajar ya Gus ! ”
” Baik Om ”
”Om denger dari putra temen Om, yang satu sekolah denganmu. Kamu banyak yang naksir ya ! ” tanya Om William.
”Ah nggak tahu Om, itu cuma pendapat mereka. Yang jelas saya dipercaya temen-temen untuk menjadi ketua osis. Sehingga tiap hari banyak dekat dengan mereka ”.
”Tapi banyak yang naksir kamu kan ? ”
”Persisnya aku nggak tahu. Kadang mereka sering ke rumah. Namun selalu saya anggap temen biasa, temen untuk urusan organisasi ”
”Ntar kamu bosan dengan Ellisa kalau lu nantinya banyak dekat cewek ca”em”
”Tapi aku baru kenal cewek yang cuakep hatinya Om, kalau cakep wajahnya sering aku menemukan. Seperti yang dinasehatkan bapak dan ibu, untuk tidak sembarangan bergaul dengan cewek, meski cukup banyak yang deket dengan aku, Om ! ”.
Om William tidak mampu lagi meneruskan obrolanya itu, yang ada di hatinya kini hanyalah rasa kagum terhadap cowok yang ada dihadapnya. Mungkin dalam hatinya mulai timbul rasa percaya dengan kejujuran cowok
            Ini. Kehati-hatian dirinya dengan semua temen dekatnya Ellisa      
 Memang cukup beralasan, karena Ellisa putri bungsunya adalah segala-galanya bagi dia.
” Om tak istirahat dulu ya, karena semalam rapat proyek di Jakarta sampai larut. Pagi-pagi tadi Om sudah di bandara mengejar pesawat ke Semarang yang paling pagi, karena kangen dengan Ellisa. Ayo silakan di minum ”
Ternyata sikap papinya Ellisa biasa saja, layaknya seorang bapak yang ingin melindungi putrinya. Agustapun hampir tak percaya dengan dirinya sendiri atas keberaniannya itu, berbeda dengan bayangan kengerian sebelumnya menghadapi bapaknya Ellisa.
Namun itu semua ia lakukan demi tetap dekat dengan cewek pujaan hatinya, yang kini duduk di sebelahnya. Dan merekapun kini saling pandang. Sebuah ucapan kecil terdengar dari mulut Agusta.
” Lis, kamu cuakep bener. Aku sayang ama kamu ” . Ellisapun hanya memandangi Agusta, dan tak lama kemudian dia hanya menundukan wajahnya. Sangat berbeda jauh dengan Ellisa dulu. Ellisa sekarang adalah Ellisa yang penuh dengan kesejukan dan dambaan hati Agusta._____________ooo_________

Camellia dan Seberkas Dusta


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti
 Selalu aku sambut mesra bila Camelia berhasrat merengkuh apa yang menurutnya indah, yang selalu tersimpan di sudut hatinya. Apalagi bila hasratnya itu berhias dengan senyuman mesra yang mengawali setiap perjumpaan kita.  Saat itu sang bidadaripun berhenti mengepakan sayapnya, kupu kupu di dahan bunga yang mekar pun ikut mengerlingkan mata, bila hati ini sedang bertaut dengan telaga warna yang selalu di beranda hati. Tetapi gambaran dalam kanvas hatiku tentang Camelia kini hanya gambaran suram, seiring dengan tangan Camelia yang meluruh dari genggamanku.
Pagi tiada bosannya menampakan wajahnya dengan semburat kuning sinar mentari, seakan tahu persis hatiku yang sedang galau lantaran kenangan itu selalu saja hadir, Camelia adalah diriku yang ada di hati diriku sendiri., layaknya fatamorgana yang selalu membungkus bilah hati ini.
California di bilangan negeri Paman Sam, adalah tanah terkutuk yang mampu menyeret Camelia yang tiada berdaya, yang harus tinggal di tanah ini, lantaran harus mengikuti papinya bertugas di bilangan itu. Hanya tatap mata sendu Camelia yang mengucapkan selamat jalan, ataukah tangis dia yang mengucapkan selamat berpisah, nampaknya sesuatu yang sudah melekang kuat telah mengaburkan realitas ini semua. Camelia tak satupun mengucapkan selamat berpisah, namun akupun tiada mungkin memburu bayangnya hingga California yang aku sendiri tak tahu kemana arahnya.
