Rabu, 30 Mei 2012

Angelita


“Jangan sekali- kali kamu kalah dengan ego kamu sendiri, sebab musuh yang paling halus dan melenakan, adalah ego kamu. Camkan itu, anaku sekalian…?”. Ruang kelas yang cukup luas itu serasa ditelan bumi, meski untuk sementara Pak Santiago hanya melemparkan sorot matanya kepada anak anaknya,  yang beberapa hari kemarin membuat hatinya getir. Maka wajar saja sudah cukup lama, guru yang terkenal bijak itu masih saja meradangkan amarah dan kekesalanya pada kelas itu.

Kadang suara Pak Santiago mampu menggetarkan kaca jendela kelas, kadang pula melembut disertai dengusan nafas panjang. Namun demikian semua anak anaknyapun mengakui bahwa guru wali kelasnya itu, adalah guru yang piawai dalam menyelami liku hati anak anak didiknya yang memasuki tahap remaja. Namun entah iblis apa yang menyelinap dalam benak anak anaknya, yang terus saja badung membuat ulah di sekolah mereka itu.

“Entah apa yang kamu banggakan dari diri kalian, aku tahu anak anaku !. Sebagian besar diri kalian adalah putra orang terpandang, pengusaha, pejabat. Namun bukan berarti pak guru terus diam membisu, bila ulah kalian sudah seperti ulah geng motor.Pak guru cukup terhenyak mendapat laporan diri beberapa pemilik Café di lingkungan sekolah kita“. Suara Pak Santiago bertambah lirih, karena kekesalanya yang mengguncangkan dadanya hingga seakan akan mampu menelan suaranya sendiri.

Setegar apapun hati putra putranya, saat itu menjadi luluh mendengar advise guru yang karismatik itu. Sebagian besar dari mereka yang badung, tidak mampu lagi untuk menatap sorot mata gurunya yang tajam itu, apalagi untuk membantah semua advisenya, padahal selama ini, mereka kerap membuat guru lain menjadi kesal dan hampir putus asa member pembelajaran pada mereka, selalu saja terdapat ulah yang tidak santun.

“Maaf, anaku..kalau kamu punya gaya hidp yang bebas seperti petualang, tidak ada
yang mampu mengarahkan kamu semua, silakan hengkang dari sekolah ini !”.
***
Bagi Rudi sama sekali dia tidak berani untuk berkilah apapun, karena hingga saat ini dia telah divonis oleh sekolah untuk segera meninggalkan sekolah favourit ini, apabila dia sekali lagi membuat ulah. Tapi karena rayuan dari beberapa teman badungnya, dia dan beberapa temanya beberapa hari silam asik nongkrong di Horizone Café dekat dengan sekolah mereka di jam jam sekolah. Justru di café inilah dia bisa bebas berkencan dengan Angelita dan Angelitapun ikut terhipnotis untuk bolos sekolah.dan  membuka kedua tanganya untuk menerima Rudy.

“Rudy..!” teriak Pak Santiago mengagetkan semua siswa  yang mendengar, langit langit kelaspun seakan akan hampir runtuh, semua hanya mampu diam membisu menghadapi kekesalan guru yang biasanya sangat sayang kepada mereka,  termasuk Rudy yang mulai berkeringat dingin setelah mendengar namanya dipanggil.

“Iya, pak !”
“Nampaknya aku harus rela melepasmu, meski dengan berat hati”
“Maaf, pak !. Rudy masih ingin sekolah disini !”

“Apa karena kamu sekelas dengan Angelita , kamu mau sekolah di sini terus !”Pak Santiago tahu persis bahwa anaknya yang paling badung ini, memang ngebet bukan kepalang dengan Angelita, putri seorang pengusaha mini market di kotanya. Apapun bisa dilakukan oleh Rudy, asal dia bisa berada di seputar Angelita.

Rudy tersudut tak mampu bicara apapun, sementara Angelitapun hanya mampu menundukan kepalanya karena perasaan malu mulai menggelitik hatinya, apalagi selama ini Pak Santiago tidak pernah usil ataupun peduli dengan persahabatan mereka berdua. Tetapi saat ini dengan kesal, wali kelas yang mereka sayangi itu telah mulai nyentil hubungan mereka berdua. Angelitapun tidak ingin guru kesayanganya itu menghempaskan dia begitu saja dari sekolah ini.
Betapa Angelita masih ingat betul satu tahun silam, saat pertama kali dia masuk sekolah ini, setelah beberapa sekolah sebelumnya telah mengeluarkan dia. Anggelita mulai merasakan kesejukan hatinya, dengan advise advise walikelasnya ini, yang hanya sekedar berbicara segala sesuatu yang perlu, namun sederetan kata katanya mampu membius Angelita yang sigap membenahi karakternya yang binal. Kata dan sikap Pak Santiago adalah mutiara bagi Anggelita yang mulai mampu menemukan dirinya sendiri.
Namun saat ini, dia menghadapi figure  yang tidak lebih dari singa yang lapar, yang siap mencabik dia dan beberapa sokibnya yang terus menerus melanggar aturan sekolah. Perasaan seperti ini nampaknya juga dirasakan oleh Rudy, kentara dari sorot mata yang sering dilemparkan pada Angelita.

