Sedikit banyaknya Pak RT sudah beberapa kali
menyambangi pria paruh baya itu, yang berambut lurus, berperawankan ceking,
cekung matanya menjorok ke dalam, tapi sorot matanya sangat tajam. Seakan
berhasrat menguliti siapa saja yang dipandangya.
Pagi itu kembali lagi Pak RT menyempatkan diri untuk
bertemu denganya, agar mampu menyakinkan pria yang setengah gila itu. Pak RT
sengaja mengajak beberapa pengurus RT untuk mendampinginya. Meski matahari
sudah setinggi daun kelapa, namun rumah separo papan itu masih senyap. Apalagi
di awal musim hujan ini, ketika hampir semalam hujan membius bumi, semua yang
ada dalam rumah menjadi bertekuk lutut, menyerah dalam selimut mereka masing-masing.
Termasuk Pak Diran, yang tidak tahu atau pura pura tidak tahu kedatangan Pak
RT.
Hanya tiga kali Pak RT dan pengurusnya mengetok daun
pintu dari triplek yang sudah mulai mengelupas sambil mengucapkan salam,
kemudian diam membisu dengan raut muka yang bersungut. Lantaran rumah pria misterius itu sama sekali tidak
bernafas. Tak beberapa lama pengurus RT itu kini hanya duduk saja di serambi
rumah Pak Diran yang lusuh, berdebu dan
dipenuhi daun daun Akasia yang kering berserakan. Kentara sejak akhir
musim kemarau silam, pria itu tidak berinisiatif untuk menyapunya.
“Sungguh malang Pak Diran !” Suara Pak RT memecahkan
keheningan beranda rumah tua itu.
“Ah, karena dianya sendiri yang tidak mau berbuat
baik” Jawab sekretaris RT.
Kembali mereka bertiga dibius dinginya pagi itu. Hanya angan mereka bertiga
yang memenuhi hati mereka masing-masing. Meski angan mereka satu sama lain
tidak jauh berbeda, semata menyayangkan nasib pria setengah gila itu, yang
mencampak dirinya sendiri dlam perjalanan hidup yang suram.
Mereka bertiga adalah pengurus RT yang tergolong
muda usianya dibanding usia Pak Diran. Maka mereka bisa menyaksikan sendiri,
betapa pria misterius itu mengalami perubahan hidup yang tragis, lima tahun silam Pak Diran menempati rumah
mewah di tepi jalan protokol yang necis, bersih dan terpandang. Karena dia adalah
kontraktor sukses di kota ini. Istrinya yang masih kelihatan cantik, meski
sudah berumur hampir separuh baya selalu setia
mendampinginya, mereka bersama membesarkan ketiga putri Pak Diran yang
tergolong cantik dan cerdas.
Namun meski Pak Diran sudah berpijak di istana
kebagiaan, namun dia tidak pernah mampu untuk mengendalikan suara hantu hantu
yang bergentayangan di jantungnya. Hantu itu terus saja memberontak dan
menelikung angan Pak Diran, agar laki
laki malang itu menaburkan uang yang bermilyar milyar jumlahnya untuk
menebarkan kepuasan hatinya.
Maka mulailah Pak Diran selalu pulang larut malam,
untuk menghabiskan bendel demi bendel uang ratusan ribu rupiah, untuk tersenyum
lepas di hantu wanita, yang bermata juling, berkuku tajam dan hitam, berkulit
bagaikan boneka lilin. Namun dari sorot matanya mampu menyihir siapa saja laki
laki yang berduit.
“Ayolah
papa kita habiskan malam ini, agar tidak berwarna kelabu. Jangan takut, papa
mampu membeli kota ini, mampu membeli segalanya. Oh aku belum merasa puas, bila
aku belum memiliki Jaguar dan Bungalow indah di kaki Gunung Slamet. Ayolah
papiku, keluarkan uangmu. Minggu depan kita harus sudah melampiaskan hati kita
dalam bahtera yang lembut, penuh pesona, bahagia, asal kita sudah berada di
bungalow baru…hik…hik…hik” Dari
taringnya yang panjang dan tajam, keluarlah mantera mantera sakti untuk membius
laki laki berduit itu. Seperti bius Cleopatra, yang berhasrat menaklukan Kaisar
Agustinus.
Tangan kanan laki laki itu memeluk pinggang
“kuntilanak” yang berkemas bidadari malam, sementara tangan kirinya memegang
mesra leher sang putri. Namun sama sekali bulu kuduk laki laki itu tidak
meregang. Pertanda dia sangat akrab dengan hantu “kuntilanak” itu, atau memang
Pak Diran adalah juga hantu berbadan kokoh, tegar dan mampu menundukan hantu
siapa saja dari seluruh penjuru alam hantu.
Tak lama hantu kuntilanak yang hinggap di bungalow
yang mewah dan di halaman rumahnya berdiri asri mobil Jaguar seharga 1 milyar
Rupiah, ditinggalkan oleh hantu petualang itu. Lantaran dia sudah tidak mempan
lagi dengan mantra mantra sakti “sang
kuntilanak”. Hantu kuntilanak itu sudah tidak berkemas “bidadari malam” lagi ,
dengan jerat di sayapnya sudah tidak kokoh lagi, kini hantu kuntilanak itu
sudah berubah wujud menjadi nenek tua keriput, berjalan pincang dengan bau
anyir di seluruh tubuhnya.
***
Kini telah beberapa bulan hantu petualang itu
menjelajah semua puncak gunung, lembah, lautan dan hutan, untuk sejenak melepas
dahaga di kuku kuku tajam hantu kuntilanak lainnya. Meski bidadari penghuni rumahnya telah lama dia tinggalkan.
Sementara ke tiga putrinyapun telah berbahagia dengan suami setianya masing
masing. Sang bidadari setianya, yang sejak muda dengan setia mengarungi samudra
kehidupan Pak Diran, kini hanya terpagut sepi, berlinang air mata. Berkali kali
tanganya memegang pisau tajam untuk mengakhiri hidupnya, namun selama ini
selalu gagal, lantaran bisik dari bayangan putih yang berkelebat di kamar
pengantinya selalu mencegahnya.
“Tahukah kamu, hai Novia !, keluhuran dan tingginya
derajat kaum wanita adalah mengasuh putra putranya hingga berhasil dan bersabar
mendampingi suami suaminya yang telah berbuat gila. Janganlah pernah berputus
asa, demi masa depan anak anakmu”. Seketika itu jatuhlah
pisau tajam di tangan kanan Novia.
