Rabu, 16 Mei 2012

Rumah Bambu Berhalaman Taman Bunga


Tengah hari Kota Semarang dibanjiri semburat sinar mentari yang panas membakar. Debu debu berceria dan berkejaran di hempas roda roda kendaraan besar, layaknya monster yang haus akan mangsanya. Jalan jalan aspal berkilauan memantulkan sinar matahari yang tegak lurus menikamnya.  Peluh dan sorot mata berang memenuhi semua insan yang mengais selembar demi selembar harapan untuk melonggarkan nafas. Guna menggenggam hidup.

Pertengahan Bulan Oktober ini, alam lebih senang mengerlingkan matanya pada bumi dengan kerling mata yang kering tiada dibasahi hujan setetespun. Sementara bumi sudah mulai melekangkan tubuhnya, mengeliat dengan panas yang mengungkunginya. Meski baru dua minggu hujan besar telah menyelinap di wajahnya. Namun kini bumipun sudah mulai menunjukan kegerahanya.

Apalagi bagi  Herlambang yang tiada selembarpun kesejukan  bersemayam di hatinya. Di tengah deru dan debu hidupnya, wajah Raras yang kini merantau ke negeri jiran selalu berada di benaknya. Setelah kerja setengah hari pada hari sabtu siang, sambil menunggu kedatangan anak anaknya pulang sekolah, selembar lamunan terus memagut anganya. Mengapa dia membiarkan istrinya menjadi TKI di negeri sebrang, yang hanya meninggalkan kepedihan itu. Apalagi bila malam tiba, saat Ririn putri bungsunya, memeluk tubuhnya kencang-kencang, lantaran dia tidak mau  kehilangan lagi tempat berlindung. Setelah mamanya meninggalkan mereka demi selembar kehidupan .

Masih membekas dalam relung ingatanya, kala dia selalu menyodorkan egonya, menghempaskan harapan Raras untuk membina maghligai rumah tangganya dengan lengan lengan mereka yang tiada seberapa kokohnya. Kala dia pernah memberi janji manis pada gadis pedagang jamu gendong di Kota Semarang, untuk memberikan segala kehidupanya demi membangun gubug mungil berhalaman taman bunga, meski hanya kembang sepatu, bakung dan nusa indah. Betapa indahnya hidup yang berisi penuh dengan gambaran fantasi itu dan Ririnpun menjadi hanyut terkulai di pelukan Herlambang.

Maghligai penuh kasih mereka tambatkan dalam rumah mungil meski berdidnding bambu. Dalam gubug bambu itu, selalu terdengar canda anak anak mereka yang mungil, imut, cerdas dan manja. Tangis sang anak adalah ibarat penyejuk saat hati merasakan getirnya kehidupan. Itulah yang diberikan Herlambang kepada Raras, meski hanya sebuah janji.

Masih membekas pula kala dia hanya mampu menghabiskan gaji bulananya di meja judi berteman botol botol miras yang hanya dingin membujur, saat dia kalah dan kalah terus hingga mengikiskan akal sehatnya. Membenamkan seribu janji yang pernah dia sodorkan kepada Raras tentang hidup di tengah gubug bambu namun berornamen kesahajaan dan kasih saying yang tulus.

“Bapak Ririn pulang “ sebuah suara lembut dan manja mengagetkan selembar lamunanya di siang hari. “Ririn sudah di kasih rapot  sama bu guru dan surat  untuk Bapak. Baca ya Pak. Dan Bapak di tunggu bu guru di sekolah ?’
“Ya Sayang, Bapak besok ke sekolah, mana rapotmu, sayang !. Biar Bapak lihat ?”
“Tapi Bapak masih marah ?”
“Oh Ririn sayangku, Bapak sudah nggak marah lagi, ya sayang !. Bapak tadi malam marah sama kakak kakakmu yang bandel”
“Baguskan rapotnya Ririn, Pak ?”
“Iya dong, anak siapa dulu “
“Nanti rapotnya di kirim ke mama ya Pak. Biar mama tahu rapot Ririn. Kapan mama pulang, Pak , Ririn kangen sama mama ?”. Air mata bening kini berada di kedua mata bocah yang hanya mengerti ketulusan hati. Air mata yang hanya datang dari hati yang paling dalam.

Herlambang kinipun tersudut di ketidaktahuan. Bagaikan bocah kecil yang tersesat di padang luas tak tahu arah. Kala menerima permintaan dari Ririn samudra hidupnya.
“Pak, janji sama Ririn ya, cepat cepat menyusul mama “ Suatu pertanyaan yang paling mengiris hatinya kini datang lagi,dari bocah yang lugu dan tidak sepantasnya jauh dari sisi mamanya.

“Iya sayang, besok Bapak ke sekolah kamu dan habis itu Bapak menyususl mama. Nanti Bapak belikan baju baru, ya ?”
“Nggak mau, Pak. Ririn hanya mau mama pulang !”.

Anak kesayanganya itu masih dalam gendonganya, namun hatinya kini memenuhi isi langit, mengembara jauh tiada tepi untuk menemukan seribu cara meminta kepulangan Raras yang entah di mana. Tiada selembar suratpun dia terima setelah perpisahan mereka.Ririnpun terkulai tidur di bahunya yang legam da kokoh. Sementara itu Iwan putra ke duanya dengan langkah terburu menghampirinya, sambil terengah berusaha mengatur nafas.