”Sukseslah anak anaku, dengan apa saja yang kamu sukai, tanpa terhalang apapun, seperti angin yang bertiup tanpa beban. Hal itu bisa kamu dapatkan, bila kamu mampu mengalahkan egomu sendiri, go  go like the wind blow”. Kata kata bijak Pak Santiago masih sering diingat oleh Angelita dan beberapa teman lainnya.
***
“Aku sudah lelah menghadapi ulah kalian berdua” seru Pak Santiago di ruang guru, setelah usai jam sekolah. Rudy masih diam membisu, sementara air mata sejuta penyesalan telah mulai membasahi kedua mata Angelita. Suasana kantor guru menyerukan sebuah keheningan yang ikut serta mengajukan proetes pada dua sokib remaja yang menjadi biang membolosnya beberapa teman mereka selama satu minggu.

“Maaf, pak. Memang Angelita besalah !”
“Hmmm..Angelita!, ingat!, baik sekolah, orang tuamu dan saya pribadi memang selalu memaafkan diri kamu. Tapi itu bukan poko permasalahnya, masalah yang ada justru lebih pelik dari sekedar Pak Santiago memaafkan kamu berdua !, tahu Rud, ucapan pak guru ?”

“Rudy belum mengerti, pak !”
“Kamu tahu, Angel ?”
 “Angel juga belum tahu, pak !”
“Hari kemarin segenap guru talah memutuskan untuk segera mengeluarkan kamu berdua dari sekolah ini, dan untuk beberapa teman kamu hanya diminta mebuat pernyataan resmi. Jadi pak guru saat ini juga dengan berat hati akan membuatkan kalian surat pindah”.

Kedua bola mata Angelita kini benar benar dibasahi air mata, sedangkan Rudy hanya membantingkan sorot mata ke tiap sudut ruangan itu. Kedua remaja itu merasa, bahwa mereka berdua dan beberapa temanya telah mulai beradaptasi dengan sekolah ini. Setelah mereka bosan keluar masuk dari seolah satu ke sekolah lainnya. Terutama Rudy dan Angelita yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.

“Pak Santiago !, boleh Angelita bicara ?”pinta Angelita dengan isak tangis yang masih terdengar.

“Oh tentu saja boleh, anaku , dan kau Rudy !, selalu aku luangkan waktu untuk kau !. Nah Rudy silahkan kamu juga bicara !”
“Ah, tidak pak !. Rudy tidak tahu harus bicara apa !”
“Baiklah Angelita, silakan bicara !”pinta Pak Santiago.
“Angelita khawatir, pak !”
“Khawatir tentang apa, anaku !”Sejuta penasaran kini hinggap di hati wali kelas mereka
“Angelita dan Rudy bisa kembali menjadi anak jalanan setelah dikeluarkan dari sekolah ini “

Giliran Pak Santiago kini yang terdiam seribu bahasa dengan mengsiratkan kekhawatiran dari sorot matanya. Dengan menderaikan senyum lepas pak guru itupan mengangkat ke dua tanganya.

“Kalau kamu merasa sudah mulai mebenahi diri kamu sendiri di sekolah ini, mengapa
kamu melanggar aturan sekolah dengan berpacaran di Horizone Café selama satu minggu di jam sekolah. Pelanggaran ini sangat memalukan nama sekolah, apalagi yang
malaporkan ulah kalian adalah warga sekitar sini  “.
“Pak Santiago !, Rudy minta maaf, dan ini yag terakhir kali “
“Bulan kemarin kamu juga berjanji seperti ini. Baiklah anaku berdua, aku hanya menjalankan tugas. Pak Santiago hanya mampu berdoa, semoga kalian berdua menemukan sekolah yang lebih baik dengan sekolah ini. Sehingga mampu membentuk kalian berdua menjadi remaja yang baik “

“Rudy, tidak mau, pak !” desak Rudy.
“Angel sekali ini saja  meminjam nama baik Pak Santiago, untuk yang terakhir “. Permintaan Angelita ini sempat mengagetkan wali kelasnya.

“Angel, Angel !, apa lagi !”Pak Santiago mengangkat kedua tanganya

“Angel akan membuktikan pada sekolah bahwa Angel bukan anak jalang, Angel akan buktikan bahwa Angel adalah anak yang berprestasi dan akan Angel buktikan dengan rangking rapot “Kedua sorot mata Angelita yang masih basah tajam menatap wajah Pak Santiago, yang mengusung sebuah harapan adanya kebijakan dari walikelasnya.