“Tapi kali ini dia sungguh keterlaluan, apakah ini
memang salahku ?. Karena sudah tidak bisa membahagian dia lagi ?”
“Sama sekali tidak Novia !, kebagian yang telah
dia dapatkan dari kamu sudah terpenuhi. Hanya hantu hantu genit saja yang
sering bersemayam di bilik hatinya”
“Aku sudah tidak tahan lagi, akhir akhir ini dia
malah mengusirku dan berniat menjual rumah dan mobil hadiah darinya, demi
membahagiakan simpananya”.
“Kuatkan hatimu, jangan pernah berhenti
mencintaimu, kecuali engkau sudah berkalang tanah, meski tidak dengan pisau
itu. Berikan saja rumah dan mobil itu, pergilah bersama anak anakmu, mereka
bertiga masih sanggup menyayangimu”
Novia yang berdandan bidadari malam yang jelita dan
berhati sejuk itu, memang harus meninggalkan rumah hantu yang sekarang berdebu,
tidak bedanya dengan kuburan. Sepasang gelas kaca, bertangkai artistik “romawi” kerap bersanding di meja
makan rumah tua itu, saat saat seperti itulah Novia kerap berseloroh romantis
dengan Diran Prasojo. Sepasang gelas itu pula diharapkan Novia , agar
dirinya mampu menggayutkan pada “sayap
sayap malaikat malam” yang membawanya berkelana ke tepi malam. Dia berharap
mampu menggandeng lengan kokoh kuat milik Diran Prasojo, yang dahulu mampu
membalikan arah putaran bumi.
Namun ketika malam yang pekat dan lancung itu, tak
lagi mampu menyodorkan kenangan lama, Noviapun segera melipat sayap sayapnya
dan jatuh di kamar pengantinya yang sunyi. Hingga akhirnya Novia memilih untuk
bersatu dengan ke tiga putrinya untuk hidup di bawah kasih mesra, sebagai
pengganti sesuatu yang hilang. Berkali kali bayangan suaminya menjenguknya,
dengan raut muka yang mengerikan, bertaring tajam dan tak pernah bersatu dengan
tegur sapa. Pertanda bahwa memang dia
sudah tidak menghendaki pertemuan denganya lagi.
Namun Novia kini pun menjadi kurus kering dengan
dada nyeri ditusuk sembilu jerat yang
dipasang hantu petualang itu. Mungkin dengan menghadap yang Kuasa bagi Novia
adalah jalan yang dipilih oleh Sang Khalik, dari pada hidup berkubang bara.
Kini wanita yang malang itu hanya meninggalkan tubuh yang kaku dan dingin, yang
terbujur di depan anak anaknya. Tanpa disaksikan suaminya yang kini telah
berpetualang dari pelukan hantu hantu kuntilanak yang menemani dalam
petualangan panjang.
***
Malam semakin
mengunci dan memencilkan dirinya dari rayuan Pak Diran, yang masih belum
merindukan kehadiran istrinya. Diapun tidak tahu dimana istrinya berada.
Sedangkan alamat ketiga putrinyapun belum dia ketahui. Warna dinding kamar
pengantinya yang dulu menggerlapkan hidup bersama Novia, kini kusam dan retak. Namun sama sekali dia
tak memperdulikan karena rumah itu sudah bukan miliknya lagi. Padahal seluruh tulang persendian dan
ototnya, sudah tidak mampu lagi untuk terbang melawan angin muson, untuk
bertualang dari penjuru ke penjuru bumi ini. Semua harta kekayaan kini telah
musnah. Dunia hantu dan petualangan telah mencampaikan dia di tempat yang
terakhir ini.
Padang ilalang di sekeliling rumah setengah papan
itu menjadi saksi, betapa menderitanya dia dalam memunguti lagi jarum waktu
yang pernah dia tinggalkan. Setiap kali dia ingin merentangkan sayapnya, setiap
kali itu pula Novia hadir dengan dandanan “ratu malam” yang jelita bagai
bidadari. Kerap dia berhasrat berdiri
mendampinginya, namun belum genap langkah dia torehkan, punggawa
punggawa di seliling ratu malam itu melototkan sorot mata hendak melemparnya
jauh jauh.
Lantas bagaimana kehidupan ketiga putrinya yang sama
sekali jauh dari rengkuhanya, apakah aku sudah memiliki cucu atau mereka semua
telah meinggal, tapi di mana kubur mereka. Apakah laki laki durjana seperti
aku, tidak boleh hanya memandang ketiga putri putriku yang dulu cantik dan
jelita. Apakah aku harus terbujur kaku tanpa kehadiran mereka. Bisik hati hantu
petualang yang telah pongah itu tal hentinya melekat di jarum waktu.
***
Suara batu batuk kecil tapi dalam terdengar dari
dalam rumah, Pak RT dan temanya itu segera beranjak dan menghampiri pintu yang
telah separo terbuka, senyum tipis yang mengguratkan pipi yang lapuk dan
menampakan gigi menghitam, menyambut kedatangan mereka bertiga.
“Beginilah nasib saya, Pak RT. Aku hanya ingin
bertemu istri dan ketiga anaku !” Pak Diran perlahan membuka pembicaraan mereka
berenpat di tikar bambu
yang sudah mulai banyak berlubang.
“Maaf, Pak Diran !. Kami dan semua warga sudah
berusaha melacak ke sana kemari, tapi hasilnya masih nihil”. Jawaban Pak RT
menyentakan hati Pak Diran yang sudah lemah tak berdaya.
“Ah, tidak apa apa, semua ini memang salah saya, Pak
RT !”
“Tapi kami tidak putus asa, Pak Diran !. Tolong
berikan kami semua alamat saudara Bu Novia di mana saja, kami akan berusaha
menghubunginya”
Sepotong kertas kumal denga tangan gemetar diberikan
Pak Diran kepada Pak RT, meski bibir keriput itu sudah tidak sanggup lagi
berkata. Hanya senyum hambar dan sedikit tundukan kepala melepas kepergian Pak
RT.
Padang ilalang kembali gersang terpagut sepi,
gerimis mulai membasahi beranda rumah tua, yang hanya satu satunya milik Pak
Diran yang masih tersisa bersama dengan angan dan harapanya, untuk kembali
berbahagia dengan Novia dan ketiga putrinya.
