Sabtu, 26 Mei 2012

Di Balik Gemerlap Bintang


Lalu lalang kunang malam, bagaikan lampu perahu nelayan di tengah laut buta, sesekali menyambangi halaman rumahnya, yang senyap diterkam malam binal. Seorang laki laki paro baya merebahkan punggungnya di kursi bambu di bawah pohon jambu, yang kurus kering tumbuh di halaman rumahnya. Wajahnya dihadapkan pada jalan tanah kampung yang mengering dan membisu, setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Sengaja dia berkerumun bintang dan berselimut kain hitam malam karena bintanglah yang paling tahu tentang hatinya yang bertepi kegalauan dan bintang pula yang paling dia anggap ramah, lantaran tak satu kalipun bintang bintang itu pernah mengotori hatinya. “Bintang bintang itu! biarlah malam ini menjadi miliku”, demikian bisik hatinya.
Apa hanya milik setangkai anyelir saja yang bisa berceloteh tentang bintang, baik bintang kejora atau bintang berparade gubug penceng yang berbaur sinarnya memenuhi sisi sisi langit. Atau hanya bingkai hati seorang laki laki yang sedang berselingkuh dengan bintang yang kini tidak mampu menautkan hati pada apa saja, baik dikala merontanya senja atau dikala angkuhnya sang bulan purnama yang menjajakan sinarnya. Tapi itulah sebuah guratan eksotis hati, bila ingin terbang bersama sejuta sayap malaikat untuk mengarungi malam dari sisi satu ke sisi lain.
Bukankah sesekali bintang menjenguk laki laki itu yang layaknya Sang Pujangga,  lantas bertegur sapa sehingga telah usai sudah syair-syair yang akan digenapkan pada puisi tentang hidupnya,  yang berfatamorgana hanya pada syair yang nakal dan nisbi. Mengapa pula dia hanya mampu menautkan benang merah pada kenisbian, padahal semua dunia dan isinya mampu dilukiskan dengan  kata kata indah, seindah liarnya butir air di Niagara atau se bebas butir debu di Sahara.
Namun untuk menguntai sebuah malam dengan rajutan bintang, diapun harus membusungkan ruang dadanya kembali, agar berisi udara kejujuran ketimbang hanya diisi udara kemunafikan. Sang Pujangga itu yang hanya ditemani pohon jambu di belakang pagar bambu rumah mungilnya, kini mulai mengerlingkan matanya pada bintang, pada  realita kehidupan, pada debu debu jalanan depan rumahnya yang mulai menyesakan nafasnya.
“Pergilah tidur, wahai manusia.  Hari sudah larut, sementara sang kehidupan menungumu esok pagi “ seru sebuah noktah hati entah di sisi sebelah mana. Sang Pujanggapun mulai menampakan sorot matanya yang liar. Di jelajahi semua sudut hatinya, barangkali masih ada rumpun bambu yang rindang agar hatinya tidak gerah lagi. Agar dia bia menyurutkan lebih dalam lagi dari sebuah realita. Kala dia harus jatuh bangun menggegam sebuah realita itu sendiri, kala  dia mencoba untuk menepiskan kemisteriusan benaknya.
“Hai, kau…bukankah aku lagi larut dalam canda sang bintang, yang menggumuli aku sepanjang malam ini”.
Suara itupun surut ke belakang menghilang, menyelinap ke tengah kebon singkong yang ada di samping rumah tua itu. Kini dia kembali sunyi dalam samudra buaian bintang bintang malam yang tersenyum genit. Anganya terus berseloroh hingga terdengarlah batuk batuk panjang istrinya dari dalam rumah tua itu. Seketika itu juga cumbu rayu lelaki itu dengan sang bintangpun menjadi surut dan istrinya dengan dibalut baju hangatpun kini telah berada di sisinya.
“Kalau kau semalaman disini dengan lamunanmu tak akan menyelesaikan masalah kita,Pak “
“Justru dengan ditemani sang bintang malam inilah aku bisa menemukan inspirasi dan ide ide untuk mendapatkan jalan keluar untuk hidup kita, yang semakin dipingit kesengsaraan ?’
“Ah kau berlagak seperti  Pujangga saja”    
“Apa itu Pujangga ?”
“Sama saja degan sastrawan atau penyair “
“Aku selalu jauh dari makna yang tersirat dalam untaian kata, hanya mampu kusimpan semua warna warni hidup dalam sudut hatiku”
“Heee..katanya kau bisa mendapat ide dari sang bintang yang bertebaran di langit, suamiku?”
“Ya pasti saja, setiap manusia yang sedang bimbang dengan kehidupan. Biasanya sering menyendiri di tengah malam, untuk menyaksikan parade bintag dan  untuk mendapatkan ide bagaimana besok menyelesaikan masalah “
“Lantas sudah kau sunting sebuah  gagasan dari bintang bintang itu ?”. Sang istri tang menjadi teman sang pujangga itu melontarkan kedua biji matanya kepada laki laki yang lusuh itu.
