Senin, 14 Mei 2012

Anaku JALANG.... Anaku SAYANG


Sebuah fenomena terwujudnya kasih sayang antara peserta didik dan pendidik yang membimbingnya yang berlangsung searah atau timbal balik, adalah salah satu fenomena contoh dampak positip dari pembelajaran yang melabelkan konstruksi pendidikan berbasis karakter, yang lebih menjamin keberhasilan pembentukan sikap mental Manusia Indonesia seutuhnya di masa mendatang.

Fenomena ini perlu sekali di wujudkan, sehingga dalam skala yang sempit situasi kelas dapat dikondisikan dengan kondusif. Sedangkan dalam skala luas, para siswa yang notabone masih dalam dinamika perkembangan dari mulai anak anak hingga remaja, mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, imajinasi mereka secara leluasa. Sebaliknya bagi seorang pendidik mampu lebih dekat lagi dengan bimbinganya guna mengamati perkembangan karakternya. Mengapa hal ini perlu dikedepankan, sebab Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah “masa transisi perkembangan” antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai “transisi perkembangan” yang lebih mendekati masa dewasa’
Dari banyak pendapat para ahli tersebut di atas, semuanya telah sepakat bahwa anak anak kita yang masih duduk di sekolah menengah sedang mengalami masa transisi perkembangan. Selain itu pada fase tersebut mutlak setiap peserta didik direkomendasikan untuk mendapat bimbingan dari beberapa pihak, termasuk sekolah dengan sistim pembelajaran yang kurikuler. Inilah yang selama ini kita tinggalkan dengan hanya mengedepankan aspek kognitif saja. Padahal kognitif menjadi sama sekali tak berguna apabila aspek karakter tidak mendukung raihan itu.
Dengankentalnya transisi perkembangan yang ada pada remaja tersebut, maka wajar saja bila sebagian dari siswa bersifat jalang/nakal/bandel,  suatu sikap  yang sering kita lihat di skolah di manapun berada. Namun dengan bekal sistim pendidikan yang berbasis karakter justru siswa seperti inilah yang perlu mendapatkan pengawalan psikologis yang lebih ketat dibanding lainnya. Dan jangan ditepiskan pula pengamatan terhadap perilaku belajar siswa dengan tehnik Multiple Intelligences Research (MIR). MIR ini berfungsi untuk mengetahui gaya belajar siswa, sebuah data yang sangat penting yang harus diketahui oleh para guru yang akan mengajar mereka.
Dengan sistim pendidikan seperti ini, maka diharapkan dapat berhasil guna dalam pembentukan generasi yang selain cerdas, juga memiliki kepribadian yang baik. Sehingga diharapkan nantinya generasi tersebut bukan melanggengkan sikap mental anarkis,  hedonisme, mati kepedulian sosialnya, tanpa nasionalisme, curang dan lain sebagainya, seperti yang terjadi dengan perliaku generasi sekarang yang memprihatinan. Sekaligus dalam hal ini kita mampu membuktikan peran strategis dan signifikan dari sebuah sistim pendidiklan nasional. Sehingga tidak sia sia anggaran pendidikan merupakan anggaran terbesar yang dialokasikan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010. Anggaran pendidikan memperoleh jatah sebesar Rp 200 triliun.