Bau asap belerang yang menusuk
hidung menyebar tiap penjuru desa dan setiap jengkal ladang sayur di Desa
Gedangan, Cepogo Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan menyisakan kepiluan yang mendalam
diantara semua yang berwajah tertunduk lesu. Namun langit biru masih patuh dan
lembut menaungi kehidupan mereka yang kali ini harus berpisah dengan kampung
halamanya.
Mereka yang meninggalkan rumah,
ternak dan sawah ladang, harus memburu
waktu, agar lembut awan awan yang mampu menerkam mereka tidak membakar dada
mereka yang telah sarat dengan kehidupan yang tidak ramah. Mereka harus
sadar bahwa mereka tidak lain hanyalah
manusia yang hanya memiliki tulang dan daging, yang selalu menggapai cita dan
harap di lereng Gunung Merapi yang sedang tak ramah. Mereka bahkan sudah tak
mengenal Merapi lagi yang kali ini berdandan menakutkan. Padahal saban hari
sebelumnya, mereka telah terbiasa akrab
dengan Merapi yang tersenyum malu, berdandan bedak pupur awan dan berkulum
senyum menawan,
Namun kini mereka harus berlarian
sepanjang jalan desa yang mulai tertutup debu debu liar yang dimuntahkan Merapi
yang sedang dilanda kegalauan hati. Mereka segera menuju ke lokasi yang aman di
daerah Boyolali, Magelang dan Jogjakarta.
Teriakan nyaring terdengar di mana mana, membahana ke setiap liuk jalan desa, lantaran kepiluan
mereka mencari saudara saudara yang tidak berada di sekitar mereka. Entah hidup
yang bagaimana lagi yang harus mereka lakukan ataukah salah dan dosa apa yang
mereka miliki, sehingga harus meninggalkan sawah ladang yang selama ini membawa
berkah bagi kehidupan mereka. Demikian rasa tidak percaya diri terus saja
bergayut di hati mereka. Bayang bayang pilu kini kembali menghantui mereka kala
16 tahun lalu, mereka harus menyaksikan 40 saudara mereka warga Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem telah kembali ke pangkuan Illahi,
karena diterjang awan panas Merapi.
Jalan jalan
desa yang sempit dan beralas debu debu putih yang liar berlarian di terjang
kaki kaki yang melegam, kini terasa pengap dipenuhi dengus nafas dari manusia
manusia yang panik, yang ingin segera meninggalkan kampung halaman yang
meronakan bara. Sebagian dari mereka harus tertunduk tak berdaya kala awan
panas itu mencekik leher dan membakar dadanya. Sedangkan sebagian lainnya harus
terus mendayung waktu bergegas menuju barak pengungsian.
Wajah wajah
menakutkan tak berbingkai senyum ramah, yang tidak seperti biasanya keramahan
membahana di antara mereka kala bergelut dengan tanah ladang dan lenguh lenguh
sapi piaraan, kini hadir di antara mereka. Apalagi wajah Suto yang bergurat kepedihan,
lantaran istri dan ketiga anaknya belum juga tampak disekitarnya. Padahal sebelumnya
dia harus jatuh bangun memapah istrinya untuk berlarian sepanjang jalan desa
dengan menggendong si kecil, berlarian menuju truk pengungsi yang jaraknya
cukup jauh dari rumahnya uang terpencil.
Diapun segera
menggayutksn istri dan ketiga anaknya bergabung dengan truk yang telah sarat dengan pengungsi
lainnya. Hingga diapun harus mengalah menunggu kedatangan truk lainnya. Suto
hanya mampu berdoa, meminta kepada Sang Pencipta Gunung Merapi agar istri dan
ketiga anaknya bisa kembali disampingnya dan dia diberi kekuatan hati agar
mampu tabah dalam menghadapi kemarahan raksaksa biru yang kini menghanguskan
semua yang dia milki.
Gemuruh
letusan Raksaksa Biru Merapi mulai terdengar Suto dan pengungsi lainnya, rintik
hujan kerikil dan pasir mulai berjatuhan di sekitar mereka. Suto berlarian
kecil meninggalkan desa Gedangan bersama dengan beberapa pengungsi lainnya,
yang datang terlambat. Jauh di belakang mereka awan panas mulai menngulung apa
yang berada di depanya. Meski peluh bercampur debu membasahi semua tubuh Suto
namun dia tetap menerjang debu debu yang menghalangi pandanganya.
Dari jarak
yang tidak terlalu jauh, terlihatlah lampu lampu truk pengungsi dari relawan
yang berani menantang maut untuk menyematkan sisa pengungsi yang tertinggal
termasuk Suto dan teman temanya, sementara itu beberapa pengungsi yang semula
berada di belakang Suto kini tidak tampak
lagi, lantaran diterjang dengus nafas Merapi yang kelewat marah. Meski
Suto berhasil menyelamatkan diri dalam bencana itu, namun bilah hatinya masih
melekat kuat kepada istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Rasa tidak
percaya kembali menggeluti hatinya, betapa sebuah kehidupan yang diusungnya
harus disertai dengan perjuangan yang berat demi sebuah kedamaian bersama
keluarganya. Namun kembali lagi diapun harus berpasrah kepada Sang Pencipta
yang memberikanya hidup dan kebahagiaan bersama istri dan ketiga anaknya.
***
Telah tiga harinya lamanya Suto
hilir mudik ke tiap barak pengungsian guna mencari sisa terakhir yang dia
miliki, yaitu istri dan ketiga anaknya. Dari barak ke barak , Polres Boyolali,
instansi pemerintah Kabupaten Boyolali, RSU
Boyolali, RSIA Umi Barokah,
RS Al-Amin dan RS Mojosongo Kabupaten Boyolali, mereka belum juga ditemukan
entah kemana mereka, bagaikan di telan bumi atau mereka kini bersemayam di
langit bersama dengan mereka yang telah mendahului di terjang awan panas.
Sutopun hanya menitikan air matanya dengan langkah yang gontai, karena belum
sesuap nasipun masuk dalam perutnya.
“Sudahlah Pak Suto, semua
pengungsi disinipun mengalami kehilangan, bukan hanya bapak. Lebih baik bapak
makan roti ini, sekedar menambah kekuatan tubuh bapak” . Seorang relawan yang
bernama Hendrawan telah terketuk hatinya menyaksikan perjuangan Suto dan
keluarganya untuk menggapai kehidupan ini.
