Keputusan MA yang menolak kasasi pemerintah
untuk penyelenggaraan UNpada tanggal 14Septembe lalu,sungguh mendapatkan reaksiparaguru,terutama
yang mengampu bidang studi yang di UN kan.Meski reaksipara guru tersebut bervariasipada batasan pro dan kontra,namun sebenarnya sebagai pendidik yangmengantarkan peserta didikuntukmengikuti UNhingga berhasil ,
sebenarnyamerasa sangat menyayangkan
keputusan MA tersebut
Betapa tidak dengan pelaksanaan UN
yang rutin dilaksanakanoleh
pemerintahsetiap tahun. Segenap
pendidik telah mempersiapkan peserta didikjauh – jauh hari, agar nantinya peserta didikmemiliki kompetensisesuai dengan Syarat Ketercapaian Lulus ( SKL
),Dengan demikian peserta didik apapun
kondisinyabenar – benar mempersiapkan
diri semenjak mereka duduk di kelas XIapapun jurusannya ( khususuntuk
SMA/MA/SMK ).
Sudah barang tentu kondisi ini
diharapkan mampu merangsang afektif peserta didik , agar mau belajar
sungguh-sungguh guna meraih keberhasilan dalam UN. Meski tanpa UN pun, Pendidik
harus tetap menanamkan peserta didik agar rajin belajar.Akan tetapi dengan semakinsignifikannyapengaruhglobalisasi informasi,
yang justru makin banyak membawa dampak negatipuntuk peserta didik ketimbang dampak positipnya.Kemauan belajar anak- anak kita justru
semakin kendor, dan inilah yang membuat mutu pendidikan kitamerosot tajam.
Harapan kita satu – satunya untuk
tetap mengkondisikan anak – anak kita agar mau membuka buku adalah pelaksanaan
UN yangberkesinambungan.Yang pada gilirannya nanti, akanmengantarkan anak –anak kitamenjadi individuyang berkompetensi di bidangnya masing –
masing.
Sungguh
disayangkan pernyataan Ketua Dewan Pendidikan DIY,Prof. Dr. Wuryanto yang menyetujui keputusan
MA untuk melarang penyelenggaraUN demi
mengembalikan pendidkan pada jati diri bangsa danmemberikan perlakuan yang adil bagi peserta
UN yang berasal dari
berbagai daerah
yang beragam kondisinya(Wawasan, 26 November2009 ).Sebenarnya untuk meredam dampak penyelenggaraan UN,tidak harus dengan cara melarang
penyelenggraan UN melainkan dengan meminimalisasikan dampak itu sendiri.
Lantas apa
jadinya bila demi jati diri bangsa UNharus dikorbankan ,yang nantinya
justru akan memberi dampakyang lebih
parahterhadap anak didik kita. Bukankah
telah menjadi fakta yang kita akui bersama, bahwanegara – negara tetangga kita sesama anggota
ASEAN telah mendahului dalam penyelenggaraan UNdan membuahkan hasil yang telah jauh di depan kita dalam prestasi sistim
pendidikan mereka.
Yang jelassistem evaluasi akhir di tingkat satuan
pendidikan manapun harus tetap dilakukan apapun bentuknya,yangmampu menjadi jembatan agar peserta didiksungguh-sungguh mau belajar guna pencapaian
kompetensi mereka, yang pada giliranya nanti kita sebagai pendidik mampu
mencetak peserta didik yang berhasil gunauntuk masyarakat, bangsa dan negara.
Di jaman globalisasi ini siapa
saj a yang memliki niatan untuk menggali informasi apa saja bukanlah merupakan
kendala yang mengganjal. Terbukti dengan hadirnya beberapa koran lokal di
daerah yang menjadi fokus publikasinya. Namun tetap saja hadirnya koran lokal
di beberapa daerah belum mampu mengentaskan m,nat baca publik. Tentu saja
masalah ekonomi dan kemauan untuk menggali informasi itu sendiri yang paling
mendominasi.
