Tengah hari Kota
Semarang dibanjiri semburat sinar mentari yang panas membakar. Debu debu
berceria dan berkejaran di hempas roda roda kendaraan besar, layaknya monster
yang haus akan mangsanya. Jalan jalan aspal berkilauan memantulkan sinar
matahari yang tegak lurus menikamnya. Peluh dan sorot mata berang memenuhi semua
insan yang mengais selembar demi selembar harapan untuk melonggarkan nafas.
Guna menggenggam hidup.
Pertengahan
Bulan Oktober ini, alam lebih senang mengerlingkan matanya pada bumi dengan
kerling mata yang kering tiada dibasahi hujan setetespun. Sementara bumi sudah
mulai melekangkan tubuhnya, mengeliat dengan panas yang mengungkunginya. Meski
baru dua minggu hujan besar telah menyelinap di wajahnya. Namun kini bumipun
sudah mulai menunjukan kegerahanya.
Apalagi bagi Herlambang yang tiada selembarpun kesejukan bersemayam di hatinya. Di tengah deru dan debu
hidupnya, wajah Raras yang kini merantau ke negeri jiran selalu berada di
benaknya. Setelah kerja setengah hari pada hari sabtu siang, sambil menunggu
kedatangan anak anaknya pulang sekolah, selembar lamunan terus memagut anganya.
Mengapa dia membiarkan istrinya menjadi TKI di negeri sebrang, yang hanya
meninggalkan kepedihan itu. Apalagi bila malam tiba, saat Ririn putri
bungsunya, memeluk tubuhnya kencang-kencang, lantaran dia tidak mau kehilangan lagi tempat berlindung. Setelah
mamanya meninggalkan mereka demi selembar kehidupan .
Masih membekas
dalam relung ingatanya, kala dia selalu menyodorkan egonya, menghempaskan
harapan Raras untuk membina maghligai rumah tangganya dengan lengan lengan
mereka yang tiada seberapa kokohnya. Kala dia pernah memberi janji manis pada
gadis pedagang jamu gendong di KotaSemarang, untuk memberikan
segala kehidupanya demi membangun gubug mungil berhalaman taman bunga, meski
hanya kembang sepatu, bakung dan nusa indah. Betapa indahnya hidup yang berisi
penuh dengan gambaran fantasi itu dan Ririnpun menjadi hanyut terkulai di
pelukan Herlambang.
Maghligai penuh
kasih mereka tambatkan dalam rumah mungil meski berdidnding bambu. Dalam gubug
bambu itu, selalu terdengar canda anak anak mereka yang mungil, imut, cerdas
dan manja. Tangis sang anak adalah ibarat penyejuk saat hati merasakan getirnya
kehidupan. Itulah yang diberikan Herlambang kepada Raras, meski hanya sebuah
janji.
Masih membekas
pula kala dia hanya mampu menghabiskan gaji bulananya di meja judi berteman
botol botol miras yang hanya dingin membujur, saat dia kalah dan kalah terus
hingga mengikiskan akal sehatnya. Membenamkan seribu janji yang pernah dia
sodorkan kepada Raras tentang hidup di tengah gubug bambu namun berornamen
kesahajaan dan kasih saying yang tulus.
“Bapak Ririn
pulang “ sebuah suara lembut dan manja mengagetkan selembar lamunanya di siang
hari. “Ririn sudah di kasih rapotsama
bu guru dan suratuntuk Bapak. Baca ya Pak. Dan Bapak di tunggu
bu guru di sekolah ?’
“Ya Sayang,
Bapak besok ke sekolah, mana rapotmu, sayang !. Biar Bapak lihat ?”
“Tapi Bapak
masih marah ?”
“Oh Ririn
sayangku, Bapak sudah nggak marah lagi, ya sayang !. Bapak tadi malam marah
sama kakak kakakmu yang bandel”
“Baguskan
rapotnya Ririn, Pak ?”
“Iya dong, anak
siapa dulu “
“Nanti rapotnya
di kirim ke mama ya Pak. Biar mama tahu rapot Ririn. Kapan mama pulang, Pak ,
Ririn kangen sama mama ?”. Air mata bening kini berada di kedua mata bocah yang
hanya mengerti ketulusan hati. Air mata yang hanya datang dari hati yang paling
dalam.