Mengkontruksi Pendidikan Berkarakter

Hingga sampai kapankah anak bangsa yang bersemayam di Kepulauan Nusantara ini akan kembali mendinginkan sikap, agar tidak lagi mudah melampiaskan ketidakpuasan yang direfleksikan dengan demo anarkis,  kericuhan masa karena ketidakpuasan hasil pilkada, mencoba bunuh diri untuk menarik perhatian publik karena keterpurukan ekonomi, pemalsuan seputar peralatan tabung gas 3 kg hingga telah banyak memakan korban jiwa, penggemukan rekening pribadi demi kepentingan oknum itu sendiri dan perseteruan antara petinggi serta tindakan amoralitas lainnya yang terus saja membahana di wajah Indonesia.
Untuk mengurai benang kusut tersebut tidak serta merta dapat dilakukan dengan penyempurnaan regulasi seberapa canggihnya untuk menyisipkan aspek jera pada oknum pelanggaran amoralitas tersebut di atas. Tetapi lebih berdaya guna untuk melengkapi aspek  “budaya malu” pada masing-masing sanubari anak bangsa.
Sebegitu urgennya budaya malu sehingga Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyatakan bahwa perasaan malu selayaknya disemai sejak awal, agar kita bisa maju dan terus memperbaiki kualitas hasil kerja. "Contohlah orang Jepang," ujarnya saat memberi orasi ilmiah kepada wisudawan Universitas Pancasila di Jakarta Sabtu 10 Mei 2008   silam. Rasa malu hanyalah satu contoh nilai hidup yang dapat memajukan suatu bangsa.
Menindaklanjuti pernyataan mantan Perdana Mentri Malaysia tersebut terutama dalam aspek “character building” sejak dini, kitapun menjadi bertambah terimajinasi bahwa sudah selayaknya kita tidak hanya mengedepankan hanya aspek kognitif saja dalam mengantarkan peserta didik menjadi generasi insani seutuhnya. Meski di dalam laporan hasil evaluasi prestasi peserta didik yang disodorkan kepada orang tua murid terdapat sertaan aspek psikomotor dan afektif, namun sebagian besar pendidik cenderung menyematkan siswa berhasil dan tidak sebuah pembelajaran hanya dari aspek kognitif, tanpa mengindahkan aspek bentukan karakter peserta didiknya.
Sebuah karakter yang dicetak dari pendidikan karakter adalah sesuatu yang biasa dilakukan guna mencapai budi pekerti yang baik, yang didukung oleh nilai sosial yang melingkunginya. Sehingga mampu mengantarkan setiap peserta didik dalam bentukan individu yang berperan baik di tengah masyarakatnya kelak di kemudian hari. Hal inilah yang menjadi tujuan utama pendidikan karakter.
Hal ini disebabkan karena perkembangan karakter seorang individu tidak bisa lepas dari culture sosial yang melingkunginya, yang kemudian mmenjadi nilai hidup yang jauh terpatri dalam lubuk hatinya. Oleh karena fenomena perkembangan karakter suatu individu yag bersosialisasi di peradaban timur akan berbeda dengan peradaban barat. Sebagai contoh ciri dasar karakter individu yang bersosialisasi di peradaban timur adalah karakter tenang dan pendiam (quiet and calm). Namun karakter dasar ini akan bergeser menjadi bentuk lain apabila terinfiltrasi nilai sosial dari peradaban barat atau peradaban lainnya. Namun karakter individupun mampu bergeser ke bentuk lain lantaran terjadi pergeseran nilai yang terjadi di tengah masyarakat sosialnya sendiri.
Karena futur Masyarakat Modern Indonesia  dengan cirri khas tiada diskriminasi antara pria dan wanita. Maka pandangan tentang perkembangan karakter menurut Aristoteles yang mensentralkan pada nilai dasar, kini telah berkembang pesat kea rah multifilosofi, seperti politik . pendidikan , gender dan lain sebagainya.

Padahal dalam merekonstruksikan sematan “Bangsa yang Bebudi luhur “, sebuah pembelajaran karakter peserta didik perlu ditanamkan bersamaan dengan dinamisasi perkembangan kepribadian peserta didik.
Oleh karena itu sebuah pendidikan karakter dalam arti luas perlu dikurikulumkan guna revitalisasi pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik tentang kesiapan  pola sikap laku untuk mengembangkan berbagai aspek moralitas, kemasyarakatan,  sikap yang baik, kejujuran, kesehatan, sikap kritis dan keterbukaan. Bahkan menurut konsep pendidikan karakter yang mutakhir, pembelajaran  tentang sosial dan  emosional,  perkembangan kognitif,  ketrampilan, pendidikan kesehatan, sikap  anti kekerasan, etika dan  mencegah serta mampu bertindak sebagai mediator setiap bentuk konflik.
Sekedar hanya untuk studi banding, dewasa ini terdapat  sejumlah  program pendidikan karakter yang bervariasi bergantung dengan tujuan dunia pendidikan atau dunia usaha yang diselenggaran di Amerika Serikat. Tetapi pendekatan yang umum sering diterapkan untuk dua tujuan tersebut di atas,  adalah principles ( pokok utama tentang karakter),  pillars (factor pendukung) dan  values atau  virtues ( nilai dasar). Tetapi dari tiga aspek pendukung pemberlangsungan pendidikan karakter, aspek nilai dasar yang paling mendominasinya.
Sebagai langkah awal pemberdayaan pendidikan karakter adalah diterapkan semua satuan pendidikan meneriwa calon peserta didik di tahun ajaran baru ini dengan memfokuskan system penerimaan “the best process”, yaitu sistim yang menerapkan penyaringan bukan hanya dari aspek kognitif, yang biasa diterapkan pada masa ebelumnya dengan sistim ”the best input”. Dengan the best process inilah suatu sekolah yang baik bisa saja menerima calon peserta didik yang harus dibenahi karakternya. Sehingga fungsi satuan pendidikan lebih kea rah bengkel mesin, dan pada akhirnya mampu berhasil guna  sebagai “show room mobil” yang memajangkan mobil yang mengkilap dan siap pakai setelah dipermak.
Permakan tersebut diperoleh karena telah tuntasnya Multiple Intelligences Reseach (MIR) secara tuntas dan akurat kepada semua peserta didik. Sehingga bahan ajar yang disodorkanpun mampu dikompetensi oleh siswa setara dengan perkembangan karakternya yang ditampilkan.
Demi eksisnya bangsa yang santun, ramah, terbuka, mendahulukan rembug ketimbang beranarkis demo maka tidak ada salahnya kita meroknstruksi sesuatu yang hilang, yaitu revitalisasi “budaya malu” yang pernah tersemat di bangsa yang sedang meradang ini dan mampu menjadi identitas dunia internasional(Dari berbagai sumber)