Ada apa, Wan ?”
“Pak, aku tadi di sekolah dikasih uang ?”
“Siapa yang ngasih uang kamu ?”
“Nggak tahu, Pak. Dia mengaku teman mama di Malaysia. Dan kini dia pulang ke Indonesia dan nggak tahu dia ngasih aku uang untuk Ririn, aku dan Mbak Winda ?”
“Namanya siapa ?”
“Namanya Tante Lilis dan dia memberi alamat aku, katanya rumahnya di Kalisari, ini pak alamatnya. Untung Iwan tulis di buku alamatnya Tante Lilis. Janji ya Pak !, nanti jemput mama ?”
“Bapak nanti akan jemput mama, tapi Bapak nyari alamat Tante Lilis dulu. Eh..jangan ngomong sama Ririn dulu, ya..janji !”
“Iwan janji, Pak asal Bapak mau jemput mama secepatnya”
“Jangan kuatir, anaku !, demi kalian bertiga Bapak akan jemput mamamu”

******

Semula Lilis ragu dalam hatinya setelah bertemu dengan Herlambang, di rumahnya. Apakah pria yang ada didepanya kini adalah suami teman akrabnya di Malaysia. Namun perasaan ragu kini telah hilang setelah mereka berdua larut dengan perbincangan mengenai Raras.

“Dia memang kecewa dengan dirimu,Mas “
“Akupun mengerti perasaan Raras, namun demi anak anak aku harap dia mau kembali ke Indonesia. Dan akupun sudah tidak seperti dulu lagi, aku adalah manusia yang punya hati. Sepeninggal Raras,  kesedihan dan rasa rindu mereka bertiga sungguh mengiris hati ini. Maka aku akan kirim surat padanya agar mau berkumpul dengan mereka yang masih kecil”
“Bukan hanya anakmu saja yang menangis. Sering pula aku menjumpai Raras menangis, merindukan mereka bertiga”
“Tetapi mengapa dia tidak segera kembali “
“Raras segera mengurungkan niat kembali ke Indonesia bila ingat perlakuanmu padanya, Mas !”.
“Apakah tidak ada kesempatan bagi saya untuk membuktikan janji aku sama Raras?. Maka tolong Jeng Lilis, beri aku alamat Raras. Walau bagaimana dia adalah istriku “
“Tapi, Raras melarangku untuk memberimu alamat “
“Kalau memang tidak ada kesempatan untuku, suruhlah dia kembali, Jeng demi anak anak. Terutama untuk Ririn”

Saat Herlambang menyebut nama Ririn,  seketika itu pula terlibat butiran air mata Lilis memenui seluruh rongga matanya. Lilis mampu membayangkan betapa tersiksanya Raras di hampir setiap malam tiba,  kala teman karibnya menahan rindu yang mendalam.

“Bila Jeng Lilis tidak mau memberiku alamat, tolonglah kirimi dia surat, sampaikan padanya bahwa betapa menderitanya Ririn kehilangan dia. Bila dia tidak mau bertemu aku lagi. Bawalah Ririn dan kakak-kakaknya sesuka dia, meski hatiku berat ”. Herlambang adalah pria yang kokoh hatinya, namun menghadapi kenyataan ini semua Herlambang tak lebih seperti  bocah cilik yang kehilangan mainan.

“Baiklah Mas, aku beri nomor Hpnya, pakailah hpku saja supaya dia mau membuka,  biar Mas bisa menyampaikan sendiri ?”

Dengan tangan gemetar Herlambang memegang Hp Lilis, kini hatinya merasa tak percaya ketika sebuah suara yang paling dia kenal memenuhi semua pendengaranya.

“Ras, tolong jangan di tutup Hp ini. Aku Herlambang, tolong Ras aku ditunggu anak anak untuk mendapat jawaban darimu. Terutama Ririn yang tiap malam mencarimu”
“Untuk apa lagi, Mas.  Bukankah Mas dulu mengusirku pergi, Bukankah keberangkatanku telah minta ijin Mas, lagi pula Mas dengan dingin memintaku pergi sejauh yang aku suka”
“Raras, itu dulu. Aku tidak akan seperti itu lagi”
“Aku sudah tidak percaya kamu lagi, Mas !. Sejak kapan manusia sepertimu bisa memegang janji. Aku rela berpisah dengan anak anak karena janji yang kau lupakan. Bahkan dirimu memperlakukan aku…….”

“Ras, aku menyesali itu semua, setelah tiap malam Ririn dalam pelukanku dan selalu menyebut namamu di tengah tidurnya. Kau kan istriku, kaulah yang paling berhak memeluk Ririn kala malam tiba “

“Setelah aku kembali dan Ririn bersamaku lagi, kau bebas memperlakukanku lagi ?”
“Aku harus berkata apa lagi, bila kau terus seperti itu, Oh ya tadi Ririn menyuruhku mengirim rapotnya, dia naik kelas dua. Ririn tadi mengambil  rapot bersama dengan kakeknya. Dan besok aku harus ke sekolah memenuhi panggilan gurunya”

“Ririn naik kelas, Mas. Lantas mengapa gurunya memanggilmu ?”
“Dia bisa naik kelas dengan catatan harus banyak mendapatkan perhatian khusus dari ortunya. Aku laki laki Ras, tidak mampu memberi perhatian selembut dirimu. Maka kembalilah demi Ririn “

“Jangan kau harap aku akan kembali. Tapi tolong, Mas kirimkan copi rapotnya Ririn”
“Mengapa sama sekali kamu tidak mau kembali di tengah anak anak. Aku yang salah bukan mereka Ras. Demi kebagiaan kamu dan mereka,meski berat hati aku rela mereka semua kau ajak pergi. Ini memang sudah sepantasnya buat aku, Ras !”

“Tapi aku sudah tidak bisa menerimamu lagi, Mas !”
“Itu hakmu!, yang penting anak anak bisa berkumpul denganmu lagi. Aku rela kehilangan semuanya”

Herlambang tidak berani meneruskan lisanya lagi, kala sebuah isak tangis membahana di Hp Lilis. Herlambang menjadi tak mengrti mengapa hari ini kehidupanya penuh diwarnai isak tangis. Sebuah renungan mendalam menghiasi kalbunya, hingga menghasilkan niatan yang kuat untuk membenahi kehidupanya, bersama istri dan anak anaknya. Sebuah niatan untuk memyodorkan sebuah realita tentang rumah mungil berhalaman taman bunga, seperti yang dulu pernah dia janjikan.