Menanggapi permasalahan tersebut
di atas, kita cenderung menilai bahwa sebenarnya harga koran secara umum
bersifat relatif, karena tergantung kita menempatkannya. Bila kita berdiri pada
sisi media masa sebagai suatu kebutuhan primer , yang memberi pencerahan dan
sumber gagasan yang dibutuhkan suatu masyarakat. Maka tentunya harga koran akan
jauh lebih murah dibanding dengan peranannya. Apalagi bila kita menapaki koran
sebagai kebutuhan sekunder, yang berfungsi menanamkan nilai-nilai mendasar,
maka kitapun wajib hukumnya untuk membaca koran. Apalagi dengan terjadinya
badai degradasi moral masyarakat Indonesia., maka tentu saja harga koran tidak
pernah kita permasalahkan lagi.
Untuk membantu memberi solusi
ini semua, kita cenderung menggaris bawahi hubungan antara eksistensi suatu
media massa
dengan minat baca masyarakat yang berbanding lurus, bahkan terjadi interaksi
yang signifikan antara kedua unsur tersebut. Semakin tingginya minat baca suatu
masyarakat akan semakin kokoh pula seksistensi suatu media massa. Sehingga point utama yang harus kita
kaji disini adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan.,
meskipun sebenarnya biaya untuk mendapatkan informasi tidak menjadi faktor
kendala, hal ini karena dilatar belakangi dengan bergulirnya era internetisasi,
era dimana mekanisme pelayanan informatika publik sudah tidak masalah lagi.
Betapa tidak dengan dana hanya sebesar
Rp. 5.000, kita bisa mengarungi
dunia yang serba informatif sekaligus inovatif, melalui warnet yang telah
tersebar hingga perkampungan. Apalagi dewasa ini telah marak ratusan koran on
line di dunia maya tersebut.
Tinggalah kita mencermati
urgensi minat baca yang sedemikian vitalnya, karena membaca menurut Gleen Doman
(1991 : 19) dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read menyatakan bahwa
membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua
proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Selanjutnya melalui budaya
masyarakat membaca kita akan melangkah menuju masyarakat belajar atau learning
society ( Sumber : H. Athaillah Baderi, 2005. Wacana Ke Arah PembentukanSebuah
Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Pengukuhan Pustakawan Utama ),
Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Suayatno (praktisi pendidikan YLPI Duri), menurut laporan Bank Dunia No.
16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of
Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di
pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6);
Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan
anak-anak Indonesia
dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga
menyebutkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko (Kompas, 2/7/2003),
disebutkan dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka
melek huruf orang dewasa di Indonesia
hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan
negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya
sudah mencapai 99,0 persen. ( Sumber : Pendidikan. Com , tidak disebutkan
tahunnya ).
Dengan kondisi demikian
bagaimana kita mampu menciptakan learning society seperti yang dinyatakan oleh
Gleen Doman di atas. Hanya sebuah perjuangan yang keras dan terintegral antara
semua unsur yang bertanggung jawab terhadap penyiapan generasi minat baca harus
terus dikukuhkan . Hal ini karena untuk mengentaskan minat baca masyarakat kita
sama saja mengubah sebuah budaya
masyarakat (social changes ). Konsekuensi logis dari ini semua adalah
dilakukannya penanaman sikap sedini mungkin untuk mencintai dan membaca buku
pendukung pembelajaran sekolah, hasil tayang media massa, laporan ilmiah, buku fiksi dan non
fiksi dan lain sebagainya.
Sudah saatnya kita mengejar
ketertinggalan dengan negara-negara Asia dalam
hal minat baca, Tentunya dengan instrumen-instrumen pendukung seperti revolusi
pendidikan, internetisasi desa, subsidi
negara terhadap biaya kertas
sehingga mengakibatkan menurunya harga koran dan sejenisnya, pemberian bahan
ajar ke peserta didik cuma-cuma di setiap jenjang satuan pendidikan, penerapan
Jambemas ( Jam Belajar Masyarakat ) dan lain sebagainya. Kita tidak usah malu –
malu dalam meniru langkah Malaysia
dalam mengentaskan minat baca, dengan cara pemberian buku ajar kepada peserta
didik secara gratis, dengan mutu bahan ajar yang representatif. Dan sebagai
bukti keseriusan dalam hal minat baca ini, mereka mencetak buku ajar tersebut
dengan kualitas yang bagus dan banyak mengadopsi bahan ajar dari negara-negara
maju.
