Rabu, 16 Mei 2012

Di Batas Kota


 Cerpen Effi Nurtanti

Mestinya   aku biarkan saja  semua yang menimpaku  berlalu begitu saja, tanpa singgah barang sedikitpun  di sudut hati. Sehingga jadilah aku manusia yang terbang bebas kesana kemari, sebebas angin kemarau menerjang siapa saja yang dihadapannya.  Bahkan tak akan kulepaskan sayap ini hingga kudapatkan penggantimu.  Tanpa adanya  sedikitpun  bayang  Angelina  yang selalu saja mencuri hatiku.  Apalagi kini  sebuah penantian memagutku  tak berdaya.                       
          Aku sendiri tak menyadari, bila Angelina selalu saja  bersembunyi  di balik kekagumanku. Hingga sebuah kenyataan yang ada didepanku terasa sungguh sulit kuterima. Masih saja ada tatapan harap yang selalu membentur semunya batas pandang. Angelinapun pergi entah kemana. Lantas apa yang dia miliki dalam hatinya, apakah hanya bunga sedap malam, ataukah aku yang dungu , yang hanya mampu terbujur di keputusasaan.
            Tahun pertama sebuah perpisahan terasa belum seberapa lama,  sebuah kado ultah Angelina yang ke 23 pun sempat aku beli dan kuterbangkan hingga ke Ujung Pandang menyusuri kenangan bersama dia,  kala dia mengajaku berliburan di rumah Tante Rosa. Kembali aku merasakan kedua kakipun terasa telah terjerambab ke dasar bumi, kala Tante Rosa mengabari bahwa Angelina telah pindah ke Sidney , merengkuh bahagia bersama pria bule.
            Tapi memang dialah Angelina, yang memang pantas menerima kebahagiaan seperti itu.Menapaki maghligai bahagia dengan pria yang mampu membahagiakan dia segalanya. Semoga saja Angelina mampu memiliki dunia ini dengan segala kekurangannya. Atau kekurangan apapun yang dia terima, mampu disikapi dengan kelapangan hatinya yang seluas dunia.
            Moga saja Tom suaminya mau menerima Angelina apa adanya, menerima sesuatu yang dimiliki Angelina dengan segala kekurangannya, dibalik kecantikanya. Karena hanya aku saja yang selama ini mampu menerima kekurangan  Angelina, karena sebuah janji sempat aku torehkan didepanya dengan saksi air matanya yang membasahi bahuku. Kala dia menerima hasil diagnose dokter yang menemukan adanya kanker ganas yang bersemayam di organ dalamnya.
            “Marcell, aku harus mengucapkan selamat tinggal untukmu”. Kalimat darinya masih saja menghuni telingaku, meski telah satu tahun lamanya.
            “Tenanglah dulu, Lia !. Jangan berkata kaya gitu”
            “Aku harus ngomong gimana, bacalah hasil lab PA ini. Oh Tuhan kenapa begini !”
            Sebuah pelukan lebih hangat dan rapat membuat akupun tidak ingin kehilangan dia hingga kapanpun. Aku baca hasil lab itu, dan tertera jelas catatan  dr. Isa yang merekomendasikan adanya kanker ganas di antara organ organ dalamnya. Dan catatan medispun merekomendasikan dia hanya mampu bertahan 5 tahun. Sebuah petir menyambar hati ini, hingga lemaslah seluruh badanku. Namun aku harus menunjukan ketegaran sebagai Marcell yang harus mampu menjadi tempat berlindung Angelina.
            ‘Oh Marcell, bagaimana ini ?”
            “Kamu harus bersabar Lia, tentu saja yang mampu menyembuhkan adalah ketegaran kamu sendiri “. Dadaku terasa sesak saat Angelina menumpahkan kesedihan dan kegetiran hatinya dengan memeluku erat. Sementara seluruh tubuhnya tergoncang, lantaran Angelina belum mampu menerima kenyataan ini. Sekarang  telah lima tahun berselang, aku telah berusaha menambatkan bahtera hidupku dengan gadis pilihanku yang mampu menyirnakan bayang kehadiran Angelina, namun selalu kandas dan berakhir dengan perpisahan. Selalu saja kekelaman aku dapatkan sama seperti yangh ditorehkan Angelina.
            Memang tak semestinya aku terus ditelikung bayang Angelina, aku laki laki yang sudah sepantasnya menggenggam dunia dengan ketegaran hati dan kekokohan langkah. Hari demi hari baying Angelinapun tertinggal jauh, Sebuah langkah percaya diri dan gentle kembali aku dapatkan sebagaimana layaknya seorang laki-laki.
            Hingga datanglah Rully, yang membuatku kembali lagi terbangun setelah lima tahun mengalami mimpi buruk terpasung Angelina. Sebuah rumah mungil di pinggir Kota Semarang telah menjadi saksi bahwa bahtera yang aku miliki telah menambatkan diri di tepi pelabuhan hati Rulli. Berbagai suka dan dukapun menjadi saling berbagi.  Layaknya saling bergantinya temaram senja dan fajar di ufuk timur. Meski kebahagiaan Rully dan aku belum lengkap tanpa kehadiran seorang putrapun.
            Rullylah yang paling merasakan kekurangan ini.  Begitu besar kerinduan dirinya akan kehadiran seorang  putra. Bahkan kerinduan ini semakin lama semakin menggrogoti hatinya. Hingga pada akhirnya diapun meminta sebuah perpisahan. Mungkin saja Tuhan berkenan menciptakan hambanya yang memang sanggup menerima cobaan  yang tiada kunjung reda. Disaat sisa umurku yang menipis sebuah perpisahanpun masih saja melekat dalam hidupku. Namun sebuah kodratlah yang menginginkan perpisahan ini, karena merawat benih dalam kandungan, melahirkan dan mengasuh anak hingga dewasa adalah dambaan tiap wanita. Akupun melepas kepergian Rully dengan sebuah keinginan agar hatiku  mampu setegar karang dilautan.
            Rumah mungil di batas kota itupun kini lengang, berisi sebuah episode tentang sketsa hidup seorang manusia, yang berdinding putih kelabu, beratap asa yang tiada bertepi dan berlantai sebuah kekokohan yang terukir selangkah demi selangkah. Namun biarlah rumah mungil di batas kota ini nantinya aku harapkan masih bisa menjadi saksi perpisahan diriku dengan dunia yang penuh kepalsuan. Entah sam[pai kapan waktunya