“Ras, beri aku janji kapan kau akan kembali. Sebelum aku ke rumah Jeng Lilis, aku telah berjanji kepada anak anak tentang kedatanganmu”

“Mas, kamu pulang dulu. Catatlah nomor Hpku biar aku di rumah bicara sama anak anak”
“Ya, itu lebih baik, Ras. Aku sudahi saja, Selamat berbahagia dan jumpa lagi”

***

“Bapak, kapan mama pulang ?’ pekik Ririn dengan lucunya dan langsung menubruk tubuh Bapaknya yang tinggi besar.
“Duduk dulu di kursi ya. Nanti dengarkan sendiri janji mama”
Sebuah dering panjang dari Hp Herlambang memenuhi tiap sudut ruang tamunya dan kini Hp itu sudah berada di telinga Ririn. Ketiga anaknya kini bisa sepuas hati melepas kerinduan mereka terhadap mamanya. Mereka menjadi puas hatinya kala mendengar janji mamanya aka kembali ke tengah mereka minggu depan.

Waktu merambat bagai anak panah melesat dari busurnya, dengan penantian yang dirasa panjang ketiga anak Herlambang kini merasakan kehadiran mama mereka, terutama Ririn yang tidak mau lepas bergayut di lengan wanita setengah baya yang cantik itu.

“Mas aku akan bawa mereka ke Malaysia, karena disanalah kehidupanku”. Suatu senja di beranda rumah. Raras mengajukan sebuah permintaan

“Meski dengan berat hati, silakan Ras, demi kebahagiaan mereka. Mereka sudah cukup menderita, sekarang giliran mereka untuk menggapai bahagia bersamamu”
“Apa kamu tidak kehilangan, Mas ?”
“Siapa orang tua yang mau kehilangan anak , Ras !. Tapi andaikan kau melihat betapa menderitanya mereka selama kau tinggalkan.Kamupun akan rela berkorban apa saja demi kebahagiaan mereka. Apalagi semua ini karena salahku”.
“Apa karena kau sudah jera direpoti mereka ?”
“Sesaat kamu pergi, memang aku merasa mereka merepotkanku. Tapi itulah duniaku, itulah masa depanku, kalau toh aku inginkan semua kembali bersatu. Sudah tidak ada gunanya lagi, karena kamu sudah tidak percaya aku lagi”

Raras diam seribu bahasa, kentara dia masih menyimpan ganjalan di hati yang sangat berat untuk disampaikan kepada Herlambang. Herlambangpun mengerti perasaan istrinya itu, yang melebih es dinginya selama mereka berjumpa lagi.

“Aku tahu semuanya, Ras.Tidak usah kamu tutupi perasaanmu. Tidak usah kamu takut, Herlambang dahulu dengan sekarang berbeda. Meski Jeng Lilis tidak crita tentang ini, tapi aku bisa membaca isi hatimu. Tapi perlu kamu ketahui,merekapun tidak mau lagi menerima arti sebuah kehilangan, apalagi selama ini akulah yang paling dekat dengan mereka. Aku berkata seperti ini bukan untuk mengemis kehadiranmu, tapi demi anak-anak.Karena mereka semua, adalah masa depan kita”

“Tapi kehidupanku disana akan lebih menjanjikan, Mas !. Mereka tentunya akan bahagia bersama kehidupan mereka yang baru”
“Sebaiknya kamu jangan terburu buru menyimpulkan. Pintalah pada mereka satu per satu. Kalau memang mereka mau,apa salahnya ? ”
“Betul, Mas ?. Kamu tidak akan merasa kehilangan ?”
“Arti sebuah kehilangan telah akrab dengan diriku sejak kecil, Ras. Sejak ditinggalkan ortuku,kehilangan jati diriku dan kehilangan kamu “
“Kamu telah berubah sekali,Mas “

“Ya, karena berada di tengah mereka selama dua tahun. Penderitaan mereka telah menyadarkanku dan mendewasanku. Justru perasaan itulah yang membuat aku siap segalanya menerima semua kehilangan seperti yang kau pinta”.

“Tapi aku sudah terlanjur melangkah, Mas ?”
“Itu,masalahmu, Ras, yang penting kamu bahagia. Tinggal kini anak anak bisa menerima tidak. Terutama Ririn, dia sekarang sedang mengalami penyembuhan psychology. Sebaiknya kamu jangan melangkah terburu-buru”
“Ah…aku tidak tahu, Mas !. Aku harus berbuat apa ? ”
“Bahagiankan dahulu hati kamu di tengah mereka. Niatan menggapai hidup di Malaysia kamu tunda dahulu. Meski sekarang kamu sudah di tengah mereka. Anak anak masih tidak percaya realita ini. Ririnpun masih menyimpan rasa takut kehilangan dirimu lagi “
“Akupun kini mulai ingat akan janji-janjimu dulu Mas. Tentang rumah kecil namun bahagia di tengah tawa canda mereka. Seperti yang pernah kamu janjikan “
“Kamu tidak sadar, Ras !. Bahwa janji janji itu mulai aku tepati. Setidak tidaknya kita sering berkumpul bersama dengan mereka, tanpa ada yang merasa kehilangan.Hanya kamu saja yang masih berniat menggapai kehidupan di Malaysia. Namun aku tak berani menghalangimu, karena itu hakmu. Yang penting mereka bertiga berbahagia”.
“Akupun tau, Mas. Namun kadang kadang aku masih tidak percaya ?”
“Maka waktulah yang akan memberimu kepercayaan kembali”

Malampun mulai menyisihkan senja, rumah mungil itu kini tidak perduli lagi terhadap datangnya malam. Karena kehangatan kini mereka dapatkan kembali, setelah beberapa lama tercabik oleh derunya nafsu manusia. Rumah mungil itu kini kembali diwarnai dengan halaman tempat taman bunga bersemi.

