Senin, 14 Mei 2012

Guru di Persimpangan Jalan


Keputusan MA yang menolak kasasi pemerintah untuk penyelenggaraan  UN  pada tanggal 14Septembe lalu,  sungguh mendapatkan reaksiparaguru,terutama yang mengampu bidang studi yang di UN kan.Meski reaksi  para guru tersebut bervariasi  pada batasan pro dan kontra,  namun sebenarnya sebagai pendidik yang    mengantarkan peserta didik  untuk  mengikuti UN  hingga berhasil , sebenarnya   merasa sangat menyayangkan keputusan MA tersebut

Betapa tidak dengan pelaksanaan UN yang rutin dilaksanakan  oleh pemerintah  setiap tahun. Segenap pendidik telah mempersiapkan peserta didik  jauh – jauh hari, agar nantinya peserta didik  memiliki kompetensi  sesuai dengan Syarat Ketercapaian Lulus ( SKL ),  Dengan demikian peserta didik apapun kondisinya  benar – benar mempersiapkan diri semenjak mereka duduk di kelas XI  apapun jurusannya ( khusus  untuk SMA/MA/SMK ).

Sudah barang tentu kondisi ini diharapkan mampu merangsang afektif   peserta didik , agar mau belajar sungguh-sungguh guna meraih keberhasilan dalam UN. Meski tanpa UN pun, Pendidik harus tetap menanamkan peserta didik agar rajin belajar.  Akan tetapi dengan semakin  signifikannya  pengaruh  globalisasi informasi, yang justru makin banyak membawa dampak negatip  untuk peserta didik ketimbang dampak positipnya.  Kemauan belajar anak- anak kita justru semakin kendor, dan inilah yang membuat mutu pendidikan kita  merosot tajam.

Harapan kita satu – satunya untuk tetap mengkondisikan anak – anak kita agar mau membuka buku adalah pelaksanaan UN yang  berkesinambungan.  Yang pada gilirannya nanti, akan  mengantarkan anak –anak kita  menjadi individu  yang berkompetensi di bidangnya masing – masing.

Sungguh disayangkan pernyataan Ketua Dewan Pendidikan DIY,  Prof. Dr. Wuryanto yang menyetujui keputusan MA untuk melarang penyelenggara  UN demi mengembalikan pendidkan pada jati diri bangsa dan  memberikan perlakuan yang adil bagi peserta UN yang berasal dari
berbagai daerah yang beragam kondisinya  (  Wawasan, 26 November  2009 ).  Sebenarnya untuk meredam dampak penyelenggaraan UN,  tidak harus dengan cara melarang penyelenggraan UN melainkan dengan meminimalisasikan dampak itu sendiri.

Lantas apa jadinya bila demi jati diri bangsa UN  harus dikorbankan ,  yang nantinya justru akan memberi dampak  yang lebih parah  terhadap anak didik kita. Bukankah telah menjadi fakta yang kita akui bersama, bahwa  negara – negara tetangga kita sesama anggota ASEAN telah mendahului dalam penyelenggaraan UN  dan membuahkan hasil yang telah jauh di depan kita dalam prestasi sistim pendidikan mereka.
Yang jelas  sistem evaluasi akhir di tingkat satuan pendidikan manapun harus tetap dilakukan apapun bentuknya,  yang  mampu menjadi jembatan agar peserta didik  sungguh-sungguh mau belajar guna pencapaian kompetensi mereka, yang pada giliranya nanti kita sebagai pendidik mampu mencetak peserta didik yang berhasil guna  untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Guru, Figur yang Berstrategis Vital