“Terimakasih, Mas !, aku tidak
akan pernah berhenti sebelum bertemu mereka. Kalau toh mereka menjadi korban
aku harus melihat mayat mereka”
“Pak Suto, tenangkan dulu hati
bapak. Akan aku antar mencari mereka sampai mereka ketemu. Kebetulan aku banyak
kenal teman teman dari media yang juga menjadi relawan. Makanlah dulu pak !”
“Ini semua salahku, seharusnya
aku langsung mengungsi waktu Pak RT menyuruhku segera mengungsi. Tapi waktu itu
aku tidak percaya begitu saja kalau Merapi bakalan meletus separah ini !”
“Kalau toh Pak Suto waktu itu
tahu bakalan seperti ini tentu jauh jauh hari sudah mengungsi. Tapi siapa yang
tahu kalau bakalan begini. Ini semata mata hanya Kehendak Tuhan Yang Maha Tahu.
Baiklah Pak Suto, kita lanjutkan lagi pencarian ini. Sekarang kita coba
menyisir pos pos relawan yang ada di Magelang, kita coba kontak dengan teman
temanku”
Hujan debu kini mulai menyerang
daerah Boyolali dan Magelang, jalan jalan raya dan atap rumah serta dedaunan
hijau kini berwarna putih. Mereka berdua dengan sepeda motor hampir selesai
menyisir pos pos relawan untuk korban bencana alam Merapi yang tersebar di
Magelang, guna meminta informasi termasuk dokter dokter relawan yang bertugas
di RSU Tidar RSU, RS Dr Soedjono, RSU Lestari Raharja dan RS Harapan Magelang.
Kembali Suto mendapatkan hasil pencarian yang menambah pilu hatinya.
Hingga akhirnya mereka kini hanya
bersandar di ruang tunggu RS Tidar melepas lelah ditengah hiruk pikuk upaya
pertolongan relawan pada korban bencana alam yang menyayat hati itu. Pandangan
mata Suto tercampak pada daftar korban yang meninggal ataupun luka yang ada di
papan informasi RS Tidar. Hatinya menguat kembali kini, setelah dia menemukan
informasi bahwa terdapat beberapa korban yang dilarikan ke RS Sardjito Jogja
lantaran daya tampung rumah sakit di Boyolali
terbatas.
“Mas, kembali aku minta tolong.
Antarkan aku ke RS Sardjito, barangkali istri dan anaku di sana !”
“Baik Pak Suto, sekarang juga
kita berangkat. Mumpung hujan debu masih tipis”
“Aku harus berkata apa lagi, Mas
?. Sungguh kamu manusia yang mulia, Mas Hendrawan”
“Ah..Pak Suto !. Namanya saja
relawan, ya tugasnya harus rela menolong warga yang tertimpa musibah”
“Sungguh, aku bersyukur kepada
Tuhan Yang Kuasa di jaman sekarang masih ada manusia seperti Mas Hendrawan”
“Sama juga aku, Pak Suto.
Ternyata masih ada manusia yag berhati tabah seperti Pak Suto yang diterpa
bencana seperti ini”
“Habis mau gimana lagi ?”
Hendrawan langsung minta
informasi kepada humas posko bantuan bencana alam yang ada di RS Dr Sardjito
Jogja dan mereka memang menerima pasien dari Turgo, seorang ibu dan ketiga
anaknya yang mengalami pinsan saat evakuasi, lantaran beberapa lama tak
sadarkan diri maka dari Boyolali pasien itu dibawa ke Jogja. Namun mereka belum
mengetahui siapa nama ibu yang pinsan tersebut. Suto dan Hendrawan bergegas
menuju bangsal ekonomi tempat ibu dan ketiga anaknya dirawat.
Kebahagian Suto kembali
menyelinap dalam lubuk hatinya melihat istrinya sudah berangsur pulih, meski
tubuhnya masih lemas. Sunarti istrinya yang kini terbaring lunglai dihadapanya menjelaskan
bahwa dia kala itu tidak tahan menghirup gas belerang yang sangat kuat hingga
dia dan Nova putri bungsunya menjadi tak sadarkan diri. Sedangkan kedua
kakaknya telah dititipkan pada Pak Sartono tetangganya yang kini masih berada
di barak Boyolali dalam keadaan sehat.
Diciumnya pipi istrinya dan si
bungsu dengan penuh haru, Sutopun kini hanya mampu memeluk Hendrawan sebagai
ungkapan terimakasih yang tak terhingga.
Entah sudah berapa kali Santiago
Prayogo mendenguskan bilah nafas gelisah di kursi pesawat, yang menghantarkan
dia dari Banjarmasin untuk pulang ke Semarang kampung halamannya. Perasaanya
begitu getir, meski dari balik jendela pesawat terlihat gugusan awan
berkejaran, mencoba mendinginkan hati Prayogo yang sedang diterjang bara api.
Sesekali dia menengok kursi disampingnya,yang kini tidak lagi diduduki Leila
dan anak mungil mereka Rakian, yang meluruhkan seluruh kekuatan sendi tulang
Prayogo.
Mata Rakian bocah mungil itu,
tawa candanya dan celoteh celotehnya yang memberikan kedamamian hatinya, kini
hanya ada di langit menggelantung bersama awan hitam, yang dihembuskan oleh
prahara di tengah bahtera rumah tangga Prayogo. Dia merasakan seluruh hidupnya
terhempas prahara. yang ditiupkan oleh kedua orang tua Leila sendiri, hingga
tibalah kursi pesawat yang diduduki, langit biru di balik jendela pesawat dan
barangkali desah nafas yang masuk tenggorokannya ikut pula menyalahkan dan menyudutkan,
mengapa dia harus kalah begitu saja. Padahal Leila masih membuka kedua
tanganya, meski berada di tengah himpitan yang kuat dari sorot mata kebencian
ortunya dan semua saudara saudara Leila yang cantik itu.
Kini dari kaca jendela, Prayogo
hanya melihat permadani biru bertabur buih putih. Jelas sudah dia tahu kini,
kalau Banjarmasin telah jauh dia tinggalkan. Berkali kali dia mengeluarkan HP
dari kantong bajunya, karena berharap HP itu akan memekakan telinganya,
lantaran panggilan dari Leila yang menyuruhnya dia kembali ke Banjarmasin demi
Leila dan anak tunggal satu satunya. Meski Pengadilan Agama telah mensahkan
perceaian antara mereka, namun Prayogo masih saja menyimpan nomor panggilan
Leila. Wanita berkulit kuning langsat, anak Juragan Romli pedagang besar kayu,
bersama dengan putri tunggalnya itulah Prayogo
telah 12 tahun mengarungi hidup di
Banjarmasin, sebagai guru swasta.
