Senin, 05 November 2012

Usai Sudah Kidung Cinta



Seperti meniti  tali  yang terbentang dan  dipenuhi duri tajam yang tak berujung dan harus dilalui. Sedangkan tautan kedua ujung tali itu.  tak begitu kokoh bertambat dengan puncak tebing yang menghimpit tubuh Rakian dengan kokohnya. Namun Rakian harus terus menitinya. Entah sudah berapa kali Rakian melewatinya, entah ujung yang mana yang sudah dijamahnya. Sementara di sebelah kanan kiri tali itu,  jurang menganga siap menyantap tubuhnya. Gentarpun harus disimpanya kuat kuat dalam lubuk hatinya. Apalagi rasa pasrah dan tertunduk lesu, dia buang jauh jauh hingga tak tampak lagi lakon hidup yang menyesakan dada.
Sesekali lakon hidup yang dilalui terasa sangat menusuk jantungnya, sesekali pula timbul dalam hatinya, perasaan pantang surut ke belakang demi Ardian dan Elly dua bocah laki laki dan perempuan,  sebagai buah hati perkawinan dengan Russ Kania selama beberapa  tahun. Perkawinan yang sangat menjadi dambaan Rakian, sejak dia dan Russ benar benar bertaut dalam pelukan mesra. Hingga lahirlah Ardian 4 tahun sesudah dia mulai mengarungi bahtera sebagai suami  dan Elly 8 tahun kemudian. Tak ada  sisi gelap satupun dalam hidup yang berkelambu kemesraan dan kesetiaan yang  pernah menusuk dalam dalam jantungnya di masa lalu.
Masa masa indah mengawali kehidupan mereka,  meski dia hanya  tenaga cleaning servis di perusahaan konsultan konstruksi dan interior design yang cukup beken di kotanya. Saat itu bagi Rakian, adalah yang hanya mampu diperbuat olehnya, yang hanya berijazah SMA. Peluh dan sesekali kesah menjadi  bagian kesehariannya dalam hidup yang dimiliki, sedangkan bergulirnya jarum detik terus memburunya, semakin lama detik itu menggigitnya dan semakin pula dia merasa tersudut. Meskipun dengan jerih payahnya dia mampu membelikan Russ rumah mungil di sudut kota, yang masih sepi dari taburan eksotis kota yang begitu liarnya.
Russ istrinya yang bergaya selebritis muda, hanya menampakan wajah wajah gelapnya selama menempati rumah mungil, berdinding batako dan beratap asbes. Bergaul dengan tetangga tetangga yang dipandang Russ hanya sebagai masyarakat kelas bawahan, yang norak dan tak berkelas. Sedangkan Russ selalu bergincu bibir mirip artis sinetron muda yang kontraknya mencapai milyaran rupiah. Di bawah asbes yang sudah mulai rapuh dan berdebu inilah Russ selalu menuntut Rakian demi sebuah hidup bergaya selebritis.
Rakian hanya tertunduk lesu bila seharian Russ memberondongkan umpatan, tentang ketidakmampuan Rakian dalam menuruti kemauan sang selebritis tinggi hati itu. Kedua anaknyapun seharian itu pula menempel dan menggayutkan pada tubuhnya. Sama sekali rasa kasih sayang pada kedua putranya tidak luntur sedikitpun, meski dia sering tersudut oleh impian dan khayalan istrinya. Dengan raut muka polos dan bening mata yang indah kedua anak anaknya tidak menghiraukan apa yang keluar dari mulut Russ ibunya, Rakianpun sama seperti kedua anaknya yang sama sekali tidak menghiraukan serentetan tuntutan selebritis yang bagaikan sedang tidak punya order kontrakan lagi. Meski sorot mata pria ganteng itu tidak mampu menyembunyikan perasaan yang bercampur, pilu, marah, sedih dan bingung.
Apalagi bila Russ melihat tetangga yang memusari dia terus saja merehab rumah mereka, dengan gaya rumah mpdern bergaya romawi, berdinding batu alam dan berlantai keramik. Diapun bagaikan macan lapar yang siap melahap tubuh Rakian yang tinggi. Entah iblis mana yang merasuk dalam aliran darah Russ Kania, sehingga dia menjadi nanar matanya, tak sehalus dan selembut saat awal awal pernikahan mereka. Russ saat itu tidak memperdulikan dia tinggal di rumah apapun, derita yang paling menunjamkan hatinya, diapun lega menerimanya. Tetapi kini jauh berbeda. Kelambu pengantinya yang dulu dia sulam dari benang sutra, yang lembut dan halus, kini telah meluruh menjadi kelambu penuh kepengapan.
_______________
            “Hanya kita saja, yang belum merehab rumah ini, Mas. Sedangkan tetangga kita sudah berganti tembok , berdinding genteng, pakai keramik lagi lantainya. Sedangkan kita membeli tv plat saja model sekarang tidak mampu” pagi-pagi sekali di Hari Minggu Russ sudah memprovokasi suaminya, yang dulu dianggapnya Sang Arjuna, yang mampu merobohkan jantung hatinya. Sementara Rakian seperti biasanya tidak memperdulikan ocehan wanita yang sangat dicintainya, yang memberinya dia putra dan putri, yang ganteng dan ayu mirip ibunya.
            Rakian hanya sibuk memandikan kedua putranya dengan seloroh yang lembut, penuh belaian kasih sayang, berlainan dengan ibunya yang melipat wajahnya bagaikan nenek lampir dari Gunung Merapi, meski sama sekali tidak terdapat guratan ketuaan di kulit wajahnya yang putih mulus.
