Minggu, 10 Juni 2012

Lagu Merdu Pak Guru


Biarkan saja kokok ayam jantan tak henti menyambut pagi hari, mereka berkokok saling bersautan dari pojok desa satu dengan lainnya. Mereka begitu tak hirau dengan datangnya hari yang akan dijalani oleh kehidupan manusia babak demi babak, menurut kodrat yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Pagi itu bumi Desa Kembang Arum seakan tiada menyisakan warganya yang kembali merapatkan selimutnya, meski di tengah musim kemarau udara begitu dinginnya. Kabut tebal masih enggan menatap sang mentari. Sementara itu semua celoteh burungpun tak mau peduli dengan malasnya embun yang menyelimuti mereka. Sementara semua penduduk desa, yang kebanyakan petani gurem mulai bersiap mencari secercah penghidupan, dengan menyandarkan pada palawija, lantaran musim kemarau masih menerpa mereka. Di tengah penghidupan masyarakat yang separuh nafas itulah, Nur Hadi mengabdikan diri sebagai Pak Guru. Demikian predikat yang diberikan masyarakat desa kepadanya.
Nur Hadi bukan hanya guru di SD N III Kembang Arum, namun dia juga sebagai guru bertani, bergaul, pengentasan terhadap ketertinggalan, keserasian rumah tangga dan seabreg nilai lainnya yang dibutuhkan masyarakatnya. Jubah Hitam kala dia kenakan diwisuda menjadi S.Pd. ternyata menyimpan seribu beban. Namun bagi Nur Hadi beban itu, hanyalah sebuah nyanyian merdu seorang pendidik yang ditekuni lahir batin.
Matahari sudah tidak malas lagi dan kini mulai bangkit dari cakrawala timur, jalan desa sudah dipenuhi sibuknya petani guna mencari nafkah. Debu jalan desapun tak mau kalah dalam bersuka ria, beterbangan bersama angin kemarau yang dingin dan kering.
Dengan sepeda motor bututnya Nur Hadi mulai bersiap menuju sekolahnya guna menyongsong anak-anak kesayangannya untuk mendapatkan setetes demi setetes ilmu. Namun terkadang pula dia sering menjumpai penduduk desa yang sengaja bertandang di sekolahnya sekedar minta setetes masukan guna menyelesaikan semua permasalahan yang membelitnya. Dalam hal ini jadilah Nur Hadi sebagai konsultan rumah tangga, kesehatan, bisnis yang tanpa menarik jasa serupiahpun.
Angin kemarau melambaikan semua rerimbunan daun di lingkungan sekolah, menimbulkan hawa sejuk sekaligus keteduhan hati. Nur Hadi masih membimbing anak kelas VI untuk menata kelas,  karena senin lusa akan dilangsungkan ujian sekolah. Pandangan matanya kini terpusat pada halaman sekolah, kala seorang wanita tua berjalan mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya pagi ini giliran seorang penduduk desa yang berniat minta tolong kepada Pak Guru Nur Hadi.
“Oh rupanya engkau Bi, silakan duduk”
“Aku  harus bagaimana?, aku harus berkata apa?”
“Sabarlah Bi, duduklah dengan tenang, katakana apa masalahnya, Jangan emosi dulu”
“Itu si Amran, yang sekarang tak mau sekolah lagi, sudah tiga malam ini dia baru pulang. Lagian pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana ini Pak Guru ?”.
“Ah anak muda sekarang memang  seperti itu, Bi. Jangan Bibi banyak marah dengan anak sekeras itu. Turuti saja kemauannya dulu. Setelah dia agak lapang hatinya barulah Bibi nasehati dia”
“Tolonglah Pak Guru, sudah tidak kurang lagi aku ngomong sama dia. Rasanya sampai kaku lidahku”
“Ah Bibi ini ada ada saja. Kalau Bibi tidak mau kasih nasehat. Lantas siapa lagi?”
“Iulah masalahnya, Pak Guru !. Amran kan dulu sekolah sini. Dulu kan Pak Hadi yang paling dekat denganya. Maka tolonglah Bibi ini. Nasehati si Amran itu !”
“Baiklah kalau begitu, Bi !. Tunggulah beberapa hari. Nantikan dia ketemu aku di kegiatan karang taruna. Aku akan nasehati dia”
“Ah trimakasih sebelumya, siapa lagi kalau tidak sama kau Pag Guru, untung desa ini punya guru seperti kamu. Maka carilah gadis desa sini supaya kau betah tinggal di sini. Jadilah penduduk sini, kau akan merasa damai, Jangan cari gadis kota !. Mereka pintar dan cantik tapi suka berani sama suami”
“Ah Bibi ada ada saja. Trimakasih nasehatnya ya Bi”
“Aku pamit dulu, gampang lain waktu kita sambung lagi”
