Kamis, 10 Mei 2012

kereta biru rindu


Kereta biru kini menebas dinginya kabut
menyingkapkan semua ikatan rindu, di ujung
sebuah perjalanan menuju batas pagi
sementara roda roda besi terus menelantarkan
jendela kaca yang lusuh terus menerbangkan angin fajar,
aku menggelepar di tengah kerumunan pekik
manusia manusia merajut hidup
dalam selembar janji kuci mahkota di langit

aku terdiam…..
pohon dan nyanyian bisu alam berkejaran
meniti semua tepian hati yang melekang dalam rindu
gerbong tua terus berderit dalam ketidaktahuan
mencari batas yang tak kunjung usai

aku  terus mengayuh
agar satu dua guratan pagi senja, memilihku…
lepasnya apa yang menyudutkan benak otaku,
atau yang melepuhkan kedua lenganku
aku lepas kandas dalam batas
aku kembali terdiam

kereta terus melaju dalam biru yang sepi

(Effi Nurtanti, Semarang, 4 Maret 2012)

Supermoon ini milikmu


jangan kau tumpahkan tinta hidup
pada alunan warna warni pelangi di belahan langit
tak pernah burung burung menghardik
mega mega ceria di esok nanti,
kau berikan ruang hatimu dengan supermoon
hingga pelataran rumah masa depan kau dan aku
berseri memetik sinar mentari,

pada uraian rambutmu,
supermoon merebah,  tentang kelembutan yang hidup
selama bumi berputar,
tak kan pernah usai bidadari bernyanyi lagu merdu
kita menyisir  malam demi malam…
hingga kau tautkan kereta berkuda putih elok
bagaikan pangeran dari negeri kaca,

aku harumi gaun  malam dengan pernik pernik
yang melekat kokoh dan memantulkan
sinar supermoonmu dengan tujuh warna
kau degap dengan derai senyum
aku suguhkan dengan kereta biru senja
perlahan menghempaskan liar degup jantung
ke atmosfer malam, supermoon menyeringai….

kita tak pernah kehilangan jarum waktu
meski menembus kawanan mega hitam
atau rengkuhan  taupan bergigi tajam
kita  terlepas dari rasa saling menyelinap…
kita bebas liar memetik rambut malam
kita menukik memungut nukilan hidup
atau kita terbang bebas,
menjenguk supermoonmu
kita dalam bebas….