“Hehehe…ini baru putra bapak, lantas kalau kamu tidak masuk rangking ?”jawab Pak Santiago.

“Itu terserah Pak Santiago ?”
“Dan kau Rud !, sama seperti Angelita ?”
“Ya, pak !”
“Sungguh, Rud !”
“Sungguh pak !, Rudy janji !”

“Huuuh..aku tidak menyangka kalian berdua masih memiliki sikap dewasa. Tapi aku tidak janji, nanti pak guru akan mengajukan ke kepala sekolah, OK ! hari sudah siang,kalian berdua bisa pulang sekarang !”***

Minggu, 27 Mei 2012

Loading Hati "The Silent Girl"


Biarkan tebing terjal menghimpitku…..lautan memisahkanku ..atau kawanan elang mencabik isi jantungku, aku harus tetap menjadi Ody yang braveman, aku tidak mau menjadi pengecut “ teriakan hati Ody, meski hanya dia yang mendengarkan, tapi  terus saja bilik jantungnya yang lebay bergayut di dirinya. Entah sampai kapan dia terus menyeruakan maksud hatinya,  untuk meluluhkan hati Rin, dia sendiri tidak tahu. Dia hanya mampu mengingatnya saat dia mulai sekelas dengan Rin Mahardika “The Silent Girl” dua tahun silam.

Kini usai sudah Ody belajar di bangku sekolah menengah, setelah papanya membuka amplop hasil pengumuman dari wali kelasnya, dan terbaca jelas  kata LULUS di pengumman itu. Papa Ody hanya tersenyum puas, Nampak dengan jelas tidak ada kegembiraan yang berlebihan di raut wajahnya. Demikian pula Ody, yang terbesit dalam relung hatinya, akan sebuah perjalanan panjang yang baru saja dia mulai.Maka Ody tidak mudah berbuat seperti anak ingusan, konyol mencoret coret baju seragamya.

Haya kedua sorot mata Ody, yang menyapu setiap penjuru sekolah untuk menelisik wajah manis yag terkadang hanya dihiasi senyum tipis, atau kala dia mengibas rambutnya yang terurai sebatas bahunya. Kadang pula kedua mata bolanya yang bereksotis di balik kaca matanya, membuat Ody terus saja tidak mau membuang sorot matanya pada The Silent Girl yang sedari pagi terus saja bergayut di lengan mamanya,
***
“Sudah ya Ody !, papa harus ke kantor, nanti sore biar mamamu membuatkan makanan untuk pesta kecil kecilan di rumah. Jangan lupa !, cepat pulang dan nggak usah ikut ikutan turun ke jalan !” pinta papa Ody. Anak ke empat dari Andre Hudoyo itupun hanya menganggukan kepala. Ody bergegas mmburu waktu untuk kumpul bareng dengan sokib sokibnya, yang sebagian besar lulus UN tahun ini. Peluk manja dan derai tawa terdengar di sana sini.

Sorot matanya kini beradu dengan salah satu sudut sekolahnya, yang riuh lantaran banyak sokib sokibnya yang melepas tawa lepas dan bebas, dan ditengah kerumunan itu “The Silent Girl hanya melempar senyum tipisnya pada cowok cowok yang mengurungnya. Ody seketika itupun dengan sigap mencoba laru dengan semua sokib sokibnya, sementara dia terus meloading detak jantungnya, “Mengapa the  silent girl hanya memberikan senyum tipisnya, padahal dia telah lulus. Kapan aku mampu membuat dia bisa terawa lepas. Karena tawa lepas  Rin belum pernah aku jupai sejak aku kenal dia di  kelas XI “.

“Mengapa, kau penasaran dengan senyum lepas cewek itu ?. Itu kan nggak prinsip….” protes sisi jantung Ody. Sisi jantung Ody yang lainpun berusaha membela Ody, “Ah, kamu nggak tau sih, aku ingin sesekali meliha dia tersenyum lepas saat di depanku. Apalagi anak manja itu benar benar nggak pernah nyambung kalau aku ajak bicara !”

“Itu memang bawaan dia sejak kecil, bro !. Maka dia jarang bisa senyum lepas dengan semua orang, apalagi dengan kamu, Ody !”.

Kedua sisi jantung Ody sat inipun terus megedepankan egonya masing masing, maka kini Ody hanya mampu mendengarkan celoteh celoteh yang saling bertentangan ,  maka diapun kini hanya mampu berdiri terpaku di kerumunan sokib sokibnya, yang mirip kumbang sedang memasang belalainya untuk segea menjaring perhatian dari  Si Cantik  The Silent Girl yang ada di pusat kerumunan itu.