Mawar Wulan


Cerpen Effi Nurtanti

Pagi- pagi benar Mawar Wulan mengusung  gelisah bukan kepalang. Meski lingkungan di sekitar rumahnya masih tertutup kabut,  dia tak memperduikanya. Dengan langkah kaki yang gesit, dia terus menebas  butir butir air halus yang menghadangnya, menyelusuri  jalan beraspal yang ada di depanya dan masih terpagut sepi dan dingin, namun kaki yang hanya beralas sandal jepit dengan egonya terus saja menggilas aspal yang sudah mulai pongah itu.Entah apa yang akan dilakukan wanita yang masih lajang di pagi hari itu. Batuk batuk kecil yang terus saja melekatnya itupun tanpa dia pedulikan.

Tepat di pintu gerbang rumah Bu RW Mawar mulai melambatkan langkah kakinya, pintu besi yang sudah berkarat baru saja berhenti berderit. Rumah Bu RW masih lengang dan hanya sebelah pintunya yang kuno itu sudah terbuka. Terbesit dalam sanubari Mawar Wulan perasaan canggung dan takut merepotkan Bu RW. Tapi perasaan itu kembali ditelikung dalam hatinya, kala Bu RW sudah menyambutnya dengan senyum yang renyah di tengah pintu model jawa kuno itu.

“Ah, maafin Mawar bu!, pagi pagi sudah merepotkan !”

“Justru aku yang minta maaf,  merepotkan Mba Mawar !”

“Sama sekali tidak bu !, cuma aku penasaran sejak kemarin sore. Tentang tujuan ibu ibu PKK ke rumah saya bu !”

“Oh, masalah itu , Mba Wulan !, iya memang ibu-ibu itu sedang bingung tentang kedatangan Bill Clinton yang rencananya akan mengunjungi kampung kita “

“Lalu, apa yang bisa aku bantu, Bu RW ?”

“Maaf !, Mba Wulan masih kerja di restaurant eropa ?”

“Betul, Bu RW, mesti ini masalah menu, ya bu !”

“Betul mba!, Pak lurah menyarankan agar kita menjamu makan siang mantan Presiden Amerika itu !.Mba Wulan saya pikir tahu  betul tentang menu orang Amerika dan Eropa. Maka kami kemarin datang ke rumah”

“Mesti ibu bingung menu jamuan tamu besar itu, iya kan ?”