Effi Nurtanti, Semarang 12 Mei 2012




Sang Petualang


Sedikit banyaknya Pak RT sudah beberapa kali menyambangi pria paruh baya itu, yang berambut lurus, berperawankan ceking, cekung matanya menjorok ke dalam, tapi sorot matanya sangat tajam. Seakan berhasrat menguliti siapa saja yang dipandangya.
Pagi itu kembali lagi Pak RT menyempatkan diri untuk bertemu denganya, agar mampu menyakinkan pria yang setengah gila itu. Pak RT sengaja mengajak beberapa pengurus RT untuk mendampinginya. Meski matahari sudah setinggi daun kelapa, namun rumah separo papan itu masih senyap. Apalagi di awal musim hujan ini, ketika hampir semalam hujan membius bumi, semua yang ada dalam rumah menjadi bertekuk lutut, menyerah dalam selimut mereka masing-masing. Termasuk Pak Diran, yang tidak tahu atau pura pura tidak tahu kedatangan Pak RT.
Hanya tiga kali Pak RT dan pengurusnya mengetok daun pintu dari triplek yang sudah mulai mengelupas sambil mengucapkan salam, kemudian diam membisu dengan raut muka yang bersungut. Lantaran rumah  pria misterius itu sama sekali tidak bernafas. Tak beberapa lama pengurus RT itu kini hanya duduk saja di serambi rumah Pak Diran yang lusuh, berdebu dan  dipenuhi daun daun Akasia yang kering berserakan. Kentara sejak akhir musim kemarau silam, pria itu tidak berinisiatif untuk menyapunya.
“Sungguh malang Pak Diran !” Suara Pak RT memecahkan keheningan beranda rumah tua itu.
“Ah, karena dianya sendiri yang tidak mau berbuat baik” Jawab sekretaris RT.
Kembali mereka bertiga dibius  dinginya pagi itu. Hanya angan mereka bertiga yang memenuhi hati mereka masing-masing. Meski angan mereka satu sama lain tidak jauh berbeda, semata menyayangkan nasib pria setengah gila itu, yang mencampak dirinya sendiri dlam perjalanan hidup yang suram.
Mereka bertiga adalah pengurus RT yang tergolong muda usianya dibanding usia Pak Diran. Maka mereka bisa menyaksikan sendiri, betapa pria misterius itu mengalami perubahan hidup yang tragis,  lima tahun silam Pak Diran menempati rumah mewah di tepi jalan protokol yang necis, bersih dan terpandang. Karena dia adalah kontraktor sukses di kota ini. Istrinya yang masih kelihatan cantik, meski sudah  berumur  hampir separuh baya selalu setia mendampinginya, mereka bersama membesarkan ketiga putri Pak Diran yang tergolong cantik dan cerdas.
Namun meski Pak Diran sudah berpijak di istana kebagiaan, namun dia tidak pernah mampu untuk mengendalikan suara hantu hantu yang bergentayangan di jantungnya. Hantu itu terus saja memberontak dan menelikung angan Pak Diran, agar  laki laki malang itu menaburkan uang yang bermilyar milyar jumlahnya untuk menebarkan kepuasan hatinya.
Maka mulailah Pak Diran selalu pulang larut malam, untuk menghabiskan bendel demi bendel uang ratusan ribu rupiah, untuk tersenyum lepas di hantu wanita, yang bermata juling, berkuku tajam dan hitam, berkulit bagaikan boneka lilin. Namun dari sorot matanya mampu menyihir siapa saja laki laki yang berduit.
 “Ayolah papa kita habiskan malam ini, agar tidak berwarna kelabu. Jangan takut, papa mampu membeli kota ini, mampu membeli segalanya. Oh aku belum merasa puas, bila aku belum memiliki Jaguar dan Bungalow indah di kaki Gunung Slamet. Ayolah papiku, keluarkan uangmu. Minggu depan kita harus sudah melampiaskan hati kita dalam bahtera yang lembut, penuh pesona, bahagia, asal kita sudah berada di bungalow baru…hik…hik…hik”  Dari taringnya yang panjang dan tajam, keluarlah mantera mantera sakti untuk membius laki laki berduit itu. Seperti bius Cleopatra, yang berhasrat menaklukan Kaisar Agustinus.
Tangan kanan laki laki itu memeluk pinggang “kuntilanak” yang berkemas bidadari malam, sementara tangan kirinya memegang mesra leher sang putri. Namun sama sekali bulu kuduk laki laki itu tidak meregang. Pertanda dia sangat akrab dengan hantu “kuntilanak” itu, atau memang Pak Diran adalah juga hantu berbadan kokoh, tegar dan mampu menundukan hantu siapa saja dari seluruh penjuru alam hantu.
Tak lama hantu kuntilanak yang hinggap di bungalow yang mewah dan di halaman rumahnya berdiri asri mobil Jaguar seharga 1 milyar Rupiah, ditinggalkan oleh hantu petualang itu. Lantaran dia sudah tidak mempan lagi dengan mantra mantra sakti  “sang kuntilanak”. Hantu kuntilanak itu sudah tidak berkemas “bidadari malam” lagi , dengan jerat di sayapnya sudah tidak kokoh lagi, kini hantu kuntilanak itu sudah berubah wujud menjadi nenek tua keriput, berjalan pincang dengan bau anyir di seluruh tubuhnya.
***
Kini telah beberapa bulan hantu petualang itu menjelajah semua puncak gunung, lembah, lautan dan hutan, untuk sejenak melepas dahaga di kuku kuku tajam hantu kuntilanak lainnya. Meski bidadari  penghuni rumahnya telah lama dia tinggalkan. Sementara ke tiga putrinyapun telah berbahagia dengan suami setianya masing masing. Sang bidadari setianya, yang sejak muda dengan setia mengarungi samudra kehidupan Pak Diran, kini hanya terpagut sepi, berlinang air mata. Berkali kali tanganya memegang pisau tajam untuk mengakhiri hidupnya, namun selama ini selalu gagal, lantaran bisik dari bayangan putih yang berkelebat di kamar pengantinya selalu mencegahnya.
“Tahukah kamu, hai Novia !, keluhuran dan tingginya derajat kaum wanita adalah mengasuh putra putranya hingga berhasil dan bersabar mendampingi suami suaminya yang telah berbuat gila. Janganlah pernah berputus asa, demi masa depan anak anakmu”. Seketika itu jatuhlah pisau tajam di tangan kanan Novia.
“Tapi kali ini dia sungguh keterlaluan, apakah ini memang salahku ?. Karena sudah tidak bisa membahagian dia lagi ?”
Sama sekali tidak Novia !, kebagian yang telah dia dapatkan dari kamu sudah terpenuhi. Hanya hantu hantu genit saja yang sering bersemayam di bilik hatinya”
“Aku sudah tidak tahan lagi, akhir akhir ini dia malah mengusirku dan berniat menjual rumah dan mobil hadiah darinya, demi membahagiakan simpananya”.
Kuatkan hatimu, jangan pernah berhenti mencintaimu, kecuali engkau sudah berkalang tanah, meski tidak dengan pisau itu. Berikan saja rumah dan mobil itu, pergilah bersama anak anakmu, mereka bertiga masih sanggup menyayangimu”
Novia yang berdandan bidadari malam yang jelita dan berhati sejuk itu, memang harus meninggalkan rumah hantu yang sekarang berdebu, tidak bedanya dengan kuburan. Sepasang gelas kaca, bertangkai  artistik “romawi” kerap bersanding di meja makan rumah tua itu, saat saat seperti itulah Novia kerap berseloroh romantis dengan Diran Prasojo. Sepasang gelas itu pula diharapkan Novia , agar dirinya  mampu menggayutkan pada “sayap sayap malaikat malam” yang membawanya berkelana ke tepi malam. Dia berharap mampu menggandeng lengan kokoh kuat milik Diran Prasojo, yang dahulu mampu membalikan arah putaran bumi.
Namun ketika malam yang pekat dan lancung itu, tak lagi mampu menyodorkan kenangan lama, Noviapun segera melipat sayap sayapnya dan jatuh di kamar pengantinya yang sunyi. Hingga akhirnya Novia memilih untuk bersatu dengan ke tiga putrinya untuk hidup di bawah kasih mesra, sebagai pengganti sesuatu yang hilang. Berkali kali bayangan suaminya menjenguknya, dengan raut muka yang mengerikan, bertaring tajam dan tak pernah bersatu dengan tegur sapa. Pertanda  bahwa memang dia sudah tidak menghendaki pertemuan denganya lagi.
Namun Novia kini pun menjadi kurus kering dengan dada nyeri  ditusuk sembilu jerat yang dipasang hantu petualang itu. Mungkin dengan menghadap yang Kuasa bagi Novia adalah jalan yang dipilih oleh Sang Khalik, dari pada hidup berkubang bara. Kini wanita yang malang itu hanya meninggalkan tubuh yang kaku dan dingin, yang terbujur di depan anak anaknya. Tanpa disaksikan suaminya yang kini telah berpetualang dari pelukan hantu hantu kuntilanak yang menemani dalam petualangan panjang.
***
Malam  semakin mengunci dan memencilkan dirinya dari rayuan Pak Diran, yang masih belum merindukan kehadiran istrinya. Diapun tidak tahu dimana istrinya berada. Sedangkan alamat ketiga putrinyapun belum dia ketahui. Warna dinding kamar pengantinya yang dulu menggerlapkan hidup bersama Novia,  kini kusam dan retak. Namun sama sekali dia tak memperdulikan karena rumah itu sudah bukan miliknya lagi.  Padahal seluruh tulang persendian dan ototnya, sudah tidak mampu lagi untuk terbang melawan angin muson, untuk bertualang dari penjuru ke penjuru bumi ini. Semua harta kekayaan kini telah musnah. Dunia hantu dan petualangan telah mencampaikan dia di tempat yang terakhir ini.
Padang ilalang di sekeliling rumah setengah papan itu menjadi saksi, betapa menderitanya dia dalam memunguti lagi jarum waktu yang pernah dia tinggalkan. Setiap kali dia ingin merentangkan sayapnya, setiap kali itu pula Novia hadir dengan dandanan “ratu malam” yang jelita bagai bidadari. Kerap dia berhasrat berdiri  mendampinginya, namun belum genap langkah dia torehkan, punggawa punggawa di seliling ratu malam itu melototkan sorot mata hendak melemparnya jauh jauh.
Lantas bagaimana kehidupan ketiga putrinya yang sama sekali jauh dari rengkuhanya, apakah aku sudah memiliki cucu atau mereka semua telah meinggal, tapi di mana kubur mereka. Apakah laki laki durjana seperti aku, tidak boleh hanya memandang ketiga putri putriku yang dulu cantik dan jelita. Apakah aku harus terbujur kaku tanpa kehadiran mereka. Bisik hati hantu petualang yang telah pongah itu tal hentinya melekat di jarum waktu.
***
Suara batu batuk kecil tapi dalam terdengar dari dalam rumah, Pak RT dan temanya itu segera beranjak dan menghampiri pintu yang telah separo terbuka, senyum tipis yang mengguratkan pipi yang lapuk dan menampakan gigi menghitam, menyambut kedatangan mereka bertiga.
“Beginilah nasib saya, Pak RT. Aku hanya ingin bertemu istri dan ketiga anaku !” Pak Diran perlahan membuka pembicaraan mereka berenpat di tikar bambu yang sudah mulai banyak berlubang.
“Maaf, Pak Diran !. Kami dan semua warga sudah berusaha melacak ke sana kemari, tapi hasilnya masih nihil”. Jawaban Pak RT menyentakan hati Pak Diran yang sudah lemah tak berdaya.
“Ah, tidak apa apa, semua ini memang salah saya, Pak RT !”
“Tapi kami tidak putus asa, Pak Diran !. Tolong berikan kami semua alamat saudara Bu Novia di mana saja, kami akan berusaha menghubunginya”