Nur Hadipun menjadi geli hatinya, tentang peran dia di tengah masyarakat desa ini yang masih lugu dan pasrah. Jauh berbeda dengan Jogja tempat kelahirnya, yang jauh di sebrang lauan dari  tempat dia mengajar kini. Beruntung pula bagi Nur Hadi yang memiliki tabiat ramah, suka menolong dan supel bergaul. Maka meski kehadiran dia di  Jambi belum beberapa lama, namun hamper semua warga di Kecamatan Hidup Baru Kota Jambi telah mengenalnya.
Matahari telah melewati sepenggalah langit, teriknya sudah mulai memenuhi semua halaman  sekolah yang sederhana itu. Semua siswa  kini berteriak kegirangan lantaran mereka hanya setengah hari bersekolah. Nur Hadipun segera menuju perjalan pulang melewati jalan yang terik dan berdebu. Gemerisik daun jagung di tiup angin padang terdengar sepanjang kanan kiri jalan desa. Senyum wanita desapun tak ketinggalan ikut mengantar sepanjang perjalanan guru muda terebut, Termasuk Restu Priastuti, putra Pak Priadi yang telah lama tinggal di pinggiran Kota Jambi. Pak Priadi sendiri befrasal dari Kab. Purbalingga Banyumas.
Untuk gadis Jambi yang satu ini memang Nur Hadi merasakan sesuatu yang lain. Selama dia menggapai masa depanya dengan menjelajah banyak tempat,  belum pernah kata hatinya bergejolak seperti ini,  dari mulai pandangan pertama saat mereka bertemu di pertandingan voley antar desa, mereka berdua sudah saling tertarik.
Nur Hadi segera menepikan motornya kala melihat Restu gadis pujaanya, sedang membantu ayahnya membersihkan lahan tanaman jagungnya dari rumput dan gulma lainnya. Mereka akhirnya sudah terlibat dalam canda ria saling melepas tawa, sambil sebentar sebentar berpadu pandang. Kala ini terjadi, merahlah pipi Restu namun tidak mengurangi keanggunan gadis desa ini. Nur Hadi segera saja melepas sepatunya dan ikut membantu tambatan hatinya dalam mengolah lahan jagung itu, meski seragam batik PGRI menjadi berlepotan tanah.
“Kok nggak sekalian pulang dulu Kak?”
“Di rumah juga mau ngapain cuma bengong. Mendingan melihat di sini,  bisa melihat Nawang Wulan di sawah”
“Siapa itu Nawang Wulan, pacarmu dari Jawa ya Kak ?” . Nur Hadi tersenyum gelid an membuat Restu tambah penasaran
“Ayo dong Kak. Siapa Nawang Wulan. Kayaknya di desa ini nggak ada yang bernama Nawang Wualan”. Karena desakan yang terus menerus Nur Hadipun akhirnya bercerita tentang legenda Jawa tentang Joko Tarub dan Nawang Wulan. Restupun menjadi berbingar wajahnya dan memerah pipinya dan kini hanya tertunduk lesu setelah tahu maksud hati sang guru yang masih perjaka itu/
“Tapi aku bukan bidadari lho kak”
“Ah bagiku kamu adalah bidadariku” jawab Nur Hadi kala mereka telah berdua duduk di bawah rerimbunana tanaman jagung yang sudah agak tua.
Kan masih banyak bidadari di Jawa kak?”
“Aku sudah jadi PNS dan berniat tinggal di sini. Lagian di Jawa aku tidak punya siapa siapa hanya bapak dan ibu serta adiku. Untuk apa aku ke Jawa lagi”
“Tapi banyak guru negeri yang balik lagi ke Jawa, kamu apa nggak seperti mereka?”
“ Nggak Res, aku dah betah disini, kelak kalau kita bersama membentuk maghligai, akan aku pindahkan saja bapak ibuku ke sini. Orang sini baik baik semua sama aku Res ?”
“Gimana ya kaka, kebanyakan pria memang suka menebar janji, aku nggak tahu kak?”
“Aku seorang pendidik Res !. aku punya moral. Dan bagi seorang pendidik, yang telah bertekad menjadi pegawai negeri tentunya akan memiliki moralitas untuk membangun lingkunganya. Barangkali kita bsa pulang ke Jawa setelah aku pensiun. Dan untuk itu telah berulang aku sampaikan padamu untuk bersama menggapai kehidupan kita bersama”. Restu hanya menundukan wajahnya,  sama sekali dia tidak mampu menjawab setuju. Maka kini Nur Hadi menjadi berbunga hatinya. Tembang merdu dalam hatinya terus saja ia dendangkan sepanjang perjalanan pulang mengantar Restu ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan semua warga desapun melempar senyum dan lambaian tangan. Seakan mereka telah menobatkan mereka berdua sebagai Abang dan Nona Desa Kembang Arum. Nur Hadi kinipun larut dalam belaian cinta bersama Restu pujaan hatinya***