Silent Girl, begitu acuhnya melihat kedatangan cowok ganteng itu,sama sekali dia tidak terusik dengan memberi tegur sapa, atau “saying hallo”, pada Ody yang juga berhasrat memasang jeratnya. Sama sekali tidak loading yang berate bagi silent girl itu terhadap Ody.

“Bro, ayo dong jangan seperti kakek pikun, kemana rencana kamu setelah pengumuman ini ?” pekik Albert dengan menarik bahu Ody, agar lebih dekat lagi Ody mampu berbagi rencana remaja remaja gaul yang sedang menebar jeratnya pada The Silent Girl, yang kini mulai memberikan senyum yang lebih cerah ketimbang pagi tadi.
“Mengapa dia mulai mau mengusung senyuman cerahnya, ah silent girl itu mulai merespon Albert, ah apa sih Albert itu ?, cobalah aku lebih binal lagi memasang jeratku, aku harus punya rencana yang lebih eksotis lagi, agar Rin betul betul tertarik dengan rencanaku. OK Rin, kau harus berubah menjadi cewek yang lepas tertawa hanya pada aku !!!”. Ody tambah menjadi binal menuruti kata hatinya itu.

“OK , friend !, aku sudah lama pengin nongkrong dan berkemah di hutan yang masih perawan dan nyaman. Kita naik ke Gunung Slamet, tetapi di punggungnya kita berkemah. Setelah itu kita enjoy di Baturaden, Jogja dan coming home ! OK ?”

“Nora Kamu Od !, itukan enjoynya anak udik !. Cari dong petualangan lainnya yang lebih syuuuuur !” seru Bram.

“Bro, tiap hari kita hanya melihat hutan beton, asap mikrolet, aspal yang berlobang. Sekali sekali kita menyatu dengan hutan asli di penggung Gunung Slamet, eh Bro di hutan itu nanti akan kita temui banyak mata air, jadi jangan takut. Kebetulan aku punya tenda parasit untuk 8 pendaki cukup, kita akan mendengarkan kicauan  burung burung yang lepas bebas !” Ody begitu meyakinkan, karena pengalaman di sebagai Organisator Out Bond di grup pencinta alam sekitarnya.

“Ody !, kalau cewek bisa ngikut nggak ?”

“ Kenapa takut, hutan Gunung Slamet sudah nggak ada lagi hewan ganas, asal Rin mau mandi di sendang !, kenapa tidak !. Lagian  kita bisa turun ke Baturaden bila kita butuh suplay bekal. Ngikut aja Rin !” pinta Ody.

Rin Mahardika “The Silent Girl” mulai menengadahkan wajahnya yang lembut dengan mata lugu pada cowok ganteng yang renyah itu, diapun mulai mengusung senyum lebar pada Ody.Loading hati Rin mulai menampakan sedikit sentuhan pada ajakan Ody. Lepas bebasnya senyum sang ratu di tengah kicauan burung hutan Gunung Slamet tentunya akan memiliki nuansa tersendiri. Apalagi sejuknya angin dingin Gunung Slamet di pagi hari akan ikut merias wajah Rin.

“Udah Rin !, pastikan kamu ikut ke Gunung Slamet. Kita coba nanti ajak Stefani, Wulan dan Bunga. Atau kita ajak sokib-sokib satu kelas yang butuh enjoying. Gimana Ody !” desak Albert.

Ody bertambah berselera untuk segera mewujudkan petualangan di Gunung Slamet. Saat menyaksikan Rin menganggukan kepala untuk berkencang dengan Punggung Gunung Slamet. Sekali lagi senyuman halus diusung Rin kepada teman temanya dan sekali lagi hati Odypun berdesir kuat. Meski dia belum tahu pastinya, apakah senyum Rin hanya untuk dia atau kepada cowok ganteng lainya yang bareng ngumpul saat itu.

“Oh Surely,  kita nanti bisa menyewa tenda di bumi perkemahan Baturaden. OK friend sebaiknya kita rapatkan saja rencana kita besok di sekolah. Sekalian kita minta ijin sekolah”

Kampus sekolah itu kembali sepi. Sejuta rasa penasaran masih tumbuh di hari Ody***
Penulis :Effi Nurtanti