Urgensi Akselerasi Pengentasan Pendidikan


Sesuatu yang pelik memang harus kita hadapi dalam urgensi pengentasan mutu pendidikan kita yang terpuruk ini. Tentunya  setelah kita menggenapi sistim pendidikan dengan berbagai instrument yang menjadi factor pendukung keberlangsunganya, seperti kurikulum yang representatif, guru yang professional sebagai media transfer bahan ajar, sistim evaluasi yang komprehensif dan berstandardisasi, kita juga dihadapkan kompetensi peserta didik yang paling essensi.

Kompetensi peserta didik yang dirapkan semua pihak, adalah kompetensi di ranah knowledge, skillfull dan kompetensi internalisasi sikap dan kepribadian siswa sepanjang life style mereka, dan kompetensi mengenai kepribadian (karakter) inilah yang paling mendasari kompetensi kompetensi lainnya. Sekaligus specifikasi tersebut direkomendasikan mampu menjadi dasar akselerasi pengentasan di bidang pendidikan atau aspek lainnya.

Mengapa aspek karakter dalam urusan pendidikan menjadi demikian essensinya, pertanyaan ini tentunya bisa kita jawab dengan mencermati hubungan antara karakter sebagian besar anak bangsa dengan karakter suatu bangsa. Kita telah mengetahui bahwa karakter dasar yang membudaya kokoh dalam masing masing sanubari anak bangsa yang inovatif dan normatif, serta karakter lainya yang menjadi dambaan kita adalah justru sebuah modal utama sebuah bangsa untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di muka bumi ini. Wacana ini tentunya akan lebih kita terima, bila kita mencermati perbandingan karakter  dasar kita dengan bangsa lain. Kita mampu menyimpulkan bahwa terhadap hubungan korelasi positif antara kemajuan berbagai bidang suatu negara dengan karakter rakyatnya, misalnya tertibnya budaya antri, budaya santun di jalan, sportifitas dan lain sebagainya di negara negara maju tersebut.

Di lain pihak kita sering menjumpai sikap masyarakat kita yang “sok jagoan” di jalan raya tanpa suatu hatipun memperdulikan kepentingan dan keselamatan orang lain atau anarkis saat antri bergiliran untuk mendapatkan sesuatu, holiganisme supporter sepakbola dibanyak even. Dengan latar belakang keprihatinan kita bersama tentunya menumbuhkan tekad di hati kita semua untuk mengakhiri ini selama lamanya. Dan lebih jauh lagi kita menekadi untuk realisasi Negara Indonesia yang ditopang oleh anak bangsa yang santun, piawai di bidangnya, memiliki nasionalisme yang “tak lekang ditengah panas dan tak lapuk dimakan hujan”, memiliki kepedulian yang tinggi,jujur dan lain sebagainya.