Di jaman globalisasi ini siapa saj a yang memliki niatan untuk menggali informasi apa saja bukanlah merupakan kendala yang mengganjal. Terbukti dengan hadirnya beberapa koran lokal di daerah yang menjadi fokus publikasinya. Namun tetap saja hadirnya koran lokal di beberapa daerah belum mampu mengentaskan m,nat baca publik. Tentu saja masalah ekonomi dan kemauan untuk menggali informasi itu sendiri yang paling mendominasi.
Menanggapi permasalahan tersebut di atas, kita cenderung menilai bahwa sebenarnya harga koran secara umum bersifat relatif, karena tergantung kita menempatkannya. Bila kita berdiri pada sisi media masa sebagai suatu kebutuhan primer , yang memberi pencerahan dan sumber gagasan yang dibutuhkan suatu masyarakat. Maka tentunya harga koran akan jauh lebih murah dibanding dengan peranannya. Apalagi bila kita menapaki koran sebagai kebutuhan sekunder, yang berfungsi menanamkan nilai-nilai mendasar, maka kitapun wajib hukumnya untuk membaca koran. Apalagi dengan terjadinya badai degradasi moral masyarakat Indonesia., maka tentu saja harga koran tidak pernah kita permasalahkan lagi.
Untuk membantu memberi solusi ini semua, kita cenderung menggaris bawahi hubungan antara eksistensi suatu media massa dengan minat baca masyarakat yang berbanding lurus, bahkan terjadi interaksi yang signifikan antara kedua unsur tersebut. Semakin tingginya minat baca suatu masyarakat akan semakin kokoh pula seksistensi suatu media massa. Sehingga point utama yang harus kita kaji disini adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan., meskipun sebenarnya biaya untuk mendapatkan informasi tidak menjadi faktor kendala, hal ini karena dilatar belakangi dengan bergulirnya era internetisasi, era dimana mekanisme pelayanan informatika publik sudah tidak masalah lagi. Betapa tidak dengan dana hanya sebesar
Rp. 5.000, kita bisa mengarungi dunia yang serba informatif sekaligus inovatif, melalui warnet yang telah tersebar hingga perkampungan. Apalagi dewasa ini telah marak ratusan koran on line di dunia maya tersebut.
Tinggalah kita mencermati urgensi minat baca yang sedemikian vitalnya, karena membaca menurut Gleen Doman (1991 : 19) dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Selanjutnya melalui budaya masyarakat membaca kita akan melangkah menuju masyarakat belajar atau learning society ( Sumber : H. Athaillah Baderi, 2005. Wacana Ke Arah PembentukanSebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Pengukuhan Pustakawan Utama ),
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suayatno (praktisi pendidikan YLPI Duri), menurut laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko (Kompas, 2/7/2003), disebutkan dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya sudah mencapai 99,0 persen. ( Sumber : Pendidikan. Com , tidak disebutkan tahunnya ).
Dengan kondisi demikian bagaimana kita mampu menciptakan learning society seperti yang dinyatakan oleh Gleen Doman di atas. Hanya sebuah perjuangan yang keras dan terintegral antara semua unsur yang bertanggung jawab terhadap penyiapan generasi minat baca harus terus dikukuhkan . Hal ini karena untuk mengentaskan minat baca masyarakat kita sama saja  mengubah sebuah budaya masyarakat (social changes ). Konsekuensi logis dari ini semua adalah dilakukannya penanaman sikap sedini mungkin untuk mencintai dan membaca buku pendukung pembelajaran sekolah, hasil tayang media massa, laporan ilmiah, buku fiksi dan non fiksi dan lain sebagainya.
Sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan dengan negara-negara Asia dalam hal minat baca, Tentunya dengan instrumen-instrumen pendukung seperti revolusi pendidikan, internetisasi desa, subsidi
negara terhadap biaya kertas sehingga mengakibatkan menurunya harga koran dan sejenisnya, pemberian bahan ajar ke peserta didik cuma-cuma di setiap jenjang satuan pendidikan, penerapan Jambemas ( Jam Belajar Masyarakat ) dan lain sebagainya. Kita tidak usah malu – malu dalam meniru langkah Malaysia dalam mengentaskan minat baca, dengan cara pemberian buku ajar kepada peserta didik secara gratis, dengan mutu bahan ajar yang representatif. Dan sebagai bukti keseriusan dalam hal minat baca ini, mereka mencetak buku ajar tersebut dengan kualitas yang bagus dan banyak mengadopsi bahan ajar dari negara-negara maju.
Tentunya kita tidak mau dipredikatkan sebagai bangsa yang kerdil dan selalu bergantung dengan luar negeri untuk semua hal. Lantaran keawaman kita di berbagai bidang. Yang pada gilirannya nanti mengakibatkan pewarisan nilai sosial yang dangkal, rendahnya daya saing, ketidakmampuan dalam menerima inovatif kepada anak cucu kita. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah ketidak mampuan kita dalam mengentaskan keterpurukan di berbagai bidang, Sehingga bisa saja kita akan menjadi bangsa yang termiskin di dunia lantaran minimnya minat baca masyarakat.