“Kita sudah tak punya apa apa lagi, hanya padi sisa panen kemarin. Sementara hujan belum membasahi sawah kita, sudah tiga bulan ini tanam kita terlambat. Aku belum berani menanam psdi. Padahal hanya padi yang menguning, adalah harapan kita satu-satunya”
“Tapi sabar saja, Pak. Biasanya bila habis musim kemarau yang menyengat dan panjang.  Akan datang musih yang basah . Tunggu beberapa minggu lagi”
“Besok aku tak datang ke sekolahnya anak-anak, untuk  minta tempo. Bulan bulan ini aku belum bisa melunasi SPP mereka”
“Padahal sebentar lagi anak anak tes semester, Pak. Aku harap entah dua atua tiga bulan SPP mereka dibayar dulu”
“Habis gimana lagi ?, apa anak anak tidak bisa sekolah kalau orang tuanya nggak punya duit. Apa hanya orang kota yang kaya saja, yang bisa memintarkan anak anaknya. Aku harap di negara kita lahir seoang pemimpin yang membebaskan SPP sekolah. Termasuk buku buku yang harganya selangit. Aku heran katanya kita sudah merdeka, tapi nyatanya untuk menyekolahkan anaknya saja sudah kelimpungan”
“Sudahlah Pak !, kita hanya orang kecil, berteriak sekeras mungkin juga tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan bintang bintangmu di langit hanya diam membisu. Kita bersyukur masih punya beberapa kambing, meski sudah di pesan tetangga kita untuk korban. Kita jual saja untuk SPP anak anak kita dan sisanya untuk menyambung hidup”
“Tadinya aku berpikir seperti itu, Bu !. Tapi aku nggak enak sama Pak Diran yang sudah memesan kambing kita. Baiklah Bu !, sehabis aku ke sekolah anak anak besok,  aku langsung ke pasar kambing “
Kedua insan yang hidup sengsara kinipun merasa bahagia, lantaran esok masih ada harapan untuk menyambung nafasnya kembali. Sang bintang kinipun mulai meredup lantaran sang fajar mulai menjemput untuk kembali ke kaki langit. Hanya suara dengkuran panjang sang pujangga yang menghiasi wajah sang fajar. Tak lama sang surya kinipun menyodorkan kehidupan lagi untuk ditapaki manusia manusia yang masih memiliki harapan.
***
Supardi berkalang kegalaun hati kala menunggu kepala sekolah Tono dan Tini. Mukjizat apa yang dapat menolong dirinya untuk mendapatkan kemurahan dari kepala sekolah ke dua anaknya itu. Pak Dirman sang kepala sekolah dengan berhias senyum di wajahnya kini duduk di depan Supardi yang tidak mampu berkata sepatah katapun.
“Oh, jadi ini Pak Supardi bapaknya Tono dan Tini ?”
“Betul, Pak, kedatangan kami ke sini hanya untuk meminta keringanan SPP Tono dan Tini. Rencana kami beberapa hari nanti akan menjual ke tiga kambing mereka untuk SPP, jadi saya minta tempo, Pak ?”. Mendengar keluhan Supardi, Pak Dirman melepas tawa panjang yang memenuhi semua sudut ruang guru.
 “Bapak tidak usah menjual kambing mereka. Jadi perlu saya sampaikan kepada Bapak, tanpa memberitahu kedua putra Bapak sebelumnya. Bahwa kedua putra Bapak memiliki prestasi yang bagus. Keduanya memiliki nilai yang tertinggi di kelasnya. Bahkan sikap mereka berdua sangat hormat kepada semua guru, sehingga semua gurupun sayang merela berdua “
“Terus ini bagaimana, Pak ? ”. Sunardi tidak percaya dengan keterangan Pak Dirman itu.
“Mereka mendapat bea siswa dari negara, sehingga untuk tahun ini keduanya bebas SPP. Makanya kambing mereka jangan Bapak jual dahulu ?’. Suara Pak Dirman membahana ke setiap sudut ruangan, sehingga mengundang perhatian semua guru.
“Oh, terimakasih sekali, Pak!. Aku tidak percaya, mereka berdua hanya anak singkong, yang mampu bersekolah hanya dari hasil panen padi yang tidak seberapa besarnya”
“Apakah anak singkong tidak boleh berpretasi ?. Semua negarawan di tanah air kita juga dulunya anak singkong,  mengapa kedua putra bapak tidak boleh berprestasi !”
“Ah, bapak terlalu berlebihan”
“Bukan hanya itu saja, Pak!. Nanti pas upacara Hari Sumpah Pemuda mereka berdua akan diberi tabungan prestasi dari “Yayasan Prestasi Anak  Jakarta “dan cukup bagi mereka untuk biaya sekolah selama satu tahun “
Hati Sunardi sudah tidak mampu lagi mendengar kabar menggembirakan dari Pak Dirman. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah, agar wajah istrinya berseri dan rona merah di pipinya menjadi tergambar, hingga mampu membuat hati sang pujangga anak singkong itu kelimpungan.
***
Rumah Tono dan Tini masih kelihatan lengang, sementara matahari hampir mencapai atap langit. Daun daun singkong di samping rumahnya sudah mulai kelihatan menunduk dipagut teriknya mentari. Erniyati masih kelihatan sibuk memunguti bunga papaya untuk lauk makan siang mereka. Melihat suaminya datang dengan mengusung senyum yang lebar di wajahnya , Ernipun menjadi penasaran. Bahkan kini diapun tidak percaya dengan kabar gembira yang disampaikan Sunardi. Hingga kelihatan wajah Sunardi yang bersungut sungut untuk meyakinkan istrinya. Erniyati kini hanya mampu duduk di serambi rumah mereka yang berlantai semen. Dia mendenguskan nafas panjang, tanda bahagia dan bersyukur telah mendapat pertolongan dari Yang Kuasa.