Seribu Kunang Malam


Hujan turun dari pagi. Membasahi udara malam yang terus saja menyisakan kedinginan. Laki – laki separo baya itu lantas menepis kedinginan dengan menggapai baju hangat yang lusuh, dan terlihat di berapa bagianya sudah terkoyak,. Deru mobil di jalan depan warungnya sudah mulai berkurang jauh, warung kopinyapun tidak seperti biasanya menjadi lengang. Rasa kantuk sebenarnya sudah dia rasakan sedari sore, tetapi nasi dan lauk serta makanan rebus dan goranganya masih banyak yang belum terjual. Padahal secercah penghidupan yang dia geluti, adalah menggantungkan dari ini semua.
Namun hujan tiada mau reda, meskipun sudah saatnya musim hujan berganti dengan musim kemarau. Dengan muka bersungut-sungut laki-laki itu menggeliat kesana-kemari merasakan penat seluruh tubuhnya. Istrinyapun sudah tertidur semenjak sore tadi, lantaran sedari pagi sibuk memasak segala masakan untuk warungnya. Istrinyapun segera merangkai mimpi, berisi sketsa yang terkanvas dalam hidup yang dicitakan suami dan anak-anaknya.
Sekali lelaki itu terbang dengan anganya, andaikata anak-anaknya mau menggantikan dia semalaman di warung kopinya, tentu dia akan tidur menyusul istrinya yang mendengkur di belakang warungnya. Namun mereka harus menyelesaikan sekolahnya hingga selesai, agar nasibnya tidak seperi dia. Namun dibalik itu semua acapkali diapun tidak percaya dengan dirinya sendiri, hanya dengan mengais nafkah dari sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, tapi dia sanggup menyekolahkan Wanto hingga sampai perguruan tinggi. Sementara Sofyan anak keduanya,  kini telah lulus dari SMK dan yang terakhir Wati masih duduk di kelas satu SMA.  Lamunan terus menggayuti anganya, hingga sebuah sapaan telah membangunkannya.
“Nglamun Bang!”, suara itu tak asing bagi Norman. Sebuah suara yang selalu mampir di warungnya tiap malam.
“Yaah,  saat cuaca seperti ini sebenarnya aku sudah enggan buka warung seperti ini , Yul ?. Tapi bagaimana lagi !”
“Ah, jangan gitu to, Bang, yang namanya rejeki tetap saja harus dicari. Kok tidak seperti biasanya, kini abang mengeluh”
“Umurku bertambah terus, Yul !, tapi bagaimana lagi,  anak-anak masih harus sekolah, semoga saja mereka tidak seperti orang tuanya bernasib seperti ini”
“Abang adalah manusia yang bahagia lho, punya anak anak yang pintar. Mereka semua tekun bersekolah”
“Kalau aku ingat itu, maunya terus saja buka warung 24 jam, yah semoga mereka berhasil, kamu mau minum apa, Yul ?”
“Aku nggak punya duit, Bang!, beberapa hari ini belum ada satu priapun yang boking aku. Nggak usah lah Bang, aku Cuma mau nyanggong saja”
“Jangan gitu dong Yul, kalau kamu nggak punya duit, nggak apa-apa. Kamu sudah lama jadi langganan warungku, seberapa mahal sih Yul, Cuma nasi sama minum. Kamu pasti lapar, iya kan ?”
“Tapi dagangan abang kan belum laku seharian ?”
“Adakalanya memang rejeki seseorang memang disempitkan, namun aku tetap bersukur. Lantaran beberapa minggu belakangan aku sampai kelelahan melayani pembeli. Malam ini anggap saja malam untuk  istirahatku.  Ayolah kamu ambil sesukamu, kamu nggak usah malu-malu”
“Trimakasih Bang Norman, kalau saja di dunia ini semua orang seperti Bang Norman. Mungkin aku tidak jadi PSK seperti ini, ya Bang!”.
“Entahlah Yul, aku tidak pernah membeda-bedakan orang kok, Yang penting kamu harus punya niatan untuk mengakhiri ini semua. Kamu kan bertambah usiamu Yul“.
Normapun selalu berangan bahwa apapun derajatnya, senista apapun profesi mereka, yang gemerlapan layaknya kunang-kunang malam yang sesaat bersinar, mereka adalah manusia biasa, yang tetap memiliki derajat yang sama. Hanya Tuhan saja yang berhak menghakimi mereka, itupun bila mereka belum bertaubat kepadaNYA.
Hujanpun mulai reda, namun malam telah merambat hingga melengangkan jalan di depan warung. Kota yang biasanya padat dan berdebu disertai deru mesin, kini terbujur dingin, sedingin hati kunang malam yang kini meratapi nasibnya. Kini hanya terdengar canda riang beberapa kunang malam yang saling menghibur diri, derai senyum mereka semakin jelas terdengar. Tak lama kemudian,  merekapun berkumpul di warung kopi Norman, yang sekarang mulai menghangatkan warungnya, setelah seharian terbujur dalam kedinginan.