Sabtu, 26 Mei 2012

Di Balik Gemerlap Bintang


Lalu lalang kunang malam, bagaikan lampu perahu nelayan di tengah laut buta, sesekali menyambangi halaman rumahnya, yang senyap diterkam malam binal. Seorang laki laki paro baya merebahkan punggungnya di kursi bambu di bawah pohon jambu, yang kurus kering tumbuh di halaman rumahnya. Wajahnya dihadapkan pada jalan tanah kampung yang mengering dan membisu, setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Sengaja dia berkerumun bintang dan berselimut kain hitam malam karena bintanglah yang paling tahu tentang hatinya yang bertepi kegalauan dan bintang pula yang paling dia anggap ramah, lantaran tak satu kalipun bintang bintang itu pernah mengotori hatinya. “Bintang bintang itu! biarlah malam ini menjadi miliku”, demikian bisik hatinya.
Apa hanya milik setangkai anyelir saja yang bisa berceloteh tentang bintang, baik bintang kejora atau bintang berparade gubug penceng yang berbaur sinarnya memenuhi sisi sisi langit. Atau hanya bingkai hati seorang laki laki yang sedang berselingkuh dengan bintang yang kini tidak mampu menautkan hati pada apa saja, baik dikala merontanya senja atau dikala angkuhnya sang bulan purnama yang menjajakan sinarnya. Tapi itulah sebuah guratan eksotis hati, bila ingin terbang bersama sejuta sayap malaikat untuk mengarungi malam dari sisi satu ke sisi lain.
Bukankah sesekali bintang menjenguk laki laki itu yang layaknya Sang Pujangga,  lantas bertegur sapa sehingga telah usai sudah syair-syair yang akan digenapkan pada puisi tentang hidupnya,  yang berfatamorgana hanya pada syair yang nakal dan nisbi. Mengapa pula dia hanya mampu menautkan benang merah pada kenisbian, padahal semua dunia dan isinya mampu dilukiskan dengan  kata kata indah, seindah liarnya butir air di Niagara atau se bebas butir debu di Sahara.
Namun untuk menguntai sebuah malam dengan rajutan bintang, diapun harus membusungkan ruang dadanya kembali, agar berisi udara kejujuran ketimbang hanya diisi udara kemunafikan. Sang Pujangga itu yang hanya ditemani pohon jambu di belakang pagar bambu rumah mungilnya, kini mulai mengerlingkan matanya pada bintang, pada  realita kehidupan, pada debu debu jalanan depan rumahnya yang mulai menyesakan nafasnya.
“Pergilah tidur, wahai manusia.  Hari sudah larut, sementara sang kehidupan menungumu esok pagi “ seru sebuah noktah hati entah di sisi sebelah mana. Sang Pujanggapun mulai menampakan sorot matanya yang liar. Di jelajahi semua sudut hatinya, barangkali masih ada rumpun bambu yang rindang agar hatinya tidak gerah lagi. Agar dia bia menyurutkan lebih dalam lagi dari sebuah realita. Kala dia harus jatuh bangun menggegam sebuah realita itu sendiri, kala  dia mencoba untuk menepiskan kemisteriusan benaknya.
“Hai, kau…bukankah aku lagi larut dalam canda sang bintang, yang menggumuli aku sepanjang malam ini”.
Suara itupun surut ke belakang menghilang, menyelinap ke tengah kebon singkong yang ada di samping rumah tua itu. Kini dia kembali sunyi dalam samudra buaian bintang bintang malam yang tersenyum genit. Anganya terus berseloroh hingga terdengarlah batuk batuk panjang istrinya dari dalam rumah tua itu. Seketika itu juga cumbu rayu lelaki itu dengan sang bintangpun menjadi surut dan istrinya dengan dibalut baju hangatpun kini telah berada di sisinya.
“Kalau kau semalaman disini dengan lamunanmu tak akan menyelesaikan masalah kita,Pak “
“Justru dengan ditemani sang bintang malam inilah aku bisa menemukan inspirasi dan ide ide untuk mendapatkan jalan keluar untuk hidup kita, yang semakin dipingit kesengsaraan ?’
“Ah kau berlagak seperti  Pujangga saja”    
“Apa itu Pujangga ?”
“Sama saja degan sastrawan atau penyair “
“Aku selalu jauh dari makna yang tersirat dalam untaian kata, hanya mampu kusimpan semua warna warni hidup dalam sudut hatiku”
“Heee..katanya kau bisa mendapat ide dari sang bintang yang bertebaran di langit, suamiku?”
“Ya pasti saja, setiap manusia yang sedang bimbang dengan kehidupan. Biasanya sering menyendiri di tengah malam, untuk menyaksikan parade bintag dan  untuk mendapatkan ide bagaimana besok menyelesaikan masalah “
“Lantas sudah kau sunting sebuah  gagasan dari bintang bintang itu ?”. Sang istri tang menjadi teman sang pujangga itu melontarkan kedua biji matanya kepada laki laki yang lusuh itu.
“Kita sudah tak punya apa apa lagi, hanya padi sisa panen kemarin. Sementara hujan belum membasahi sawah kita, sudah tiga bulan ini tanam kita terlambat. Aku belum berani menanam psdi. Padahal hanya padi yang menguning, adalah harapan kita satu-satunya”
“Tapi sabar saja, Pak. Biasanya bila habis musim kemarau yang menyengat dan panjang.  Akan datang musih yang basah . Tunggu beberapa minggu lagi”
“Besok aku tak datang ke sekolahnya anak-anak, untuk  minta tempo. Bulan bulan ini aku belum bisa melunasi SPP mereka”