            Namun betapa penasaran hati Rakian pagi itu, karena tidak seperti biasanya Russ berdandan sangat modis, dengan make up yang belum pernah dia belikan. Memakai stelan underok yang minim dengan kaos yang ketat. Sementara rambutnya dibiarkan terurai hingga pundaknya. Entah dari mana Russ mendapatkan sepatu yang berhak agak tinggi, dengan warna kulit kemerahan. Kedua anaknyapun  menyampaikan protes kepada Rakian bahkan sempat memberontak menuntut untuk ikut ibunya, yang tak tahu  entah kemana tujuan perginya. Namun protes itupun menjadi surut kebelakang, setelah kedua mata ibunya yang bundar memberikan sorot mata garang dan menghardiknya, supaya tidak usah ikut denganya.
            “Mereka berdua kecewa tidak kamu ajak pergi, Russ ? ”. Rakian mencoba membujuk Russ agar di Minggu pagi ini, Russ mengajak mereka untuk jalan jalan.
            “Mengapa kau memintaku seperti itu ?” jawab Russ.
            “Kamu kan ibunya, mereka butuh kamu, Russ ?”
            “Mas Rakian, aku ada janji dengan temanku “
            “Kemana ? “ seribu rasa penasaran kini bersemayam di hati Rakian
            “Apa perlumu ?” Russ mejawab dengan sebuah bentakan yang melengking.
            “Aku kan suamimu, Russ ? “
            Ruang tamu yang sederhana beralas semen yang sudah banyak mengelupas kini lengang  dan membisu. Rakian hanya tertunduk wajahnya dengan kedua bahunya yang masih digayuti kedua putranya. Seakan akan Rakian tidak mampu barang sedikitpun untuk menghalangi kemauan istrinya. Russpun segera berlalu tanpa say goodbye, kedua sorot mata anaknya terus mengikuti tubuh ibunya, yang tak lama menghilang di pertigaan ujung gang mereka yang kumuh. Rakianpun tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu, tapi tak pernah mencoba untuk menahanya. Sebab bagaimanapun juga itu adalah hak istrinya untuk menentukan sikap, sebagai rasa kecewa pada dirinya yang sudah bertahun tahun menghinggapi kalbunya.
            Rakian kini dipersimpangan jalan, dilain sisi dia rela Russ menggapai kebahagiaan yang dia butuhkan untuk lifestyle yang dikejarnya. Tetapi di lain pihak kedua putranya membutuhkan belaian seorang ibu. Tapi bagaimanapun juga sebuah langkahpun harus dia beranikan, justru demi kebahagian kedua sisi yang melingkunginya. Russ sudah meluruhkan kasih sayangnya pada kedua belahan jiwanya, demi hanya kehidupan glamour yang dibidiknya, tanpa memperdulikan resiko apapun. Apabila Ardian dan Elly terus menemani kehidupan ibunya, maka mereka berduapun terus menjadi sasaran kemarahan ibunya. Namun getaran hati yang menggelora di beranda jantung Rakian, terus saja datang pergi silih berganti, antara Russ dan kedua bocah mungilnya.
Sementara malam telah merambat semakin larut, deru mesin kendaraan di gang depan rumahnya kini tidak terdengar lagi. Sesekali terdengar suara dentingan pinggan si abang bakso yang memecahkan kesunyian malam. Larutnya malam ini adalah saat yang paling memilukan, apalagi sering terdengar rintihan Elly memanggil ibunya demi segelas air susu hangat. Sementara Russ entah kemana menyelinap di tengah remang malam, atau mungkin dipelukan laki laki jalang demi selembar uang. Tapi yang jelas Rakianpun harus rebah keperaduan di samping kedua anaknya, yang telah merenda mimpi.
__________
            “Sudah kau pikir dalam dalam Russ, untuk meninggalkanku ?. Cobalah bersabar demi Ardian dan Elly “ pinta Rakian, yang sudah mulai lapang hatinya menerima keputusan yang diambil Russ, suatu keputusan yang diyakini sebelumnya bakal diminta Russ. Kegetiran hatinya telah mulai tertepiskan lantaran sedikit demi sedikit hatinya menjadi tabah saat menerima kenyataan ini. Rakian telah cukup lama merasakan betapa beratnya menerima makian kasar, tuntutan dan seribu sikap Russ yang menikam ulu hatinya.
            “Aku mengambil langkah ini justru demi mereka berdua yang masih butuh biaya. Sudahlah Mas Rakian, suatu saat akupun akan di tengah mereka kembali “. Inikah Russ Kania ?, wanita yang dulu justru mengejarnya untuk mendapatkan bilah cintanya, yang berjanji bersama mengayuh biduk hidup di tengah keadaan apapun. Tapi apakah ini sebuah lakon hidup yang harus dititi oleh manusia, yang bisa saja berubah tak tentu arah.
            Berkali kali Rakian hanya mampu menelan ludahnya sendiri, dia masih terpaku berdiri di serambi rumah mungil, menyakisikan Russ Kania pergi berlalu dengan sebuah mobil mewah, meski terdengar dengkur kedua anaknya yang  terlelap di tengah malam, setelah beberapa saat sebelumnya Russ Kania menciumi pipi kedua anaknya. Bagi Rakian malam ini memang malam tak berbintang gemintang, rembulan tertutup mega hitam. Tak lama kemudian terdengarlah adzan subuh menggema di malam pilu itu. Sedikit kesegaran dalam hatinya kini mulai ia dapatkan.