“Pak, aku tadi mendengarkan laporan BMG di tv, mulai minggu minggu  ini kita memasuki musim hujan. Kita sebaiknya bersiap menanam padi. Biarlah biaya sekolah anak anak diambilkan dari uang prestasi mereka. Hasil panen padi biarlah untuk biaya Tono ke perguruan tinggi”
Sunardi hanya menganggukan kepala. Kini beranda rumah mereka menjadi saksi bahwa kehidupan milik petani kecilpun akan banyak berarti bila mereka memang merasa hidup, apapun keadaannya. Hanya Tuhan Yang Kuasa saja yang tahu kehidupan semua makhluknya di muka bumi ini***

Try Out Cintaku

Seharian penuh Keane hanya dikamar flamboyanya untuk “full day taking a rest” segalanya. Setelah satu minggu silam  kegiatan rutinitasnya terus menerus menyita tenaga, hati dan pikiranya. Setelah seminggu lamanya Keane harus ikut Try Out di sekolahnya.  Keane untung saja menyadari bahwa hidup memang sebuah perjalanan yang dia sendiri tidak tahu “ending dan beginning” dalam sketsa yang mau tidak mau manusia hanya melangkahkan kakinya.
Lagu jadul dan melangkonis “My Way” yang dibawakan Frank Sinatra kesukaannya perlahan menyelip di tengah kalbunya. Keane  sedikit terhipnotis dengan isi lagu my way tersebut, yang menggambarkan sebuah perjalanan seorang manusia dalam menggayuti harapan hatinya. “Ya, apa sih yang bisa diperoleh dengan begitu saja di dunia ini ?” , tanpa disadari sebuah pertanyaan dari hatinya dilontarkan kepada tebing-tebing tinggi yang memusari semua perjalanan hidup manusia, atau pada Puncak Jaya Wijaya, Mount Everest atau Puncak Wedus Gembel yang hanya diam membisu.
“Perjalanan ?, begitu beratnya sejak Andi datang untuk pamit pergi ke Padang mengikuti papa dan mamanya yang pindah kerja. Inikah awal aku menuai try out hidup dan cintaku. Lebih dari try out yang dibuat oleh guru-guruku !”.
Saku  t- shirt tergetar karena calling seseorang di Hpnya, Keane segera memungut Hp bercasing biru muda, yang menjadi teman dekatnya di malam minggu ini. Semoga saja Andi di malam ini yang menggetarkan  hatinya bahkan makam minggu ini yang menjadi milik mereka berdua.
***
“Hallo, young lady yang kaya Kate Middleton, lagi nglamun ya ?”
“Ini siapa ? “
“Ah ini aku, lupa suaraku ya ?”
“Sorry friend !, ini Raphael, ya ?”. Meski dia sudah lama tidak pernah gaul bareng dengan cowok ini, namun renyah senyumnya mirip Jenderal Soeharto, tidak terlupakan Keane.
 “Good, kamu memang cewek yang nggak gampang lupa sama teman, ngapain kamu di rumah saja ?. Kalau kamu nggak capek biar gabung sama teman lama kamu malam ini  di rumah Betty. Aku samper kamu kalau nggak ada acara !”
2
“Makasih Raphael!, badanku lagi cuapek, aku mo istirahat dulu. Gampang lain waktu saja aku gabung “
“Pasti lagi merajut angan, ingat sama Andi yang ada di Padang ?’
“Kamu kenal Andi ?”
“Siapa yang nggak kenal dia sih, Keane !. Beruntung kamu dapatkan dia. Cowok ganteng hitam manis dan termasuk smart boy. Kamu kehilangan dia kan !”
“Ah sok tahu kamu ?. Bagi aku dan Andi tidak pernah mengenal arti kehilangan. Kami hanya teman saja”
“Maaf Keane !,  ini mengganggu privasimu. Aku tahu pasti kamu kangen sama dia. Iya kan ?”
“Sorry Raphael !, biar masalah ini hanya untuk aku dan Andi saja.Aku bukan cewek ingusan yang terjebak dalam romantisme remaja. Aku dan dia masih jauh dalam perjalanan hidup kami masing-masing “
“Tapi kalau kamu sendirian di rumah,  apa salahnya kamu gabung teman lamamu yang ngumpul di rumah Betty. Setelah ngumpul kita bareng ke Cisarua untuk happy weekend dengan ikan mas bakar, OK setuju !”
“Gampang lain waktu, Raphael !”
“Aku kangen dengan canda tawa kamu !, seperti kita dalam kegiatan kemah persami di Cibubur dulu, Keane !’
“Aku juga kangen dengan Betty, Ardian, Anti dan Aldo untuk kumpul bareng lagi “
“Oh mereka juga sering mgomomg tentang kamu. Ayo dong kita reuni, nanti aku yang mamitkan sama mama papa kamu “
“Nggak usah repot-repot Raphael !, aku  mau istirahat. Lain waktu kita sambung lagi ya!”
 “Tunggu Keane !, jangan ditutup dulu !. Kamu sekarang beda sih !. Kamu takut    Andi cemburu kan  Keane ?. Udahlah kamu kan masih muda, ngapain kamu takut diputus Andi !. Kamu cantik lho Keane, gampang mencari pengganti Andi.”
“Sorry friend, kalau  kamu memang benar temanku ?, sebaiknya kamu nggak ngomong kaya gitu. Cobalah sedikit dewasa Raphael ! Meskipun kita masih remaja, cobalah sedikit
3
menghargai  orang lain. Antara aku dan Andi masih bebas menentukan langkah masing-masing, dia tidak membatasi aku  dan  akupun  sebaliknya. Tapi bagi aku memang malam ini aku lagi capek”. Belum sempat Keane melontarkan semua  kata hatinya, Raphael yang entah mengapa menutup Hpnya sendiri.