Sepotong kertas kumal denga tangan gemetar diberikan Pak Diran kepada Pak RT, meski bibir keriput itu sudah tidak sanggup lagi berkata. Hanya senyum hambar dan sedikit tundukan kepala melepas kepergian Pak RT.
Padang ilalang kembali gersang terpagut sepi, gerimis mulai membasahi beranda rumah tua, yang hanya satu satunya milik Pak Diran yang masih tersisa bersama dengan angan dan harapanya, untuk kembali berbahagia dengan Novia dan ketiga putrinya.

Di Tengah Debu Merapi


Bau asap belerang yang menusuk hidung menyebar tiap penjuru desa dan setiap jengkal ladang sayur di Desa Gedangan, Cepogo Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan menyisakan kepiluan yang mendalam diantara semua yang berwajah tertunduk lesu. Namun langit biru masih patuh dan lembut menaungi kehidupan mereka yang kali ini harus berpisah dengan kampung halamanya.

Mereka yang meninggalkan rumah, ternak dan sawah ladang,  harus memburu waktu, agar lembut awan awan yang mampu menerkam mereka tidak membakar dada mereka yang telah sarat dengan kehidupan yang tidak ramah. Mereka harus sadar  bahwa mereka tidak lain hanyalah manusia yang hanya memiliki tulang dan daging, yang selalu menggapai cita dan harap di lereng Gunung Merapi yang sedang tak ramah. Mereka bahkan sudah tak mengenal Merapi lagi yang kali ini berdandan menakutkan. Padahal saban hari sebelumnya,  mereka telah terbiasa akrab dengan Merapi yang tersenyum malu, berdandan bedak pupur awan dan berkulum senyum menawan,

Namun kini mereka harus berlarian sepanjang jalan desa yang mulai tertutup debu debu liar yang dimuntahkan Merapi yang sedang dilanda kegalauan hati. Mereka segera menuju ke lokasi yang aman di daerah Boyolali, Magelang dan Jogjakarta. Teriakan nyaring terdengar di mana mana,  membahana ke setiap liuk jalan desa, lantaran kepiluan mereka mencari saudara saudara yang tidak berada di sekitar mereka. Entah hidup yang bagaimana lagi yang harus mereka lakukan ataukah salah dan dosa apa yang mereka miliki, sehingga harus meninggalkan sawah ladang yang selama ini membawa berkah bagi kehidupan mereka. Demikian rasa tidak percaya diri terus saja bergayut di hati mereka. Bayang bayang pilu kini kembali menghantui mereka kala 16 tahun lalu, mereka harus menyaksikan 40 saudara mereka warga Dusun  Turgo,  Purwobinangun,  Pakem telah kembali ke pangkuan Illahi, karena diterjang awan panas Merapi.

Jalan jalan desa yang sempit dan beralas debu debu putih yang liar berlarian di terjang kaki kaki yang melegam, kini terasa pengap dipenuhi dengus nafas dari manusia manusia yang panik, yang ingin segera meninggalkan kampung halaman yang meronakan bara. Sebagian dari mereka harus tertunduk tak berdaya kala awan panas itu mencekik leher dan membakar dadanya. Sedangkan sebagian lainnya harus terus mendayung waktu bergegas menuju barak pengungsian.

Wajah wajah menakutkan tak berbingkai senyum ramah, yang tidak seperti biasanya keramahan membahana di antara mereka kala bergelut dengan tanah ladang dan lenguh lenguh sapi piaraan, kini hadir di antara mereka.  Apalagi wajah Suto yang bergurat kepedihan, lantaran istri dan ketiga anaknya belum juga tampak disekitarnya. Padahal sebelumnya dia harus jatuh bangun memapah istrinya untuk berlarian sepanjang jalan desa dengan menggendong si kecil, berlarian menuju truk pengungsi yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya uang terpencil.

Diapun segera menggayutksn istri dan ketiga anaknya bergabung dengan  truk yang telah sarat dengan pengungsi lainnya. Hingga diapun harus mengalah menunggu kedatangan truk lainnya. Suto hanya mampu berdoa, meminta kepada Sang Pencipta Gunung Merapi agar istri dan ketiga anaknya bisa kembali disampingnya dan dia diberi kekuatan hati agar mampu tabah dalam menghadapi kemarahan raksaksa biru yang kini menghanguskan semua yang dia milki.

Gemuruh letusan Raksaksa Biru Merapi mulai terdengar Suto dan pengungsi lainnya, rintik hujan kerikil dan pasir mulai berjatuhan di sekitar mereka. Suto berlarian kecil meninggalkan desa Gedangan bersama dengan beberapa pengungsi lainnya, yang datang terlambat. Jauh di belakang mereka awan panas mulai menngulung apa yang berada di depanya. Meski peluh bercampur debu membasahi semua tubuh Suto namun dia tetap menerjang debu debu yang menghalangi pandanganya.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihatlah lampu lampu truk pengungsi dari relawan yang berani menantang maut untuk menyematkan sisa pengungsi yang tertinggal termasuk Suto dan teman temanya, sementara itu beberapa pengungsi yang semula berada di belakang Suto kini tidak tampak  lagi, lantaran diterjang dengus nafas Merapi yang kelewat marah. Meski Suto berhasil menyelamatkan diri dalam bencana itu, namun bilah hatinya masih melekat kuat kepada istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Rasa tidak percaya kembali menggeluti hatinya, betapa sebuah kehidupan yang diusungnya harus disertai dengan perjuangan yang berat demi sebuah kedamaian bersama keluarganya. Namun kembali lagi diapun harus berpasrah kepada Sang Pencipta yang memberikanya hidup dan kebahagiaan bersama istri dan ketiga anaknya.