Herlambang
kinipun tersudut di ketidaktahuan. Bagaikan bocah kecil yang tersesat di padang luas tak tahu arah.
Kala menerima permintaan dari Ririn samudra hidupnya.
“Pak, janji sama
Ririn ya, cepat cepat menyusul mama “ Suatu pertanyaan yang paling mengiris
hatinya kini datang lagi,dari bocah yang lugu dan tidak sepantasnya jauh dari sisi
mamanya.
“Iya sayang,
besok Bapak ke sekolah kamu dan habis itu Bapak menyususl mama. Nanti Bapak
belikan baju baru, ya ?”
“Nggak mau, Pak.
Ririn hanya mau mama pulang !”.
Anak
kesayanganya itu masih dalam gendonganya, namun hatinya kini memenuhi isi
langit, mengembara jauh tiada tepi untuk menemukan seribu cara meminta
kepulangan Raras yang entah di mana. Tiada selembar suratpun dia terima setelah
perpisahan mereka.Ririnpun terkulai tidur di bahunya yang legam da kokoh.
Sementara itu Iwan putra ke duanya dengan langkah terburu menghampirinya,
sambil terengah berusaha mengatur nafas.
“Ada apa, Wan ?”
“Pak, aku tadi
di sekolah dikasih uang ?”
“Siapa yang
ngasih uang kamu ?”
“Nggak tahu,
Pak. Dia mengaku teman mama di Malaysia.
Dan kini dia pulang ke Indonesia
dan nggak tahu dia ngasih aku uang untuk Ririn, aku dan Mbak Winda ?”
“Namanya siapa
?”
“Namanya Tante
Lilis dan dia memberi alamat aku, katanya rumahnya di Kalisari, ini pak
alamatnya. Untung Iwan tulis di buku alamatnya Tante Lilis. Janji ya Pak !,
nanti jemput mama ?”
“Bapak nanti
akan jemput mama, tapi Bapak nyari alamat Tante Lilis dulu. Eh..jangan ngomong
sama Ririn dulu, ya..janji !”
“Iwan janji, Pak
asal Bapak mau jemput mama secepatnya”
Semula Lilis
ragu dalam hatinya setelah bertemu dengan Herlambang, di rumahnya. Apakah pria
yang ada didepanya kini adalah suami teman akrabnya di Malaysia. Namun perasaan ragu kini
telah hilang setelah mereka berdua larut dengan perbincangan mengenai Raras.
“Dia memang
kecewa dengan dirimu,Mas “
“Akupun mengerti
perasaan Raras, namun demi anak anak aku harap dia mau kembali ke Indonesia.
Dan akupun sudah tidak seperti dulu lagi, aku adalah manusia yang punya hati.
Sepeninggal Raras,kesedihan dan rasa
rindu mereka bertiga sungguh mengiris hati ini. Maka aku akan kirim surat padanya agar mau
berkumpul dengan mereka yang masih kecil”
“Bukan hanya
anakmu saja yang menangis. Sering pula aku menjumpai Raras menangis, merindukan
mereka bertiga”
“Tetapi mengapa
dia tidak segera kembali “
“Raras segera
mengurungkan niat kembali ke Indonesia
bila ingat perlakuanmu padanya, Mas !”.
“Apakah tidak
ada kesempatan bagi saya untuk membuktikan janji aku sama Raras?. Maka tolong
Jeng Lilis, beri aku alamat Raras. Walau bagaimana dia adalah istriku “
“Tapi, Raras
melarangku untuk memberimu alamat “
“Kalau memang
tidak ada kesempatan untuku, suruhlah dia kembali, Jeng demi anak anak.
Terutama untuk Ririn”
Saat Herlambang
menyebut nama Ririn,seketika itu pula
terlibat butiran air mata Lilis memenui seluruh rongga matanya. Lilis mampu
membayangkan betapa tersiksanya Raras di hampir setiap malam tiba,kala teman karibnya menahan rindu yang
mendalam.