Masih kuat dalam ingatan
Prayogo, beberapa tahun yang lalu, Si
Kuning Langsat jelita hatinya, terus saja melipat wajahnya tiap dia pulang dari
mengajar. Namun unjuk easa Leila, yang tambah kelihatan cantik itu, tak begitu
digubrisnya, apalagi bila putra tuggalnya berada dalam pangkuanya. Prayogo tahu
betul, bila bahtera rumah tangganya telah menemui lautan dangkal berpasir, yang
dikelilingi karang terjal, Siap menghancurkan bahteranya yang tidak seberapa
kokohnya.
“Bapak
terus saja mengejar uang yang abang pinjam, mengapa hingga kini abang belum
mulai membayarnya, abang kan bisa saja mengangsur hutang modal itu Bang ?”
bibir merah yang berhasil merontokan hati Prayogo, seperti biasanya terus saja
menghakimi Prayogo yang sering tersudut dalam kekalutan hidupnya.
“Kalau
saja aku tahu bakal seperti ini. Tentu saja aku tidak mau berdagang kayu
seperti Bapak, Leila !!!! “ entah perasaan apa yang mengganjal sanubari Prayogo
kala itu, tidak pernah selama jarum waktu bergerak menghantarkan sang waktu,
Prayogo menepis permintaan Leila sekasar
itu. Bilah hati yang sedang disudutkan kekalutan itu, tidak mampu lagi menerima
permintaan Leila. Seribu kunang kini bertebaran di sekitar kepalanya, tubuh
Rakian didekapnya kuat kuat dan kini dia duduk di sofa penganti baru pemberian
mertuanya yang bergelimang harta.
Prayogo mengusap punggung Rakian
berkali kali, yang melengkingkan tangis manjanya, seakan akan tahu keadaan orang tuanya yang sedang didera kekalutan
hidup.
“Bang
Yoga !, bapak juga mengerti keadaan kita. Tapi seharusnya abang juga tahu kalau
bapak minta abang lebih serius lagi dalam mengembangkan usaha kayu”
“Leila
!, kamu kan tahu, aku sering rugi berdagang kayu. Aku jadi bertambah pusing ! ”
*Percuma
saja aku bicara dengan abang, modal yang bapak pinjamkan kan tidak sedikit.
Wajar saja bila bapak menanyakan usaha kayu kita, bang ? ” .
“Kamu
kan bisa menjadi wakil aku di depan bapak tentang bisnis kayu kita. Katakan
saja !, kalau aku bangkrut, modalnya
akan aku kembalikan secepatnya, Leila ?”
“Bukan
begitu bang !, jangan abang menempatkan masalah ini hanya dari aspek bisnis
saja. Bang !, aku anak tunggal, jadi wajar bila bapak ingin aku bahagia,
termasuk diri abang. Bapak hanya ingin tahu tentang usaha kita. Usaha yang
diharapkan bisa berkembang demi masa depak kita bersama’
“Tidak
usah kamu ajari, aku tahu masalah itu. Aku hanya minta waktu ?”
“Bang
!, aku anak seorang pedagang. Dari kecil aku menyaksikan betapa sengsaranya
bapak yang jatuh bangun mengembangkan usaha ini. Hingga kinipun bapak masih
hati hati mengembangkan usaha ini.
Inilah yang akan bapak ajarkan pada abang dan aku “
“
Leila !, aku bosan dengan ini semua, cobalah bicara yang lain saja. “
“Lantas,
apa lagi yang akan aku bicarakan, Bang Yoga !!!! “
“Maksud
kamu ? “
“Ya
!, karena kita sudah tidak punya apa apa lagi, rumah yang kita tempati, sepda
motor dan lainya adalah milik bapak. Masa depanpun kita sudah tidak punya lagi,
jadi apa yang dapat kita bicarakan lagi “
Pandangan mata Prayoga seluruhnya
dilemparkan kea rah tembok tembok rumah yang kini mulai kusam. Tembok tembok
itu dulu berwarna putih bersih, kala mereka menempati sejak malam pertama. Prayoga masih terdiam, hanya anganya yang
mengembara bberapa tahun silam, kala mereka bersua masih menjadi mahasiswa IKIP
di Semarang. Leila kala itu, dikenal kembang kampus dari sebrang, dengan penampilan
sederhana meski putra tunggal seorang pedagang kayu yang sukses.
Prayoga menautkan cintanya kepada
si kuning langsat, lantaran awalnya Prayoga tidak menduga bahwa Leila anak
tunggal seorang pedagang besar yang kaya raya, namun memiliki cita cita
sederhana ingin menjadi seorang pendidik. Sungguh bersahaja cewek gedongan ini,
tak melekat sedikitpun di tubuhnya yang atletis segala macam perhiasan yang
gemelap, meski bagi Leila yang berkelas milyarder, masalah itu gampang saja.
“Bang
Yoga !, aku serius !, abang sebaiknya bertemu bapak untuk mempertanggung
jawabkan modal itu “
“Dengan
apa aku bisa membayar, Leila ?”
“Bertemu
dengan bapak dulu, bang !. Meski rugi dan habis modal abang, bapak kan
memaklumi bila abang bersedia menelaskan alasan yang tepat. Siapa tahu bapak akan
memberi solusi yang tepat?”
“Aku
belum siap, Leila ?”. Santiago Prayogo tanpa berkata lagi sepatah katapun,
membawa tubuhnya dengan bergegas ke luar rumah dengan membanting pintu dan
pergi tak tentu arah entah kemana, kini tinggal
“Abang,
abang…!!!!”
***
Suara batuk batuk dari Juragan
Romli memenuhi seluruh ruang tamu rumah besar itu, sementara Leila sedang asyik
menidurkan Rakian di Sofa tamu berwarna hijau lembut. Cuaca siang itu memang
sangat panas, namun tidak sepanas perasaan Leila yang membarakan amarah dan kekecewaan
kepada Santiago Prayoga, yang selalu menghindar dari pembicaraan serius tentang
nasib meeka. Leilapun mengerti bahwa mereka berdua adalah sama sama berprofesi
sebagai pendidik, sesuai yag dicita citakan meeka berdua. Meski untuk beberapa
tahun ini Leila memilih untuk berhenti sementara, karena kesibukan membantu
usaha mereka dan mengasuh Rakian.