“Padahal sebentar lagi anak anak tes semester, Pak. Aku harap entah dua atua tiga bulan SPP mereka dibayar dulu”
“Habis gimana lagi ?, apa anak anak tidak bisa sekolah kalau orang tuanya nggak punya duit. Apa hanya orang kota yang kaya saja, yang bisa memintarkan anak anaknya. Aku harap di negara kita lahir seoang pemimpin yang membebaskan SPP sekolah. Termasuk buku buku yang harganya selangit. Aku heran katanya kita sudah merdeka, tapi nyatanya untuk menyekolahkan anaknya saja sudah kelimpungan”
“Sudahlah Pak !, kita hanya orang kecil, berteriak sekeras mungkin juga tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan bintang bintangmu di langit hanya diam membisu. Kita bersyukur masih punya beberapa kambing, meski sudah di pesan tetangga kita untuk korban. Kita jual saja untuk SPP anak anak kita dan sisanya untuk menyambung hidup”
“Tadinya aku berpikir seperti itu, Bu !. Tapi aku nggak enak sama Pak Diran yang sudah memesan kambing kita. Baiklah Bu !, sehabis aku ke sekolah anak anak besok,  aku langsung ke pasar kambing “
Kedua insan yang hidup sengsara kinipun merasa bahagia, lantaran esok masih ada harapan untuk menyambung nafasnya kembali. Sang bintang kinipun mulai meredup lantaran sang fajar mulai menjemput untuk kembali ke kaki langit. Hanya suara dengkuran panjang sang pujangga yang menghiasi wajah sang fajar. Tak lama sang surya kinipun menyodorkan kehidupan lagi untuk ditapaki manusia manusia yang masih memiliki harapan.
***
Supardi berkalang kegalaun hati kala menunggu kepala sekolah Tono dan Tini. Mukjizat apa yang dapat menolong dirinya untuk mendapatkan kemurahan dari kepala sekolah ke dua anaknya itu. Pak Dirman sang kepala sekolah dengan berhias senyum di wajahnya kini duduk di depan Supardi yang tidak mampu berkata sepatah katapun.
“Oh, jadi ini Pak Supardi bapaknya Tono dan Tini ?”
“Betul, Pak, kedatangan kami ke sini hanya untuk meminta keringanan SPP Tono dan Tini. Rencana kami beberapa hari nanti akan menjual ke tiga kambing mereka untuk SPP, jadi saya minta tempo, Pak ?”. Mendengar keluhan Supardi, Pak Dirman melepas tawa panjang yang memenuhi semua sudut ruang guru.
 “Bapak tidak usah menjual kambing mereka. Jadi perlu saya sampaikan kepada Bapak, tanpa memberitahu kedua putra Bapak sebelumnya. Bahwa kedua putra Bapak memiliki prestasi yang bagus. Keduanya memiliki nilai yang tertinggi di kelasnya. Bahkan sikap mereka berdua sangat hormat kepada semua guru, sehingga semua gurupun sayang merela berdua “
“Terus ini bagaimana, Pak ? ”. Sunardi tidak percaya dengan keterangan Pak Dirman itu.
“Mereka mendapat bea siswa dari negara, sehingga untuk tahun ini keduanya bebas SPP. Makanya kambing mereka jangan Bapak jual dahulu ?’. Suara Pak Dirman membahana ke setiap sudut ruangan, sehingga mengundang perhatian semua guru.
“Oh, terimakasih sekali, Pak!. Aku tidak percaya, mereka berdua hanya anak singkong, yang mampu bersekolah hanya dari hasil panen padi yang tidak seberapa besarnya”
“Apakah anak singkong tidak boleh berpretasi ?. Semua negarawan di tanah air kita juga dulunya anak singkong,  mengapa kedua putra bapak tidak boleh berprestasi !”
“Ah, bapak terlalu berlebihan”
“Bukan hanya itu saja, Pak!. Nanti pas upacara Hari Sumpah Pemuda mereka berdua akan diberi tabungan prestasi dari “Yayasan Prestasi Anak  Jakarta “dan cukup bagi mereka untuk biaya sekolah selama satu tahun “
Hati Sunardi sudah tidak mampu lagi mendengar kabar menggembirakan dari Pak Dirman. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah, agar wajah istrinya berseri dan rona merah di pipinya menjadi tergambar, hingga mampu membuat hati sang pujangga anak singkong itu kelimpungan.
***
Rumah Tono dan Tini masih kelihatan lengang, sementara matahari hampir mencapai atap langit. Daun daun singkong di samping rumahnya sudah mulai kelihatan menunduk dipagut teriknya mentari. Erniyati masih kelihatan sibuk memunguti bunga papaya untuk lauk makan siang mereka. Melihat suaminya datang dengan mengusung senyum yang lebar di wajahnya , Ernipun menjadi penasaran. Bahkan kini diapun tidak percaya dengan kabar gembira yang disampaikan Sunardi. Hingga kelihatan wajah Sunardi yang bersungut sungut untuk meyakinkan istrinya. Erniyati kini hanya mampu duduk di serambi rumah mereka yang berlantai semen. Dia mendenguskan nafas panjang, tanda bahagia dan bersyukur telah mendapat pertolongan dari Yang Kuasa.
“Pak, aku tadi mendengarkan laporan BMG di tv, mulai minggu minggu  ini kita memasuki musim hujan. Kita sebaiknya bersiap menanam padi. Biarlah biaya sekolah anak anak diambilkan dari uang prestasi mereka. Hasil panen padi biarlah untuk biaya Tono ke perguruan tinggi”
Sunardi hanya menganggukan kepala. Kini beranda rumah mereka menjadi saksi bahwa kehidupan milik petani kecilpun akan banyak berarti bila mereka memang merasa hidup, apapun keadaannya. Hanya Tuhan Yang Kuasa saja yang tahu kehidupan semua makhluknya di muka bumi ini***