“Bila Jeng Lilis
tidak mau memberiku alamat, tolonglah kirimi dia surat, sampaikan padanya bahwa betapa
menderitanya Ririn kehilangan dia. Bila dia tidak mau bertemu aku lagi. Bawalah
Ririn dan kakak-kakaknya sesuka dia, meski hatiku berat ”. Herlambang adalah
pria yang kokoh hatinya, namun menghadapi kenyataan ini semua Herlambang tak
lebih sepertibocah cilik yang
kehilangan mainan.
“Baiklah Mas,
aku beri nomor Hpnya, pakailah hpku saja supaya dia mau membuka,biar Mas bisa menyampaikan sendiri ?”
Dengan tangan
gemetar Herlambang memegang Hp Lilis, kini hatinya merasa tak percaya ketika
sebuah suara yang paling dia kenal memenuhi semua pendengaranya.
“Ras, tolong
jangan di tutup Hp ini. Aku Herlambang, tolong Ras aku ditunggu anak anak untuk
mendapat jawaban darimu. Terutama Ririn yang tiap malam mencarimu”
“Untuk apa lagi,
Mas. Bukankah Mas dulu mengusirku pergi,
Bukankah keberangkatanku telah minta ijin Mas, lagi pula Mas dengan dingin
memintaku pergi sejauh yang aku suka”
“Raras, itu
dulu. Aku tidak akan seperti itu lagi”
“Aku sudah tidak
percaya kamu lagi, Mas !. Sejak kapan manusia sepertimu bisa memegang janji.
Aku rela berpisah dengan anak anak karena janji yang kau lupakan. Bahkan dirimu
memperlakukan aku…….”
“Ras, aku
menyesali itu semua, setelah tiap malam Ririn dalam pelukanku dan selalu
menyebut namamu di tengah tidurnya. Kau kan
istriku, kaulah yang paling berhak memeluk Ririn kala malam tiba “
“Setelah aku
kembali dan Ririn bersamaku lagi, kau bebas memperlakukanku lagi ?”
“Aku harus
berkata apa lagi, bila kau terus seperti itu, Oh ya tadi Ririn menyuruhku
mengirim rapotnya, dia naik kelas dua. Ririn tadi mengambilrapot bersama dengan kakeknya. Dan besok aku
harus ke sekolah memenuhi panggilan gurunya”
“Dia bisa naik
kelas dengan catatan harus banyak mendapatkan perhatian khusus dari ortunya.
Aku laki laki Ras, tidak mampu memberi perhatian selembut dirimu. Maka
kembalilah demi Ririn “
“Jangan kau
harap aku akan kembali. Tapi tolong, Mas kirimkan copi rapotnya Ririn”
“Mengapa sama
sekali kamu tidak mau kembali di tengah anak anak. Aku yang salah bukan mereka
Ras. Demi kebagiaan kamu dan mereka,meski berat hati aku rela mereka semua kau
ajak pergi. Ini memang sudah sepantasnya buat aku, Ras !”
“Tapi aku sudah
tidak bisa menerimamu lagi, Mas !”
“Itu hakmu!,
yang penting anak anak bisa berkumpul denganmu lagi. Aku rela kehilangan
semuanya”
Herlambang tidak
berani meneruskan lisanya lagi, kala sebuah isak tangis membahana di Hp Lilis.
Herlambang menjadi tak mengrti mengapa hari ini kehidupanya penuh diwarnai isak
tangis. Sebuah renungan mendalam menghiasi kalbunya, hingga menghasilkan niatan
yang kuat untuk membenahi kehidupanya, bersama istri dan anak anaknya. Sebuah
niatan untuk memyodorkan sebuah realita tentang rumah mungil berhalaman taman bunga,
seperti yang dulu pernah dia janjikan.
“Ras, beri aku
janji kapan kau akan kembali. Sebelum aku ke rumah Jeng Lilis, aku telah
berjanji kepada anak anak tentang kedatanganmu”
“Mas, kamu
pulang dulu. Catatlah nomor Hpku biar aku di rumah bicara sama anak anak”
“Ya, itu lebih
baik, Ras. Aku sudahi saja, Selamat berbahagia dan jumpa lagi”
***
“Bapak, kapan
mama pulang ?’ pekik Ririn dengan lucunya dan langsung menubruk tubuh Bapaknya
yang tinggi besar.