“Betul mba!, ibu ibu PKK yang mendapat tugas menyediakan jamuan  tamu bule-bule itu  menjadi bingung, enaknya menu untuk Clinton itu apa ?. Apa Hotdog, Piza atau apa?. Menurut Mba Wulan enaknya menua apa ?”

“Kenapa mesti bingung-bingung, bu ?. Kala orang besar seperti Bill Clinton itu sudah bosan dengan hidangan ceremonial seperti itu !”

“Ya, terus enaknya bagaimana !”

“Kita kan banyak memiliki menu yang sudah mendunia seperti nasi goreng, sate ayam. Apa salahnya bu, kita promosikan pada tamu-tamu eksekutif Bill Clinton’s Foundation nantinya, atau boleh juga kalau kita hidangkan  tiwul, getuk dengan menu snak seperti resoles, kue lapis dan masih banyak lainnya, iya kan Bu RW ?”

2
“Ah, masa iya sih mba !, bule-bule doyan menu seperti itu ?”
 “Iya bu !, aku sudah sejak lulus SMA bekerja di Zona Zero Europe Restouran, kebetulan sekali aku sering menemukan bule-bule yang minta menu tradisional yang aneh-aneh “

“Aneh-aneh seperti apa, Mba ?”

“Bayangkan saja Bu RW!, waktu serombongan wisman Middle Java Reuni dari Jawa Tengah mampir ke Jakarta dan singgah di restaurant kami, sebagian besar mereka malah memilih menu tradisional, seperti sayur asam, kelapa muda bahkan ada yang minta dawet. Mereka semua sudah bsan dengan aneka bakery, Dennis Donuld, Humberger dan.... !”

“Apa iya, mba. Jangan jangan Bill Clinton juga senang dengan menu seperti itu, ya Mba Mawar ?”

“Bisa saja to, bu !. Bisa juga dia meniru seperti Presiden Obama yang malah minta bakso dan nasi goreng dengan lauk krupuk, hehehe…”

“Tapi baiknya kalau Mba Mawar tidak keberatan, siang ini  kita ke Pos Posyandu, untuk gabung dengan  ibu ibu lainya yang rencananya jam 9 siang ini rembugan masalah persiapan Bill Clinton. Oh, ya Mba !, rencananya juga Bu Hillary Clinton  akan kita ajak ke Posyandu untuk mengamati kegiatan ibu ibu Dharma Wanita “

Mawar Wulan yang hari itu memang lagi off hanya menganggukan kepalanya, tapi lain lagi dengan Bu RW yang hanya bengong saja mendengar kenyataan yang disampaikan oleh sang maestro lajang itu. “ Masa tamu seperti Bill Clinton  dan rombonganya mau menyantap menu tradisional. Tapi…entahlah”.

***

Mereka siang ini berkumpul  di Posyandu yang tidak seberapa luasnya, hanya sebuah ruangan yang berukuran 4 x 6 meter. Sebagian ibu-ibu anggota Dharma Wanita sejak pagi tadi sibuk membersihkan rumput dihalaman posyandu yang sederhana itu, sebagian lagi menggunakan sapu panjang membersihkan atap lantai bahkan terdapat beberapa ibu ibu yang dengan cekatan mengecat tembok yang mulai lusuh dan berdebu.Mereka sebenarnya sama sekali tidak menduga bahwa kegiatan mereka semua selama dasa warsa ini telah menarik perhatian staf Bill Clinton’s Foundation yang ada di Indonesia.

Ternyata  keterpurukan kita di berbagai sendi kehidupan telah menarik tokoh pemerhati dunia seperti mantan Presiden Amerika itu, tetapi hal yang paling menarik perhatian dunia adalah aktifitas mandiri ibu ibu  seantero Bumi Nusantara di bidang kesehatan ibu dan anak, termasuk penimbangan bayi, pencanangan pemberian vitamin kepada anak, Keluarga Berencana dan lain sebagainya dan salah satu dari ribuan kegiatan mandiri ibu ibu tersebut, ternyata  Kelompok Dharma Wanita Kenanga Jakarta Selatan yang dipilih oleh tokoh dunia itu untuk melihat dari dekat.