jalanku


mungkin saja lampu sepanjang jalan ini telah gamang
atau sengaja menyisihkan silaunya
agar pucuk daun yang menyisir bahunya,
hanya mampu menawan bayangku sendiri
sorot rembulanpun semakin menyisihkanku
pada tepi batas…yang kusimpan dalam dalam
aku sendiri…mencari gemintang
di pekat malam…
jalanku masih menyisakan biru dan sendu

(Semarang, 10 Juni 2012)

Manusia Lilin


Figure dan prototype manusia terbuat dari lilin berbagai ukuran melambung eksotis bila dikemas dalam pakaian dan asesoris yang glamour dan warna warni yang serba kontras. Selalu saja mereka memenuhi etalase kaca bertepi ornament yang artistic, membuat beribu pasang mata terperangah kagum. Apalagi bila sang manusia lilin berphose Ratu Inggris Kate Midlleton, lengkap dengan sang pangeran disampignya, di atas kereta kerajaan yang ditarik 8 ekor kuda albino.

Seakan akan kereta kerajaan berjalan perlahan, senyum sang ratu tak pernah luruh sepanjang jalan, diseputari prajurit patang puluhan lengkap dengan seragam tentara kerajaan mirip dengan gambar yang terpampang di kaleng biscuit yang mahal. Meskipun hanya sebuah lilin, namun sifat fisik dan kimia lilin tersebut dengan gampang mampu mengelabui mata kita.Yang aneh meski kita tahu bahwa obyek benda tersebut hanya tipu daya saja, namun kita membiarkan diri kita terhipnotis  sihir sang lilin, yang begitu tajam menusuk retina mata kita.

Betapa tidak, kehalusan sifat lilin yang mampu  menukilkan kehalusan wajah dan anggota tubuh sang figure yang diimajinasikan dan ditambah superior sifat  ego manusia ketimbang makhluk lainnya di bumi ini, maka lengkaplah sudah pesona manusia lilin mampu menyeret manusia dalam imajinasinya untuk memerani persis apa yang tergambar dalam figure lilin itu. Sehingga bisa saja, seorang mausia yang berwajah jelek dengan kerut kulit wajanya yang menebar disana sini, dengan  gigi yang sudah mulai menghitam termakan usia, dia berimajinasi menjadi actor Tom Cruise dalam film “Top Gun” yang berkencan dengan instruktur wantanya, yang jatuh hati pada actor ganteng itu. Atau seorang remaja yang cacat sebelah kakinya, akan menyamakan dia dengan Gaston Castanyo penyerang Gresik United FC di kompetisi ISL.