Itulah kunang kunang malam, beterbangan dengan seribu angan guna membunuh setiap kegetiran hati. Mereka mudah berhamburan untuk memberi keceriaan, tapi sesaat merekapun berlarian pergi menuruti kata hatinya. Dari dalam bilik tidur, terdengarlah desah nafas istri Norman yang terjaga dari tidurnya dan sekarang diapun ikut canda riang di warung kopi yang tidak seberapa luasnya.
“Maafin aku ya, Mak!, aku mengganggu tidur emak !” , seru Ratih perempuan tinggi semampai, yang berperawakan wanita gaul, namun terbelenggu himpitan hidup, karena ditinggal suaminya yang berlalu begitu saja dan hanya meninggalkan ke dua anaknya yang masih kecil.
“Nggak apa apa, sebentar lagi emak juga masak, untuk sarapan bapak-bapak yang berlangganan di sini”.
“Emak nggak cape ?” Tanya Wiwin dengan pandangan mata yang kosong, seakan  menyimpan kehampaan yang ada di hatinya. Wiwinpun menjadi terbawa angan tentang emaknya di kampung, yang membanting tulang sebagai petani desa demi untuk menafkahi dia dan saudara saudaranya. Namun gairah cinta Wiwin yang membara, maka dengan mata gelap diapun menyerahkan segala-galanya pada pria hidung belang, yang  m,emberi seribu janji tapi juga meninggalkan dia begitu saja.
“Yaa cape to Win, tapi gimana lagi !”
“Makanlah dan buatlah kopi sendiri, kamu semua kan lapar ?, Udara di luar dingin, ayo semuanya jangan malu !” pinta Norman
“Aku ngebon dulu, ya Bang Norman ?, besok-besik aku bayar “
“He..he..ambilah makanan yang kamu sukai. Kamu semua sudah seperti anaku. Jangan malu !” , pinta istri Norman, yang melihat mereka semua dengan hati yang iba. Mereka semua tentunya mengalami kehancuran dalam hidupnya. Sebenarnya masih banyak diantara orang-orang yang kelihatannya terhormat, tetapi sebenarnya memiliki derajat yang lebih rendah dari mereka.
“Emak dan abang Norman , kok baikan dengan kami yang hanya seorang wanita jalang, yang tiada harganya” seru Yuli.
“Apa kami semua lebih suci dari kalian semua. Tuhanlah yang tahu harga seseorang” jawab Norman.
“Tetapi orang-orang semua pada mencibir kami, Mak!”
“He..he manusia hidup di dunia memang nggak ada benarnya, yang penting kalian semua mau belajar dagang, apa kerja, apa nglamar di pabrik. Anak anak kaliankan bertambah besar, kebutuhan mereka juga akan bertambah. Nggak mungkin kalian akan seperti ini terus” jawab istri Norman sembari menunggu matangnya nasi.
“Betul emakmu, kami semua juga seperti kamu. Yang namanya hidup akrab dengan penderitaan, hingga kami sendiri sudah nggak bisa merasakan apa penderitaan itu sendiri. Sabarlah, coba deh mulai besok pada nyari kerja kemana aja, jadi pembantu atau apa !”
“Kita semua sudah kesana kemari mencari kerja, hingga anak anak kami butuh susu dan sekolah. Sehingga akhirnya kami seperti ini” Wiwie tidak mau diam saja, dia lantas gabung curhat, sekedar menepiskan kegetiran hatinya. Dalam hati dia sempat bersukur telah dipertemukan dengan suami istri yang berhati emas, yang menempatkan mereka seperti orang lainnya. Namun sayangnya meski mereka telah akrab dengan suami istri tersebut bertahun-tahun, tapi tiada sepatah kata Norman dan istrinya yang  mereka dengarkan. Bagi suami istri itu dosa adalah mutlak urusan Tuhan yang Diatas. Wiwiepun tertegun, dan meresakan belum saatnya terlambat bagi dia untuk kembali sebagai wanita terhormat.
Air mata Wiwin telah memenuhi semua rongga matanya, tatkala terbayang dihatinya, setiap sore dia memperhatikan sorot mata kedua anaknya yang masih merindukan kehadirannya. Betapa teriris hatinya tatkala dia membayangkan, kedua anaknya menangis pilu di tengah malam merindukan peluk dan ciumnya.
“Sudahlah Win, kita semua mengalami penderitaan hidup yang sama denganmu. Ada benarnya juga nasehat bang Norman, kita belum terlambat untuk mencari kerja, membiayai anak anak kita dengan nafkah yang baik. Kita pun belum terlambat untuk menjadi ibu yang baik”. Yuli memeluk Wiwin kemudian mengusap rambutnya, persis seperi anak kecil. Mereka berduapun menjadi tersenyum , diikuti juga dengan derai senyum Wati, yang juga bernasib sama.
Kokok ayam jantan telah terdengar dimana-mana, pertanda sebuah kehidupan baru segera di mulai. Mereka bertigapun sudah tidak mampu lagi seperti kunang-kunang, karena sinarnya telah ditelan sang surya. Mereka semuapun berpamitan dengan pasangan suami istri yang disambut dengan senyum tulus dan sebuah doa, Kunang-kunangpun telah suram sinarnya, karena kini merea telah siap dengan penghidupan yang baru. Jalanan di depan warung Normanpun mulai rame.