Tentunya kita tidak mau
dipredikatkan sebagai bangsa yang kerdil dan selalu bergantung dengan luar
negeri untuk semua hal. Lantaran keawaman kita di berbagai bidang. Yang pada
gilirannya nanti mengakibatkan pewarisan nilai sosial yang dangkal, rendahnya
daya saing, ketidakmampuan dalam menerima inovatif kepada anak cucu kita. Dan
yang lebih menakutkan lagi adalah ketidak mampuan kita dalam mengentaskan
keterpurukan di berbagai bidang, Sehingga bisa saja kita akan menjadi bangsa
yang termiskin di dunia lantaran minimnya minat baca masyarakat.
Di jaman globalisasi ini siapa
saj a yang memliki niatan untuk menggali informasi apa saja bukanlah merupakan
kendala yang mengganjal. Terbukti dengan hadirnya beberapa koran lokal di
daerah yang menjadi fokus publikasinya. Namun tetap saja hadirnya koran lokal
di beberapa daerah belum mampu mengentaskan m,nat baca publik. Tentu saja
masalah ekonomi dan kemauan untuk menggali informasi itu sendiri yang paling
mendominasi.
Menanggapi permasalahan tersebut
di atas, kita cenderung menilai bahwa sebenarnya harga koran secara umum
bersifat relatif, karena tergantung kita menempatkannya. Bila kita berdiri pada
sisi media masa sebagai suatu kebutuhan primer , yang memberi pencerahan dan
sumber gagasan yang dibutuhkan suatu masyarakat. Maka tentunya harga koran akan
jauh lebih murah dibanding dengan peranannya. Apalagi bila kita menapaki koran
sebagai kebutuhan sekunder, yang berfungsi menanamkan nilai-nilai mendasar,
maka kitapun wajib hukumnya untuk membaca koran. Apalagi dengan terjadinya
badai degradasi moral masyarakat Indonesia., maka tentu saja harga koran tidak
pernah kita permasalahkan lagi.
Untuk membantu memberi solusi
ini semua, kita cenderung menggaris bawahi hubungan antara eksistensi suatu
media massa
dengan minat baca masyarakat yang berbanding lurus, bahkan terjadi interaksi
yang signifikan antara kedua unsur tersebut. Semakin tingginya minat baca suatu
masyarakat akan semakin kokoh pula seksistensi suatu media massa. Sehingga point utama yang harus kita
kaji disini adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan.,
meskipun sebenarnya biaya untuk mendapatkan informasi tidak menjadi faktor
kendala, hal ini karena dilatar belakangi dengan bergulirnya era internetisasi,
era dimana mekanisme pelayanan informatika publik sudah tidak masalah lagi.
Betapa tidak dengan dana hanya sebesar
Rp. 5.000, kita bisa mengarungi
dunia yang serba informatif sekaligus inovatif, melalui warnet yang telah
tersebar hingga perkampungan. Apalagi dewasa ini telah marak ratusan koran on
line di dunia maya tersebut.
Tinggalah kita mencermati
urgensi minat baca yang sedemikian vitalnya, karena membaca menurut Gleen Doman
(1991 : 19) dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read menyatakan bahwa
membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua
proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Selanjutnya melalui budaya
masyarakat membaca kita akan melangkah menuju masyarakat belajar atau learning
society ( Sumber : H. Athaillah Baderi, 2005. Wacana Ke Arah PembentukanSebuah
Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat Membaca. Pengukuhan Pustakawan Utama ),
Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Suayatno (praktisi pendidikan YLPI Duri), menurut laporan Bank Dunia No.