***
Telah tiga harinya lamanya Suto hilir mudik ke tiap barak pengungsian guna mencari sisa terakhir yang dia miliki, yaitu istri dan ketiga anaknya. Dari barak ke barak , Polres Boyolali, instansi pemerintah Kabupaten Boyolali,  RSU Boyolali,  RSIA Umi Barokah,
RS Al-Amin dan RS Mojosongo Kabupaten Boyolali, mereka belum juga ditemukan entah kemana mereka, bagaikan di telan bumi atau mereka kini bersemayam di langit bersama dengan mereka yang telah mendahului di terjang awan panas. Sutopun hanya menitikan air matanya dengan langkah yang gontai, karena belum sesuap nasipun masuk dalam perutnya.

“Sudahlah Pak Suto, semua pengungsi disinipun mengalami kehilangan, bukan hanya bapak. Lebih baik bapak makan roti ini, sekedar menambah kekuatan tubuh bapak” . Seorang relawan yang bernama Hendrawan telah terketuk hatinya menyaksikan perjuangan Suto dan keluarganya untuk menggapai kehidupan ini.

“Terimakasih, Mas !, aku tidak akan pernah berhenti sebelum bertemu mereka. Kalau toh mereka menjadi korban aku harus melihat mayat mereka”

“Pak Suto, tenangkan dulu hati bapak. Akan aku antar mencari mereka sampai mereka ketemu. Kebetulan aku banyak kenal teman teman dari media yang juga menjadi relawan. Makanlah dulu pak !”

“Ini semua salahku, seharusnya aku langsung mengungsi waktu Pak RT menyuruhku segera mengungsi. Tapi waktu itu aku tidak percaya begitu saja kalau Merapi bakalan meletus separah ini !”

“Kalau toh Pak Suto waktu itu tahu bakalan seperti ini tentu jauh jauh hari sudah mengungsi. Tapi siapa yang tahu kalau bakalan begini. Ini semata mata hanya Kehendak Tuhan Yang Maha Tahu. Baiklah Pak Suto, kita lanjutkan lagi pencarian ini. Sekarang kita coba menyisir pos pos relawan yang ada di Magelang, kita coba kontak dengan teman temanku”

Hujan debu kini mulai menyerang daerah Boyolali dan Magelang, jalan jalan raya dan atap rumah serta dedaunan hijau kini berwarna putih. Mereka berdua dengan sepeda motor hampir selesai menyisir pos pos relawan untuk korban bencana alam Merapi yang tersebar di Magelang, guna meminta informasi termasuk dokter dokter relawan yang bertugas di RSU Tidar RSU, RS Dr Soedjono, RSU Lestari Raharja dan RS Harapan Magelang. Kembali Suto mendapatkan hasil pencarian yang menambah pilu hatinya.

Hingga akhirnya mereka kini hanya bersandar di ruang tunggu RS Tidar melepas lelah ditengah hiruk pikuk upaya pertolongan relawan pada korban bencana alam yang menyayat hati itu. Pandangan mata Suto tercampak pada daftar korban yang meninggal ataupun luka yang ada di papan informasi RS Tidar. Hatinya menguat kembali kini, setelah dia menemukan informasi bahwa terdapat beberapa korban yang dilarikan ke RS Sardjito Jogja lantaran daya tampung rumah sakit di Boyolali   terbatas.

“Mas, kembali aku minta tolong. Antarkan aku ke RS Sardjito, barangkali istri dan anaku di sana !”

“Baik Pak Suto, sekarang juga kita berangkat. Mumpung hujan debu masih tipis”

“Aku harus berkata apa lagi, Mas ?. Sungguh kamu manusia yang mulia, Mas Hendrawan”

“Ah..Pak Suto !. Namanya saja relawan, ya tugasnya harus rela menolong warga yang tertimpa musibah”

“Sungguh, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Kuasa di jaman sekarang masih ada manusia seperti Mas Hendrawan”

“Sama juga aku, Pak Suto. Ternyata masih ada manusia yag berhati tabah seperti Pak Suto yang diterpa bencana seperti ini”

“Habis mau gimana lagi ?”

Hendrawan langsung minta informasi kepada humas posko bantuan bencana alam yang ada di RS Dr Sardjito Jogja dan mereka memang menerima pasien dari Turgo, seorang ibu dan ketiga anaknya yang mengalami pinsan saat evakuasi, lantaran beberapa lama tak sadarkan diri maka dari Boyolali pasien itu dibawa ke Jogja. Namun mereka belum mengetahui siapa nama ibu yang pinsan tersebut. Suto dan Hendrawan bergegas menuju bangsal ekonomi tempat ibu dan ketiga anaknya dirawat.

Kebahagian Suto kembali menyelinap dalam lubuk hatinya melihat istrinya sudah berangsur pulih, meski tubuhnya masih lemas. Sunarti istrinya yang kini terbaring lunglai dihadapanya menjelaskan bahwa dia kala itu tidak tahan menghirup gas belerang yang sangat kuat hingga dia dan Nova putri bungsunya menjadi tak sadarkan diri. Sedangkan kedua kakaknya telah dititipkan pada Pak Sartono tetangganya yang kini masih berada di barak Boyolali dalam keadaan sehat.

Diciumnya pipi istrinya dan si bungsu dengan penuh haru, Sutopun kini hanya mampu memeluk Hendrawan sebagai ungkapan terimakasih yang tak terhingga.

Prayogo dan Leila


Entah sudah berapa kali Santiago Prayogo mendenguskan bilah nafas gelisah di kursi pesawat, yang menghantarkan dia dari Banjarmasin untuk pulang ke Semarang kampung halamannya. Perasaanya begitu getir, meski dari balik jendela pesawat terlihat gugusan awan berkejaran, mencoba mendinginkan hati Prayogo yang sedang diterjang bara api. Sesekali dia menengok kursi disampingnya,yang kini tidak lagi diduduki Leila dan anak mungil mereka Rakian, yang meluruhkan seluruh kekuatan sendi tulang Prayogo.