Di Batas Kota


 Cerpen Effi Nurtanti

Mestinya   aku biarkan saja  semua yang menimpaku  berlalu begitu saja, tanpa singgah barang sedikitpun  di sudut hati. Sehingga jadilah aku manusia yang terbang bebas kesana kemari, sebebas angin kemarau menerjang siapa saja yang dihadapannya.  Bahkan tak akan kulepaskan sayap ini hingga kudapatkan penggantimu.  Tanpa adanya  sedikitpun  bayang  Angelina  yang selalu saja mencuri hatiku.  Apalagi kini  sebuah penantian memagutku  tak berdaya.                       
          Aku sendiri tak menyadari, bila Angelina selalu saja  bersembunyi  di balik kekagumanku. Hingga sebuah kenyataan yang ada didepanku terasa sungguh sulit kuterima. Masih saja ada tatapan harap yang selalu membentur semunya batas pandang. Angelinapun pergi entah kemana. Lantas apa yang dia miliki dalam hatinya, apakah hanya bunga sedap malam, ataukah aku yang dungu , yang hanya mampu terbujur di keputusasaan.
            Tahun pertama sebuah perpisahan terasa belum seberapa lama,  sebuah kado ultah Angelina yang ke 23 pun sempat aku beli dan kuterbangkan hingga ke Ujung Pandang menyusuri kenangan bersama dia,  kala dia mengajaku berliburan di rumah Tante Rosa. Kembali aku merasakan kedua kakipun terasa telah terjerambab ke dasar bumi, kala Tante Rosa mengabari bahwa Angelina telah pindah ke Sidney , merengkuh bahagia bersama pria bule.
            Tapi memang dialah Angelina, yang memang pantas menerima kebahagiaan seperti itu.Menapaki maghligai bahagia dengan pria yang mampu membahagiakan dia segalanya. Semoga saja Angelina mampu memiliki dunia ini dengan segala kekurangannya. Atau kekurangan apapun yang dia terima, mampu disikapi dengan kelapangan hatinya yang seluas dunia.
            Moga saja Tom suaminya mau menerima Angelina apa adanya, menerima sesuatu yang dimiliki Angelina dengan segala kekurangannya, dibalik kecantikanya. Karena hanya aku saja yang selama ini mampu menerima kekurangan  Angelina, karena sebuah janji sempat aku torehkan didepanya dengan saksi air matanya yang membasahi bahuku. Kala dia menerima hasil diagnose dokter yang menemukan adanya kanker ganas yang bersemayam di organ dalamnya.
            “Marcell, aku harus mengucapkan selamat tinggal untukmu”. Kalimat darinya masih saja menghuni telingaku, meski telah satu tahun lamanya.
            “Tenanglah dulu, Lia !. Jangan berkata kaya gitu”
            “Aku harus ngomong gimana, bacalah hasil lab PA ini. Oh Tuhan kenapa begini !”
            Sebuah pelukan lebih hangat dan rapat membuat akupun tidak ingin kehilangan dia hingga kapanpun. Aku baca hasil lab itu, dan tertera jelas catatan  dr. Isa yang merekomendasikan adanya kanker ganas di antara organ organ dalamnya. Dan catatan medispun merekomendasikan dia hanya mampu bertahan 5 tahun. Sebuah petir menyambar hati ini, hingga lemaslah seluruh badanku. Namun aku harus menunjukan ketegaran sebagai Marcell yang harus mampu menjadi tempat berlindung Angelina.
            ‘Oh Marcell, bagaimana ini ?”
            “Kamu harus bersabar Lia, tentu saja yang mampu menyembuhkan adalah ketegaran kamu sendiri “. Dadaku terasa sesak saat Angelina menumpahkan kesedihan dan kegetiran hatinya dengan memeluku erat. Sementara seluruh tubuhnya tergoncang, lantaran Angelina belum mampu menerima kenyataan ini. Sekarang  telah lima tahun berselang, aku telah berusaha menambatkan bahtera hidupku dengan gadis pilihanku yang mampu menyirnakan bayang kehadiran Angelina, namun selalu kandas dan berakhir dengan perpisahan. Selalu saja kekelaman aku dapatkan sama seperti yangh ditorehkan Angelina.
            Memang tak semestinya aku terus ditelikung bayang Angelina, aku laki laki yang sudah sepantasnya menggenggam dunia dengan ketegaran hati dan kekokohan langkah. Hari demi hari baying Angelinapun tertinggal jauh, Sebuah langkah percaya diri dan gentle kembali aku dapatkan sebagaimana layaknya seorang laki-laki.
            Hingga datanglah Rully, yang membuatku kembali lagi terbangun setelah lima tahun mengalami mimpi buruk terpasung Angelina. Sebuah rumah mungil di pinggir Kota Semarang telah menjadi saksi bahwa bahtera yang aku miliki telah menambatkan diri di tepi pelabuhan hati Rulli. Berbagai suka dan dukapun menjadi saling berbagi.  Layaknya saling bergantinya temaram senja dan fajar di ufuk timur. Meski kebahagiaan Rully dan aku belum lengkap tanpa kehadiran seorang putrapun.
            Rullylah yang paling merasakan kekurangan ini.  Begitu besar kerinduan dirinya akan kehadiran seorang  putra. Bahkan kerinduan ini semakin lama semakin menggrogoti hatinya. Hingga pada akhirnya diapun meminta sebuah perpisahan. Mungkin saja Tuhan berkenan menciptakan hambanya yang memang sanggup menerima cobaan  yang tiada kunjung reda. Disaat sisa umurku yang menipis sebuah perpisahanpun masih saja melekat dalam hidupku. Namun sebuah kodratlah yang menginginkan perpisahan ini, karena merawat benih dalam kandungan, melahirkan dan mengasuh anak hingga dewasa adalah dambaan tiap wanita. Akupun melepas kepergian Rully dengan sebuah keinginan agar hatiku  mampu setegar karang dilautan.
            Rumah mungil di batas kota itupun kini lengang, berisi sebuah episode tentang sketsa hidup seorang manusia, yang berdinding putih kelabu, beratap asa yang tiada bertepi dan berlantai sebuah kekokohan yang terukir selangkah demi selangkah. Namun biarlah rumah mungil di batas kota ini nantinya aku harapkan masih bisa menjadi saksi perpisahan diriku dengan dunia yang penuh kepalsuan. Entah sam[pai kapan waktunya

Mawar Wulan


Cerpen Effi Nurtanti

Pagi- pagi benar Mawar Wulan mengusung  gelisah bukan kepalang. Meski lingkungan di sekitar rumahnya masih tertutup kabut,  dia tak memperduikanya. Dengan langkah kaki yang gesit, dia terus menebas  butir butir air halus yang menghadangnya, menyelusuri  jalan beraspal yang ada di depanya dan masih terpagut sepi dan dingin, namun kaki yang hanya beralas sandal jepit dengan egonya terus saja menggilas aspal yang sudah mulai pongah itu.Entah apa yang akan dilakukan wanita yang masih lajang di pagi hari itu. Batuk batuk kecil yang terus saja melekatnya itupun tanpa dia pedulikan.