Gemar Membaca Sikap yang Jauh Panggang dari Api


Di jaman globalisasi ini siapa saj a yang memliki niatan untuk menggali informasi apa saja bukanlah merupakan kendala yang mengganjal. Terbukti dengan hadirnya beberapa koran lokal di daerah yang menjadi fokus publikasinya. Namun tetap saja hadirnya koran lokal di beberapa daerah belum mampu mengentaskan m,nat baca publik. Tentu saja masalah ekonomi dan kemauan untuk menggali informasi itu sendiri yang paling mendominasi.
Menanggapi permasalahan tersebut di atas, kita cenderung menilai bahwa sebenarnya harga koran secara umum bersifat relatif, karena tergantung kita menempatkannya. Bila kita berdiri pada sisi media masa sebagai suatu kebutuhan primer , yang memberi pencerahan dan sumber gagasan yang dibutuhkan suatu masyarakat. Maka tentunya harga koran akan jauh lebih murah dibanding dengan peranannya. Apalagi bila kita menapaki koran sebagai kebutuhan sekunder, yang berfungsi menanamkan nilai-nilai mendasar, maka kitapun wajib hukumnya untuk membaca koran. Apalagi dengan terjadinya badai degradasi moral masyarakat Indonesia., maka tentu saja harga koran tidak pernah kita permasalahkan lagi.
Untuk membantu memberi solusi ini semua, kita cenderung menggaris bawahi hubungan antara eksistensi suatu media massa dengan minat baca masyarakat yang berbanding lurus, bahkan terjadi interaksi yang signifikan antara kedua unsur tersebut. Semakin tingginya minat baca suatu masyarakat akan semakin kokoh pula seksistensi suatu media massa. Sehingga point utama yang harus kita kaji disini adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan., meskipun sebenarnya biaya untuk mendapatkan informasi tidak menjadi faktor kendala, hal ini karena dilatar belakangi dengan bergulirnya era internetisasi, era dimana mekanisme pelayanan informatika publik sudah tidak masalah lagi. Betapa tidak dengan dana hanya sebesar
Rp. 5.000, kita bisa mengarungi dunia yang serba informatif sekaligus inovatif, melalui warnet yang telah tersebar hingga perkampungan. Apalagi dewasa ini telah marak ratusan koran on line di dunia maya tersebut.
Tinggalah kita mencermati urgensi minat baca yang sedemikian vitalnya, karena membaca menurut Gleen Doman (1991 : 19) dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Selanjutnya melalui budaya masyarakat membaca kita akan melangkah menuju masyarakat belajar atau learning society ( Sumber : H. Athaillah Baderi, 2005. Wacana Ke Arah PembentukanSebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Pengukuhan Pustakawan Utama ),
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suayatno (praktisi pendidikan YLPI Duri), menurut laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko (Kompas, 2/7/2003), disebutkan dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya sudah mencapai 99,0 persen. ( Sumber : Pendidikan. Com , tidak disebutkan tahunnya ).
Dengan kondisi demikian bagaimana kita mampu menciptakan learning society seperti yang dinyatakan oleh Gleen Doman di atas. Hanya sebuah perjuangan yang keras dan terintegral antara semua unsur yang bertanggung jawab terhadap penyiapan generasi minat baca harus terus dikukuhkan . Hal ini karena untuk mengentaskan minat baca masyarakat kita sama saja  mengubah sebuah budaya masyarakat (social changes ). Konsekuensi logis dari ini semua adalah dilakukannya penanaman sikap sedini mungkin untuk mencintai dan membaca buku pendukung pembelajaran sekolah, hasil tayang media massa, laporan ilmiah, buku fiksi dan non fiksi dan lain sebagainya.
Sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan dengan negara-negara Asia dalam hal minat baca, Tentunya dengan instrumen-instrumen pendukung seperti revolusi pendidikan, internetisasi desa, subsidi
negara terhadap biaya kertas sehingga mengakibatkan menurunya harga koran dan sejenisnya, pemberian bahan ajar ke peserta didik cuma-cuma di setiap jenjang satuan pendidikan, penerapan Jambemas ( Jam Belajar Masyarakat ) dan lain sebagainya. Kita tidak usah malu – malu dalam meniru langkah Malaysia dalam mengentaskan minat baca, dengan cara pemberian buku ajar kepada peserta didik secara gratis, dengan mutu bahan ajar yang representatif. Dan sebagai bukti keseriusan dalam hal minat baca ini, mereka mencetak buku ajar tersebut dengan kualitas yang bagus dan banyak mengadopsi bahan ajar dari negara-negara maju.
Tentunya kita tidak mau dipredikatkan sebagai bangsa yang kerdil dan selalu bergantung dengan luar negeri untuk semua hal. Lantaran keawaman kita di berbagai bidang. Yang pada gilirannya nanti mengakibatkan pewarisan nilai sosial yang dangkal, rendahnya daya saing, ketidakmampuan dalam menerima inovatif kepada anak cucu kita. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah ketidak mampuan kita dalam mengentaskan keterpurukan di berbagai bidang, Sehingga bisa saja kita akan menjadi bangsa yang termiskin di dunia lantaran minimnya minat baca masyarakat.