Mata Rakian bocah mungil itu, tawa candanya dan celoteh celotehnya yang memberikan kedamamian hatinya, kini hanya ada di langit menggelantung bersama awan hitam, yang dihembuskan oleh prahara di tengah bahtera rumah tangga Prayogo. Dia merasakan seluruh hidupnya terhempas prahara. yang ditiupkan oleh kedua orang tua Leila sendiri, hingga tibalah kursi pesawat yang diduduki, langit biru di balik jendela pesawat dan barangkali desah nafas yang masuk tenggorokannya ikut pula menyalahkan dan menyudutkan, mengapa dia harus kalah begitu saja. Padahal Leila masih membuka kedua tanganya, meski berada di tengah himpitan yang kuat dari sorot mata kebencian ortunya dan semua saudara saudara Leila yang cantik itu.

Kini dari kaca jendela, Prayogo hanya melihat permadani biru bertabur buih putih. Jelas sudah dia tahu kini, kalau Banjarmasin telah jauh dia tinggalkan. Berkali kali dia mengeluarkan HP dari kantong bajunya, karena berharap HP itu akan memekakan telinganya, lantaran panggilan dari Leila yang menyuruhnya dia kembali ke Banjarmasin demi Leila dan anak tunggal satu satunya. Meski Pengadilan Agama telah mensahkan perceaian antara mereka, namun Prayogo masih saja menyimpan nomor panggilan Leila. Wanita berkulit kuning langsat, anak Juragan Romli pedagang besar kayu, bersama dengan putri tunggalnya itulah  Prayogo  telah 12 tahun  mengarungi hidup di Banjarmasin, sebagai guru swasta.

Masih kuat dalam ingatan Prayogo,  beberapa tahun yang lalu, Si Kuning Langsat jelita hatinya, terus saja melipat wajahnya tiap dia pulang dari mengajar. Namun unjuk easa Leila, yang tambah kelihatan cantik itu, tak begitu digubrisnya, apalagi bila putra tuggalnya berada dalam pangkuanya. Prayogo tahu betul, bila bahtera rumah tangganya telah menemui lautan dangkal berpasir, yang dikelilingi karang terjal, Siap menghancurkan bahteranya yang tidak seberapa kokohnya.

            “Bapak terus saja mengejar uang yang abang pinjam, mengapa hingga kini abang belum mulai membayarnya, abang kan bisa saja mengangsur hutang modal itu Bang ?” bibir merah yang berhasil merontokan hati Prayogo, seperti biasanya terus saja menghakimi Prayogo yang sering tersudut dalam kekalutan hidupnya.

            “Kalau saja aku tahu bakal seperti ini. Tentu saja aku tidak mau berdagang kayu seperti Bapak, Leila !!!! “ entah perasaan apa yang mengganjal sanubari Prayogo kala itu, tidak pernah selama jarum waktu bergerak menghantarkan sang waktu, Prayogo  menepis permintaan Leila sekasar itu. Bilah hati yang sedang disudutkan kekalutan itu, tidak mampu lagi menerima permintaan Leila. Seribu kunang kini bertebaran di sekitar kepalanya, tubuh Rakian didekapnya kuat kuat dan kini dia duduk di sofa penganti baru pemberian mertuanya yang bergelimang harta.

Prayogo mengusap punggung Rakian berkali kali, yang melengkingkan tangis manjanya, seakan akan tahu keadaan  orang tuanya yang sedang didera kekalutan hidup.

            “Bang Yoga !, bapak juga mengerti keadaan kita. Tapi seharusnya abang juga tahu kalau bapak minta abang lebih serius lagi dalam mengembangkan usaha kayu”

            “Leila !, kamu kan tahu, aku sering rugi berdagang kayu. Aku jadi bertambah pusing ! ”

            *Percuma saja aku bicara dengan abang, modal yang bapak pinjamkan kan tidak sedikit. Wajar saja bila bapak menanyakan usaha kayu kita, bang ? ” .

            “Kamu kan bisa menjadi wakil aku di depan bapak tentang bisnis kayu kita. Katakan saja !,  kalau aku bangkrut, modalnya akan aku kembalikan secepatnya, Leila ?”

            “Bukan begitu bang !, jangan abang menempatkan masalah ini hanya dari aspek bisnis saja. Bang !, aku anak tunggal, jadi wajar bila bapak ingin aku bahagia, termasuk diri abang. Bapak hanya ingin tahu tentang usaha kita. Usaha yang diharapkan bisa berkembang demi masa depak kita bersama’
                                        
            “Tidak usah kamu ajari, aku tahu masalah itu. Aku hanya minta waktu ?”

            “Bang !, aku anak seorang pedagang. Dari kecil aku menyaksikan betapa sengsaranya bapak yang jatuh bangun mengembangkan usaha ini. Hingga kinipun bapak masih hati hati  mengembangkan usaha ini. Inilah yang akan bapak ajarkan pada abang dan aku “

            “ Leila !, aku bosan dengan ini semua, cobalah bicara yang lain saja. “

            “Lantas, apa lagi yang akan aku bicarakan, Bang Yoga !!!! “
           
            “Maksud kamu ? “

            “Ya !, karena kita sudah tidak punya apa apa lagi, rumah yang kita tempati, sepda motor dan lainya adalah milik bapak. Masa depanpun kita sudah tidak punya lagi, jadi apa yang dapat kita bicarakan lagi “

Pandangan mata Prayoga seluruhnya dilemparkan kea rah tembok tembok rumah yang kini mulai kusam. Tembok tembok itu dulu berwarna putih bersih, kala mereka menempati sejak malam pertama.  Prayoga masih terdiam, hanya anganya yang mengembara bberapa tahun silam, kala mereka bersua masih menjadi mahasiswa IKIP di Semarang. Leila kala itu, dikenal kembang kampus dari sebrang, dengan penampilan sederhana meski putra tunggal seorang pedagang kayu yang sukses.

Prayoga menautkan cintanya kepada si kuning langsat, lantaran awalnya Prayoga tidak menduga bahwa Leila anak tunggal seorang pedagang besar yang kaya raya, namun memiliki cita cita sederhana ingin menjadi seorang pendidik. Sungguh bersahaja cewek gedongan ini, tak melekat sedikitpun di tubuhnya yang atletis segala macam perhiasan yang gemelap, meski bagi Leila yang berkelas milyarder, masalah itu gampang saja.