Tepat di pintu gerbang rumah Bu RW Mawar mulai melambatkan langkah kakinya, pintu besi yang sudah berkarat baru saja berhenti berderit. Rumah Bu RW masih lengang dan hanya sebelah pintunya yang kuno itu sudah terbuka. Terbesit dalam sanubari Mawar Wulan perasaan canggung dan takut merepotkan Bu RW. Tapi perasaan itu kembali ditelikung dalam hatinya, kala Bu RW sudah menyambutnya dengan senyum yang renyah di tengah pintu model jawa kuno itu.

“Ah, maafin Mawar bu!, pagi pagi sudah merepotkan !”

“Justru aku yang minta maaf,  merepotkan Mba Mawar !”

“Sama sekali tidak bu !, cuma aku penasaran sejak kemarin sore. Tentang tujuan ibu ibu PKK ke rumah saya bu !”

“Oh, masalah itu , Mba Wulan !, iya memang ibu-ibu itu sedang bingung tentang kedatangan Bill Clinton yang rencananya akan mengunjungi kampung kita “

“Lalu, apa yang bisa aku bantu, Bu RW ?”

“Maaf !, Mba Wulan masih kerja di restaurant eropa ?”

“Betul, Bu RW, mesti ini masalah menu, ya bu !”

“Betul mba!, Pak lurah menyarankan agar kita menjamu makan siang mantan Presiden Amerika itu !.Mba Wulan saya pikir tahu  betul tentang menu orang Amerika dan Eropa. Maka kami kemarin datang ke rumah”

“Mesti ibu bingung menu jamuan tamu besar itu, iya kan ?”

“Betul mba!, ibu ibu PKK yang mendapat tugas menyediakan jamuan  tamu bule-bule itu  menjadi bingung, enaknya menu untuk Clinton itu apa ?. Apa Hotdog, Piza atau apa?. Menurut Mba Wulan enaknya menua apa ?”

“Kenapa mesti bingung-bingung, bu ?. Kala orang besar seperti Bill Clinton itu sudah bosan dengan hidangan ceremonial seperti itu !”

“Ya, terus enaknya bagaimana !”

“Kita kan banyak memiliki menu yang sudah mendunia seperti nasi goreng, sate ayam. Apa salahnya bu, kita promosikan pada tamu-tamu eksekutif Bill Clinton’s Foundation nantinya, atau boleh juga kalau kita hidangkan  tiwul, getuk dengan menu snak seperti resoles, kue lapis dan masih banyak lainnya, iya kan Bu RW ?”

2
“Ah, masa iya sih mba !, bule-bule doyan menu seperti itu ?”
 “Iya bu !, aku sudah sejak lulus SMA bekerja di Zona Zero Europe Restouran, kebetulan sekali aku sering menemukan bule-bule yang minta menu tradisional yang aneh-aneh “

“Aneh-aneh seperti apa, Mba ?”

“Bayangkan saja Bu RW!, waktu serombongan wisman Middle Java Reuni dari Jawa Tengah mampir ke Jakarta dan singgah di restaurant kami, sebagian besar mereka malah memilih menu tradisional, seperti sayur asam, kelapa muda bahkan ada yang minta dawet. Mereka semua sudah bsan dengan aneka bakery, Dennis Donuld, Humberger dan.... !”

“Apa iya, mba. Jangan jangan Bill Clinton juga senang dengan menu seperti itu, ya Mba Mawar ?”

“Bisa saja to, bu !. Bisa juga dia meniru seperti Presiden Obama yang malah minta bakso dan nasi goreng dengan lauk krupuk, hehehe…”

“Tapi baiknya kalau Mba Mawar tidak keberatan, siang ini  kita ke Pos Posyandu, untuk gabung dengan  ibu ibu lainya yang rencananya jam 9 siang ini rembugan masalah persiapan Bill Clinton. Oh, ya Mba !, rencananya juga Bu Hillary Clinton  akan kita ajak ke Posyandu untuk mengamati kegiatan ibu ibu Dharma Wanita “

Mawar Wulan yang hari itu memang lagi off hanya menganggukan kepalanya, tapi lain lagi dengan Bu RW yang hanya bengong saja mendengar kenyataan yang disampaikan oleh sang maestro lajang itu. “ Masa tamu seperti Bill Clinton  dan rombonganya mau menyantap menu tradisional. Tapi…entahlah”.

***

Mereka siang ini berkumpul  di Posyandu yang tidak seberapa luasnya, hanya sebuah ruangan yang berukuran 4 x 6 meter. Sebagian ibu-ibu anggota Dharma Wanita sejak pagi tadi sibuk membersihkan rumput dihalaman posyandu yang sederhana itu, sebagian lagi menggunakan sapu panjang membersihkan atap lantai bahkan terdapat beberapa ibu ibu yang dengan cekatan mengecat tembok yang mulai lusuh dan berdebu.Mereka sebenarnya sama sekali tidak menduga bahwa kegiatan mereka semua selama dasa warsa ini telah menarik perhatian staf Bill Clinton’s Foundation yang ada di Indonesia.

Ternyata  keterpurukan kita di berbagai sendi kehidupan telah menarik tokoh pemerhati dunia seperti mantan Presiden Amerika itu, tetapi hal yang paling menarik perhatian dunia adalah aktifitas mandiri ibu ibu  seantero Bumi Nusantara di bidang kesehatan ibu dan anak, termasuk penimbangan bayi, pencanangan pemberian vitamin kepada anak, Keluarga Berencana dan lain sebagainya dan salah satu dari ribuan kegiatan mandiri ibu ibu tersebut, ternyata  Kelompok Dharma Wanita Kenanga Jakarta Selatan yang dipilih oleh tokoh dunia itu untuk melihat dari dekat.

Kedatangan Bu Rw dan maestro menu masakan eropa dan AS itu, sempat membuat semua ibu-ibu yang bersemangat menjadi menyurut. Semua berhamburan keluar seperti anak ayam yang menemukan induknya. Semua mengemasi peralatanya untuk gabung dengan diskusi yang hangat, tawa renyah santai di hari Minggu yang terik itu.