Try Out Cintaku

Seharian penuh Keane hanya dikamar flamboyanya untuk “full day taking a rest” segalanya. Setelah satu minggu silam  kegiatan rutinitasnya terus menerus menyita tenaga, hati dan pikiranya. Setelah seminggu lamanya Keane harus ikut Try Out di sekolahnya.  Keane untung saja menyadari bahwa hidup memang sebuah perjalanan yang dia sendiri tidak tahu “ending dan beginning” dalam sketsa yang mau tidak mau manusia hanya melangkahkan kakinya.
Lagu jadul dan melangkonis “My Way” yang dibawakan Frank Sinatra kesukaannya perlahan menyelip di tengah kalbunya. Keane  sedikit terhipnotis dengan isi lagu my way tersebut, yang menggambarkan sebuah perjalanan seorang manusia dalam menggayuti harapan hatinya. “Ya, apa sih yang bisa diperoleh dengan begitu saja di dunia ini ?” , tanpa disadari sebuah pertanyaan dari hatinya dilontarkan kepada tebing-tebing tinggi yang memusari semua perjalanan hidup manusia, atau pada Puncak Jaya Wijaya, Mount Everest atau Puncak Wedus Gembel yang hanya diam membisu.
“Perjalanan ?, begitu beratnya sejak Andi datang untuk pamit pergi ke Padang mengikuti papa dan mamanya yang pindah kerja. Inikah awal aku menuai try out hidup dan cintaku. Lebih dari try out yang dibuat oleh guru-guruku !”.
Saku  t- shirt tergetar karena calling seseorang di Hpnya, Keane segera memungut Hp bercasing biru muda, yang menjadi teman dekatnya di malam minggu ini. Semoga saja Andi di malam ini yang menggetarkan  hatinya bahkan makam minggu ini yang menjadi milik mereka berdua.
***
“Hallo, young lady yang kaya Kate Middleton, lagi nglamun ya ?”
“Ini siapa ? “
“Ah ini aku, lupa suaraku ya ?”
“Sorry friend !, ini Raphael, ya ?”. Meski dia sudah lama tidak pernah gaul bareng dengan cowok ini, namun renyah senyumnya mirip Jenderal Soeharto, tidak terlupakan Keane.
 “Good, kamu memang cewek yang nggak gampang lupa sama teman, ngapain kamu di rumah saja ?. Kalau kamu nggak capek biar gabung sama teman lama kamu malam ini  di rumah Betty. Aku samper kamu kalau nggak ada acara !”
2
“Makasih Raphael!, badanku lagi cuapek, aku mo istirahat dulu. Gampang lain waktu saja aku gabung “
“Pasti lagi merajut angan, ingat sama Andi yang ada di Padang ?’
“Kamu kenal Andi ?”
“Siapa yang nggak kenal dia sih, Keane !. Beruntung kamu dapatkan dia. Cowok ganteng hitam manis dan termasuk smart boy. Kamu kehilangan dia kan !”
“Ah sok tahu kamu ?. Bagi aku dan Andi tidak pernah mengenal arti kehilangan. Kami hanya teman saja”
“Maaf Keane !,  ini mengganggu privasimu. Aku tahu pasti kamu kangen sama dia. Iya kan ?”
“Sorry Raphael !, biar masalah ini hanya untuk aku dan Andi saja.Aku bukan cewek ingusan yang terjebak dalam romantisme remaja. Aku dan dia masih jauh dalam perjalanan hidup kami masing-masing “
“Tapi kalau kamu sendirian di rumah,  apa salahnya kamu gabung teman lamamu yang ngumpul di rumah Betty. Setelah ngumpul kita bareng ke Cisarua untuk happy weekend dengan ikan mas bakar, OK setuju !”
“Gampang lain waktu, Raphael !”
“Aku kangen dengan canda tawa kamu !, seperti kita dalam kegiatan kemah persami di Cibubur dulu, Keane !’
“Aku juga kangen dengan Betty, Ardian, Anti dan Aldo untuk kumpul bareng lagi “
“Oh mereka juga sering mgomomg tentang kamu. Ayo dong kita reuni, nanti aku yang mamitkan sama mama papa kamu “