“Duduk dulu di
kursi ya. Nanti dengarkan sendiri janji mama”
Sebuah dering
panjang dari Hp Herlambang memenuhi tiap sudut ruang tamunya dan kini Hp itu
sudah berada di telinga Ririn. Ketiga anaknya kini bisa sepuas hati melepas
kerinduan mereka terhadap mamanya. Mereka menjadi puas hatinya kala mendengar
janji mamanya aka kembali ke tengah mereka minggu depan.
Waktu merambat
bagai anak panah melesat dari busurnya, dengan penantian yang dirasa panjang
ketiga anak Herlambang kini merasakan kehadiran mama mereka, terutama Ririn
yang tidak mau lepas bergayut di lengan wanita setengah baya yang cantik itu.
“Mas aku akan
bawa mereka ke Malaysia,
karena disanalah kehidupanku”. Suatu senja di beranda rumah. Raras mengajukan
sebuah permintaan
“Meski dengan
berat hati, silakan Ras, demi kebahagiaan mereka. Mereka sudah cukup menderita,
sekarang giliran mereka untuk menggapai bahagia bersamamu”
“Apa kamu tidak
kehilangan, Mas ?”
“Siapa orang tua
yang mau kehilangan anak , Ras !. Tapi andaikan kau melihat betapa menderitanya
mereka selama kau tinggalkan.Kamupun akan rela berkorban apa saja demi
kebahagiaan mereka. Apalagi semua ini karena salahku”.
“Apa karena kau
sudah jera direpoti mereka ?”
“Sesaat kamu
pergi, memang aku merasa mereka merepotkanku. Tapi itulah duniaku, itulah masa
depanku, kalau toh aku inginkan semua kembali bersatu. Sudah tidak ada gunanya
lagi, karena kamu sudah tidak percaya aku lagi”
Raras diam
seribu bahasa, kentara dia masih menyimpan ganjalan di hati yang sangat berat
untuk disampaikan kepada Herlambang. Herlambangpun mengerti perasaan istrinya
itu, yang melebih es dinginya selama mereka berjumpa lagi.
“Aku tahu
semuanya, Ras.Tidak usah kamu tutupi perasaanmu. Tidak usah kamu takut,
Herlambang dahulu dengan sekarang berbeda. Meski Jeng Lilis tidak crita tentang
ini, tapi aku bisa membaca isi hatimu. Tapi perlu kamu ketahui,merekapun tidak
mau lagi menerima arti sebuah kehilangan, apalagi selama ini akulah yang paling
dekat dengan mereka. Aku berkata seperti ini bukan untuk mengemis kehadiranmu,
tapi demi anak-anak.Karena mereka semua, adalah masa depan kita”
“Tapi
kehidupanku disana akan lebih menjanjikan, Mas !. Mereka tentunya akan bahagia
bersama kehidupan mereka yang baru”
“Sebaiknya kamu
jangan terburu buru menyimpulkan. Pintalah pada mereka satu per satu. Kalau
memang mereka mau,apa salahnya ? ”
“Betul, Mas ?.
Kamu tidak akan merasa kehilangan ?”
“Arti sebuah
kehilangan telah akrab dengan diriku sejak kecil, Ras. Sejak ditinggalkan
ortuku,kehilangan jati diriku dan kehilangan kamu “
“Kamu telah
berubah sekali,Mas “
“Ya, karena
berada di tengah mereka selama dua tahun. Penderitaan mereka telah
menyadarkanku dan mendewasanku. Justru perasaan itulah yang membuat aku siap
segalanya menerima semua kehilangan seperti yang kau pinta”.
“Tapi aku sudah
terlanjur melangkah, Mas ?”
“Itu,masalahmu,
Ras, yang penting kamu bahagia. Tinggal kini anak anak bisa menerima tidak.