Kikis Habis Tawuran Pelajar


Sebuah bentuk kegiatan masa yang anarkis, brutal dan jauh dari nilai dan norma yang dibelajarkan pendahulu kita  memang marak ditayangkan oleh media apa saja yang berkepentingan  dengan  gejala social  trsebut. Namun keprihatinan terus saja menyeruak di sanubari Rakyat Indonesia, khususnya para pendidik  serta pemerhati pendidikan, bila yang melakukan anarkis ini adalah peserta didik kita yang masih duduk  di bangku sekolah.,  lantas  apa jadinya   bila  tindakan anarkis ini hingga sekarang masih sering kita jumpai di mana-mana. Bagaimana jadinya pula  bahwa tabiat tak terpuji  ini  terus berlanjut hingga  mereka  duduk  di  bangku  kuliah nantinya.  Yang jelas  mau tidak mau kita harus memulai langkah yang konkrit untuk mengatasi masalah ini, sebelum masalah tawuran antara pelajar menjadi semacam bola  salju  yang  tambah besar dan  menggilinding tanpa arah.
               
Dengan pertimbangan bahwa   mereka yang terlibat tawuran, adalah para peserta didik yang masih berusia remaja,  maka langkah  persuasif dan komprhensif  perlu diprioritaskan.  Karena  penanganan yang gegabah, tentunya akan merusak masa depan mereka  sebagai anak bangsa.   Padahal  mereka masih harus duduk di bangku sekolah untuk menerima  input, yang tentunya akan membentuk  aspek afektif    mereka yang utuh.  Bukankah penanganan dengan  cara yang gegabah justru akan melahirkan  bentukan-bentukan  pelaku kriminal yang baru.
               