Padahal lilin yang mampu mengeksotiskan figure manusia tersebut di atas , memiliki sifat fisik dan kimia yang ringkih. Lilin akan meleleh pada suhu di atas suhu kamar dan akan hancur berkeping bila mendapat tekanan dari benda lainnya yang lebih keras. Apabila lingkunga fisik memungkinkan lilin untuk berubah wujud fisik, lenyaplah sudah semua keindahan yang semula mampu menggoda hati kita. Perlukah wujud, nasib, atau setap yang kita dambakan di dunia ini kita ganti dengan wujud lilin. Meski kehidupan di dunia  yang kita milik, pada hakekatnya adalah fenomena seperti manusia lilin, namun kita adalah mausia lilin yang sadar  akan fenomena kodrati yang dianugerahkan kepada Tuhan yang Kuasa. Serta kita memiliki software yang tidak dimiliki manusia lilin di dalam etalase, yaitu sikap tawakal. Itulah peredaan kita dengan manusia lilin***


kemarau


saat kau tidur di atas tumpukan jerami kering
dinding bambu gubug kita lama tak disentuh gerimis
mereka menggeliat, diterkam angin kemarau
bulir padi telah kembali memunguti jarum waktu
bukit dan tebing di kaki Gunung Slamet, berkemas
debu dan pekikan nyaring dahan yang merontang

kita selusuri  jalan tanah berliku
menebas belukar dan nyanyi jiwa …..
agar basah tenggorokan dan relung hidup kita
hadir bersama kue manis bergula derai tawa
di tengah sawah hdup kita, petani desa
berpegang tanah tanah hitam bergurat pilu

tidurlah kasihku, bersama kibasan angin gunung
yang setia tak pernah memburu dongeng negeri Rahwana
dalam episode Ramayana, bersanding emas dan mutiara.
Kita hanya memungut satu bilah drama hidup
dengan  lengan kecil, tapi kokoh menggenggam
hidup dan asa…..

(Semarang, 10 Juni 2012)


Rabu, 30 Mei 2012

Angelita


“Jangan sekali- kali kamu kalah dengan ego kamu sendiri, sebab musuh yang paling halus dan melenakan, adalah ego kamu. Camkan itu, anaku sekalian…?”. Ruang kelas yang cukup luas itu serasa ditelan bumi, meski untuk sementara Pak Santiago hanya melemparkan sorot matanya kepada anak anaknya,  yang beberapa hari kemarin membuat hatinya getir. Maka wajar saja sudah cukup lama, guru yang terkenal bijak itu masih saja meradangkan amarah dan kekesalanya pada kelas itu.

Kadang suara Pak Santiago mampu menggetarkan kaca jendela kelas, kadang pula melembut disertai dengusan nafas panjang. Namun demikian semua anak anaknyapun mengakui bahwa guru wali kelasnya itu, adalah guru yang piawai dalam menyelami liku hati anak anak didiknya yang memasuki tahap remaja. Namun entah iblis apa yang menyelinap dalam benak anak anaknya, yang terus saja badung membuat ulah di sekolah mereka itu.

“Entah apa yang kamu banggakan dari diri kalian, aku tahu anak anaku !. Sebagian besar diri kalian adalah putra orang terpandang, pengusaha, pejabat. Namun bukan berarti pak guru terus diam membisu, bila ulah kalian sudah seperti ulah geng motor.Pak guru cukup terhenyak mendapat laporan diri beberapa pemilik Café di lingkungan sekolah kita“. Suara Pak Santiago bertambah lirih, karena kekesalanya yang mengguncangkan dadanya hingga seakan akan mampu menelan suaranya sendiri.

Setegar apapun hati putra putranya, saat itu menjadi luluh mendengar advise guru yang karismatik itu. Sebagian besar dari mereka yang badung, tidak mampu lagi untuk menatap sorot mata gurunya yang tajam itu, apalagi untuk membantah semua advisenya, padahal selama ini, mereka kerap membuat guru lain menjadi kesal dan hampir putus asa member pembelajaran pada mereka, selalu saja terdapat ulah yang tidak santun.