Terutama Ririn, dia sekarang sedang mengalami penyembuhan psychology. Sebaiknya
kamu jangan melangkah terburu-buru”
“Ah…aku tidak tahu,
Mas !. Aku harus berbuat apa ? ”
“Bahagiankan
dahulu hati kamu di tengah mereka. Niatan menggapai hidup di Malaysia kamu tunda dahulu. Meski
sekarang kamu sudah di tengah mereka. Anak anak masih tidak percaya realita
ini. Ririnpun masih menyimpan rasa takut kehilangan dirimu lagi “
“Akupun kini mulai
ingat akan janji-janjimu dulu Mas. Tentang rumah kecil namun bahagia di tengah
tawa canda mereka. Seperti yang pernah kamu janjikan “
“Kamu tidak
sadar, Ras !. Bahwa janji janji itu mulai aku tepati. Setidak tidaknya kita
sering berkumpul bersama dengan mereka, tanpa ada yang merasa kehilangan.Hanya
kamu saja yang masih berniat menggapai kehidupan di Malaysia. Namun aku tak berani
menghalangimu, karena itu hakmu. Yang penting mereka bertiga berbahagia”.
“Akupun tau,
Mas. Namun kadang kadang aku masih tidak percaya ?”
“Maka waktulah
yang akan memberimu kepercayaan kembali”
Malampun mulai menyisihkan senja, rumah mungil itu
kini tidak perduli lagi terhadap datangnya malam. Karena kehangatan kini mereka
dapatkan kembali, setelah beberapa lama tercabik oleh derunya nafsu manusia.
Rumah mungil itu kini kembali diwarnai dengan halaman tempat taman bunga
bersemi.
Hujan turun dari
pagi. Membasahi udara malam yang terus saja menyisakan kedinginan. Laki – laki
separo baya itu lantas menepis kedinginan dengan menggapai baju hangat yang
lusuh, dan terlihat di berapa bagianya sudah terkoyak,. Deru mobil di jalan
depan warungnya sudah mulai berkurang jauh, warung kopinyapun tidak seperti
biasanya menjadi lengang. Rasa kantuk sebenarnya sudah dia rasakan sedari sore,
tetapi nasi dan lauk serta makanan rebus dan goranganya masih banyak yang belum
terjual. Padahal secercah penghidupan yang dia geluti, adalah menggantungkan
dari ini semua.
Namun hujan
tiada mau reda, meskipun sudah saatnya musim hujan berganti dengan musim
kemarau. Dengan muka bersungut-sungut laki-laki itu menggeliat kesana-kemari
merasakan penat seluruh tubuhnya. Istrinyapun sudah tertidur semenjak sore
tadi, lantaran sedari pagi sibuk memasak segala masakan untuk warungnya.
Istrinyapun segera merangkai mimpi, berisi sketsa yang terkanvas dalam hidup
yang dicitakan suami dan anak-anaknya.
Sekali lelaki
itu terbang dengan anganya, andaikata anak-anaknya mau menggantikan dia semalaman
di warung kopinya, tentu dia akan tidur menyusul istrinya yang mendengkur di
belakang warungnya. Namun mereka harus menyelesaikan sekolahnya hingga selesai,
agar nasibnya tidak seperi dia. Namun dibalik itu semua acapkali diapun tidak
percaya dengan dirinya sendiri, hanya dengan mengais nafkah dari sebuah warung
kopi kecil di pinggir jalan, tapi dia sanggup menyekolahkan Wanto hingga sampai
perguruan tinggi. Sementara Sofyan anak keduanya, kini telah lulus dari SMK dan yang terakhir
Wati masih duduk di kelas satu SMA. Lamunan
terus menggayuti anganya, hingga sebuah sapaan telah membangunkannya.
“Nglamun Bang!”,
suara itu tak asing bagi Norman.
Sebuah suara yang selalu mampir di warungnya tiap malam.
“Yaah, saat cuaca seperti ini sebenarnya aku sudah
enggan buka warung seperti ini , Yul ?. Tapi bagaimana lagi !”