Kedatangan Bu Rw dan maestro menu masakan eropa dan AS itu, sempat membuat semua ibu-ibu yang bersemangat menjadi menyurut. Semua berhamburan keluar seperti anak ayam yang menemukan induknya. Semua mengemasi peralatanya untuk gabung dengan diskusi yang hangat, tawa renyah santai di hari Minggu yang terik itu.

“Ibu ibu !, sebaiknya hari ini kita tuntaskan saja rencana perjamuan untuk tamu-tamu bule kita. Selain Bu Lilis yang sudah pengalaman catering masakan eropa, kebetulan kita
3
kedatangan tamu Mba Mawar yang kerja di restauran Eropa. Kita tentukan saja menunya setelah itu kita bicarakan lainnya”

“Kita tentunya harus melihat dana kita, iya kan Bu RW ?” seru Bu Dirman yang mendahului diskusi hangat.

“Tentu saja Bu Dirman !. Apalagi biaya perjamuan ini kan dari kas kita yang tidak seberapa “ jawab Bu RW.

“Itulah masalahnya bu !, kita menjamu tokoh dunia dan pejabat lainnya, padahal dana kita hanya pas-pasan “ Bu Gatot mulai memaparkan kendala yang selama ini menjadi beban wanita wanita pejuang itu.

“Nanti dulu ibu-ibu, untuk menjamu Bill Clinton bukan sebagai pejabat negara,   tentunya kita tidak usah menghidangkan menu yang resmi ?”

“Tapi kan  rencananya nanti Bill Clinton akan diterima  Pak Walikota. Terus bagaimana ini ?. Mba Mawar ?” Bu Handoko tidak mau kalah karena hatinya masih dipenuhi rasa penasaran.

“Bu Handoko !, Yayasan Bill Clinton itu hanya LSM biasa. Kedatangan beliau juga bukan sebagai tamu negara!, kalau kita menjamu dengan jamuan yang sederhana, tapi hygeinis, kan tidak masalah ?”

“Lho…lho..nanti kalau tamu-tamu itu tidak berkenan, kita yang kena dampaknya “seru Bu Dirman.

“Ini gimana !. Mba Mawar ?”pendapat Mawar kali ini dibutuhkan sekali oleh Bu RW.

“Begini, ibu-ibu !. Tujuan Bill Clinton ke posyandu ini kan, karena rasa simpatiknya beliau dengan kemandirian kita. Kita terbiasa dengan kegiatan yang swadana dan swakarya. Inilah yang harus kita buktikan ? dan nantinya kalau Yayasan Bill Clinton merespon positif, kita bakal menerima dana bantuan 250.000 dollar.”

“Huu..besar amat dananya mba ?” kekaguman BU RW tak sadar terlontarkan lewat bibirnya begitu saja.

“Wah, bisa untuk membuat poliklinik kecil-kecilan, kita bisa  tambah maju, ya Bu RW ?” ucapan Bu Samsudin dan Bu RW tadi menyeringaikan senyum sebagian besar hadirin diskusi itu.

“Lantas, apa hubunganya dengan menu yang akan kita hidangkan, Mba !” tanya Bu Handoko.

“Inilah yang akan kami sampaikan pada ibu-ibu ?”seru Mawar Wulan sehingga semua yang hadir di diskusi siang itu menjadi diam seribu bahasa. Hanya senyum Bu RW saja yang menyemaraki diskusi maestro maestro amatiran itu.

“Ah…sepertinya ada yang penting sekali sih Mba Mbawar ?” Bu Handoko adalah salah satu peserta diskusi yang masih penasaran.

“Ibu ibu jangan salah paham, aku kebetulan sering bertemu dengan tim yayasan itu di restauranku. Mereka sama seperti kita, menu untuk makan kadang kadang seperti kita,

4
tidak perlu seperti Piza, Spagheti, Hamburger atau Hotdog atau Dunkey Donnats. Mereka malah senang sop, ayam bakar atau malah pecel lele, yang penting bersih dan hyegenis, betul lho bu !”

“Ah, masa iya ?” jawab Bu Dirman.

 “Apa Bill Clinton doyan kue kue buatan kita sendiri ?” tanya Bu Dibyo

 “Tapi kita tidak main-main lho, Mba Mawar ?”