“Maaf, anaku..kalau kamu punya gaya hidp yang bebas seperti petualang, tidak ada
yang mampu mengarahkan kamu semua, silakan hengkang dari sekolah ini !”.
***
Bagi Rudi sama sekali dia tidak berani untuk berkilah apapun, karena hingga saat ini dia telah divonis oleh sekolah untuk segera meninggalkan sekolah favourit ini, apabila dia sekali lagi membuat ulah. Tapi karena rayuan dari beberapa teman badungnya, dia dan beberapa temanya beberapa hari silam asik nongkrong di Horizone Café dekat dengan sekolah mereka di jam jam sekolah. Justru di café inilah dia bisa bebas berkencan dengan Angelita dan Angelitapun ikut terhipnotis untuk bolos sekolah.dan  membuka kedua tanganya untuk menerima Rudy.

“Rudy..!” teriak Pak Santiago mengagetkan semua siswa  yang mendengar, langit langit kelaspun seakan akan hampir runtuh, semua hanya mampu diam membisu menghadapi kekesalan guru yang biasanya sangat sayang kepada mereka,  termasuk Rudy yang mulai berkeringat dingin setelah mendengar namanya dipanggil.

“Iya, pak !”
“Nampaknya aku harus rela melepasmu, meski dengan berat hati”
“Maaf, pak !. Rudy masih ingin sekolah disini !”

“Apa karena kamu sekelas dengan Angelita , kamu mau sekolah di sini terus !”Pak Santiago tahu persis bahwa anaknya yang paling badung ini, memang ngebet bukan kepalang dengan Angelita, putri seorang pengusaha mini market di kotanya. Apapun bisa dilakukan oleh Rudy, asal dia bisa berada di seputar Angelita.

Rudy tersudut tak mampu bicara apapun, sementara Angelitapun hanya mampu menundukan kepalanya karena perasaan malu mulai menggelitik hatinya, apalagi selama ini Pak Santiago tidak pernah usil ataupun peduli dengan persahabatan mereka berdua. Tetapi saat ini dengan kesal, wali kelas yang mereka sayangi itu telah mulai nyentil hubungan mereka berdua. Angelitapun tidak ingin guru kesayanganya itu menghempaskan dia begitu saja dari sekolah ini.
Betapa Angelita masih ingat betul satu tahun silam, saat pertama kali dia masuk sekolah ini, setelah beberapa sekolah sebelumnya telah mengeluarkan dia. Anggelita mulai merasakan kesejukan hatinya, dengan advise advise walikelasnya ini, yang hanya sekedar berbicara segala sesuatu yang perlu, namun sederetan kata katanya mampu membius Angelita yang sigap membenahi karakternya yang binal. Kata dan sikap Pak Santiago adalah mutiara bagi Anggelita yang mulai mampu menemukan dirinya sendiri.
Namun saat ini, dia menghadapi figure  yang tidak lebih dari singa yang lapar, yang siap mencabik dia dan beberapa sokibnya yang terus menerus melanggar aturan sekolah. Perasaan seperti ini nampaknya juga dirasakan oleh Rudy, kentara dari sorot mata yang sering dilemparkan pada Angelita.

”Sukseslah anak anaku, dengan apa saja yang kamu sukai, tanpa terhalang apapun, seperti angin yang bertiup tanpa beban. Hal itu bisa kamu dapatkan, bila kamu mampu mengalahkan egomu sendiri, go  go like the wind blow”. Kata kata bijak Pak Santiago masih sering diingat oleh Angelita dan beberapa teman lainnya.
***
“Aku sudah lelah menghadapi ulah kalian berdua” seru Pak Santiago di ruang guru, setelah usai jam sekolah. Rudy masih diam membisu, sementara air mata sejuta penyesalan telah mulai membasahi kedua mata Angelita. Suasana kantor guru menyerukan sebuah keheningan yang ikut serta mengajukan proetes pada dua sokib remaja yang menjadi biang membolosnya beberapa teman mereka selama satu minggu.