            “Bang Yoga !, aku serius !, abang sebaiknya bertemu bapak untuk mempertanggung jawabkan modal itu “

            “Dengan apa aku bisa membayar, Leila ?”

            “Bertemu dengan bapak dulu, bang !. Meski rugi dan habis modal abang, bapak kan memaklumi bila abang bersedia menelaskan alasan yang tepat. Siapa tahu bapak akan memberi solusi yang tepat?”

            “Aku belum siap, Leila ?”. Santiago Prayogo tanpa berkata lagi sepatah katapun, membawa tubuhnya dengan bergegas ke luar rumah dengan membanting pintu dan pergi tak tentu arah entah kemana, kini tinggal

            “Abang, abang…!!!!”
***

Suara batuk batuk dari Juragan Romli memenuhi seluruh ruang tamu rumah besar itu, sementara Leila sedang asyik menidurkan Rakian di Sofa tamu berwarna hijau lembut. Cuaca siang itu memang sangat panas, namun tidak sepanas perasaan Leila yang membarakan amarah dan kekecewaan kepada Santiago Prayoga, yang selalu menghindar dari pembicaraan serius tentang nasib meeka. Leilapun mengerti bahwa mereka berdua adalah sama sama berprofesi sebagai pendidik, sesuai yag dicita citakan meeka berdua. Meski untuk beberapa tahun ini Leila memilih untuk berhenti sementara, karena kesibukan membantu usaha mereka dan mengasuh Rakian.

            “Leila ! Itulah kehidupan. Dahulu tentu saat kamu masih kecil, kamu sering menyaksikan bapak dan mamak bertengkar. Namun saat terjadi pertengkaran, salah satu harus bersikap dingin, yang dapat menyiram bara api yang hinggap di hati yang membara. Bila kedua belah pihak saling membara hatinya, maka darimana mereka akan mendapat kedamaian ?“

            “Aku sangat prihatin dengan sikap Bang Yoga, aku harapkan Bang Yoga mau mempertanggung jawabkan modal yang diberikn bapak, mengapa rugi dan berapa sisa modal yang ada ?” Suara Leila terdengar terbata, di kedua pipinya kini mengalir titik titik air mata.

            “Leila !, bagi bapak tidak menjadi masalah serius tentang kerugian Prayoga, karena modal itu memang milik kamu, dan bapak masih punya banyak harta milik kamu. Semua itu  tidak dibawa mati bapak dan emakmu. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan !”

            “Betul Pak, tapi aku tidak enak sama bapak dan emak, bagi Leila abang Yoga mau ketemu dan mempertanggungkawabkan sama bapak itu saja sudah senang, Pak ?”

            “Memang bagi Prayoga yang dilahirkan bukan dari keluarga pedagang, susah untuk berhasil. Maka dulu bapak kan pernah memberi saran, untuk menjadi pedagang kayu yang sukses, Prayoga harus mulai dari bawah.Tetapi kau memaksakan diri “

            “Aku memang tidak mengerti, Pak. Sejak dari kami berpacaran dahulu, kami berjanji bersama untuk belajar bersama menjadi saudagar sukses seperti bapak. Makanua dengan modal 250 juta, kami berdua ingin belajar pada bapak hingga sukses. Tapi kini Bang Yoga sepertinya tidak serius lagi”

            “Memang kalau bapak perhatikan, Prayoga bukan tipe  pedagang tangguh, sama sekali tidak berani mengambil resiko dan takut tantangan. Mungkin saja dia lebih suka menjadi pendidik, disitulah kepuasan moral Prayoga “.

            “Lantas aku harus bagaimana, Pak ! “

            “Cobalah dinginkan perasaan kalian berdua dulu, nanti kalau sudah tenang mintalah pertanggungan jawab dari Praypga, meski modal itu dari bapak,  tapi modal itu adalah uang, yang harus jelas pengeluarannya. Aku menginginkan kalian berdua belajar professional, aku percaya semua pengeluaran Prayoga tidak untuk  hal yang tak berguna. Dari kehati hatian bapak terhadap pengeluaran itulah, bapak bisa sukses seperti ini “

Leila tidak menjawab kata kata bapaknua, Leila hanya mampu menyimpanya dalam hati. Ayahnya yang bijak itupun kini pamit, hingga tinggalah penantian Leila di dawai sang waktu hingga kepulangan Prayoga, yang akhir akhir ini sering beberapa hari tidak pulang, entah kemana perginya sang suami yang tercinta. Namun tidak ada satupun makhluk di dunai ini yang mampu menghentikan sang waktu. Santiago Prayoga yang mengalami  kerugian besar, tidak segera untuk minta advis istri apalagi bapak dan emaknya Leila, tapi malah semakin nekat perilakunya.

Leilapun merasakan kini hidup bagai di atas panggangan api, demikian juga Rakian yang merasa asing dengan kedatangan Prayogo bapaknya,yang sering pulang malam tanpa memberi sentuhan kasih sayang. Tiap malam tiba, tembok kokoh rumah dengan arsitek Eropa itu telah bergetar, genting beton yang kokoh kinipun seakan beterbangan tiap kedua insan itu saling bertengkar hingga larut malam. Demikian juga kala di sebuah malam yang tidak pernah Prayoga lupakan. Pertengkaran natara mereka berbuah pada perpisahan yang diminta Leila sendiri.

            “ Sebaiknya kita tidak usah bertengkar setiap saat di rumah ini, bang ?”

            “Mengapa kamu bersikap seperti ini sekarang ?”

            “Barangkali saja abang, lebih memilih tidak bertemu aku lagi yang selalu mengganggu kehidupan abang ?”
            “Maksudmu ?”

            “Abang tidak usah setiap hari pulang malam, hanya untuk menghilangkan beban yang ada di pundak abang “

            “Leila !,. aku tiap hari mengejar teman teman yang meminjam uangku, banyak mandor hutan yang pinjam uang sama aku, teman guru dan juragan lainnya. Aku ingin uangku kembali dan mempertanggungkan pada bapakmu “

            “Abang !, mereka semua saling kenal baik dengan bapak. Mestinya bapak cerita semua tentang itu. Jelas abang tidak jujur dengan aku ?”

            “Leila !, jangan sembarangan kamu bicara ?.Apa karena kamu dan bapakmu orang kaya terus bisa bicara senaknya denganku ?”

            “Tolong bang jangan sebut nama bapak dalam hal ini. Dia sudah berlaku baik dengan kita semua “

            “Lantas maumu apa, Leila ?”