16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of
Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di
pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6);
Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan
anak-anak Indonesia
dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga
menyebutkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko (Kompas, 2/7/2003),
disebutkan dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka
melek huruf orang dewasa di Indonesia
hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan
negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya
sudah mencapai 99,0 persen. ( Sumber : Pendidikan. Com , tidak disebutkan
tahunnya ).
Dengan kondisi demikian
bagaimana kita mampu menciptakan learning society seperti yang dinyatakan oleh
Gleen Doman di atas. Hanya sebuah perjuangan yang keras dan terintegral antara
semua unsur yang bertanggung jawab terhadap penyiapan generasi minat baca harus
terus dikukuhkan . Hal ini karena untuk mengentaskan minat baca masyarakat kita
sama saja mengubah sebuah budaya
masyarakat (social changes ). Konsekuensi logis dari ini semua adalah
dilakukannya penanaman sikap sedini mungkin untuk mencintai dan membaca buku
pendukung pembelajaran sekolah, hasil tayang media massa, laporan ilmiah, buku fiksi dan non
fiksi dan lain sebagainya.
Sudah saatnya kita mengejar
ketertinggalan dengan negara-negara Asia dalam
hal minat baca, Tentunya dengan instrumen-instrumen pendukung seperti revolusi
pendidikan, internetisasi desa, subsidi
negara terhadap biaya kertas
sehingga mengakibatkan menurunya harga koran dan sejenisnya, pemberian bahan
ajar ke peserta didik cuma-cuma di setiap jenjang satuan pendidikan, penerapan
Jambemas ( Jam Belajar Masyarakat ) dan lain sebagainya. Kita tidak usah malu –
malu dalam meniru langkah Malaysia
dalam mengentaskan minat baca, dengan cara pemberian buku ajar kepada peserta
didik secara gratis, dengan mutu bahan ajar yang representatif. Dan sebagai
bukti keseriusan dalam hal minat baca ini, mereka mencetak buku ajar tersebut
dengan kualitas yang bagus dan banyak mengadopsi bahan ajar dari negara-negara
maju.
Tentunya kita tidak mau
dipredikatkan sebagai bangsa yang kerdil dan selalu bergantung dengan luar
negeri untuk semua hal. Lantaran keawaman kita di berbagai bidang. Yang pada
gilirannya nanti mengakibatkan pewarisan nilai sosial yang dangkal, rendahnya
daya saing, ketidakmampuan dalam menerima inovatif kepada anak cucu kita. Dan
yang lebih menakutkan lagi adalah ketidak mampuan kita dalam mengentaskan
keterpurukan di berbagai bidang, Sehingga bisa saja kita akan menjadi bangsa
yang termiskin di dunia lantaran minimnya minat baca masyarakat.
Sebuah bentuk
kegiatan masa yang anarkis, brutal dan jauh dari nilai dan norma yang
dibelajarkan pendahulu kitamemang marak
ditayangkan oleh media apa saja yang berkepentingandengangejala socialtrsebut. Namun
keprihatinan terus saja menyeruak di sanubari Rakyat Indonesia, khususnya para
pendidikserta pemerhati pendidikan,
bila yang melakukan anarkis ini adalah peserta didik kita yang masih dudukdi bangku sekolah.,lantasapa jadinya bilatindakan anarkis ini hingga sekarang masih
sering kita jumpai di mana-mana. Bagaimana jadinya pula bahwa tabiat tak terpujiiniterus berlanjut hinggamerekadudukdibangkukuliah nantinya.Yang jelas mau tidak mau kita harus memulai langkah yang
konkrit untuk mengatasi masalah ini, sebelum masalah tawuran antara pelajar
menjadi semacam bolasalju yang tambah besar danmenggilinding tanpa arah.
Dengan
pertimbangan bahwamereka yang terlibat tawuran, adalah para
peserta didik yang masih berusia remaja,maka langkah persuasif dan komprhensifperlu
diprioritaskan.Karenapenanganan yang gegabah, tentunya akan
merusak masa depan merekasebagai anak
bangsa.Padahalmereka masih harus duduk di bangku sekolah
untuk menerimainput, yang tentunya akan
membentukaspek afektifmereka yang utuh.Bukankah penanganan dengan cara yang gegabah justru akan melahirkanbentukan-bentukanpelaku kriminal yang baru.