“Maaf, pak. Memang Angelita besalah !”
“Hmmm..Angelita!, ingat!, baik sekolah, orang tuamu dan saya pribadi memang selalu memaafkan diri kamu. Tapi itu bukan poko permasalahnya, masalah yang ada justru lebih pelik dari sekedar Pak Santiago memaafkan kamu berdua !, tahu Rud, ucapan pak guru ?”

“Rudy belum mengerti, pak !”
“Kamu tahu, Angel ?”
 “Angel juga belum tahu, pak !”
“Hari kemarin segenap guru talah memutuskan untuk segera mengeluarkan kamu berdua dari sekolah ini, dan untuk beberapa teman kamu hanya diminta mebuat pernyataan resmi. Jadi pak guru saat ini juga dengan berat hati akan membuatkan kalian surat pindah”.

Kedua bola mata Angelita kini benar benar dibasahi air mata, sedangkan Rudy hanya membantingkan sorot mata ke tiap sudut ruangan itu. Kedua remaja itu merasa, bahwa mereka berdua dan beberapa temanya telah mulai beradaptasi dengan sekolah ini. Setelah mereka bosan keluar masuk dari seolah satu ke sekolah lainnya. Terutama Rudy dan Angelita yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.

“Pak Santiago !, boleh Angelita bicara ?”pinta Angelita dengan isak tangis yang masih terdengar.

“Oh tentu saja boleh, anaku , dan kau Rudy !, selalu aku luangkan waktu untuk kau !. Nah Rudy silahkan kamu juga bicara !”
“Ah, tidak pak !. Rudy tidak tahu harus bicara apa !”
“Baiklah Angelita, silakan bicara !”pinta Pak Santiago.
“Angelita khawatir, pak !”
“Khawatir tentang apa, anaku !”Sejuta penasaran kini hinggap di hati wali kelas mereka
“Angelita dan Rudy bisa kembali menjadi anak jalanan setelah dikeluarkan dari sekolah ini “

Giliran Pak Santiago kini yang terdiam seribu bahasa dengan mengsiratkan kekhawatiran dari sorot matanya. Dengan menderaikan senyum lepas pak guru itupan mengangkat ke dua tanganya.

“Kalau kamu merasa sudah mulai mebenahi diri kamu sendiri di sekolah ini, mengapa
kamu melanggar aturan sekolah dengan berpacaran di Horizone Café selama satu minggu di jam sekolah. Pelanggaran ini sangat memalukan nama sekolah, apalagi yang
malaporkan ulah kalian adalah warga sekitar sini  “.
“Pak Santiago !, Rudy minta maaf, dan ini yag terakhir kali “
“Bulan kemarin kamu juga berjanji seperti ini. Baiklah anaku berdua, aku hanya menjalankan tugas. Pak Santiago hanya mampu berdoa, semoga kalian berdua menemukan sekolah yang lebih baik dengan sekolah ini. Sehingga mampu membentuk kalian berdua menjadi remaja yang baik “

“Rudy, tidak mau, pak !” desak Rudy.
“Angel sekali ini saja  meminjam nama baik Pak Santiago, untuk yang terakhir “. Permintaan Angelita ini sempat mengagetkan wali kelasnya.

“Angel, Angel !, apa lagi !”Pak Santiago mengangkat kedua tanganya

“Angel akan membuktikan pada sekolah bahwa Angel bukan anak jalang, Angel akan buktikan bahwa Angel adalah anak yang berprestasi dan akan Angel buktikan dengan rangking rapot “Kedua sorot mata Angelita yang masih basah tajam menatap wajah Pak Santiago, yang mengusung sebuah harapan adanya kebijakan dari walikelasnya.

“Hehehe…ini baru putra bapak, lantas kalau kamu tidak masuk rangking ?”jawab Pak Santiago.

“Itu terserah Pak Santiago ?”
“Dan kau Rud !, sama seperti Angelita ?”
“Ya, pak !”
“Sungguh, Rud !”
“Sungguh pak !, Rudy janji !”