Dengan demikian  mendudukan  para ahli dari berbagai disipilin ilmu pada satu meja untuk mengkonsep tindakan yang taktis, optimal, efisien dan terpadu adalah cara yang bijaksana. Dengan cara demikian maka kita mampu memilah mana remaja yang melakukan tawuran lantaran  solidaritas semu,  pencarian jati diri  atau memang memiliki potensi crime behaviour  yang kuat.
               
Namun karena  kebanyakan mereka hanya  berlatar- belakang solidaritas semu dan upaya pencarian jati diri,  maka  tentunya  tindakan yang  paling  berhasil guna adalah bimbingan kolektif antara pihak orang-tua,  lembaga sekolah dan aparat yang berwajib.  Penanganan yang sejuk ini terbukti memang manjur, karena setelah dilakukan upaya semacam itu, mereka yang beringas di jalan-jalan dalam waktu yang relatif singkat kembali untuk belajar di kelas masing-masing.
               
Namun bagaimana penanganan bagi mereka yang telah kelewat batas, dalam artian menangani peserta didik yang dengan ringan tangan  melakukan tindakan pidana penganiayaan berat pada saat malakukan tawuran.  Dalam hal ini   sangsi dengan  hukum pidana barulah bisa diterapkan. Itupun hendaknya  diterapkan  dengan tidak mengabaikan usia mereka yang masih harus  menerima input – input  dari proses pembelajaran yang layak,  sesuai  dengan umur psikologis mereka.
               
Lantas bagaimana upaya ini harus dilakukan,  apakah mereka yang menyandang status narapidana  harus kembali ke kalas berkumpul dengan teman-teman mereka lagi.  Tentunya  tindakan ini, adalah tindakan yang kurang bijaksana.  Karena justru pelaku ini dengan dominasinya yang kuat, akan menjadi virus yang berbahaya bagi teman lainnya. Apalagi usia mereka yang masih muda, adalah usia tang sedang memasuki fase gampang terpengaruh masukan dari luar.
               
Khusus untuk penangananan  pelaku tindakan kriminal tersebut di atas, adalah dengan menampung mereka pada satuan pendidikan  atau sekolah rehabilitasi khusus, yang dikelola  bersama antara Diknas,   Depag , Kepolisian atau lintas institusi lainnya.  Sekolah rehabilitasi ini tentunya  mengkonsepkan model pembelajaran  yang penuh  inovatif, menarik tapi tidak kalah berbobotnya dengan sekolah umumnya. Dalam hal ini, para paedogogis yang memang mumpuni di bidangnya disarankan untuk aktif terlibat di dalamnya.
               
Penanganan kedisiplinan yang ketat tapi mendidik, juga perlu diterapkan pada peserta  didik yang sedang merehabilitasi sikap mentalnya  yang sudah menyimpang. Sehingga setelah mereka kembali ke jenjang bangku sekolah yang lebih tinggi mereka akan membentuk dirinya sendiri menjadi profile pelajar  bahkan mahasiswa yang berpendirian anti tawuran. Semoga saja sekelumit gagasan ini bisa didengar oleh semua pihak yang berkepentingan dengan penyiapan generasi mendatang yang handal, inovatif sekaligus  berwawasan modern.

GuruKU ArjunaKU


Cerpen Remaja Effi Nuntanti

Sylvie terjerambab dalam udara gerah yang memagut hari siang  begini. Sama dengan teman teman lainnya, di tengah kemarau panjang, mereka yang berada dalam kelas  pada pelajaran jam teakhir selalu saja melempar pandang ke jam dinding kelas, yang kokoh bergantung di dinding depan kelas.  Sebuah benda yang selalu  ditatap dingin lantaran berjalan melawan kata hati mereka. Meski di bawah jam dinding itu, senyuman tipis, selalu di tebarkan oleh seorang guru yang barangkali terlahir dari jaman pewayangan. Demikian Sylvie dan teman temanya, selalu menyebut Pak Albert dengan seloroh demikian.