“Leila
! Itulah kehidupan. Dahulu tentu saat kamu masih kecil, kamu sering menyaksikan
bapak dan mamak bertengkar. Namun saat terjadi pertengkaran, salah satu harus
bersikap dingin, yang dapat menyiram bara api yang hinggap di hati yang membara.
Bila kedua belah pihak saling membara hatinya, maka darimana mereka akan mendapat
kedamaian ?“
“Aku
sangat prihatin dengan sikap Bang Yoga, aku harapkan Bang Yoga mau
mempertanggung jawabkan modal yang diberikn bapak, mengapa rugi dan berapa sisa
modal yang ada ?” Suara Leila terdengar terbata, di kedua pipinya kini mengalir
titik titik air mata.
“Leila
!, bagi bapak tidak menjadi masalah serius tentang kerugian Prayoga, karena modal
itu memang milik kamu, dan bapak masih punya banyak harta milik kamu. Semua
itu tidak dibawa mati bapak dan emakmu.
Sudahlah jangan terlalu dipikirkan !”
“Betul
Pak, tapi aku tidak enak sama bapak dan emak, bagi Leila abang Yoga mau ketemu
dan mempertanggungkawabkan sama bapak itu saja sudah senang, Pak ?”
“Memang
bagi Prayoga yang dilahirkan bukan dari keluarga pedagang, susah untuk
berhasil. Maka dulu bapak kan pernah memberi saran, untuk menjadi pedagang kayu
yang sukses, Prayoga harus mulai dari bawah.Tetapi kau memaksakan diri “
“Aku
memang tidak mengerti, Pak. Sejak dari kami berpacaran dahulu, kami berjanji
bersama untuk belajar bersama menjadi saudagar sukses seperti bapak. Makanua
dengan modal 250 juta, kami berdua ingin belajar pada bapak hingga sukses. Tapi
kini Bang Yoga sepertinya tidak serius lagi”
“Memang
kalau bapak perhatikan, Prayoga bukan tipe
pedagang tangguh, sama sekali tidak berani mengambil resiko dan takut
tantangan. Mungkin saja dia lebih suka menjadi pendidik, disitulah kepuasan
moral Prayoga “.
“Lantas
aku harus bagaimana, Pak ! “
“Cobalah
dinginkan perasaan kalian berdua dulu, nanti kalau sudah tenang mintalah
pertanggungan jawab dari Praypga, meski modal itu dari bapak, tapi modal itu adalah uang, yang harus jelas
pengeluarannya. Aku menginginkan kalian berdua belajar professional, aku
percaya semua pengeluaran Prayoga tidak untuk
hal yang tak berguna. Dari kehati hatian bapak terhadap pengeluaran
itulah, bapak bisa sukses seperti ini “
Leila tidak menjawab kata kata
bapaknua, Leila hanya mampu menyimpanya dalam hati. Ayahnya yang bijak itupun
kini pamit, hingga tinggalah penantian Leila di dawai sang waktu hingga
kepulangan Prayoga, yang akhir akhir ini sering beberapa hari tidak pulang, entah
kemana perginya sang suami yang tercinta. Namun tidak ada satupun makhluk di
dunai ini yang mampu menghentikan sang waktu. Santiago Prayoga yang
mengalami kerugian besar, tidak segera
untuk minta advis istri apalagi bapak dan emaknya Leila, tapi malah semakin
nekat perilakunya.
Leilapun merasakan kini hidup
bagai di atas panggangan api, demikian juga Rakian yang merasa asing dengan
kedatangan Prayogo bapaknya,yang sering pulang malam tanpa memberi sentuhan
kasih sayang. Tiap malam tiba, tembok kokoh rumah dengan arsitek Eropa itu
telah bergetar, genting beton yang kokoh kinipun seakan beterbangan tiap kedua
insan itu saling bertengkar hingga larut malam. Demikian juga kala di sebuah
malam yang tidak pernah Prayoga lupakan. Pertengkaran natara mereka berbuah
pada perpisahan yang diminta Leila sendiri.
“
Sebaiknya kita tidak usah bertengkar setiap saat di rumah ini, bang ?”
“Mengapa
kamu bersikap seperti ini sekarang ?”
“Barangkali
saja abang, lebih memilih tidak bertemu aku lagi yang selalu mengganggu
kehidupan abang ?”
“Maksudmu
?”
“Abang
tidak usah setiap hari pulang malam, hanya untuk menghilangkan beban yang ada
di pundak abang “
“Leila
!,. aku tiap hari mengejar teman teman yang meminjam uangku, banyak mandor
hutan yang pinjam uang sama aku, teman guru dan juragan lainnya. Aku ingin
uangku kembali dan mempertanggungkan pada bapakmu “
“Abang
!, mereka semua saling kenal baik dengan bapak. Mestinya bapak cerita semua
tentang itu. Jelas abang tidak jujur dengan aku ?”
“Leila
!, jangan sembarangan kamu bicara ?.Apa karena kamu dan bapakmu orang kaya
terus bisa bicara senaknya denganku ?”
“Tolong
bang jangan sebut nama bapak dalam hal ini. Dia sudah berlaku baik dengan kita
semua “
“Lantas
maumu apa, Leila ?”
“Sederhana
saja bang. Abang silakan bebes kemana
saja tanpa diganggu aku”
Prayoga ingat betul, mengapa di
malam berbintang terdengar suara petir yang mampu menghanguskan hatinya. Leila
menginginkan perpisahan denganua bukan karena salahnya atau dia, tetapi memang
suratan takdir berkata demikian. Lamunan itu kemudian terpagut, kala announcer
dalam pesawat itu memberitahu kepada semua passenger, bahwa mereka kini telah
tiba di Semarang
Barangkali saja manusia memang
harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa
didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus
mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada
tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi
Transmigrasi Kalsel. Setelah lima
tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk
mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka
berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.
Sementara Sugiarti kini lebih
memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal
transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang
mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir
separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari
Jawa begitu rapuhnya. Mereka berduapun telah cukup sudah menyematkan sebuah
pengabdian yang besar kepada petani sawit dengan rela menjadi pendidik, tanpa
memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur
kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka
kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.
***
Suatu senja di tengah lahan
sawit, sebuah perpisahanpun tak mampu mereka tepis.
“Itulah kenyataannya, Mas.
Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti
di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.