            “Sederhana saja bang. Abang silakan  bebes kemana saja tanpa diganggu aku”

Prayoga ingat betul, mengapa di malam berbintang terdengar suara petir yang mampu menghanguskan hatinya. Leila menginginkan perpisahan denganua bukan karena salahnya atau dia, tetapi memang suratan takdir berkata demikian. Lamunan itu kemudian terpagut, kala announcer dalam pesawat itu memberitahu kepada semua passenger, bahwa mereka kini telah tiba di Semarang

Guruku yang Baik Hati


Barangkali saja manusia memang harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi Transmigrasi Kalsel. Setelah lima tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.

Sementara Sugiarti kini lebih memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari Jawa begitu rapuhnya. Mereka berduapun telah cukup sudah menyematkan sebuah pengabdian yang besar kepada petani sawit dengan rela menjadi pendidik, tanpa memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.
***
Suatu senja di tengah lahan sawit, sebuah perpisahanpun tak mampu mereka tepis.
“Itulah kenyataannya, Mas. Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.
“Yah!, kalau memang itu maumu, kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan, semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.
“Aku harap engkau mengerti, Mas “
“Nggak jadi masalah!, Toh aku sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita harus siap menerima tantangan apa saja”
“Tapi bagi kamu, Mas. Masalah ini kan lain. Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak berdaya, Mas !”
“Akupun mengerti, Giarti. Hanya aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia yang berhak mendapatkan bahagia”
“Betul, Mas !, apa hanya di bibir saja ?”
“Pernahkah aku bohong padamu ?”
“Nggak, pernah Mas !”
Giarti tidak mampu lagi menjawab ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini.
Sugiartipun telah tahu bahwa tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani sawit.Bumi transmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah perpisahanpun nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji saling mengerti.
Memang merekapun masih berharap bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.
Bagi Sofyan liku-liku hidup adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu. Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki dengan realita.
***
Sang waktu pula yang membawanya menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali teringat Sugiarti, meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.
Herningsihpun dengan senyum tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya. Akhirnya pada senja kali ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan berjalan menghampiri mereka.
“Silakan masuk Bang Hardiman, mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.
“Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf manganggu acara kalian semua”
“Oh sama sekali tidak, kami hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini, sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”
“Betul Bang, ini semua tentang adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan. Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan Sugiarti.
“Kenapa dengan Kak Sugiarti, Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.
“Ah aku sudah tidak mampu berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”
“Sugiarti, sakit apa, Bang ?”
“Dokter menemukan adanya kanker pada kedua ginjalnya, Bang “
“Lantas, menurut dokter bagaimana cara penyembuahanya ?”
“Itulah, Bang yang membuat saya menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi, kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”
Terlihat menegang wajah Sofyan mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.
“Mam, gimana bila Bapak mencoba untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”
“Silakan saja Papi, tapi apa kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”
“Gimana Bang, aku sebenarnya pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak memungkinkan”
“Ah saya sendiri tidak tahu, Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter mengijinkan”
Herningsih tertunduk lesu, dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya itu.
Namun apapun alasanya , Herningsih hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya dan juga menyisakan sorot mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya.
Di kamar ICU itu Sugiarti masih terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat. Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.
Hardiman kini hanya mampu meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya, pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang Kuasa menghendaki. ***