“Ah, jangan gitu
to, Bang, yang namanya rejeki tetap saja harus dicari. Kok tidak seperti biasanya,
kini abang mengeluh”
“Umurku
bertambah terus, Yul !, tapi bagaimana lagi,anak-anak masih harus sekolah, semoga saja mereka tidak seperti orang
tuanya bernasib seperti ini”
“Abang adalah
manusia yang bahagia lho, punya anak anak yang pintar. Mereka semua tekun
bersekolah”
“Kalau aku ingat
itu, maunya terus saja buka warung 24 jam, yah semoga mereka berhasil, kamu mau
minum apa, Yul ?”
“Aku nggak punya
duit, Bang!, beberapa hari ini belum ada satu priapun yang boking aku. Nggak
usah lah Bang, aku Cuma mau nyanggong saja”
“Jangan gitu
dong Yul, kalau kamu nggak punya duit, nggak apa-apa. Kamu sudah lama jadi
langganan warungku, seberapa mahal sih Yul, Cuma nasi sama minum. Kamu pasti
lapar, iya kan
?”
“Tapi dagangan
abang kan
belum laku seharian ?”
“Adakalanya
memang rejeki seseorang memang disempitkan, namun aku tetap bersukur. Lantaran
beberapa minggu belakangan aku sampai kelelahan melayani pembeli. Malam ini
anggap saja malam untuk istirahatku.Ayolah kamu ambil sesukamu, kamu nggak usah
malu-malu”
“Trimakasih Bang
Norman, kalau saja di dunia ini semua orang seperti Bang Norman. Mungkin aku
tidak jadi PSK seperti ini, ya Bang!”.
“Entahlah Yul,
aku tidak pernah membeda-bedakan orang kok, Yang penting kamu harus punya
niatan untuk mengakhiri ini semua. Kamu kan
bertambah usiamu Yul“.
Normapun selalu
berangan bahwa apapun derajatnya, senista apapun profesi mereka, yang
gemerlapan layaknya kunang-kunang malam yang sesaat bersinar, mereka adalah
manusia biasa, yang tetap memiliki derajat yang sama. Hanya Tuhan saja yang
berhak menghakimi mereka, itupun bila mereka belum bertaubat kepadaNYA.
Hujanpun mulai
reda, namun malam telah merambat hingga melengangkan jalan di depan warung. Kota yang biasanya padat
dan berdebu disertai deru mesin, kini terbujur dingin, sedingin hati kunang
malam yang kini meratapi nasibnya. Kini hanya terdengar canda riang beberapa
kunang malam yang saling menghibur diri, derai senyum mereka semakin jelas
terdengar. Tak lama kemudian,merekapun
berkumpul di warung kopi Norman,
yang sekarang mulai menghangatkan warungnya, setelah seharian terbujur dalam
kedinginan.
Itulah kunang
kunang malam, beterbangan dengan seribu angan guna membunuh setiap kegetiran
hati. Mereka mudah berhamburan untuk memberi keceriaan, tapi sesaat merekapun berlarian
pergi menuruti kata hatinya. Dari dalam bilik tidur, terdengarlah desah nafas
istri Norman yang terjaga dari tidurnya dan
sekarang diapun ikut canda riang di warung kopi yang tidak seberapa luasnya.
“Maafin aku ya,
Mak!, aku mengganggu tidur emak !” , seru Ratih perempuan tinggi semampai, yang
berperawakan wanita gaul, namun terbelenggu himpitan hidup, karena ditinggal
suaminya yang berlalu begitu saja dan hanya meninggalkan ke dua anaknya yang
masih kecil.
“Nggak apa apa,
sebentar lagi emak juga masak, untuk sarapan bapak-bapak yang berlangganan di
sini”.
“Emak nggak cape
?” Tanya Wiwin dengan pandangan mata yang kosong, seakanmenyimpan kehampaan yang ada di hatinya.
Wiwinpun menjadi terbawa angan tentang emaknya di kampung, yang membanting tulang
sebagai petani desa demi untuk menafkahi dia dan saudara saudaranya. Namun
gairah cinta Wiwin yang membara, maka dengan mata gelap diapun menyerahkan
segala-galanya pada pria hidung belang, yangm,emberi seribu janji tapi juga meninggalkan dia begitu saja.
