Minggu, 06 Mei 2012

r e s a h


Dalam Doa Aku Terbaring Resah

Puisii Effi Nurtanti

Hari ini kembali aku datang, dalam rentangan
sajadah bermanik pilu dan galau
Menuju sesuatu yang bersembunyi di balik bola mataku
hanya “sehalus tabir “ batas antara hati
tatkala bumipun dengan “vulgar” merentangkan tali
aku gapai...lantas membujur diam

satu dua kilasan tetap aku kabarkan
hingga yang ada di “tepi tak bertepi “ tetap menjulang
aku benamkan dalam “kabar sendu” tentang
bilah nafas yang melintang di tenggorokanku
tentang “kuku kuku tajam” hidup yang
menoreh luka pada sudut jantung

aku pekikan dalam keranjang malam
tatkala sebuah mimpi dalam sepertiga malam
mematahkan sayap sayapku, sehingga aku
gapai warna warna hambar dalam catatan langit
aku harapkan mampu terkesima, namun
denyut nadi dengan tngkas menyelinap
dan mengaburkan jiwa yang terkesima
aku tersungkur dalam resah
(Smarang, 26 Nember 2011).

Hanya NamaMU

Dalam perangkap magnet dan hipnotis....
warna  nafas hidup yang melekang
dan menggigit kuat  dada yang berdinding  resah
aku terpingit, tersudut dan tertawan.
Sebuah lembut dan kokoh benang sutra
Menggeliatkan tubuhku

Kau hadir,
menyimakan sebuah kiasan
Dari perjalanan urat nadi satu hingga ujung benaku
Lantas  serpihan mutiara melilitku...
Dan bergambar Asma Asmamu

Dengan namaMU
Aku terhempas jauh ke angan di batas waktu
yang tak berbatas..meski semua pantai dan
2
laut lepas telah aku jenguk
Aku mengunjungi  buritan semua angin dan
mampu merentangkan semua mega ....(Smarang, 26 Nember 2011).

Syahdu

Aku ikuti saja arah gelombang lautan berbuih putih
Bila membawaku ke pada semayam beralas kain babut
Dengan dinding berlapis “tafakur”, terpaan angin kemarau
tak kurasa lagi, aku sempat meliukan segenap kemauanku
untuk menghadirkan irama jantung,
ulu hati, desah nafas dan jalangnya nadi darah
aku kuliti tubuhku sendiri
hingga mencapai batas dimana Engkau berdiri dihadapanku,
dak Kau petik satu persatu, semua yang ada di kepalaku
lantas Kau cermati luka kakiku, yang terkupas
lantaran ganasnya deru debu jaman

Engkaupun dalam halus menyelinap,
Hingga tak ada batas lagi warna jaman
Hanya ada “zuhud”, hingga memeras air mataku
Engkau dalam kesyahduan, membiramakan suara hati
Dalam titian benang benag yang tak tampak.

Akulah sang pengelana,
dari guratan tangan satu ke guratan lainnya
hingga jalan panjang tertutup batas horison
namun hanyalah kutemui batas senja bertabir hitam kelam
lantas dengan kesyahduan Kau lepas jeratan kuat, aku mulai
terkesima. Pada halus,lembut wajah malam yang Kau miliki

(Smarang, 26 Nember 2011).


Peluh


 Puisi Effi Nurtanti

dalam hari,
kau semai peluh,
kau taburi senyum,
peluh menyisir suka,
hari  menepis jarum waktu

peluh meluruh
menyambut  bulan
kelam malam,
kau candai dalam benderang

peluh membisu
saat kau tanam bunga pagi
bersandar pagar bambu
kau letakan harap
peluh yang ada di langit
kau tertawa

peluh bergincu
tanpa keluh
kau sunting matahari
aku membisu
(Semarang, 11 April 2012)

Nyanyian pipit

kita ikat sayur di ladang,
dalam wajah penuh ceria
kita kemasi bulan
dalam keranjang bergurat
kepak sayap pipit
berparuh kecil, tersenyum malu
memberikan sihir, untukmu

kita berkejar angin gunung
tiada debu bermandi durjana
batang padi mengerling mata
tertunduk lesu
dalam alunan birama anak desa
pipit pipit itu milikmu
seribu sayap menjadi dirimu
(Semarang, 11 April 2012)

Eksotis cintamu

sendi tulang
nadi darah dan bara matahari
menjadi satu,
berdandan  jendela cakrawala
kau punguti
kembang berkelopak
detik dan menit
kau beri nama hari
dalam rambut emas mentari
aku terpelanting
tak berdaya
kau disisiku

(Semarang, 11 April 2012)

saat aku bernaung pada tuhanku


Kau lah yang telah beribu buluh rindu dalam dandananku….
~dalam basah lidahku, untuk mencari ~ di terang warna bulan
di tengah  geram dan meradangnya manusia ,
tetap tergelar pada lazuardi yang Kau tetapkan dalam coretan
langit, dalam pekik awan memenuhi bola langit.