“Ibu ibu waktu kunjungan Bill Clinton ke Denpasar  beberapa tahun lalu, bagian rumah tangga kepresidenan juga menyediakan makanan tradisional buatan kita sendiri. Justru makanan seperti itulah yang banyak dipilih oleh tamu asing”

“Makanan seperti apa, Mba Mawar ?”

“Ya, cuma lemper, lumpia dari Semarang, kue lapis, getuk, makanan dari ketan. Lho dalam even seperti itu kan bisa digunakan untuk promosi makanan asli Indonesia”

“Kok bisa ya Bu, aku tadinya  malah punya pendapat untuk menjamu Bill Clinton dan stafnya dengan jamuan snak dan makan siang dengan Piza, Spagheti, Hamburger atau Hotdog atau Dunkey Donnats. Tapi itu nggak menyinggung tamu tamu kita kan, Mba ?”

“Lho, justru kita tampilkan kemandirian kita untuk memperbaiki gizi masyarakat. Coba dong nanti kita paparkan ini semua pada Hillary, pasti dia senang, aku yakin !”

“Tapi siapa yang ngomong nanti, Bu?”tanya Bu Dibyo.

“Lho Bu Dibyo kan guru bahasa Inggris SMA, aku minta tolong sama ibu, siap?”pinta Bu RW

“Siap bu !”

“Kalau gitu nanti kita masakan saja bebek goreng, gimana ?” Bu Hasan mengajukan permintaan.

“Pecel lele saja !” seru Bu Handoko

“Sayur asam dan  sambel  !” seru Bu Samsudin

“Ibu-ibu yang penting sudah kita sepakati tentang menu makanan tradisional untuk Clinton. Tentang menunya apa kita sesuaikan dananya saja, gimana ibu-ibu ?” Bu Rw minta persetuan hadirin.

“Setuju “ jawab mereka semua serempak

“Terimakasih. Mba Mawar ?” Bu RW mengulurkan tangan untuk menyalami Mawar Wulan yang menyambutnya dengan senyuman berseri ***

Selasa, 15 Mei 2012

Tentang Sukhoi


Masyarakat awam merasa kesulitan bila menghafal jenis jenis pesawat yang ada di dunia ini. Jangankan untuk  menghafal nama pesawat, melihat dengan mata kepala sendiri wujud nyata dari pesawat itu sendiri sebagian besar masyarakat kita belum pernah melihatnya,  Yang jelas sebuah alat transportasi jenis pesawat, adalah jenis transportasi  capaian  iptek multidisiplin yang komplek. Terhadap jenis transportasi pesawat ini, jelas melibatkan factor prototype design, aerodimika, tehnik mesin, sistim navigasi satelite, komputerisasi instrument vital dan lain sebagainya dan aspek yang tidak bisa ditinggalkan dalan rancang bangun pesawat tersebut, yaitu aspek komersialisasi. Sebab menjual satu buah pesawat, bukan hanya menjual prototype pesawat begitu saja. Tetapi menjual sebuah pesawat kepada pihak lain adalah sama saja dengan transfer iptek kepada pihak pembeli.

Pihak pembeli (negara atau perusahaan maskapai swasta) di manapun berada,  tidak segan segan mengulurkan tangan kepada pihak manajemen pembuat pesawat yang inovatif, untuk menerima tawaran unjuk kebolehan tiap pesawat yang baru di rancang bangun, dengan inovasi mencakup aspek ekonmis, maintenan, suku cadang dan kriteria landas pacu yang paling tidak merepotkan petugas bandara.  Dengan adanya kompleksitas yang tinggi, yang harus dilibatkan bagi calon pembeli guna penentuan pesawat yang dipilihnya, maka lahirlah sodoran dan rayuan dalam bentuk yang bervariasi dari manajemen perancang bangun.