“Yaa cape to Win,
tapi gimana lagi !”
“Makanlah dan
buatlah kopi sendiri, kamu semua kan lapar ?,
Udara di luar dingin, ayo semuanya jangan malu !” pinta Norman
“Aku ngebon
dulu, ya Bang Norman ?, besok-besik aku bayar “
“He..he..ambilah
makanan yang kamu sukai. Kamu semua sudah seperti anaku. Jangan malu !” , pinta
istri Norman,
yang melihat mereka semua dengan hati yang iba. Mereka semua tentunya mengalami
kehancuran dalam hidupnya. Sebenarnya masih banyak diantara orang-orang yang
kelihatannya terhormat, tetapi sebenarnya memiliki derajat yang lebih rendah dari
mereka.
“Emak dan abang Norman , kok baikan
dengan kami yang hanya seorang wanita jalang, yang tiada harganya” seru Yuli.
“Apa kami semua
lebih suci dari kalian semua. Tuhanlah yang tahu harga seseorang” jawab Norman.
“Tetapi
orang-orang semua pada mencibir kami, Mak!”
“He..he manusia
hidup di dunia memang nggak ada benarnya, yang penting kalian semua mau belajar
dagang, apa kerja, apa nglamar di pabrik. Anak anak kaliankan bertambah besar,
kebutuhan mereka juga akan bertambah. Nggak mungkin kalian akan seperti ini
terus” jawab istri Norman sembari menunggu
matangnya nasi.
“Betul emakmu,
kami semua juga seperti kamu. Yang namanya hidup akrab dengan penderitaan,
hingga kami sendiri sudah nggak bisa merasakan apa penderitaan itu sendiri.
Sabarlah, coba deh mulai besok pada nyari kerja kemana aja, jadi pembantu atau
apa !”
“Kita semua
sudah kesana kemari mencari kerja, hingga anak anak kami butuh susu dan
sekolah. Sehingga akhirnya kami seperti ini” Wiwie tidak mau diam saja, dia
lantas gabung curhat, sekedar menepiskan kegetiran hatinya. Dalam hati dia
sempat bersukur telah dipertemukan dengan suami istri yang berhati emas, yang
menempatkan mereka seperti orang lainnya. Namun sayangnya meski mereka telah
akrab dengan suami istri tersebut bertahun-tahun, tapi tiada sepatah kata Norman dan istrinya yangmereka dengarkan. Bagi suami istri itu dosa adalah mutlak urusan Tuhan
yang Diatas. Wiwiepun tertegun, dan meresakan belum saatnya terlambat bagi dia untuk
kembali sebagai wanita terhormat.
Air mata Wiwin
telah memenuhi semua rongga matanya, tatkala terbayang dihatinya, setiap sore
dia memperhatikan sorot mata kedua anaknya yang masih merindukan kehadirannya.
Betapa teriris hatinya tatkala dia membayangkan, kedua anaknya menangis pilu di
tengah malam merindukan peluk dan ciumnya.
“Sudahlah Win,
kita semua mengalami penderitaan hidup yang sama denganmu. Ada
benarnya juga nasehat bang Norman,
kita belum terlambat untuk mencari kerja, membiayai anak anak kita dengan
nafkah yang baik. Kita pun belum terlambat untuk menjadi ibu yang baik”. Yuli
memeluk Wiwin kemudian mengusap rambutnya, persis seperi anak kecil. Mereka
berduapun menjadi tersenyum , diikuti juga dengan derai senyum Wati, yang juga
bernasib sama.
Kokok ayam
jantan telah terdengar dimana-mana, pertanda sebuah kehidupan baru segera di
mulai. Mereka bertigapun sudah tidak mampu lagi seperti kunang-kunang, karena
sinarnya telah ditelan sang surya. Mereka semuapun berpamitan dengan pasangan
suami istri yang disambut dengan senyum tulus dan sebuah doa, Kunang-kunangpun
telah suram sinarnya, karena kini merea telah siap dengan penghidupan yang
baru. Jalanan di depan warung Normanpun mulai rame.