“Ibu ibu !, sebaiknya hari ini kita tuntaskan saja rencana perjamuan untuk tamu-tamu bule kita. Selain Bu Lilis yang sudah pengalaman catering masakan eropa, kebetulan kita
3
kedatangan tamu Mba Mawar yang kerja di restauran Eropa. Kita tentukan saja menunya setelah itu kita bicarakan lainnya”

“Kita tentunya harus melihat dana kita, iya kan Bu RW ?” seru Bu Dirman yang mendahului diskusi hangat.

“Tentu saja Bu Dirman !. Apalagi biaya perjamuan ini kan dari kas kita yang tidak seberapa “ jawab Bu RW.

“Itulah masalahnya bu !, kita menjamu tokoh dunia dan pejabat lainnya, padahal dana kita hanya pas-pasan “ Bu Gatot mulai memaparkan kendala yang selama ini menjadi beban wanita wanita pejuang itu.

“Nanti dulu ibu-ibu, untuk menjamu Bill Clinton bukan sebagai pejabat negara,   tentunya kita tidak usah menghidangkan menu yang resmi ?”

“Tapi kan  rencananya nanti Bill Clinton akan diterima  Pak Walikota. Terus bagaimana ini ?. Mba Mawar ?” Bu Handoko tidak mau kalah karena hatinya masih dipenuhi rasa penasaran.

“Bu Handoko !, Yayasan Bill Clinton itu hanya LSM biasa. Kedatangan beliau juga bukan sebagai tamu negara!, kalau kita menjamu dengan jamuan yang sederhana, tapi hygeinis, kan tidak masalah ?”

“Lho…lho..nanti kalau tamu-tamu itu tidak berkenan, kita yang kena dampaknya “seru Bu Dirman.

“Ini gimana !. Mba Mawar ?”pendapat Mawar kali ini dibutuhkan sekali oleh Bu RW.

“Begini, ibu-ibu !. Tujuan Bill Clinton ke posyandu ini kan, karena rasa simpatiknya beliau dengan kemandirian kita. Kita terbiasa dengan kegiatan yang swadana dan swakarya. Inilah yang harus kita buktikan ? dan nantinya kalau Yayasan Bill Clinton merespon positif, kita bakal menerima dana bantuan 250.000 dollar.”

“Huu..besar amat dananya mba ?” kekaguman BU RW tak sadar terlontarkan lewat bibirnya begitu saja.

“Wah, bisa untuk membuat poliklinik kecil-kecilan, kita bisa  tambah maju, ya Bu RW ?” ucapan Bu Samsudin dan Bu RW tadi menyeringaikan senyum sebagian besar hadirin diskusi itu.

“Lantas, apa hubunganya dengan menu yang akan kita hidangkan, Mba !” tanya Bu Handoko.

“Inilah yang akan kami sampaikan pada ibu-ibu ?”seru Mawar Wulan sehingga semua yang hadir di diskusi siang itu menjadi diam seribu bahasa. Hanya senyum Bu RW saja yang menyemaraki diskusi maestro maestro amatiran itu.

“Ah…sepertinya ada yang penting sekali sih Mba Mbawar ?” Bu Handoko adalah salah satu peserta diskusi yang masih penasaran.

“Ibu ibu jangan salah paham, aku kebetulan sering bertemu dengan tim yayasan itu di restauranku. Mereka sama seperti kita, menu untuk makan kadang kadang seperti kita,

4
tidak perlu seperti Piza, Spagheti, Hamburger atau Hotdog atau Dunkey Donnats. Mereka malah senang sop, ayam bakar atau malah pecel lele, yang penting bersih dan hyegenis, betul lho bu !”

“Ah, masa iya ?” jawab Bu Dirman.

 “Apa Bill Clinton doyan kue kue buatan kita sendiri ?” tanya Bu Dibyo

 “Tapi kita tidak main-main lho, Mba Mawar ?”

“Ibu ibu waktu kunjungan Bill Clinton ke Denpasar  beberapa tahun lalu, bagian rumah tangga kepresidenan juga menyediakan makanan tradisional buatan kita sendiri. Justru makanan seperti itulah yang banyak dipilih oleh tamu asing”

“Makanan seperti apa, Mba Mawar ?”

“Ya, cuma lemper, lumpia dari Semarang, kue lapis, getuk, makanan dari ketan. Lho dalam even seperti itu kan bisa digunakan untuk promosi makanan asli Indonesia”

“Kok bisa ya Bu, aku tadinya  malah punya pendapat untuk menjamu Bill Clinton dan stafnya dengan jamuan snak dan makan siang dengan Piza, Spagheti, Hamburger atau Hotdog atau Dunkey Donnats. Tapi itu nggak menyinggung tamu tamu kita kan, Mba ?”

“Lho, justru kita tampilkan kemandirian kita untuk memperbaiki gizi masyarakat. Coba dong nanti kita paparkan ini semua pada Hillary, pasti dia senang, aku yakin !”

“Tapi siapa yang ngomong nanti, Bu?”tanya Bu Dibyo.

“Lho Bu Dibyo kan guru bahasa Inggris SMA, aku minta tolong sama ibu, siap?”pinta Bu RW

“Siap bu !”

“Kalau gitu nanti kita masakan saja bebek goreng, gimana ?” Bu Hasan mengajukan permintaan.

“Pecel lele saja !” seru Bu Handoko

“Sayur asam dan  sambel  !” seru Bu Samsudin

“Ibu-ibu yang penting sudah kita sepakati tentang menu makanan tradisional untuk Clinton. Tentang menunya apa kita sesuaikan dananya saja, gimana ibu-ibu ?” Bu Rw minta persetuan hadirin.

“Setuju “ jawab mereka semua serempak

“Terimakasih. Mba Mawar ?” Bu RW mengulurkan tangan untuk menyalami Mawar Wulan yang menyambutnya dengan senyuman berseri ***