·         Minat Baca dan Urgensinya

Tinggalah kini kita bersandar pada ranah pendidikan yang mampu mengusuk pencetakan individu yang berkarakter dambaan, bahkan demi penyelamatan martabat bangsa kita dituntut untuk memberlangsungkan laju pembangunan pendidikan yang memadai, meski sebuah kepelikan akan kita jumpai dalam hal ini. Namun bila kita menilik sejarah sistim pendidikan kita yang terkoyak akaibat tekanan rezim Soeharto selama 32 tahun, kitapun menjadi tak memperdulikan lagi kompleksitas tersebut demi sebuah kontribusi rekonstruksi kejayaan Negara kita.

Minat baca masyarakat umum kita mestinya turut kita soroti, sebagaimana yang dikemukakan oleh Suayatno (praktisi pendidikan YLPI Duri), menurut laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanAya 30 persen. Data lain juga menyebutkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko (Kompas, 2/7/2003), disebutkan dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya sudah mencapai 99,0 persen. ( Sumber :  Pendidikan. Com , tidak disebutkan tahunnya ).

Namun kita juga tidak serta merta menyudutkan masyarakat kita yang memprihatinkan  minat bacanya,terutama untuk peserta didik yang ada di satuan pendidikan yang rata rata miskin ”khasanah pustaka” pada perpustakaan mereka. Bila pada satuan pendidikan tersebut telah langka akan pustaka yang up to date, maka bisa kita bayangkan betapa tertinggalnya anak didik kita lantaran njauh dari jendela dunia. Selain itu rendahnya daya beli kita semua menyebabkan sebagian dari kita cenderung menepiskan kebutuhan untuk membeli judul buku terbaru.

·         Pendidik Profesional

Percepatan pengentasan pendidikan diharapkan akan berhasil guna bila kita telisik peran vital seorang pendidik yang patut diperhatikan, apalagi bila pendidik tersebut telah mampu berperan secara profesional dan mampu menyodorkan pembelajaran secara inovatif, lantaran mereka telah mengalami peningkatan kesejahteraan hidup, setelah mendapat tunjangan profesi dari negara. Akselerasi akan lebih dapat kita harapkan bika terdapat kesamaan sikap dan kinerja dari 2.607.311 guru yang tersebar di seluruh Indonesia .

Tak Pernah Surut


Telah menjadi kesepakatan kita  bersama  bahwa  dewasa ini Kemetrian Pendidikan Nasional dan seluruh jajaran institusi yang  terkait dengan sistem pendidikan nasional telah berupaya  seoptimal mungkin dalam menggulirkan perubahan besar – besar  terhadap  pendidikan  yang terintegrasi,  sistematis dan terarah.
               
Terdapat urgensi yang terselip di balik itu semua, yaitu tentang masa depan generasi kita  yang  harus tangguh dalam menghadapi  kompleksitas di tengah Masyarakat Indonesia yang pesat mengalami social changes,  ( perubahan  sosial ),  karena  pengaruh  globalisasi. Maka keterpurukan sistim pendidikan yang telah kita akui bersama dan bila dihadapkan pada coincide  antara penyiapan  kemajuan bangsa dengan nasib  merana ysng didera  guru , maka perubahan sistim pendidikan nasional haruslah dalam  naungan suatu revolusi. 
               
Betapa tidak ,   sebuah negara yang  pada Tahun 1975 masih mengalami konflik politik  sehingga telah kehilangan segala-galanya. Namun diluar dugaan lantaran  keseriusan dalam  menggarap sistim pendidikan nasionalnya,   maka prestasinya  sekarang berada  di atas kita.  Sebut saja negara  tersebut adalah Vietman.
               
Menurut  survey yang dilakukan oleh  International  Education  Achievment ( I E A ), terdapat fakta bahwa  indeks pengembangan manusia ( Human Development Index )  kita  masih sangat rendah. Menurut data tahun 2004, dari 117 negara yang disurvei,  Pengembangan Sumber Daya Masyarakat  Indonesia berada pada peringkat 111 dan pada tahun 2005 peringkat 110 dibawah Vietnam yang berada di peringkat 108 (Dinas  Perhubungan Komunikasi dan Informatika  Kabupaten Bima, Th  2008 ).  
               