Malam minggu perlahan merayap sepanjang benang waktu, sehingga rembulanpun memberikan isaratnya kalau malampun sudah agak larut. Keane masih mengaktifkan laptopnya untuk mendnengarkan MP 3 lagu lagu pop nostalgia kesukaanya. Satu demi satu lagu pop melo Pance Pondang menggayuti hatinya.
“Sedang apa Andi di sana.Apakah dia juga ingat aku, ada apa sebenarnya antara dia dan Andi. Hanya sahabat biasa ?, tapi mengapa dia selalu ada di hatiku. Atau karena aku yang bersikap biasa biasa saja sama dia, ataukah karena apa ?. Jujur saja aku merasa takut sama Andi, bila gabung bareng dengan Raphael, cowok yang norak” Bisikan hati Keane sekarang lebih berdenting ketimbang suara jarum jam di kamarnya dan suara lagu lagu barat klasik.
***
“Ketahuilah Keane!!,  di dunia ini tidak ada sesuatu yang mampu diraih hanya dengan membalikan tangan. Ingat pesan Bu Willy !”
“Iya bu !” . Masih ingat dalam memory Keane pesan Bu Willy pada dia, saat dia menerima hadiah atas pretasinya sebagai juara kelas di semester pertama kemarin. Namun Bu Willy sempat kecewa lantaran pada try-out yang pertama dua minggu yang lalu, nilai Keane masih belum memuaskan, Keanepun tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Bu Willypun hanya memberikan senyum kecilnya pada Keane atas kegagalanya. Namun Keanepun mampu menafsirkan senyum manis bu guru yang bijak dan pemerduli pada anak-anaknya, bahwa dalam hidup ini memang bukan hanya try-out pelajaran di sekolah yang harus dihadapi semua manusia. Tetapi lebih dari itu, manusia apa, siapa dan dimanapun pasti akan mengalami uji coba dalam kehidupan ini. Apalagi bagi diri Keane yang kini jauh dengan Andi.
Lamunan Keane menjadi meluruh berkeping kala Hpnya kembali berdering, diapun dengan sigap mengangkat Hpnya dan pada Screen Hpnya terbaca kata Andi, maka dengan jantung yang berdegup keras dia memencet tombol hijau.
“Met malam Keane, kamu belum tidur, lagi ngapain ?”. Suara Andi yang datar dan terdengar romantic memenuhi speaker Hpnya Keane. Namun suara itu berhasil menjerat urat syaraf Keane hingga gemetaran seluruh anggota badanya.
“Eeeh, ngggak ngapain, Cuma aku lagi kecapean ?”
 “Kecapean ?. emangnya kamu  habis dari mana ?”
“Aku nggak pernah main, Cuma kemarinkan try-out dan habis itu pembekalan UN sampai sore, mala mini aku Cuma diam membisu di kamar “
“Oh ya nilai try-outmu gimana ?”
“Jangan tanya itu, dong ?”
“Emangnya kenapa ?”
“Nilaiku hancur, semuanya di bawah 5. Jadi aku agak stress ?”
“Sama !,  aku juga nilainya seperti itu. Tapi nggak usah sedih dong !, kan UN masih lama. Yang penting kita siapkan nanti setelah lulus UN “
“Oh, ya Andi !. Kamu mau kuliah di mana ?”
“Aku sudah ngomong sama papa, aku akan balik ke Jakarta untuk kuliah di sini. Kita bisa gabung bareng lagi Keane. Ntar kalau kita lulus,  kita bareng nyari universitas yang cocok untuk kita berdua, OK ?”
“OK !, “
Meskipun malam minggu ini , Keane masih sendiri tanpa Andi disisnya, namun baginya sudah cukup bahwa malam minggu ini menjadi milik mereka berdua***

 Effi Nurtanti

Rabu, 23 Mei 2012

Seto Kendit


Syahdan di suatu negara entah  berantah  di Pulau Jawa ,  hiduplah seorang pemuda desa yang tinggal di Dukuh Makmur Sentosa.  Pemuda ini sangat rajin bekerja membantu Bapak Ibunya yang sudah renta.   Mereka hidup di  tepi hutan di sudut dukuh itu,  yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.
Segala macam pekerjaan  selalu dia tangani sendiri, dari mulai  bertani,  mencari kayu bakar di hutan,  mencuci pakaian di sungai dan lain sebagainya, Hal ini  disebabkan kedua orang tuanya  sudah sering sakit-sakitan, sehingga siapa lagi kalau bukan pemuda itu yang merawat dan melayani kebutuhan mereka berdua.
Pada suatu hari yang cerah,  seekor macan kumbang yang besar entah darimana datangnya, mengamuk mencari mangsa ke tengah pemukiman penduduk, Sambil terus menggeram macan itu terus memburu siapa saja  yang dekat denganya.  Karuan saja kejadian itu membuat geger semua isi kampung. Seluruh prajurit  kerajaan yang kebetulan  sedang patroli di  dusun itupun tak kuasa menundukan macan itu.
Kini giliran pemuda itu menjadi sasaran terkaman macan itu,  saat dia hendak mencuci pakaian di kali. Namun anehnya  pemuda itu tidak memperlihatkan rasa takut barang sedikitpun,  meski macan itu kini sudah tepat berada di depannya. Dengan sikap tenang diletakannya keranjang berisi pakaian kotor, kemudian dia mengambil kayu seadanya yang ada di sekeliling dia berdiri.  Kayu itu dipegangnya kemudia dipukulkan kuat-kuat ken arah  kepala macan itu, sehingga macan itu mengerang kesakitan  dan  pingsan.