Dengan
demikianmendudukanpara ahli dari berbagai disipilin ilmu pada satu
meja untuk mengkonsep tindakan yang taktis,
optimal, efisien dan terpadu
adalah cara yang bijaksana. Dengan cara demikian maka kita mampu memilah mana
remaja yang melakukan tawuran lantaran solidaritas semu,pencarian jati diriatau memang memiliki potensi crime behaviouryang kuat.
Namun karenakebanyakan mereka hanyaberlatar- belakang solidaritas semu dan upaya
pencarian jati diri, makatentunyatindakan yangpalingberhasil guna adalah bimbingan kolektif
antara pihak orang-tua,lembaga sekolah
dan aparat yang berwajib.Penanganan
yang sejuk ini terbukti memang manjur, karena setelah dilakukan upaya semacam
itu, mereka yang beringas di jalan-jalan dalam waktu yang relatif singkat
kembali untuk belajar di kelas masing-masing.
Namun bagaimana
penanganan bagi mereka yang telah kelewat batas, dalam artian menangani peserta
didik yang dengan ringan tangan melakukan
tindakan pidana penganiayaan berat pada saat malakukan tawuran.Dalam hal ini sangsi denganhukum pidana barulah bisa diterapkan. Itupun hendaknyaditerapkandengan tidak mengabaikan usia mereka yang masih harusmenerima input – inputdari proses pembelajaran yang layak,sesuaidengan umur psikologis mereka.
Lantas
bagaimana upaya ini harus dilakukan,apakah mereka yang menyandang status narapidanaharus kembali ke kalas berkumpul dengan
teman-teman mereka lagi.Tentunyatindakan ini, adalah tindakan yang kurang
bijaksana.Karena justru pelaku ini
dengan dominasinya yang kuat, akan menjadi virus yang berbahaya bagi teman
lainnya. Apalagi usia mereka yang masih muda, adalah usia tang sedang memasuki
fase gampang terpengaruh masukan dari luar.
Khusus
untuk penanganananpelaku tindakan
kriminal tersebut di atas, adalah dengan menampung mereka pada satuan
pendidikanatau sekolah rehabilitasi
khusus, yang dikelolabersama antara
Diknas,Depag , Kepolisian atau lintas institusi
lainnya.Sekolah rehabilitasi ini
tentunyamengkonsepkan model
pembelajaran yang penuhinovatif, menarik tapi tidak kalah
berbobotnya dengan sekolah umumnya. Dalam hal ini, para paedogogis yang memang
mumpuni di bidangnya disarankan untuk aktif terlibat di dalamnya.
Penanganan
kedisiplinan yang ketat tapi mendidik, juga perlu diterapkan pada pesertadidik yang sedang merehabilitasi sikap
mentalnyayang sudah menyimpang.
Sehingga setelah mereka kembali ke jenjang bangku sekolah yang lebih tinggi
mereka akan membentuk dirinya sendiri menjadi profile pelajar bahkan mahasiswa yang berpendirian anti
tawuran. Semoga saja sekelumit gagasan ini bisa didengar oleh semua pihak yang
berkepentingan dengan penyiapan generasi mendatang yang handal, inovatif
sekaligusberwawasan modern.
Sylvie
terjerambab dalam udara gerah yang memagut hari siang begini. Sama dengan teman teman lainnya, di
tengah kemarau panjang, mereka yang berada dalam kelas pada pelajaran jam teakhir selalu saja melempar
pandang ke jam dinding kelas, yang kokoh bergantung di dinding depan kelas. Sebuah benda yang selalu ditatap dingin lantaran berjalan melawan kata
hati mereka. Meski di bawah jam dinding itu, senyuman tipis, selalu di tebarkan
oleh seorang guru yang barangkali terlahir dari jaman pewayangan. Demikian
Sylvie dan teman temanya, selalu menyebut Pak Albert dengan seloroh demikian.