Padahal pada  kurun waktu  Tahun 1970  -  1975  kita telah memulai pembangunan  dengan menapaki  PELITA  I I.  Bangsa  Indonesia  telah membenahi bidang pendidikan sebagai pilar utama peningkatan kualitas bangsa cukup diperhatikan. Paling tidak saat itu, pada tahun l974, dibangun 6.000 Sekolah Dasar (SD) INPRES, meningkatkan mutu 1000 SMP dari 1.427 SMP yang ada saat itu, melengkapi 200 SMA dari 421 SMA yang ada saat itu. Sedang Perguruan Tinggi yang berjumlah 29 semakin dikembangkan  (  Damandari, 2003 ).
               
Melihat kenyataan tersebut  maka  wajar saja apabila kita bersikap prihatin, namun tindakan kita yang paling bijak sebagai  pendidik  adalah  menaruh perhatian yang serius. Bukankah  sitim pendidikan   nasional adalah  asset prestis   kita semua.   Sehingga  apabila  terjadi  keterpurukan terhadapnya, maka  kita sebagai pendidik adalah yang paling depan dalam memikul tanggung jawab.   
               
Oleh  karena itu  kita tidak mungkin untuk  bertindak  skeptis  dalam menyikapi  fakta  tersebut. Minimal harus terbesit dalam hati kita untuk memulai langkah moral  dalam  mengejar ketertinggalan kita. Kita harus sigap dalam memulai bergulirnya  sebuah revolusi pendidikan.  Hanya  dengan semangat  yang tinggilah semua tugas moral kita untuk mengentaskan sistim pendidikan nasional kita menjadi ringan.
               
Jangan sampai kita memilik prestasi dan pengembangan diri yang statis, karena  era globalisasi yang nota-bene era modernisasi dalam segala bidang, tentu akan merambah ke bidang pendidikan.  Kita  hendaknya tidak usah menutup mata,  tentang fakta yang ada bahwa sebagian besar peserta didik yang kita bina tiap hari telah memiliki sistem informasi yang mendunia. Hal ini disebabkan karena peserta didik kita,  dengan mudah mampu mengadoptasi tehnologi apa saja dengan cara yang gampang,  yaitu hanya dengan mengakses web.
               
Apa nanti jadinya, bila kita sebagai tenaga pendidik tidak dengan sikap dan kreatif dalam membimbing perubahan sikap mental peserta didik yang memang menyesuaikan jaman ini.  Tentunya kita sebagai pembimbing mereka harus lebih maju beberapa langkah di depannya. Oleh karena itu untuk tahun – tahun mendatang guru sebagai tenaga pendidik, haruslah mampi menjadi sosok yang inovatif, kreatif dan berdedikasi yang tinggi,  dan  cita cita luhur tersebut hanya bisa dicapai apabila  guru  tetap mengedapankan semangat yang baru pula.