Tentu saja macan yang sudah tak berdaya itu menjadi sasaran yang empuk bagi penduduk yang telah meradang.  Namun ketika semua penduduk  berniat membunuh  macan itu , pemuda itu melarangnya bahkan  dia malah menyuruh salah satu penduduk untuk mengambil air. Hal ini karuan saja membuat semua penduduk menjadi heran sekaligus takjub dengan ulah pemuda itu, Setelah  dia mendapatkan air itu,  langsung diguyurkan ke kepala macan itu hingga basah kuyup.  Tak lama kemudia macan itu siuman kembali dan langsur ngloyor pergi kembali ke hutan.
Kini terdengarlah gemuruh  sorak sorai dari seluruh  Penduduk Dukuh Makmur Sentosa yang gempar lantaran keberanian pemuda itu menundukan macan itu. Sejak saat itu  seluruh penduduk memanggilnya  Joko Gempar.
Tak lama kemudian keharuman nama Joko Gempar telah sampai di istana. Mendengar kabar keharuman nama pemuda desa itu,   segeralah Raja Noto Kusuma  mengirimkan utusannya untuk memanggil Joko Gempar ke istana.  Kebetulan saat itu  Kerajaan Kembang Anom sedang dilanda krisis politik dengan meletusnya  pembrontakan besar, yang didalangi oleh Adipati  Gajah  Setyo dan bermarkas di Hutan Jurang Jero.
Karena kesaktian Adipati Gajah Setyo,   hingga kini pembrontakan itu  belum bisa dipadamkan.  Meski sudah bertahun-tahun menguasai Hutan Jurang Jero. Entah sudah berapa ratus prajurit dan beberapa senopati perangnya yang gugur di  peperangan menumpas pemberontakan itu.. Kini tibalah saatnya Baginda mencoba kesaktian  Joko  Gempar untuk menghadapi  Adipati Gajah Setyo hidup atau mati.
Setelah  Joko Gempar menerima utusan dari Baginda Kembang Anom,  maka dia lantas minta restu kepada  kedua orang tuanya, yaitu Kakek  dan Nenek Seto.  Kedua orang tuanyapun menanggapi dengan linangan air mata.  Karuan  saja hal ini  membuat Joko Gempar menjadi tidak tega  dan mengurungkan diri untuk meninggalkan kedua orang tuanya  itu. Padahal  beberapa hari lagi dia harus berada di istana menghadap Baginda.
            ” Berangkatlah anaku,  jangan pikirkan  bapak dan  ibumu. 
            ” Sungguh aku tidak tega meninggalkan Bapak dan Ibu. Siapa yang akan merawat Bapak Ibu nantinya, padaha;l perjalanan ini sungguh jauh.   Dan  bila aku  dikalahkan oleh  pimpinan pemberontak itu , hingga gugur siapa yang akan menemani Bapak dan Ibu ”
            ” Bapak ibumu  menangis bukan lantaran takut kehilangan kamu, Anaku ! ”
              Aku jadi tidak mengerti, Pak ! ”
            ” Bapak  dan Ibumu menangis karena haru dan bahagia ! ”
            ” Bahagia ?. Apa maksud ini semua Pak ? ”.  Joko Gempar menjadi penasaran dalam hatinya mendengar perkataan bapaknya itu. Maka diapun menuntut Bapak dan Ibunya untuk menjelaskan lebih jauh lagi.
            ” Karena  kini saatnya  kamu menemukan kebahagian yang telah lama  kita impi – impikan  Anaku ! ”
             ” Tolong Pak, ceritakan pada aku dengan gamblang. Perkataan Bapak tadi sungguh aku tidak mengerti ”
            ” Hadapi dulu Adipati  Gajah Setyo,   kamu akan mengerti semuanya ,  anaku ! ”.
            ” Seandainya aku gugur dikalahkan pembrontak itu,  apa aku akan tahu tentang apa yang dimaksud Bapak ” . Jawab Joko Gempar yang masih penasaran di hatinya
             ” Anaku,  seandainya Tuhan Yang Kuasa memberi Karunia kepadamu tentu tanpa  susah payah engkau akan membuat pimpinan pembrontak itu menyerah kepadamu. Tetapi dengan suatu syarat ” .
            ” Apa syarat itu, Pak  ! ”
            ” Bawalah  keris ini dan jangan kamu perlihatkan kepada siapa saja kecuali dihadapan Adipati Gajah  Setyo. Bila kau tunjukan keris ini dihadapanya, tentu kesaktian dia akan luntur. Maka itu usahakan  untuk bisa berhadapan langsung dengan Adipati Gajah Setyo. Tetapi sebaliknya bila engkau tunjukan keris ini pada siapa saja,  maka  akan membuatmu binasa. Camkan pesan Bapak ini baik – baik dan jangan berbuat gegabah. Sekali lagi barangkali ini jalan engkau menuju kebahagian hidup anaku ”
            ” Tetapi......Bagaimana aku bisa bertemu  langsung dengannya ”
            ” Teriakan kata  ”Seto Kendit”  sampai dia mendengarnya.  Pasti dia akan mencarimu ”
            ” Apa artinya Seto Kendit, Pak ? ”
            ” Janganlah banyak bertanya, anaku !, sebab  sikap seperti itu  adalah  tanda – tanda orang yang  kurang percaya  diri, Berangkatlah kamu ke istana Kembang Anom !. Hati – hati di jalan dan selamat jalan, anaku. Semoga engkau berhasil ! ” Joko Gempar memeluk mereka berdua sekaligus memohon restu kepada ke dua orang tuanya itu.