Lagu Merdu Pak Guru


Biarkan saja kokok ayam jantan tak henti menyambut pagi hari, mereka berkokok saling bersautan dari pojok desa satu dengan lainnya. Mereka begitu tak hirau dengan datangnya hari yang akan dijalani oleh kehidupan manusia babak demi babak, menurut kodrat yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Pagi itu bumi Desa Kembang Arum seakan tiada menyisakan warganya yang kembali merapatkan selimutnya, meski di tengah musim kemarau udara begitu dinginnya. Kabut tebal masih enggan menatap sang mentari. Sementara itu semua celoteh burungpun tak mau peduli dengan malasnya embun yang menyelimuti mereka. Sementara semua penduduk desa, yang kebanyakan petani gurem mulai bersiap mencari secercah penghidupan, dengan menyandarkan pada palawija, lantaran musim kemarau masih menerpa mereka. Di tengah penghidupan masyarakat yang separuh nafas itulah, Nur Hadi mengabdikan diri sebagai Pak Guru. Demikian predikat yang diberikan masyarakat desa kepadanya.
Nur Hadi bukan hanya guru di SD N III Kembang Arum, namun dia juga sebagai guru bertani, bergaul, pengentasan terhadap ketertinggalan, keserasian rumah tangga dan seabreg nilai lainnya yang dibutuhkan masyarakatnya. Jubah Hitam kala dia kenakan diwisuda menjadi S.Pd. ternyata menyimpan seribu beban. Namun bagi Nur Hadi beban itu, hanyalah sebuah nyanyian merdu seorang pendidik yang ditekuni lahir batin.
Matahari sudah tidak malas lagi dan kini mulai bangkit dari cakrawala timur, jalan desa sudah dipenuhi sibuknya petani guna mencari nafkah. Debu jalan desapun tak mau kalah dalam bersuka ria, beterbangan bersama angin kemarau yang dingin dan kering.
Dengan sepeda motor bututnya Nur Hadi mulai bersiap menuju sekolahnya guna menyongsong anak-anak kesayangannya untuk mendapatkan setetes demi setetes ilmu. Namun terkadang pula dia sering menjumpai penduduk desa yang sengaja bertandang di sekolahnya sekedar minta setetes masukan guna menyelesaikan semua permasalahan yang membelitnya. Dalam hal ini jadilah Nur Hadi sebagai konsultan rumah tangga, kesehatan, bisnis yang tanpa menarik jasa serupiahpun.
Angin kemarau melambaikan semua rerimbunan daun di lingkungan sekolah, menimbulkan hawa sejuk sekaligus keteduhan hati. Nur Hadi masih membimbing anak kelas VI untuk menata kelas,  karena senin lusa akan dilangsungkan ujian sekolah. Pandangan matanya kini terpusat pada halaman sekolah, kala seorang wanita tua berjalan mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya pagi ini giliran seorang penduduk desa yang berniat minta tolong kepada Pak Guru Nur Hadi.
“Oh rupanya engkau Bi, silakan duduk”
“Aku  harus bagaimana?, aku harus berkata apa?”
“Sabarlah Bi, duduklah dengan tenang, katakana apa masalahnya, Jangan emosi dulu”
“Itu si Amran, yang sekarang tak mau sekolah lagi, sudah tiga malam ini dia baru pulang. Lagian pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana ini Pak Guru ?”.
“Ah anak muda sekarang memang  seperti itu, Bi. Jangan Bibi banyak marah dengan anak sekeras itu. Turuti saja kemauannya dulu. Setelah dia agak lapang hatinya barulah Bibi nasehati dia”
“Tolonglah Pak Guru, sudah tidak kurang lagi aku ngomong sama dia. Rasanya sampai kaku lidahku”
“Ah Bibi ini ada ada saja. Kalau Bibi tidak mau kasih nasehat. Lantas siapa lagi?”
“Iulah masalahnya, Pak Guru !. Amran kan dulu sekolah sini. Dulu kan Pak Hadi yang paling dekat denganya. Maka tolonglah Bibi ini. Nasehati si Amran itu !”
“Baiklah kalau begitu, Bi !. Tunggulah beberapa hari. Nantikan dia ketemu aku di kegiatan karang taruna. Aku akan nasehati dia”
“Ah trimakasih sebelumya, siapa lagi kalau tidak sama kau Pag Guru, untung desa ini punya guru seperti kamu. Maka carilah gadis desa sini supaya kau betah tinggal di sini. Jadilah penduduk sini, kau akan merasa damai, Jangan cari gadis kota !. Mereka pintar dan cantik tapi suka berani sama suami”
“Ah Bibi ada ada saja. Trimakasih nasehatnya ya Bi”
“Aku pamit dulu, gampang lain waktu kita sambung lagi”
Nur Hadipun menjadi geli hatinya, tentang peran dia di tengah masyarakat desa ini yang masih lugu dan pasrah. Jauh berbeda dengan Jogja tempat kelahirnya, yang jauh di sebrang lauan dari  tempat dia mengajar kini. Beruntung pula bagi Nur Hadi yang memiliki tabiat ramah, suka menolong dan supel bergaul. Maka meski kehadiran dia di  Jambi belum beberapa lama, namun hamper semua warga di Kecamatan Hidup Baru Kota Jambi telah mengenalnya.
Matahari telah melewati sepenggalah langit, teriknya sudah mulai memenuhi semua halaman  sekolah yang sederhana itu. Semua siswa  kini berteriak kegirangan lantaran mereka hanya setengah hari bersekolah. Nur Hadipun segera menuju perjalan pulang melewati jalan yang terik dan berdebu. Gemerisik daun jagung di tiup angin padang terdengar sepanjang kanan kiri jalan desa. Senyum wanita desapun tak ketinggalan ikut mengantar sepanjang perjalanan guru muda terebut, Termasuk Restu Priastuti, putra Pak Priadi yang telah lama tinggal di pinggiran Kota Jambi. Pak Priadi sendiri befrasal dari Kab. Purbalingga Banyumas.
Untuk gadis Jambi yang satu ini memang Nur Hadi merasakan sesuatu yang lain. Selama dia menggapai masa depanya dengan menjelajah banyak tempat,  belum pernah kata hatinya bergejolak seperti ini,  dari mulai pandangan pertama saat mereka bertemu di pertandingan voley antar desa, mereka berdua sudah saling tertarik.
Nur Hadi segera menepikan motornya kala melihat Restu gadis pujaanya, sedang membantu ayahnya membersihkan lahan tanaman jagungnya dari rumput dan gulma lainnya. Mereka akhirnya sudah terlibat dalam canda ria saling melepas tawa, sambil sebentar sebentar berpadu pandang. Kala ini terjadi, merahlah pipi Restu namun tidak mengurangi keanggunan gadis desa ini. Nur Hadi segera saja melepas sepatunya dan ikut membantu tambatan hatinya dalam mengolah lahan jagung itu, meski seragam batik PGRI menjadi berlepotan tanah.
“Kok nggak sekalian pulang dulu Kak?”
“Di rumah juga mau ngapain cuma bengong. Mendingan melihat di sini,  bisa melihat Nawang Wulan di sawah”
“Siapa itu Nawang Wulan, pacarmu dari Jawa ya Kak ?” . Nur Hadi tersenyum gelid an membuat Restu tambah penasaran
“Ayo dong Kak. Siapa Nawang Wulan. Kayaknya di desa ini nggak ada yang bernama Nawang Wualan”. Karena desakan yang terus menerus Nur Hadipun akhirnya bercerita tentang legenda Jawa tentang Joko Tarub dan Nawang Wulan. Restupun menjadi berbingar wajahnya dan memerah pipinya dan kini hanya tertunduk lesu setelah tahu maksud hati sang guru yang masih perjaka itu/
“Tapi aku bukan bidadari lho kak”
“Ah bagiku kamu adalah bidadariku” jawab Nur Hadi kala mereka telah berdua duduk di bawah rerimbunana tanaman jagung yang sudah agak tua.
Kan masih banyak bidadari di Jawa kak?”
“Aku sudah jadi PNS dan berniat tinggal di sini. Lagian di Jawa aku tidak punya siapa siapa hanya bapak dan ibu serta adiku. Untuk apa aku ke Jawa lagi”
“Tapi banyak guru negeri yang balik lagi ke Jawa, kamu apa nggak seperti mereka?”
“ Nggak Res, aku dah betah disini, kelak kalau kita bersama membentuk maghligai, akan aku pindahkan saja bapak ibuku ke sini. Orang sini baik baik semua sama aku Res ?”
“Gimana ya kaka, kebanyakan pria memang suka menebar janji, aku nggak tahu kak?”
“Aku seorang pendidik Res !. aku punya moral. Dan bagi seorang pendidik, yang telah bertekad menjadi pegawai negeri tentunya akan memiliki moralitas untuk membangun lingkunganya. Barangkali kita bsa pulang ke Jawa setelah aku pensiun. Dan untuk itu telah berulang aku sampaikan padamu untuk bersama menggapai kehidupan kita bersama”. Restu hanya menundukan wajahnya,  sama sekali dia tidak mampu menjawab setuju. Maka kini Nur Hadi menjadi berbunga hatinya. Tembang merdu dalam hatinya terus saja ia dendangkan sepanjang perjalanan pulang mengantar Restu ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan semua warga desapun melempar senyum dan lambaian tangan. Seakan mereka telah menobatkan mereka berdua sebagai Abang dan Nona Desa Kembang Arum. Nur Hadi kinipun larut dalam belaian cinta bersama Restu pujaan hatinya***