“Yah!, kalau memang itu maumu,
kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan,
semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun
berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.
“Aku harap engkau mengerti, Mas
“
“Nggak jadi masalah!, Toh aku
sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK
penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita
harus siap menerima tantangan apa saja”
“Tapi bagi kamu, Mas. Masalah
ini kan lain.
Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan
ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak
berdaya, Mas !”
“Akupun mengerti, Giarti. Hanya
aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan
separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia
yang berhak mendapatkan bahagia”
“Betul, Mas !, apa hanya di
bibir saja ?”
“Pernahkah aku bohong padamu ?”
“Nggak, pernah Mas !”
Giarti tidak mampu lagi menjawab
ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun
masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan
perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini.
Sugiartipun telah tahu bahwa
tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang
lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani
sawit.Bumi transmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua
hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah
perpisahanpun nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji
saling mengerti.
Memang merekapun masih berharap
bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu
memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang
ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki
langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya
sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.
Bagi Sofyan liku-liku hidup
adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang
terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski
dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan
sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu.
Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki
dengan realita.
***
Sang waktu pula yang membawanya
menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur
hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan
sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas
tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu
bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja
terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali
teringat Sugiarti, meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu
pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping
hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya
bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.
Herningsihpun dengan senyum
tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap
anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya. Akhirnya pada senja kali
ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak
menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka
terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan
berjalan menghampiri mereka.
“Silakan masuk Bang Hardiman,
mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu
terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.
“Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf
manganggu acara kalian semua”
“Oh sama sekali tidak, kami
hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini,
sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”
“Betul Bang, ini semua tentang
adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan.
Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan
Sugiarti.
“Kenapa dengan Kak Sugiarti,
Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar
sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.
“Ah aku sudah tidak mampu
berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”
“Sugiarti, sakit apa, Bang ?”
“Dokter menemukan adanya kanker
pada kedua ginjalnya, Bang “
“Lantas, menurut dokter
bagaimana cara penyembuahanya ?”
“Itulah, Bang yang membuat saya
menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi,
kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini
aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil
menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”
Terlihat menegang wajah Sofyan
mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun
bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai
meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah
suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.
“Mam, gimana bila Bapak mencoba
untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”
“Silakan saja Papi, tapi apa
kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”
“Gimana Bang, aku sebenarnya
pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak
memungkinkan”
“Ah saya sendiri tidak tahu,
Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter
mengijinkan”
Herningsih tertunduk lesu, dalam
hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya
dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan
suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia
merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya
itu.
Namun apapun alasanya , Herningsih
hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan
kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya dan juga menyisakan sorot
mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan
kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya.
Di kamar ICU itu Sugiarti masih
terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari
seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan
Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat.
Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan
kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas
Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.
Hardiman kini hanya mampu
meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan
hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera
merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya,
pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang
Kuasa menghendaki. ***
Biarkan
saja kokok ayam jantan tak henti menyambut pagi hari, mereka berkokok saling
bersautan dari pojok desa satu dengan lainnya. Mereka begitu tak hirau dengan
datangnya hari yang akan dijalani oleh kehidupan manusia babak demi babak,
menurut kodrat yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Pagi
itu bumi Desa Kembang Arum seakan tiada menyisakan warganya yang kembali
merapatkan selimutnya, meski di tengah musim kemarau udara begitu dinginnya.
Kabut tebal masih enggan menatap sang mentari. Sementara itu semua celoteh
burungpun tak mau peduli dengan malasnya embun yang menyelimuti mereka.
Sementara semua penduduk desa, yang kebanyakan petani gurem mulai bersiap
mencari secercah penghidupan, dengan menyandarkan pada palawija, lantaran musim
kemarau masih menerpa mereka. Di tengah penghidupan masyarakat yang separuh
nafas itulah, Nur Hadi mengabdikan diri sebagai Pak Guru. Demikian predikat
yang diberikan masyarakat desa kepadanya.
Nur
Hadi bukan hanya guru di SD N III Kembang Arum, namun dia juga sebagai guru
bertani, bergaul, pengentasan terhadap ketertinggalan, keserasian rumah tangga
dan seabreg nilai lainnya yang dibutuhkan masyarakatnya. Jubah Hitam kala dia kenakan
diwisuda menjadi S.Pd. ternyata menyimpan seribu beban. Namun bagi Nur Hadi
beban itu, hanyalah sebuah nyanyian merdu seorang pendidik yang ditekuni lahir
batin.
Matahari
sudah tidak malas lagi dan kini mulai bangkit dari cakrawala timur, jalan desa
sudah dipenuhi sibuknya petani guna mencari nafkah. Debu jalan desapun tak mau
kalah dalam bersuka ria, beterbangan bersama angin kemarau yang dingin dan kering.
Dengan
sepeda motor bututnya Nur Hadi mulai bersiap menuju sekolahnya guna menyongsong
anak-anak kesayangannya untuk mendapatkan setetes demi setetes ilmu. Namun
terkadang pula dia sering menjumpai penduduk desa yang sengaja bertandang di
sekolahnya sekedar minta setetes masukan guna menyelesaikan semua permasalahan
yang membelitnya. Dalam hal ini jadilah Nur Hadi sebagai konsultan rumah
tangga, kesehatan, bisnis yang tanpa menarik jasa serupiahpun.
Angin
kemarau melambaikan semua rerimbunan daun di lingkungan sekolah, menimbulkan
hawa sejuk sekaligus keteduhan hati. Nur Hadi masih membimbing anak kelas VI
untuk menata kelas, karena senin lusa
akan dilangsungkan ujian sekolah. Pandangan matanya kini terpusat pada halaman
sekolah, kala seorang wanita tua berjalan mendekatinya dengan tergopoh-gopoh.
Rupanya pagi ini giliran seorang penduduk desa yang berniat minta tolong kepada
Pak Guru Nur Hadi.
“Oh
rupanya engkau Bi, silakan duduk”
“Aku harus bagaimana?, aku harus berkata apa?”
“Sabarlah
Bi, duduklah dengan tenang, katakana apa masalahnya, Jangan emosi dulu”
“Itu
si Amran, yang sekarang tak mau sekolah lagi, sudah tiga malam ini dia baru
pulang. Lagian pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana ini Pak Guru ?”.