Selaksa kabut hitam memburami sisi jantung yang liar
aku melemparkan pada liuk dan lekuk Kodrat milikMU.
namun bayangan hitam mengelabuhi aku dalam
naungan yang sengaja aku usung untuk lebih kentara
kanvas penuh warna yang aku sodorkan pada langit

Meski hanya setipis kabut dini hari,
namun   tirai tetap samar dan bungkam seribu bahasa
aku bangunkan agar terjaga, dan mampu aku padukan
dengan gambaran hati, yang penuh gejolak deru debu
Kau entah berjarak, selaksa tautan yang aku gapai
dengan gemetar lengan lengan kecilku, sempit dadaku ~ episode
tetap berjalan, tertusuk bilah tajamnya waktu dan jaman

Tak seharusnya aku penat
tak seharusnya melonggar sendiku
tak seharusnya meluruh nafasku
Kau berdiri tegak diatas istana cakrawala~ aku berbenah
pada telapak tanganku bergurat serpihan asa terpagut
noda hitamku yang tertusuk pucuk ilalang,
kala padang hidup merontang, air gunung pun
memalingkan sorot matanya

Belum genap aku lengkingkan sebuah teriakan
untuk membangunkan pipit, kenari serta bakau di pantai
namun tenggorokanku telah hangus  terbakar
oleh prosa hidup yang jauh dari pelipur duka lara
aku punguti satu persatu
lantas semua bajuku  belum mampu menyimpanya

Tuhanku, aku dalam sepi….untuk sebuah NaunganMU   (Effi Nurtanti, Semarang, 1 Maret 2012)

Episoda Orang Kecil


 Puisi Effi Nurtanti

Masih Ada Waktu

Jarum  waktu  menerkamkan  bara membakar semua yang kumiliki
untuk  di pinang  pada kantong bajunya, akupun enggan menjadi mempelainya,
meski bintang gemintang telah aku buru,
menyelinap di tengan kelambu langit,
namun birunya  telah menyapaku gelisah.
Akupun masih dalam jingganya apa yang kau cibirkan.

Aku berniat berkawan  awan…..
Melepas lepuh tubuh, dengan kawanan “merpati” bertatap elok
Membangunkan gelisah sang palma di hujat jaman
Biarkan semai bulir padi, tetap digenggamanku
Untuk sesuap sarapan pagi kita,  menantang jaman
bersama istriku, “Sang Rembulan”
Meski kita berdua tak memiliki rajutan kain sutera esok pagi
Namun air Toba tetap menjadi penyejuk

Agar pematang di sawah tidak bercampur dengan noda busuk
Seperti yang dijinjing punggawa negeri,  menebar sembilu
hingga “perih dan pedih” menyelingkui Ibu Pertiwi.
Aku orang kecil, menebas halimun “Solar Flare”  tak mampu,
Apalagi larut dalam tepuk riuh dendang “Sang Koruptor”

Mari kita hiasi tepi jarum waktu
Dengan seloroh yang lebih renyah, hingga waktu dapat kita pungut
Taringnya yang tajam tidak mengoyak jantung kita
Sehingga tidak terlepas ikatan tentang sebuah Negeri Bidadari
Yang bersemayam di beranda Toraja, dan menebar wangi bunga
diantara Serambi dan Puncak Jaya Wijaya

(Semarang, 13 Januari 2012).

Aku Bukan Malin Kundang

Bila Sang Ibu bersedih,
Biar air matanya kesedu dalam peluh
hingga hilang penat tubuhku
aku tetap menjagamu

Bila Sang Ibu mengerlingkan mata
Seribu makna akan aku buru
hingga ke ujung langit
akupun tetap dalam cumbu rayu

Bila Sang Ibu berduka
Akupun menebas langit, mencari selendang
bidadari, agar  engkau terlelap dalam negeri gubug bambu
akupun menunggu pagi

Bila Sang Ibu menjenguk langit
Hingga badai di beranda rumahku
Akupun tersungkur dalam doa
Pada Sang Segalanya di atap langit
Agar Ibu menjenguku lagi.

(Semarang, 13 Januari 2012).

Surat untuk Negriku

 Matahari telah lama dalam canda
di pelataran Bukit Barisan, untuk bercumbu
dalam riang pesta teh hangat
yang disidorkan di atas nampan Negri Seribu Dongeng.
Bertiup semilir angin dari celah Pegunungan Kidul

Nyanyian burung pagi hari
Menjadi  hidangan wajah bergincu syahdu
Yang tak pernah terlewatkan dewa dewa di “Indrakila”
Karena darinya,  negeri ini terbujur dalam bentangan
Akupun terkungkung,  dalam taman bunga
Yang tak lelah menjulurkan kelopaknya

Hingga dalam episode orang kecilpun
Mereka masih memingit mega-megamu
Berjaga di pagar bambu  halaman rumahmu