_________________
 Istana Kembang Anom sudah penuh dengan segenap abdi dalem.,  prajurit serta tumenggung yang sedang membahas bagaimana cara mereka bisa mengalahkan pemberontak, yang justru semakin hari semakin banyak mendapat pengikut. Sehingga semua kalangan istana kini menjadi kalang kabut.  Sementara Joko Gemparpun  kini sudah berhdapan dengan Raja  Noto Kusuma,
            ” Kamu yang bernama Gempar ” Tanya Baginda
            ” Betul, Tuanku ”
            ” Apa kamu sanggup mengalahkan Gajah Setyo, yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya ? ”
              Semoga Tuhan Yang Kuasa menganugerahi hamba ,  sehingga  hamba mampu mengalahkannya  
            ”Perlu  kamu ketahui anak muda. Bila kau berhasil mengalahkan Gajah Setyo, maka akan  aku hadiahi  ”Hutan  Wingitan ” aku serahkan untuk kamu , dan aku jadikan hutan itu sebaga Tanah Perdikan dan aku jadikan kau sebagai ”Penguasa Wingitan”,  Mengerti anak muda ! ”
            ” Daulat Tuanku, Hamba hanya menuruti kehendak Tuanku ”.
            ” Lantas  pusaka apa yang akan kamu gunakan mengalahkan  pembrontak itu ? ”
            ”Hanya tongkat ini yang dahulu digunakan untuk menundukan macan ”
            ” Hanya tongkat. Lantas apa yang ada dalam kantong itu, cah ndeso ? ”
            ” Ini hanya bekal untuk diperjalanan, nilainya  tidak seberapa. Tidak pantas untuk  hamba tunjukan pada Baginda ”. Joko  Gempar  berusaha menyembunyikan isi kantong itu sesuai dengan pesan Bapaknya  beberapa hari lalu.
            ”Baiklah  Gempar, sekarang tunggu  apa lagi berangkatlah bersama dengan prajurit Kembang Anom ”
            ”Daulat Baginda ! ” .
Belum sanpai matahari tenggelam di ufuk Barat,  Joko Gempar dan ribuan prajurit Kembang Anom sudah tergelar berhadapan dengan  pemberontak Jurang Jero. Masing-masing kekuatan itu sudah siap melibas satu sama lain. Ditengah  prajuirt pemberontak  terlihatlah seorang prajurit berkuda putih. Dengan badan kekar dan tegap, bertampang angker dengan kumis dan jambang memenuhi wajahnya.  Tangan kananya memegang pedang yang gemerlapan  memantulkan sinar matahari.   Sorot matanya tajam menyaksikan setiap gerak – gerik  Joko Gempar   sebagai prajurit andalan Kembang   Anom.
Aba aba menyerbu  telah dikumandangkan oleh  panglima kedua  kubu prajurit, kini  semua prajurit mulai merangsek menembus pertahanan lawan untuk menyabung nyawa, demikian juga Joko Gempar langsung menantang maju  Gajah Setyo. Merkapun kini bertempur mati – matian. Joko Gemparpun mengakui  ilmu bela diri lawannya itu.
Namun Joko Gemparpun bukan lawan sembarangan Gajah Setyo,   dari kecil dia sudah digembleng seni beladiri  oleh  Kakek dan Nenek  Seto yang juga memiliki ilmu bela diri yang telah tinggi tatarannya.  Setelah menghabiskan bererapa jurus, kini Joko Gempar  mulai terdesak mundur.   Demikian juga  Gajah  Setyo mulai mengendorkan serangannya, karena dia sedikit mengenal jurus-jurus silat yang dimainkan oleh anak muda itu.
He siapa namamu anak muda ? ”.  Teriak  Adipati Gajah Setyo  dengan lantang.
            ” Aku Gempar ”
            ” Siapa nama Bapak kamu  ? ”
            ” Seto, , Seto kendit ”
Kalau kau mengaku murid Seto Kendit. Sekarang aku tantang kamu untuk menghadapi aku di balik bukit itu. Sekarang juga
            ” Baikllah, aku tidak akan mundur selangkahpun ”. Joko Gemparpun telah tanggap dengan apa yang dimaksud  Adipati Gajah Setyo.
Kedua kuda itupun kini menerobos kerumunan prajurit yang sedang menyabung nyawa  untuk menuju lembah di balik ”Bukit Klampisan”,   seperti yang diminta Gajah Setyo.  Tentu saja semua  prajurit yang menyaksikan  kedua pendekar  gagah berani  itu melangkah untuk menyabung nyawa di Bukit Klampisan  menghentikan pertempurannya dan memberikan  tepukan yang  membahana. Masing-masing prajurit memberikan semangatnya pada  jagonya masing – masing.
Sekarang kita sudah berhadapan satu lawan satu, jauh dari prajurit lainnya, Sekarang  tunjukan  bukti  bahwa kau  anak Seto Panuntun atau Seto Kendit
” Baiklah,   ini keris  Bapak  Seto yang diberikan padaku ”  jawab Gempar sambil menunjukan keris itu.
Aduh.. . .Kakak Seto,  dua  puluh tahun aku tidak bertemu denganmu. Semoga engkau sehat – sehat saja.  Hai anak muda  !,    Apa Bapak Ibu mu masih hidup  ? ”
 ” Masih, tetapi sekarang selalu sakit – sakitan.  Memangnya  ada apa ? ”
Aduh anak muda, ternyata engkau  yang aku tunggu – tunggu selama 20 tahun lebih
“ Ditunggu untuk apa ?. apa maksud semua ini ”.