Tak satu
matapun mampu melepaskan sorotnya, bila “sang guru mirip arjuna” ini membei
pembelajaran bahasa inggris, meski kala itu ‘perut yang berteriak” turut mengecam jarum jam yang tidak mau
melumatkan siang ini. Sebentar sebentar Sylvie mengeluh dengan dengusan nafas
panjang, sebentar sebentar pula Pak Albert melempar joke ringan yang selalu
disusul dengan senyum tipisnya, hingga membuka deretan giginya yang tertata
rapi dan putih itu.
Saat yang
ditunggu telah menghadang mereka, bel panjang berbunyi, melesatlah mereka bagai
anak panah lepas dari busurnya, beranjak dari tempat duduknya. Waktu untuk
berdoa pun terasa lama. Hanya Sylvie saja yang asyik memperhatikan bibir Pak
Guru Arjuna melantunkan doa, yang bagi Sylvie laksana arjuna sedang berkomat
kamit memainkan sihir .
“Selamat
siang anak-anak. Hati hati di jalan, jangan lupa pelajari lagi readingnya tadi,
dan tugas “answer the question correctly” di bawahnya kalian isi di rumah.
Selamat siang anak-anak” seru guru lajang berkumis ganteng itu.
Sylvie
memburu waktu, ingin rasanya secepat angin kembara di tengah musim kemarau bisa
sampai di rumahnya, apalagi kini seisi perutnya ingin rasanya di layangkan ke
cewek-cewek gaul teman satu kelasnya, yang saat itu sedang merajuk perhatian
sang guru ganteng yang lajang itu, Mereka bagaikan kupu-kupu beterbangan
mengitari lampu neon di tengah desir angin malam yang dingin. Mereka saling
bergaut di pundak, guru yang mengenakan hem berlengan panjang dengan corak
warna yang serasi dan gaul. Sylvie dengan muka dilipat dan dengu nafas panjang
berlalu saja dari teman teman itu.
Kamar
pribadinya kini tak khayal lagi menjadi musuhnya, padahal sedari pagi sudah
ditata dengan rap oleh pembantu pembantunyai. Namun kini menjadi pesakitan di
depan gadis kolokan itu. Ingin rasanya dia membanting apa saja yang dilihat di
depanya. Ini karena salah kamu semua,
mengapa guru arjunaku mengabaikan aku, mengapa pula bukan aku yang
bergayut di lenganya, mengapa aku yang menjadi bunga sekolah sama sekali
kelihatan seperti nenek sihir yang renta dan jelek, sehingga sang arjuna
mencari cinta sama sekali tidak mmberi harapan pada aku. Bisik hati seperti itu
bertubi-tubi memenuhi bilik jantungnya.
“Eh,lu, Cermin beri aku gambar wajah
yang secantik bidadari kahyangan. Mengapa lu nggak mampu beri aku yang kaya
gitu ?”
“Ampun tuan putri, hamba sudah
semaksimal mungkin memantulkan sinar kecantikan yang ada di wajahmu tuan putri”
“Tapi mana buktinya, mana ?”
“Mungkin sesuatu telah memudarkan
kecantikan, tuan putrid?”
“Siapa yang berani kaya, gitu”
“Hati tuan putri sendiri”
“Hatiku ?, ada apa dengan hatiku ?”
“Ampun tuan putri, hati tuan putrid
sendiri yang mengotori kecantikan wajah tuan putrid, sehingga tak lebihnya tuan
putrid bagai ratu yang berkubang di lumpur”
“Kueang ajar, kamu !!!”
Terdengar
suara teriak melengking dari sang cermin karena menahan rasa sakit, kini cermin
itu tergolek di lantai pecah berkeping-keping seperti hatinya sang ratu yang
tak kalah hancurnya. Sang ratu meradang pilu, sang ratu merasa egonya yang
penuh bunga bunga wangi kini terkoyak, tetapi hanya karena suatu alasan yang
tidak jelas.