“Ah
anak muda sekarang memang seperti itu,
Bi. Jangan Bibi banyak marah dengan anak sekeras itu. Turuti saja kemauannya
dulu. Setelah dia agak lapang hatinya barulah Bibi nasehati dia”
“Tolonglah
Pak Guru, sudah tidak kurang lagi aku ngomong sama dia. Rasanya sampai kaku
lidahku”
“Ah
Bibi ini ada ada saja. Kalau Bibi tidak mau kasih nasehat. Lantas siapa lagi?”
“Iulah
masalahnya, Pak Guru !. Amran kan
dulu sekolah sini. Dulu kan
Pak Hadi yang paling dekat denganya. Maka tolonglah Bibi ini. Nasehati si Amran
itu !”
“Baiklah
kalau begitu, Bi !. Tunggulah beberapa hari. Nantikan dia ketemu aku di
kegiatan karang taruna. Aku akan nasehati dia”
“Ah
trimakasih sebelumya, siapa lagi kalau tidak sama kau Pag Guru, untung desa ini
punya guru seperti kamu. Maka carilah gadis desa sini supaya kau betah tinggal
di sini. Jadilah penduduk sini, kau akan merasa damai, Jangan cari gadis kota !. Mereka pintar dan
cantik tapi suka berani sama suami”
“Ah
Bibi ada ada saja. Trimakasih nasehatnya ya Bi”
“Aku
pamit dulu, gampang lain waktu kita sambung lagi”
Nur
Hadipun menjadi geli hatinya, tentang peran dia di tengah masyarakat desa ini
yang masih lugu dan pasrah. Jauh berbeda dengan Jogja tempat kelahirnya, yang
jauh di sebrang lauan dari tempat dia
mengajar kini. Beruntung pula bagi Nur Hadi yang memiliki tabiat ramah, suka
menolong dan supel bergaul. Maka meski kehadiran dia di Jambi belum beberapa lama, namun hamper semua
warga di Kecamatan Hidup Baru Kota Jambi telah mengenalnya.
Matahari
telah melewati sepenggalah langit, teriknya sudah mulai memenuhi semua halaman sekolah yang sederhana itu. Semua siswa kini berteriak kegirangan lantaran mereka
hanya setengah hari bersekolah. Nur Hadipun segera menuju perjalan pulang
melewati jalan yang terik dan berdebu. Gemerisik daun jagung di tiup angin padang terdengar
sepanjang kanan kiri jalan desa. Senyum wanita desapun tak ketinggalan ikut
mengantar sepanjang perjalanan guru muda terebut, Termasuk Restu Priastuti,
putra Pak Priadi yang telah lama tinggal di pinggiran Kota Jambi. Pak Priadi
sendiri befrasal dari Kab. Purbalingga Banyumas.
Untuk
gadis Jambi yang satu ini memang Nur Hadi merasakan sesuatu yang lain. Selama
dia menggapai masa depanya dengan menjelajah banyak tempat, belum pernah kata hatinya bergejolak seperti
ini, dari mulai pandangan pertama saat
mereka bertemu di pertandingan voley antar desa, mereka berdua sudah saling
tertarik.
Nur
Hadi segera menepikan motornya kala melihat Restu gadis pujaanya, sedang
membantu ayahnya membersihkan lahan tanaman jagungnya dari rumput dan gulma
lainnya. Mereka akhirnya sudah terlibat dalam canda ria saling melepas tawa,
sambil sebentar sebentar berpadu pandang. Kala ini terjadi, merahlah pipi Restu
namun tidak mengurangi keanggunan gadis desa ini. Nur Hadi segera saja melepas
sepatunya dan ikut membantu tambatan hatinya dalam mengolah lahan jagung itu,
meski seragam batik PGRI menjadi berlepotan tanah.
“Kok
nggak sekalian pulang dulu Kak?”
“Di
rumah juga mau ngapain cuma bengong. Mendingan melihat di sini, bisa melihat Nawang Wulan di sawah”
“Siapa
itu Nawang Wulan, pacarmu dari Jawa ya Kak ?” . Nur Hadi tersenyum gelid an
membuat Restu tambah penasaran
“Ayo
dong Kak. Siapa Nawang Wulan. Kayaknya di desa ini nggak ada yang bernama
Nawang Wualan”. Karena desakan yang terus menerus Nur Hadipun akhirnya
bercerita tentang legenda Jawa tentang Joko Tarub dan Nawang Wulan. Restupun
menjadi berbingar wajahnya dan memerah pipinya dan kini hanya tertunduk lesu
setelah tahu maksud hati sang guru yang masih perjaka itu/
“Tapi
aku bukan bidadari lho kak”
“Ah
bagiku kamu adalah bidadariku” jawab Nur Hadi kala mereka telah berdua duduk di
bawah rerimbunana tanaman jagung yang sudah agak tua.
“Kan masih banyak
bidadari di Jawa kak?”
“Aku
sudah jadi PNS dan berniat tinggal di sini. Lagian di Jawa aku tidak punya
siapa siapa hanya bapak dan ibu serta adiku. Untuk apa aku ke Jawa lagi”
“Tapi
banyak guru negeri yang balik lagi ke Jawa, kamu apa nggak seperti mereka?”
“
Nggak Res, aku dah betah disini, kelak kalau kita bersama membentuk maghligai,
akan aku pindahkan saja bapak ibuku ke sini. Orang sini baik baik semua sama
aku Res ?”
“Gimana
ya kaka, kebanyakan pria memang suka menebar janji, aku nggak tahu kak?”
“Aku
seorang pendidik Res !. aku punya moral. Dan bagi seorang pendidik, yang telah
bertekad menjadi pegawai negeri tentunya akan memiliki moralitas untuk
membangun lingkunganya. Barangkali kita bsa pulang ke Jawa setelah aku pensiun.
Dan untuk itu telah berulang aku sampaikan padamu untuk bersama menggapai kehidupan
kita bersama”. Restu hanya menundukan wajahnya,
sama sekali dia tidak mampu menjawab setuju. Maka kini Nur Hadi menjadi
berbunga hatinya. Tembang merdu dalam hatinya terus saja ia dendangkan
sepanjang perjalanan pulang mengantar Restu ke rumahnya.
Sepanjang
perjalanan semua warga desapun melempar senyum dan lambaian tangan. Seakan
mereka telah menobatkan mereka berdua sebagai Abang dan Nona Desa Kembang Arum.
Nur Hadi kinipun larut dalam belaian cinta bersama Restu pujaan hatinya***