“Huuuh..aku tidak menyangka kalian berdua masih memiliki sikap dewasa. Tapi aku tidak janji, nanti pak guru akan mengajukan ke kepala sekolah, OK ! hari sudah siang,kalian berdua bisa pulang sekarang !”***

Minggu, 27 Mei 2012

Loading Hati "The Silent Girl"


Biarkan tebing terjal menghimpitku…..lautan memisahkanku ..atau kawanan elang mencabik isi jantungku, aku harus tetap menjadi Ody yang braveman, aku tidak mau menjadi pengecut “ teriakan hati Ody, meski hanya dia yang mendengarkan, tapi  terus saja bilik jantungnya yang lebay bergayut di dirinya. Entah sampai kapan dia terus menyeruakan maksud hatinya,  untuk meluluhkan hati Rin, dia sendiri tidak tahu. Dia hanya mampu mengingatnya saat dia mulai sekelas dengan Rin Mahardika “The Silent Girl” dua tahun silam.

Kini usai sudah Ody belajar di bangku sekolah menengah, setelah papanya membuka amplop hasil pengumuman dari wali kelasnya, dan terbaca jelas  kata LULUS di pengumman itu. Papa Ody hanya tersenyum puas, Nampak dengan jelas tidak ada kegembiraan yang berlebihan di raut wajahnya. Demikian pula Ody, yang terbesit dalam relung hatinya, akan sebuah perjalanan panjang yang baru saja dia mulai.Maka Ody tidak mudah berbuat seperti anak ingusan, konyol mencoret coret baju seragamya.

Haya kedua sorot mata Ody, yang menyapu setiap penjuru sekolah untuk menelisik wajah manis yag terkadang hanya dihiasi senyum tipis, atau kala dia mengibas rambutnya yang terurai sebatas bahunya. Kadang pula kedua mata bolanya yang bereksotis di balik kaca matanya, membuat Ody terus saja tidak mau membuang sorot matanya pada The Silent Girl yang sedari pagi terus saja bergayut di lengan mamanya,
***
“Sudah ya Ody !, papa harus ke kantor, nanti sore biar mamamu membuatkan makanan untuk pesta kecil kecilan di rumah. Jangan lupa !, cepat pulang dan nggak usah ikut ikutan turun ke jalan !” pinta papa Ody. Anak ke empat dari Andre Hudoyo itupun hanya menganggukan kepala. Ody bergegas mmburu waktu untuk kumpul bareng dengan sokib sokibnya, yang sebagian besar lulus UN tahun ini. Peluk manja dan derai tawa terdengar di sana sini.

Sorot matanya kini beradu dengan salah satu sudut sekolahnya, yang riuh lantaran banyak sokib sokibnya yang melepas tawa lepas dan bebas, dan ditengah kerumunan itu “The Silent Girl hanya melempar senyum tipisnya pada cowok cowok yang mengurungnya. Ody seketika itupun dengan sigap mencoba laru dengan semua sokib sokibnya, sementara dia terus meloading detak jantungnya, “Mengapa the  silent girl hanya memberikan senyum tipisnya, padahal dia telah lulus. Kapan aku mampu membuat dia bisa terawa lepas. Karena tawa lepas  Rin belum pernah aku jupai sejak aku kenal dia di  kelas XI “.

“Mengapa, kau penasaran dengan senyum lepas cewek itu ?. Itu kan nggak prinsip….” protes sisi jantung Ody. Sisi jantung Ody yang lainpun berusaha membela Ody, “Ah, kamu nggak tau sih, aku ingin sesekali meliha dia tersenyum lepas saat di depanku. Apalagi anak manja itu benar benar nggak pernah nyambung kalau aku ajak bicara !”

“Itu memang bawaan dia sejak kecil, bro !. Maka dia jarang bisa senyum lepas dengan semua orang, apalagi dengan kamu, Ody !”.

Kedua sisi jantung Ody sat inipun terus megedepankan egonya masing masing, maka kini Ody hanya mampu mendengarkan celoteh celoteh yang saling bertentangan ,  maka diapun kini hanya mampu berdiri terpaku di kerumunan sokib sokibnya, yang mirip kumbang sedang memasang belalainya untuk segea menjaring perhatian dari  Si Cantik  The Silent Girl yang ada di pusat kerumunan itu.