Menepis "Syndrome Innerior Compleks" melalui sekolah


Amin Rais pada Seminar Nasional “Mempererat Potensi Lokal dalam Menghadapi Tantangan Global”, Senin (17/10/2011) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Jateng, pada grand launching Jurusan Hubungan Internasional FISIP UNSOED, menyatakan bahwa kita sekarang sedang menderita “Sindrom Inferior Kompleks”, yang menggejala dengan timbulnya sikap mendewakan bangsa lain di atas bangsa kita sendiri. Sehingga diantara kita sering kali bersikap bahwa  produk luar negeri apa saja, selalu lebih unggul mutunya dibanding pruduk dalam negeri. Apakah kita pernah berpikir, bahwa bola untuk sepakbola yang bermerek “beken”, sebenarnya adalah bola buatan dari Jawa Barat atau sepatu buatan Cibaduy, mejadi sepatu keren, karena diberi lebel merek Eropa ?.
Padahal tercatat dalam sejarah bahwa terdapat banyak kerajaan kerajaan besar yang wilayahnya hampir seluruhnya mencapai Asia Tenggara.Ditambah lagi bahwa pada decade 1945, kita dikenal sebagai macan oleh bangsa bangsa lain. Kita unggul dengan bangsa lain di Asia Tenggara, dalam hal pendidikan, militerm nasionalisme dan lain sebagainya.
Tentunya revitalisasi prestasi gemilang tersebut perlu diupayakan dengan serius, bukan hanya dengan kemampuan “segala hal” yang merambat maju, tetapi pencapaian dengan “loncatan prestasi”  perlu kita torehkan. Untuk itu kita perlu mencari “solusi yang paling mendasar”, yang dapat kita jadikan acuan dasar dalam pencapaian prestasi tersebut.
·         Keprihatinan Tentang Minat Baca
Minimal kita bisa mengamati, karakter karakter dasar bangsa lain yang kini telah berada di atas kita. Disamping terkenal sebagai pekerja keras, masyarakat negara negara  tetangga (Singapira, Malaysia,  Thailand, Korea dan lain sebagainya) adalah masyarakat yang berkarakter kuat minat bacanya, mereka kuat membaca apa saja dan di mana saja. Khusus untuk minat baca, sebuah kiat yang serius  harus kita kukuhkan untuk pengentasan rendahnya minat baga peserta didik kita. Betapa tidak menurut  laporan Bank Dunia No. 16369-IND dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievement ) di Asia Timur, tingkat terendah minat baca  anak-anak didera anak anak  Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga mengungkapkan, seperti yang ditulis oleh Ki Supriyoko, bahwa dalam dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan AS umumnya sudah mencapai 99,0 persen.
Sebenarnya minat baca tidak menjadi ancaman yang serius, apabila sekolah sekolah masih konsisten dalam melanggengkan minat baca peserta didik kita yang belajar pada era sebelum tahun 1980-an , yang memiliki minat baca tidak kalah dengan bangsa lain.
Oleh karena itu pada dekade tersebut, banyak buku buku karya sastra  yang menjadi ”best seller”, antara lain adalah Buku ”Salah Asuhan” karya Abdul Muis, ”Di Bawah Lindungan Kabah, karya HAMKA, ”Cintaku di Kampus Biru” karya Ashadi Siregar dan masih banyak buku buku sastra lainnya yang banyak peminat bacanya.
Mengulang kegemilangan minat baca yang diterapkan pada peserta didik di era sekarang, adalah awal dari ”merekonstruksikan percaya diri bangsa sedini mungkin”, dengan sistim tagihan yang efektif dan berkelanjutan, dari jenjang pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi, dengan membawa konsekuensi logis pada fungsi perpustakaan yang memadai. Hingga terbentuklah satu generasi yang bisa kita harapkan mampu menyamai prestasi bangsa lain.
·         Optimalisasi Pendidikan  Berbasis Masyarakat
2
Menurut Sihombing U (2001) Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM), adalah pendidikan  dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Berawal dari pernyataan  Sihombing tersebut. maka PBM adalah salah satu bentuk pendidikan yang memanfaatkan fasilitas yang ada di masyarakat dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatan belajar serta bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Konsep dan praktek PBM tersebut adalah untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri dan memiliki daya saing dengan melakukan program belajar yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Pendidikan tanpa melibatkan peran aktif  masyarakat dalam mensukseskannya akan menyebabkan “salah cetak” atau pembentukan pribadi peserta didik yang terhambat, sebab fungsi lain dari sekolah adalah sebagai “Agent of Changing” anak anak kita. Selain itu sekolah hanya mengusung aspek ”cerdas” saja,  tanpa memperdulikan  ”pembelajaran sosial ” yang seharusnya digali dari masyarakat sosial dilingkunganya. Ada peran-peran yang dapat diambil oleh masyarakat dalam menuangkan ide atau keinginannya dan bagaimana sebenarnya pendidikan berbasis masyarakat dapat diimpelementasikan .
Maka apabila kita tepiskan interaksi masyarakat dalam sistim pendidikan kita, maka akan timbulah dampak pendidikan yang serius, seperti yang dinyatakan oleh  DR. Arief sebagai berikut : a) pembiasaaan atau penyimpangan arah pendidikan dari tujuan pokoknya , b) malproses dan penyempitan simplikatif lingkup proses pendidikan menjadi sebatas pengajaran,  c) pergeseran fokus pengukuran hasil pembelajaran yang lebih diarahkan pada aspek-aspek intelektual atau derajat kecerdasan nalar.
Dengan pendekatan terpadu dari berbagai aspek tersebuy di atas, maka cukuplah kiranya sekolah mampu menepis ”Sindrom Inferior Komplek”, sehingga jadilah generasi kita sebagai generasi yang bermartabat,”smart”, inovatif sekaligus santun.Oleh karena itu marilah kita tidak setengah setengah dalam membentuk peserta didik kita untuk menggapai masa depanya dengan penuh pecaya diri (dari berbagai sumber).