Jumat, 26 Oktober 2012

Hari miliku.....


Hari ini aku menuai  seberkas hari....
Saat hari  berkulum mentari jingga
Perdu bersorak menyambt angin dan gerimis...
Hatimu ikut serta aku jenguk dengan ikatan  
Dewa dewi asmara, seperti anak kecil berlarian
Saat buih putih ombak di pantai menerkam kaki kita berdua,

Kita dalam deru detik waktu yang menggigit
Suka duka adalah ikatan hati kita, sebagai manusia
Tidak pernah kau mengikat sisi langit dengan
benang emas,berlukis kawanan mega menari....
Seperti wanita perlente putri negeri boneka
Aku mengajakmu  lebih rapi memagari rumah kita
Meski dengan  beluntas dan Kembang Sepatu...

Atap rumbai  ilalang rumah kita....menjadi saksi
Meski tak banyak cerita kita miliki
Meski tak banyak intan berlian merapatkan dinding bambu...
Aku hanya milik sang kodrat  meniti perjalanan waktu
Haru debu yang bisu sesekali menghadang kita
Namun semburat awan jingga di cakrawala barat
Tetap memberi selaksa bait nyanyi rindu

Aku bukan sang presiden.....
Aku bukan pemilik rumah loji.....
Aku bukan saudagar kaya, penebar inta berlian.aku hanya
butir debu dalam pusaran bumi menebas waktu
aku tidak memiliki gambaran ternukil di hati dengan
lukisan seribu warna atau syair seribu pujangga
aku hanya menorehkan bilah hati,untuk mengajakmu
menggoreskan seribu warna warni dalam lukisan langit
bertepi warna biru...dalam sayatan warna emas

kepada Sang Penebar Kasih mari kita kunjungi
dalam tangan tengadah di atas kain sajadah
mengharap lebih banyak curahan kasih sayang..
sehingga jendelalangit terbuka, kita mampu mendekatNYA
tolonglah kami berdua...TUHANKU

Semarang 27 Oktober 2012.

Rabu, 24 Oktober 2012

Sesuatu di Sudut FB-ku


Sayat

Jangan kau beri aku kembang merah menyayat...
musim yang melekang, menjadi saksi sebuah kata hati
aku berikan sudut taman bunga yang sejuk...
berbasuh embun pagi, redup menawan seribu kicau burung
bila harus berlalu, seribu beluntaspun meluruhkan kelopaknya
tak mampu sorot matanya menebaskan batas ...
bahkan terbuang hinggap di puncak tebing...
butir sinar mentari menyerpih memberi kabar
tentang hati yang tercabik...menjadi bagian
di pagi yang seharusna berseloroh salam canda

aku tak mampu menggeliatkan...
apa yang mengalir dalam nadi darah...meronta
namun hanya menjadi karib setia jantung yang merona
kau menusukan bilah tajam ke tengah beledru biru
yang menjadi kelambu kamar penantinku...
tak kau padukan dengan gerimis di luar sana
yang mengajak semua insan bercumbu di bilik bambu
berpilar seribu janji..tentang kmbang setaman
tentang nyanyi rindu kasmaran...
tentang jauh terbang memungut pelangi.

tapi aku masih punya kepak....
meski ringkih namun mampu menghardik awan gelap
menepiskan hingga sisi langit, hingga aku
menjadi diriku sendiri, bukan boneka “Beirby”
namun hanya petani desa bergincu bibir sahaja,
bergaun belacu setia untuk dambaan hati, sang pejaka
yang menggulirkan senyum tulus, tak bersuara parau...
aku dan dia milik dewa dewi
di Indraloka berangin sejuk kata lugu tanpa dusta
aku dan kau satu......