“Apakah ini suatu perpisahan ?” masih terngiang di sendu hatiku ketika pertemuan terakhir di beranda rumahnya.
“Aku tak tahu, Bra !”
“Lantas apa aku harus menunggu ?”
“Aku tak tahu”
“Aku harus bagaimana ?”
“Aku juga belum tahu !”
“Menurutmu aku harus bagamana, Mel ?”
“Jadilah Bharata yang selalu kuagungkan, yang selalu mampu menjadi laki-laki jantan yang memegang teguh janjinya. Bila kau sanggup menungguku, akupun akan berusaha pulang ke Indonesia, meski tanpa papa. Tapi bila kau menginginkan perpisahan ini, kau harus jadi laki-laki yang bahagia dan selalu ingat padaku. Bra !,. Inilah yang mampu aku  berikan padamu, aku nggak punya cara lain”, tutur kata Camelia hingga kini masih aku ingat betul,  lantaran tutur katanya telah berubah menjadi molekul-molekul darah yang selalu mengalir di nadiku.
“Mel !,aku bukan Romeo dalam adegan drama Romie dan Juli, aku dan kau bukan pemeran adegan picisan seperti itu, tapi kita benar benar dalam realita hidup”
“Jadi kamu memilih untuk meninggalkanku, Bra ?” kedua tangan Camelia kini telah berada di leherku, bibir yang penuh pesona kini benar-benar berada di depan wajahku. Semilir angin kemarau terasa lebih riuh, di tengah udara dingin yang mulai menyengat Kota Bandung.
“Aku tak pernah sekalipun merengkuh sebuah perpisahan, sesuai janjiku, Mel ?”
“Lantas kita harus bagaimana, Bra ?”. Sebuah kecupan mesra dari gadis pujaanku, serasa meruntuhkan langit yang bertemaram sinar rembulan, dan bintang-bintangpun memilih untuk berselimut dengan gulungan awan hitam. Tidak seperti biasanya kecuman mesra dari Camelia diiringi denga matanya yang sembab lantaran dibasahi air mata pilu.
Aku tertegun dalam ketidaktahuan, apakah aku harus ikut ke California, sementara baru dua tahun aku kuliah di ITB dan tak mungkin pula aku meninggalkan bapak ibuku yang sudah uzur. Yang kini tinggal di Semarang.
“Mel, kalau aku harus married denganmu akupun tak keberatan, walaupun aku harus bekerja. Dari kecil aku terbiasa membantu bapak jualan di Semarang. Inilah jalan satu satunya”
“Bila papa mengijinkan akupun tak masalah. Hanya saja papa memintaku kuliah di Universitas California. Papa benar benar menginginkan aku sukses Bra, karena aku anak pertama. Sementara sama seperti bapakmu, papi juga sudah mulai uzur. Hanya akulah anak pertama yang diminta menggantikan bisnis ekspor-import ini. Lalu aku harus bagaimana, Bra ?”. tangan Camelia masih saja kuat bergayut di pundaku.
Terasa kebimbangan yang mencekam kini menggrogoti hatinya, demikian juga aku yang tak mampu mengurai benang cinta yang mengusut. Namun sebagai anak laki-laki yang sudah kenyang dengan cobaan hidup, akupun akan terus berusaha tegar.  Demikian juga akupun harus benar benar mampu menguatkan hati Camelia yang mulai limbung, meski hati ini juga tak kalah dalam kebimbangan.
“Bra aku ingin kau malam ini jangan pulang,, duduklah disampingku sampai larut malam
“Mel, perpisahan ini memang berat bagiku, aku tak bisa berpikir harus bagaimana, tapi hari sudah malam. Aku harap kau dewasa, memang ini kenyataan. Bila Tuhan memepertemukan kita lagi, kenapa nggak…kita ketemu lagi !”
