Minggu, 13 Mei 2012

Aku Anak Ubi Rebus


PUISI ANAK
Kala basah mata emak,
Aku jadi sedih, bukankah singkong rebus
untuk makan malam kita telah siap di meja
tersedu juga teh gunung yang tawar tapi hangat
Biarkan bapak di rantau...bertanam nafas
Dalam buaian hidup, berkalang sumpah serapah

Emak, jangan berkubang air mata
Biar dinding perutku ini, terus memburuku
Dengan “gulai” kasih emak sehalus sutra
Akupun terus panjatkan do’a.
Agar gubug bambu tempat kita merebahkan
badan, terus menyanyi lagu ceria

Aku anak ubi rebus, hanya halaman rumah
Yang tinggal sejengkal yang dapat menyongsong
aku yang terbiasa tanpa alas kaki,
akrab dengan kebon dan palawija

Bapak, esokpun akan aku jemput
Pulang dari kota
Untuk menyemai padi hidup aku***

Hamdi Beffananda Aji

Jangan Bersedih Emak !


PUISI ANAK

Hari ini aku masuk sekolah, setelah libur lama
Emak belum membelikan aku sepatu baru,
Tapi aku tetap ceria di tiap pagi ke sekolah....
Karena baru minggu ini bapak menyemai padi
Aku tidak mau emak marah dan bersedih
Bila aku minta tas dan sepatu baru..

Tuhanku, berilah mereka selembar hidup yang kokoh
Sekokoh apa yang tidak mudah terhempas
Hujan. Badai, beliung atau pekatnya jaman

Emak, untuk apa bersedih....
Bukankah masih ada matahari dan bulan
Yang menerangi gubug bambu kita
Bukankah emak masih mampu menyodorkan aku
Sepotong cerita bila mataku belum terlelap

Aku anak dengan sebungkus kue sawah ladang
Yang jauh dengan kue-kue anak gedongan
Emakpun bahagia bila aku tetap belajar
Di atas meja bambu beralas kasih emak

(Semarang, 2 Januari 2012)
Hamdi Beffananda Aji

Gerimis


PUISI ANAK

Mengpa seharian kau menggigit bumi
Hingga basah yang aku alami
Burung burung terdiam, tulang-tulangku meronta
Meminta seberkas kehangatan,
Aku hanya memiliki suka cita
Bersama ayah dan emaku, meski hidup di
bawah rumah bambu dan beralas tanah
kita semuapun setia menunggu gerimis.

Agar singkong dan ubi di ladang,
Lebih keras lagi memberi sapa
Agar emak  tidak marah menyuruhku jauh mengangsu air di sendang
Gerimis berilah kabar kepadaku
Bagaimana aku bisa kuliah di perguruan
Karena bapak dan emak,  hanya  mampu tersenyum pilu

Gerimis, kabarkan ke langit,
Aku pengin menjadi pilot pesawat
Hingga mampu menyentuh langit
Terimakasih gerimis

(Semarang, 26 Desember 2011)

Hamdi Beffananda Aji

premen untuk sahabatku


PUISI ANAK

Satu buah premen aku kantongi
Lainnya aku berikan, pada teman sebangkuku
Dia bercerita,  belum sarapan pagi tadi
Sepiring nasi hanya untuk bapaknya
Yang sakit tak  sembuh sembuh

Aku berkata “kasihan bapaknya”
Dia mengusap air matanya
Dia sering dipanggil bu guru
Karema belum membayar SPP.

Aku berjanji padanya,
Esok akan kubawakan sekerat roti
Dia hanya tersenyum

Desember, 2011-Hamdi Beffananda Aji

Parangtritis dan liarnya hatiku


Puisi Effi Nurtanti


sketsa bergaris biru dari langit, kala itu bertemaram
berkemas menyambut sang rembulan, sang langit Parangtritis
bergaun tipis warna jingga dari noni negeri Skandinavia
meski aku bersanding dengan tepi pantai, buih menyorot pandang
penuh tanya……
langit yang menyelup batas pandang kaki langit,
melingkungi aku dengan seribu keingintahuan
tentang getar halus yang menyelinap di nadi darahku,
saat di Parangtritis, saat aku berkeluh dan kesah padanya

aku tak mampu lagi, gurat langit memang segera menautkan
dengan birama dan eksotis ombak liar, yang silih beganti
menengok beranda jantung ini.
sempat aku titipkan “kata cinta milik dewa dewi”
di negeri sebrang langit, tempat kau menjinjing hari
tempat kau berbenah bekal hidup dengan padi dan palawija,
bersemi di petak harap berpagar bamboo warna warni.

aku dalam ceria menerjang atmosfer Parangtritis
bukit bukit kapur segera menyodorkan lagi
suara dan detak jantungku yang hilang
lantas kau kuatkan dengan nanar kuda liar
agar bertaut dengan jendela langit

hari telah senja,
buihpun segera terbenam dalam peraduan
rembulan milikmu
biar aku simpan saja di Jogja bilik bambuku

(Jogjakarta, Mei 2012).