Semarang, 24 OKTA 2012

Kotamu
Kala  kota ini menjadi  memerah lesung pipinya
kuulangi lagi dengan sebuah ketidak mengertian
mungkin hari berikutnya kau  tautkan pita jinga di rambutmu
masih saja, atmosfer kotamu  melempar wajahnya
akupun hanya hinggap ,  hanya pada yang mampu aku gapai

aku mulai menguliti hari hari di kotamu
bersaku ilalang yang tertusuk “merah padam “ kota ini
jangan kau tautkan ,  bila kau menyelipkan prosa galau
kita hanya lengan kecil........
tak mampu menjinjing mentari dan meminang rembulan

aku melangkah.....
kita satu arah..
kau mengusung senyum...
bila senja datang di kotamu

(Semarang, 22  Februari 2012
Rumahku Sorgaku
Di tanah lapas berlantai rumput kering meranggas..
dan  hijauan pandan memagari, layu dan terkapar lesu
lantaran kemarau telah menyambanginya...
rumahku berdiri sahaja, dalam asuhan Dewi Bulan

rumahku berdinding kayu lapuk, beratap rumbai ilalang...
tak ada serapah dan pekikan kelu,
agar tak terbawa pergulirsn musim...
rumahkupun berlantai cumbu rayu...
aku selalu menghabiskan sajian singkong rebus
bersama kasihku dengan adonan gula merah...

bila datang hari hari jalang, yang menghimpit
tulang iga...
rumahku tak kering dari tegur sapa..
tak ada sajian sarapan pagi yang hambar...
lantaran rumahku berornamen negeri Indraloka
tempat para dewa menyemai santun dan budi bahasa...
aku dan kasihku, tak berkeluh memanen padi,
palawija dan sayuran.

aku tawarkan lobak, istriku menyibak rambut wewangi...
aku berikan jagung bakar, kasihku binal mencumbuku...
aku mengeringkan padi, kasihku dalam desah penuh hasrat
aku merapikan pematang...
kasihku memunguti warna warni bunga di halaman..
aku dalam selaksa rengkuhan lengan kasihku

malam aku berdua membaca bintang di langit
siang mengatur nafas dalam cumbu daun palem...
aku dan kasihku dalam sketsa roman asmara......(Semarang, 1 Oktokber 2012}

Tuhan..
aku bukan Sang Sufi....
yang kau nobatkan dengan pena emasmu...
aku hanya biduk berlayar koyak...
di tengah durjana  ombak lautan...hitam kelam
biarkan  tabir putih bersih Engkau tebarkan..
agar mampu kunaungi dalam empat penjuru angin...
Tuhan..aku dalam sepi...
bumipun kini bererotis bengis
berteman Dajjal dalam guratan Iblis laknat
ampuni aku Tuhan...

Selasa, 23 Oktober 2012

Aku Bukan Boneka Beirby


Jangan kau beri aku kembang merah menyayat...
musim yang melekang, menjadi saksi sebuah kata hati
aku berikan sudut taman bunga yang sejuk...
berbasuh embun pagi, redup menawan seribu kicau burung
bila harus berlalu, seribu beluntaspun meluruhkan kelopaknya
tak mampu sorot matanya menebaskan batas ...
bahkan terbuang hinggap di puncak tebing...
butir sinar mentari menyerpih memberi kabar
tentang hati yang tercabik...menjadi bagian
di pagi yang seharusna berseloroh salam canda

aku tak mampu menggeliatkan...
apa yang mengalir dalam nadi darah...meronta
namun hanya menjadi karib setia jantung yang merona
kau menusukan bilah tajam ke tengah beledru biru
yang menjadi kelambu kamar penantinku...
tak kau padukan dengan gerimis di luar sana
yang mengajak semua insan bercumbu di bilik bambu
berpilar seribu janji..tentang kmbang setaman
tentang nyanyi rindu kasmaran...
tentang jauh terbang memungut pelangi.

tapi aku masih punya kepak....
meski ringkih namun mampu menghardik awan gelap
menepiskan hingga sisi langit, hingga aku
menjadi diriku sendiri, bukan boneka “Beirby”
namun hanya petani desa bergincu bibir sahaja,
bergaun belacu setia untuk dambaan hati, sang pejaka
yang menggulirkan senyum tulus, tak bersuara parau...
aku dan dia milim dewa dewi
di Indraloka berangin sejuk kata lugu tanpa dusta
aku dan kau satu

Semarang, 24 OKTA 2012