Maka pagi
itu, meski sang mentari menorehkan kelembutanya dengan menghangati semua
jengkal tanah di bumi ini, menghangati setiap pembuluh darah manusia yang
membuat degup jantung manusia bergairah untuk merajut hidup penuh keserasian
dan kedamamaian. Tetapi bagi sang ratu Sylvie tetap saja, hari bergambar sendu,
temaram dan hempasan angkaranya yang dipelantingkan ke semua penjuru bumi ini,
ke arah hati sang guru arjuna juga, apalagi terhadap.
“Cepatlah
Sylvie, terjang semua teman teman cewek kampungan itu, yang terus saja berusaha
meluruhkan hati sang guru arjuna yang dingin bagaikan gunung e situ. Nantinya
kau akan menyesal. Engkaulah ratu semua wanita dan bumi ini. Bahkan Dewi
Supraba di Kahyangan bertekuk lutut padamu !!!!! “. Pekik bayang bayang hitam
yang bercokol di sudut jantung Sylvie terus saja menyodorkan bara dihatinya.
***
“Pak Albert
!, Sylvie ingin Pak Albert jangan pulang dulu nanti, piss !!!” pinta Sylvie yang membara hatinya
sehingga ketidaksantunan hatinya terlontarkan begitu saja, sementara sang guru
arjuna yang bijak hanya senyum tipis di
bawah bibirnya yang semakin membuat Sylvie semakin merasa memiliki dunia ini.
“Sylvie, ayo
katakana apa maksud kamu ?” pinta Pak Albert di ruang guru yang kini lengang.
“Ah, aku
harus bicara apa ?”
“Lho, apa
artinya kamu meminta saya menemui kamu”
“Pak Albert
dusta !”
“Dusta
tentang apa, Sylvie ?”
“Pak Albert
egois, apa arti Sylvie untuk Pak Albert, dusta macam apa lagi Pak?” sebuah
kalaimat lepas dari Sylvie memenuhi ruang guru itu yang menjadi saksi, entah
apa yang terjadi antara Sang Arjuna dan Dewi Supraba itu.
“Sylvie, Pak
Albert masih sayang sama kamu, dari dulu hingga kamu kelas dua belas ini, Pak
Albert tak pernah berubah “
“Tapi mengapa
Pak Albert sekarang dekat dengan cewek cewek jalang seperti Caroline, Winda,
Kathrine dan Lina. Mereka sekarang telah mencuri hati Pak Albert. Sedang aku
begitu saja diabaikan, bapak !”. Suara anak mama yang kolokan itu menambah
suasana ruang guru menjadi semakin sepi mencekam.
“Kamu ngomong
apa sih, Sylvie !, pak guru sekarang senang kamu telah kembali lagi mau
sekolah, setelah beberapa semester lalu kamu limbung, tak punya prinsip.
Sedangkan mereka semua sekarang mengalami seperti kamu dulu, bahkan mereka
semua kini mulai mengenal narkoba. Itulah mengapa aku dekat dengan mereka”
“Lantas,
Sylvie pak guru campakan ?” Sylvie mulai menelusuri sisi hatinya yang gelap dan
membara.
“Sylvie, kamu
sudah dewasa !, kamu sudah bisa menapakai dirimu sendiri !”
“Bukan ini
semua yang aku butuhkan, Pak Albert selama ini egois ?”
“Sylvie !,
pak guru tidak bisa, hanya itu yang mampu aku berikan. Maafkan pak guru, ya
Sylvie!”
Sayap sayap
yang ada di angan Sylvie kini mulai merentang untuk terbang mengarungi egonya
yang kelam yang penuh misteri. Tanpa sepatah kata untuk pamit, kini dia
menghambur ke luar ruang guru dengan wajah terlipat dan bintik air mata
membasahi kedua bening matanya.
“Sylvie, pak
guru masih tetap sayang padamu” teriak guru arjuna itu
Ruang guru
itu kini tercekam dalam sepi, bersama hati pak guru yang berdegup sedih***