Tak satu matapun mampu melepaskan sorotnya, bila “sang guru mirip arjuna” ini membei pembelajaran bahasa inggris, meski kala itu ‘perut yang berteriak”  turut mengecam jarum jam yang tidak mau melumatkan siang ini. Sebentar sebentar Sylvie mengeluh dengan dengusan nafas panjang, sebentar sebentar pula Pak Albert melempar joke ringan yang selalu disusul dengan senyum tipisnya, hingga membuka deretan giginya yang tertata rapi dan putih itu.

Saat yang ditunggu telah menghadang mereka, bel panjang berbunyi, melesatlah mereka bagai anak panah lepas dari busurnya, beranjak dari tempat duduknya. Waktu untuk berdoa pun terasa lama. Hanya Sylvie saja yang asyik memperhatikan bibir Pak Guru Arjuna melantunkan doa, yang bagi Sylvie laksana arjuna sedang berkomat kamit memainkan sihir .

“Selamat siang anak-anak. Hati hati di jalan, jangan lupa pelajari lagi readingnya tadi, dan tugas “answer the question correctly” di bawahnya kalian isi di rumah. Selamat siang anak-anak” seru guru lajang berkumis ganteng itu.

Sylvie memburu waktu, ingin rasanya secepat angin kembara di tengah musim kemarau bisa sampai di rumahnya, apalagi kini seisi perutnya ingin rasanya di layangkan ke cewek-cewek gaul teman satu kelasnya, yang saat itu sedang merajuk perhatian sang guru ganteng yang lajang itu, Mereka bagaikan kupu-kupu beterbangan mengitari lampu neon di tengah desir angin malam yang dingin. Mereka saling bergaut di pundak, guru yang mengenakan hem berlengan panjang dengan corak warna yang serasi dan gaul. Sylvie dengan muka dilipat dan dengu nafas panjang berlalu saja dari teman teman itu.

Kamar pribadinya kini tak khayal lagi menjadi musuhnya, padahal sedari pagi sudah ditata dengan rap oleh pembantu pembantunyai. Namun kini menjadi pesakitan di depan gadis kolokan itu. Ingin rasanya dia membanting apa saja yang dilihat di depanya. Ini karena salah kamu semua,  mengapa guru arjunaku mengabaikan aku, mengapa pula bukan aku yang bergayut di lenganya, mengapa aku yang menjadi bunga sekolah sama sekali kelihatan seperti nenek sihir yang renta dan jelek, sehingga sang arjuna mencari cinta sama sekali tidak mmberi harapan pada aku. Bisik hati seperti itu bertubi-tubi memenuhi bilik jantungnya.

            “Eh,lu, Cermin beri aku gambar wajah yang secantik bidadari kahyangan. Mengapa lu nggak mampu beri aku yang kaya gitu ?”
            “Ampun tuan putri, hamba sudah semaksimal mungkin memantulkan sinar kecantikan yang  ada di wajahmu tuan putri”
            “Tapi mana buktinya, mana ?”
            “Mungkin sesuatu telah memudarkan kecantikan, tuan putrid?”
            “Siapa yang berani kaya, gitu”
            “Hati tuan putri sendiri”
            “Hatiku ?, ada apa dengan hatiku ?”
            “Ampun tuan putri, hati tuan putrid sendiri yang mengotori kecantikan wajah tuan putrid, sehingga tak lebihnya tuan putrid bagai ratu yang berkubang di lumpur”
            “Kueang ajar, kamu !!!”