” Baiklah anaku,  demi  laggengnya  Keturunan  Brahma  Wijaya.  Sekarang juga penggal kepalaku dan serahkan  kepalaku  kepada   Noto Kusuma,  Ayo jangun takut dan ragu-ragu anaku !.  Ini semua demi kebahagiaan  kita semua !  Pinta  Gajah Setyo dengan  permintaan yang mendesak. 
Jelas  Joko  Gemparpun tak mau melakukan sesuatu yang tidak tahu  menahu maksud dan tujuannya. Maka dia pun lantas minta penjelasan dari pemberontak yang mengaku sebagai ortunya itu. Mungkin pula itu hanya tipu muslihat Gajah Setyo  saja,  tapi apa maksud keris yang dibawakan Bapaknya itu.   Kini pikiran  Joko Gempar pun menjadi berputar tujuh keliling, meski semua prajurit dari kedua kubu telah meundur lantaran  matahari telah penat menyaksikan ulah manusia yang mengumbar nafsu amarah,  sehingga matahari lebih memilih beristrahat di bilik langit sebelah barat.
”Baiklah Gempar,  nama sebenarmu adalah Wisnu  Adityaningrat putra Raja Kembang Anom yang bergelar  Prabu Brahma  Adiningtyas.  Saat itu  20  tahun yang silam kala aku seusiamu,   terjadilah  pembrontakan yang dipimpin Noto  Kusuma sang senopati prajurit yang berkhianat. Noto Kusuma berhasil membunuh bapakmu dan menghabisi seluruh keluargamu.  Sehingga  dia hingga  kini  bisa bertahta  di Kembang Anom. ”
Tapi mengapa aku masih hidup ”
”Seto Panuntun adalah ”abdi dalem”  yang setia kepada Bapakmu,  maka  dia segera menyelematkanmu  dengan cara  membawamu lari hingga  Dukuh  Makmur  Sentosa  di kaki Bukit  Wingitan,   sampai kini tidak ada   satupun  prajurit yang tahu, kecuali aku
” Mengapa demikian ? Dan siapa sebenarnya  engkau ? ”
Wisnu !. walaupun  aku seorang pemberontak,  tetapi aku adalah Pamanmu.  Aku adalah adik kandung Bapakmu  Kakak Brahma  Adityaningrat. Kala  itu aku tidak mampu membela Bapakmu karena harus melawan prajurit yang jumlahnya ratusan,  dalam keadaan luka parah terpaksa aku melarkan diri,  untuk kembali lagi di  kesempatan lain untuk  menyelamatkan negara
” Lantas apa hubungan  dengan keris ini ”
”Dalam pelarianku ,  di tengah perjalanan tepatnya di dukuh Ngresep aku berjumpa dengan Seto Panuntun dan istrinya. Disitulah aku merencanakan  pertemuan seperti ini denganmu kala engkau masih bayi, dan sebagai tanda pengenal  engkau aku  berikan keris itu
Joko Gempar  atau Wisnu Adityaningrat menjadi terpaku dalam-dalam ke bumi.  Pikiran dan hatinya  goncang setelah dia mengetahui siapa sebenarnya dia.  Perjalanan hidup yang ditempuh selama  ini ternyata hanya menapak bayangan  semu,  tetapi  siapakah yang sepatutnya dipersalahkan,  itulah  yang disebut suratan takdir. 
” Kendalikan perasaanmu, anaku !.  Kini bersyukurlah karena Tuhan Yang Maha  Esa telah menemukan aku dengan dirimu
”Lantas  apa rencana Paman besok pagi ”
“Besok pagi adalah penentuan nasib kita berdua.  Dekatkanlah pasukanmu dan pasukanku, sedekat mungkin.   Jangan  takut dengan  sikap  Senopati  Mahesa   Gerindra  pemimpin pasukan Kembang Anom.. Paman  tahu betul hati senopatimu itu  lebih mencintai trah  Brahma Adityaningrat dari pada   Noto Kusuma.  Besok pagi tunjukan keris itu kepada seluruh prajurit Kembang Anom dan kabarkanlah seakan-akan aku menyerah padamu , setelah itu aku serta semua prajurit setiaku akan berusaha untuk mempengaruhi seluruh prajurit agar membelot terhadap Noto  Kusuma .  Karena kamulah pewaris yang sebenarnya, Anaku !.
Agar semua prajurit Kembang Anom tidak curiga dengan niat kita, maka  lukai tubuhmu sendiri dan aku juga demikian.  Sehingga mereka percaya bahwa kita telah bertempur mati-matian . Sekarang hari telah larut,  kembalilah ke induk pasukanmu dan beristirahatlah.  Sampai besok ketemu lagi.  Selamat Istirahat anaku ”
Ribuan obor kini memenuhi tenda Pasukan Kembang Anom.  Sebagian besar prajurit  lengkap dengan para perwiranya belum bisa tidur pulas.  Mereka semua dengan  was – was  menunggu  kabar tentang Joko Gempar. Terlihat pula  Senopati  Mahesa Winasis mondar – mandir di depan tendanya,  hatinya   menjadi khawatir dengan  keselamatan  Gempar, yang menjadi tanggung jawabnya,
Dari jauh terdengar sayup suara derap kuda yang  terdengar bertambah keras. Semua prajurit yang masih diliputi khawatir, segera berlarian menuju arah kuda itu. Ternyata dia adalah benar Joko Gempar yang  duduk lemas diatas pelana kuda dengan luka terlihat di lengn dan pipinya.
Sontak semua prajurit pengawalnya langsungh memapahnya dan membaringkan di dalam tenda sang senopati.