Namun tetap saja secanggih apapun software yang menjadi rohnya pesawat canggih ini tetap saja masih kalah dengan software yang melekat kuat pada diri manusia yang setia dari  manusia itu lahir. Apabila kompleksitas software manusia yang ada di balik iptek setinggi apapun (man behinh the gun) mengalami gangguan fungsi, maka capaian iptek manusiapun tak akan berarti apa apa. Kita tentunya masih ingat peristiwa tewasnya 7 astronot  dalam kecelakaan pesawat ruang angkasa Chalenger pada tahun 1986. Pesawat Chalenger tersebut meledak setelah 73 detik meluncur di  ketinggian 14.000 meter dan menewaskan 7 astronotnya, yaitu  Judith Resnik, Ellison Onizuka, Ronald McNair, Payload Specialists Gregory Jarvis dan Christa McAuliffe. Saat itu tanggal  28 January, 1986, silam  Challenger mengemban misi  - STS 51L untuk bergabung dengan 2 satelit. Mereka kemudian hancur di  Kennedy Space Center, Kegagalan tersebut disebabkan karena kegagakan fungsi sil pada udara pendingin  sehingga menyebabkan udara panas bertekanan tinggi meledak. Misi lain yang menelan korban jiwa, karena aspek human error adalah misi Apollo 1 tahun 1967, yang mengalami kebakaran sebelum sistim berhasil meluncurkan roket. Kecelakaan ini menimbulkan 3 astronot tewas (BBC News, Januari 2011).

Oleh karena itu meski kita bukan termasuk negara perancang bangun pesawat pesawat jenis air bus seperti Sukhoi Super Jet atau Boeing, Antonov dan lain  sebagainya. Namun terhadap kesigapan, ketelitian, tanggung jawab, dan mentalitas lainnya dari semua pihak yang bergelut dengan apa saja yang berhubungan dengan keselamatan dan kenyamanan penumpang, harus selalu dikedepankan dan terinternalisasi dengan kuat, menjadi sebuah etos kerja yang kokoh. Sehingga korban korban Sukhoi yang memilukan di Gunung Salak menjadi tak terulang lagi***

sebuah harap kau berikan


pada gugusan bintang gemintang
pada sekumpulan lampion kertas warna warni ; menghantarkan
dirimu menuju “altar suci” untuk sebuah ikrar; senja tak lagi merebah
menuangkan sisi hatinya pada perahu layar; yang selalu mengencang
sorot matanya; ombak ombak berdesis bisa
yang melumpuhkan lambung perahu; kau jaga tautan perjalanan
pada empat penjuru langit, di sana aku mengayuh angin
merapikan pematang sawah

kau masih menyisakan suara sayup
gamelan jawa yang memantul dari sisi cakrawala tentang
tembang tembang kasmaran milik penghuni  di balik awan
awan putih bersih,
akupun hanya merasa sengau; namun aku biarkan
semuanya bermatomorfosis dengan ikatan bunga dan bulan

(Effi Nurtanti, Semarang 16 Mei 2012).




merpati merpati liar


merpati  merpati liar itu ……
menukikan sorot mata, melipatkan sayapnya
 panas dan garangnya atmosfer tak lagi mengirim seloroh
saat buaian panjang dari sisi langit
sempat melebarkan sayapnya yang berjanji takan mengoyak
sayap sayapnya yang ringan berbalut nyanyian suka
lantas kegalauan sang bagaskara, membuatnya lepuh semua sayapnya.

merpati di awal hari hari yang digulirkan bumi,
tak lagi merengkuh keranjang keranjang untuk menawan
angin tenggara, yang penuh rona ayu
dan bergurat lukisan dewa dewi dari negeri kahyangan
merpati membuang jauh jauh keranjang hanya menepis terkaman
kemarau kering dari perjalanan panjang

merpati menawarkan kicauan saat dia merajang kasmaran
namun terdengar parau, bentangan hidup di bumi
lebih beraut muka bengis dan durjana ketimbang “solar flare”
merpatipun mengepak sayap,
namun hanya satu dua makna hidup yang melintas
di benaknya yang berenda hitam putih, kemunafikan di antara pelangi
yang membentang pada tebing tebing menunduk wajahnya.

merpati tak tahu lagi garis bujur
yang membedakan episode tentang bumi ini, tapi terus lurus
menerjang batas yang dia tak tahu artinya
merpati, menjadi tersudut dalam ruang dan waktu bumi
jarum detik ikut menguliti semua nanar matanya
rembulanpun hanya memberkasi sinarnya di balik awan

merpati hanya ingin bernaung….
pada gelak tawa tak ada dusta di pesta bulan purnama
seperti di Indrakila berhalaman pagi bunga setaman
kala bening embun pagi, membagi harinya
menyodorkan ssecangkir cinta pada kekasihnya
namun hanya legam yang membalut sayapnya,

merpati kini merentang sayap
terbang tinggi menuju istana di balik awan
tak menyisakan lagi galau

(Semarang, 15 Mei 2012)