Terdengar suara teriak melengking dari sang cermin karena menahan rasa sakit, kini cermin itu tergolek di lantai pecah berkeping-keping seperti hatinya sang ratu yang tak kalah hancurnya. Sang ratu meradang pilu, sang ratu merasa egonya yang penuh bunga bunga wangi kini terkoyak, tetapi hanya karena suatu alasan yang tidak jelas.
Maka pagi itu, meski sang mentari menorehkan kelembutanya dengan menghangati semua jengkal tanah di bumi ini, menghangati setiap pembuluh darah manusia yang membuat degup jantung manusia bergairah untuk merajut hidup penuh keserasian dan kedamamaian. Tetapi bagi sang ratu Sylvie tetap saja, hari bergambar sendu, temaram dan hempasan angkaranya yang dipelantingkan ke semua penjuru bumi ini, ke arah hati sang guru arjuna juga, apalagi terhadap.

“Cepatlah Sylvie, terjang semua teman teman cewek kampungan itu, yang terus saja berusaha meluruhkan hati sang guru arjuna yang dingin bagaikan gunung e situ. Nantinya kau akan menyesal. Engkaulah ratu semua wanita dan bumi ini. Bahkan Dewi Supraba di Kahyangan bertekuk lutut padamu !!!!! “. Pekik bayang bayang hitam yang bercokol di sudut jantung Sylvie terus saja menyodorkan bara dihatinya.
***
“Pak Albert !, Sylvie ingin Pak Albert jangan pulang dulu nanti,  piss !!!” pinta Sylvie yang membara hatinya sehingga ketidaksantunan hatinya terlontarkan begitu saja, sementara sang guru arjuna yang bijak  hanya senyum tipis di bawah bibirnya yang semakin membuat Sylvie semakin merasa memiliki dunia ini.

“Sylvie, ayo katakana apa maksud kamu ?” pinta Pak Albert di ruang guru yang kini lengang.

“Ah, aku harus bicara apa ?”
“Lho, apa artinya kamu meminta saya menemui kamu”
“Pak Albert dusta !”
“Dusta tentang apa, Sylvie ?”
“Pak Albert egois, apa arti Sylvie untuk Pak Albert, dusta macam apa lagi Pak?” sebuah kalaimat lepas dari Sylvie memenuhi ruang guru itu yang menjadi saksi, entah apa yang terjadi antara Sang Arjuna dan Dewi Supraba itu.

“Sylvie, Pak Albert masih sayang sama kamu, dari dulu hingga kamu kelas dua belas ini, Pak Albert tak pernah berubah “
“Tapi mengapa Pak Albert sekarang dekat dengan cewek cewek jalang seperti Caroline, Winda, Kathrine dan Lina. Mereka sekarang telah mencuri hati Pak Albert. Sedang aku begitu saja diabaikan, bapak !”. Suara anak mama yang kolokan itu menambah suasana ruang guru menjadi semakin sepi mencekam.

“Kamu ngomong apa sih, Sylvie !, pak guru sekarang senang kamu telah kembali lagi mau sekolah, setelah beberapa semester lalu kamu limbung, tak punya prinsip. Sedangkan mereka semua sekarang mengalami seperti kamu dulu, bahkan mereka semua kini mulai mengenal narkoba. Itulah mengapa aku dekat dengan mereka”

“Lantas, Sylvie pak guru campakan ?” Sylvie mulai menelusuri sisi hatinya yang gelap dan membara.

“Sylvie, kamu sudah dewasa !, kamu sudah bisa menapakai dirimu sendiri !”
“Bukan ini semua yang aku butuhkan, Pak Albert selama ini egois ?”
“Sylvie !, pak guru tidak bisa, hanya itu yang mampu aku berikan. Maafkan pak guru, ya Sylvie!”
Sayap sayap yang ada di angan Sylvie kini mulai merentang untuk terbang mengarungi egonya yang kelam yang penuh misteri. Tanpa sepatah kata untuk pamit, kini dia menghambur ke luar ruang guru dengan wajah terlipat dan bintik air mata membasahi kedua bening matanya.

“Sylvie, pak guru masih tetap sayang padamu” teriak guru arjuna itu
Ruang guru itu kini tercekam dalam sepi, bersama hati pak guru yang berdegup sedih***