            ” Adik....Adik  Gempar  ! kau tidak apa – apa  ? ”
            ” Aku tidak apa – apa, Aku bertempur mati – matian  dengan  Gajah Setyo dan inilah yang aku dapatkan ”. Seru Joko Gempar sambil menyerahkan keris dan ikat kepala Gajah Setyo seraya berpura-pura mengerang kesakitan.
            ”Apa artinya semua ini Adi ? ” seru Mahesa  Winasis Sang Senopati.
             ”Dia berhasil aku kalahkan dan besok pagi – pagi benar dia dan pasukannya akan menyerahkan diri ”
            ” Mengapa tidak kau bunuh sekalian , Gajah Setyo yang merepotkan Kembang Anom selama betahun-tahun ”
            ”Aku memang mengampuninya agar di kelak hari tidak ada masalah lagi. Dengan menyerahkan keris ini,   bagi dia adalah menyerahkan segala-galanya. Sebab tanpa  keris ini dia tak memiliki kekuatan apapun ”
            ” Benar juga keteranganmu Adi !, namun kita jangan lekas percaya. Kita harus berhati-hati jangan sampai termakan tipuannya.  Kepada semua perwira yang berkumpul disini aku harap tetap merahasiakan kabar ini. Siagan besok pagi layaknya  prajurit yang siap tempur ”
            ” Aku harap juga begitu Senopati !. ” Joko Gempar tak mampu lagi bicara . Karena penat terasa di seluruh tubuhnya dan kini diapun tertidur pulas.  Perkemahan prajurit Kembang Anom kembali senyap,  hanya terlihat prajurit yang ronda saja.
____________
Apa yang dikatakan Joko Gemparpun ternyata bukan hanya isapan jempol saja. Terbukti kini ribuan pasukan  Gajah Setyo tidak memasang umbul – umbul perang. Semua  pembrontak telah menyarungkan pedangnya masing-masing,  tidak ada lagi peralatan panah, tombak dan tameng, Bahkan Gajah Setyopun tidak membawa sebuah senjatapun.
Namun demikian prajurit Kembang Anom yang  tidak kalah jumlahnya,  belum  percaya benar dengan sikap pemberontak.  Meski pasukan pemberontak terus merangsek maju hingga berjarak 15 meter satu sama lain, namun mereka tetap dalam barisan yang rapi.
            ” Salam hormat  Panglima Mahesa Winasis   Seru Gajah Setyo dengan suara lantang hingga suaranya bisa didengar semua prajurit. Pertanda da adalah tokoh yang memiliki kesaktian yang cukup tinggi,
 ”Salam hormat pula aku sampaikan pada engkau,   Gajah Setyo.  Lantas apa arti semua ini. Aku harapkan kita meneruskan pertempuran secara ksatria ”
 ”Justru akulah yang akan bertindak ksatria,  dengan mengaku kalah dengan  Joko Gempar ”
            ” Rasanya tidak mungkin bila engkau dikalahkan begitu saja oleh anak muda ”
            Ketahuilah Senopati, disamping ilmu kesaktian Joko  Gempar yang tinggi,  dia  juga junjungan kita semua.  Dia adlah Prabu Wisnu  Adityaningrat putra dari Prabu  Brahma Adityaningrat.  Dia adalah raja yang sebenarnya dari  Kraton Kembang Arum. Maka aku rela menyerahkan apa saja kepada dia
” Tipu muslihat macam apa ini,  Gajah ! ”
Adipati Gajah  Setyo tidak banyak bicara lagi , Untuk meyakinkan  semua prajurit yang  berkumpul dia mempersilahkan Seto  Panuntun dan istrinya  maju ke depan untuk menceritakan segala sesuatu 20 tahun silam.  Sebagian prajurit telah percaya dengan keterangannya itu, namun sebagian lainnya masih menol;ak mentah – mentah termasuk juga Panglima Mahesa Winasis dan para  perwiranya.
” Aku ingin bukti lain agar aku bisa yakin dengan keteranganmu.  Kamu jangan seenaknya saja bicara.  Ini adalah menyangkut kelanjutan Kraton Kembang Arum ”
”Baiklah Winasis jika engkau ingin bukti lainnya ”.  Sang Seto Panuntun yang sebenarnya sosok abdi Prabu Brahma Adityaningrat yang sakti mandraguna segera mengeluarkan keris milik kerajaan yang selama ini dinyatakan hilang, pusaka itu adalah ”Keris Sosro           Kembang” milik pribadi Prabu Brahma Adityaningrat.
Setopun menceritakan bahwa sebelum sang prabu menghembuskan nafas terakhirnya, dia menitipkan pusaka itu dan juga keselamatan putranya Joko Gentar yang tak lain adalah Prabu Wisnu Adityaningrat.
Baik prajurit pembrontak dan Kembang Anom lengkap dengan senopati dan perwira – perwiranya kini merendahkan badanya berjongkok sambil meletakan senjata masing-masing,  termasuk juga  termasuk juga Adipati Gajah Setyo,  Seto Panuntun dan istrnya,  yang terlihat menangis haru.
Segera saja Prabu Wisnu Gempar,  demikian gelar yang diminta sendiri olehnya,  segera memerintahkan semua prajurit dari dua kubu untuk menuju Kraton Kembang Anom.  Namun sayangnya setelam mereka berhasil memasuki kraton, hanya terlihat para emban dan abdi dalam saja yang menjaganya. Karena Prabu Moto Kusuma telah meninggalkan istana terlebih dahulu,
Dengan demikian berakhir sudah penderitaan Joko Gempar dan Orang tua asuhnya yakni Bapak dan Ibu Seto, serta perjuangan Paman Adipati Gajah Setyo dalam menegakan kebenaran di bumi ini.