Silent Girl, begitu acuhnya melihat kedatangan cowok ganteng itu,sama sekali dia tidak terusik dengan memberi tegur sapa, atau “saying hallo”, pada Ody yang juga berhasrat memasang jeratnya. Sama sekali tidak loading yang berate bagi silent girl itu terhadap Ody.

“Bro, ayo dong jangan seperti kakek pikun, kemana rencana kamu setelah pengumuman ini ?” pekik Albert dengan menarik bahu Ody, agar lebih dekat lagi Ody mampu berbagi rencana remaja remaja gaul yang sedang menebar jeratnya pada The Silent Girl, yang kini mulai memberikan senyum yang lebih cerah ketimbang pagi tadi.
“Mengapa dia mulai mau mengusung senyuman cerahnya, ah silent girl itu mulai merespon Albert, ah apa sih Albert itu ?, cobalah aku lebih binal lagi memasang jeratku, aku harus punya rencana yang lebih eksotis lagi, agar Rin betul betul tertarik dengan rencanaku. OK Rin, kau harus berubah menjadi cewek yang lepas tertawa hanya pada aku !!!”. Ody tambah menjadi binal menuruti kata hatinya itu.

“OK , friend !, aku sudah lama pengin nongkrong dan berkemah di hutan yang masih perawan dan nyaman. Kita naik ke Gunung Slamet, tetapi di punggungnya kita berkemah. Setelah itu kita enjoy di Baturaden, Jogja dan coming home ! OK ?”

“Nora Kamu Od !, itukan enjoynya anak udik !. Cari dong petualangan lainnya yang lebih syuuuuur !” seru Bram.

“Bro, tiap hari kita hanya melihat hutan beton, asap mikrolet, aspal yang berlobang. Sekali sekali kita menyatu dengan hutan asli di penggung Gunung Slamet, eh Bro di hutan itu nanti akan kita temui banyak mata air, jadi jangan takut. Kebetulan aku punya tenda parasit untuk 8 pendaki cukup, kita akan mendengarkan kicauan  burung burung yang lepas bebas !” Ody begitu meyakinkan, karena pengalaman di sebagai Organisator Out Bond di grup pencinta alam sekitarnya.

“Ody !, kalau cewek bisa ngikut nggak ?”

“ Kenapa takut, hutan Gunung Slamet sudah nggak ada lagi hewan ganas, asal Rin mau mandi di sendang !, kenapa tidak !. Lagian  kita bisa turun ke Baturaden bila kita butuh suplay bekal. Ngikut aja Rin !” pinta Ody.

Rin Mahardika “The Silent Girl” mulai menengadahkan wajahnya yang lembut dengan mata lugu pada cowok ganteng yang renyah itu, diapun mulai mengusung senyum lebar pada Ody.Loading hati Rin mulai menampakan sedikit sentuhan pada ajakan Ody. Lepas bebasnya senyum sang ratu di tengah kicauan burung hutan Gunung Slamet tentunya akan memiliki nuansa tersendiri. Apalagi sejuknya angin dingin Gunung Slamet di pagi hari akan ikut merias wajah Rin.

“Udah Rin !, pastikan kamu ikut ke Gunung Slamet. Kita coba nanti ajak Stefani, Wulan dan Bunga. Atau kita ajak sokib-sokib satu kelas yang butuh enjoying. Gimana Ody !” desak Albert.

Ody bertambah berselera untuk segera mewujudkan petualangan di Gunung Slamet. Saat menyaksikan Rin menganggukan kepala untuk berkencang dengan Punggung Gunung Slamet. Sekali lagi senyuman halus diusung Rin kepada teman temanya dan sekali lagi hati Odypun berdesir kuat. Meski dia belum tahu pastinya, apakah senyum Rin hanya untuk dia atau kepada cowok ganteng lainya yang bareng ngumpul saat itu.

“Oh Surely,  kita nanti bisa menyewa tenda di bumi perkemahan Baturaden. OK friend sebaiknya kita rapatkan saja rencana kita besok di sekolah. Sekalian kita minta ijin sekolah”

Kampus sekolah itu kembali sepi. Sejuta rasa penasaran masih tumbuh di hari Ody***
Penulis :Effi Nurtanti