“Tapi besok pagi, kita sudah nggak ketemu lagi, Bra !. Sebuah perpisahan?, yang aku sendiri tak tahan menghadapinya “
“Lantas,  aku harus bagaimana Mel ?. Aku yakin papamu menaruh harapan besar untukmu, demi masa depanmu. Kuatkan hatimu, Mel !. Aku harap kabar yang kuterima darimu nantinya, adalah kabar tentang kebahagianmu “
“Kok kamu ngomong, kaya gitu, Bra !. Kamu sudah lega dengan perpisahan ini, bagi seorang pria perpisahan seberat apapun akan mudah dilupakan, tapi bagi wanita sepertiku…” Camelia tidak mampu meneruskan lagi, dadanya kini berguncang, pipinya hanya dipenuhi oleh air mata.
Sementara daun palma yang berjejer di halaman rumah Camelia kini terpagut dalam kebisuan. Mereka seakan hendak menyimak episode tentang hidup yang diusung dua remaja yang mencoba menggapai masa depan dengan benih-benih cinta yang tumbuh jauh di dalam hatinya. Suara batuk  batuk kecil  Om Allan, papi Camelia sekali sekali terdengar dari dalam rumah besar dan kokoh itu.
Camelia merasakan tubuhnya bertambah dingin lantaran terbalut dengan angin malam Bulan Agustus yang kering dan dingin. Namun disamping pria pujaan yang kini disampingnya, pada malam terakhir mampu menepiskan kedinginan itu.
“Bra, aku minta tolong untuk malam ini ?”
“Tentu, Mel untuk siapa lagi diriku ini,kalau bukan untukmu?”
“Jadi kau tidak menghendaki perpisahan ini?”
“Aku tak pernah berpikir untuk meninggalkanmu, Mel”
“Kamu tentunya mau kan menungguku kembali ke Bandung?”
“Tentu, Mel. Tapi aku tidak suka sebuah luka hati”
“Maksud kamu gimana ?”
“Bila aku harus menunggumu, akupun minta tidak ada satu priapun pernah menyentuhmu. Kecuali itu  pilihanmu yang terakhir, akupun nggak keberatan asalkan aku dikasih tahu. Aku akan menunggumu dengan penuh kejujuranku dan kejujuran kamu “
“Kamu kok punya pikiran, klo aku  berkhianat “
Bhatara hanya diam membisu, anganya kembali ke masa lima tahun lalu ketika dia harus menerima kenyataan berpisah dengan Andry kala masih di SMA dulu,  yang mencampakan dia begitu saja. Luka itu hingga kini masih membekas lantaran dia masih belum menemukan pembalut luka yang menyembuhkan luka dalamnya. Pertemuan dengan Camellia memang mampu sedikit menyembuhkan luka hatinya. Namun baru saja dia menggapai kembang warna warni pembalut luka, sebuah penantian harus dia hadapi.
“Kenapa, Bra”
“Ah..nggak. Aku cuma lagi membayangkan betapa kamu nanti di amrik jatuh ke pangkuan pria bule!”
 “Ah kamu kok gitu, Bra !, aku akan menghargai sebuah penantianmu Bra” Kembali kedua tangan Camela menggapai leher Bharata, kedua tubuh insan yang dipagut dewa Amour itu kian mendekat membangkitkan kehangatan pada tubuh mereka dengan dada mereka yang saling berguncang.
“Bra, aku akan tetap setia, aku tak akan membuat hatimu terluka” desah bisik bibir Camelia kini persis  di telinga Bharata. Bhatarapun kini merenggangkan pelukanya.
“Kalau kamu jujur sama aku, akupun akan menantimu di Bandung”
Kedua insan itupun tak mampu lagi melawan datangnya sang fajar. Kini rumah mewah mirip gedung kompeni menjadi sunyi.
Dan kini Bhatara memenuhi hari hari penantianya dengan hati berhalaman sepi. Metamorfosis detik, menit, jam hingga hampir lima tahun terasa memberati perjalanannya. Kini lamunanya berangsur memudar lantaran ujian skripsi menghadangnya. Namun tiba tiba saja, hari hari penantianya berubah wujud menjadi raksasa yang menghimpit tubuhnya,hingga terasa semua tulangnya telah berpisah dari dagingnya. Kala sebuah surat berada di kedua tanganya dengan nama Rista Camellia Anderson, yang kini menjadi warga negara amrik lantaran bersanding dengan Stewart Anderson. Seorag doctor ahli dirgantara.
Sang pria yang terpagut sepi dalam penatian itupun menjadi bertambah sunyi hatinya.