“Nggak usah repot-repot Raphael !, aku  mau istirahat. Lain waktu kita sambung lagi ya!”
 “Tunggu Keane !, jangan ditutup dulu !. Kamu sekarang beda sih !. Kamu takut    Andi cemburu kan  Keane ?. Udahlah kamu kan masih muda, ngapain kamu takut diputus Andi !. Kamu cantik lho Keane, gampang mencari pengganti Andi.”
“Sorry friend, kalau  kamu memang benar temanku ?, sebaiknya kamu nggak ngomong kaya gitu. Cobalah sedikit dewasa Raphael ! Meskipun kita masih remaja, cobalah sedikit
3
menghargai  orang lain. Antara aku dan Andi masih bebas menentukan langkah masing-masing, dia tidak membatasi aku  dan  akupun  sebaliknya. Tapi bagi aku memang malam ini aku lagi capek”. Belum sempat Keane melontarkan semua  kata hatinya, Raphael yang entah mengapa menutup Hpnya sendiri.
Malam minggu perlahan merayap sepanjang benang waktu, sehingga rembulanpun memberikan isaratnya kalau malampun sudah agak larut. Keane masih mengaktifkan laptopnya untuk mendnengarkan MP 3 lagu lagu pop nostalgia kesukaanya. Satu demi satu lagu pop melo Pance Pondang menggayuti hatinya.
“Sedang apa Andi di sana.Apakah dia juga ingat aku, ada apa sebenarnya antara dia dan Andi. Hanya sahabat biasa ?, tapi mengapa dia selalu ada di hatiku. Atau karena aku yang bersikap biasa biasa saja sama dia, ataukah karena apa ?. Jujur saja aku merasa takut sama Andi, bila gabung bareng dengan Raphael, cowok yang norak” Bisikan hati Keane sekarang lebih berdenting ketimbang suara jarum jam di kamarnya dan suara lagu lagu barat klasik.
***
“Ketahuilah Keane!!,  di dunia ini tidak ada sesuatu yang mampu diraih hanya dengan membalikan tangan. Ingat pesan Bu Willy !”
“Iya bu !” . Masih ingat dalam memory Keane pesan Bu Willy pada dia, saat dia menerima hadiah atas pretasinya sebagai juara kelas di semester pertama kemarin. Namun Bu Willy sempat kecewa lantaran pada try-out yang pertama dua minggu yang lalu, nilai Keane masih belum memuaskan, Keanepun tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Bu Willypun hanya memberikan senyum kecilnya pada Keane atas kegagalanya. Namun Keanepun mampu menafsirkan senyum manis bu guru yang bijak dan pemerduli pada anak-anaknya, bahwa dalam hidup ini memang bukan hanya try-out pelajaran di sekolah yang harus dihadapi semua manusia. Tetapi lebih dari itu, manusia apa, siapa dan dimanapun pasti akan mengalami uji coba dalam kehidupan ini. Apalagi bagi diri Keane yang kini jauh dengan Andi.
Lamunan Keane menjadi meluruh berkeping kala Hpnya kembali berdering, diapun dengan sigap mengangkat Hpnya dan pada Screen Hpnya terbaca kata Andi, maka dengan jantung yang berdegup keras dia memencet tombol hijau.
“Met malam Keane, kamu belum tidur, lagi ngapain ?”. Suara Andi yang datar dan terdengar romantic memenuhi speaker Hpnya Keane. Namun suara itu berhasil menjerat urat syaraf Keane hingga gemetaran seluruh anggota badanya.
“Eeeh, ngggak ngapain, Cuma aku lagi kecapean ?”
 “Kecapean ?. emangnya kamu  habis dari mana ?”
“Aku nggak pernah main, Cuma kemarinkan try-out dan habis itu pembekalan UN sampai sore, mala mini aku Cuma diam membisu di kamar “
“Oh ya nilai try-outmu gimana ?”
“Jangan tanya itu, dong ?”
“Emangnya kenapa ?”
“Nilaiku hancur, semuanya di bawah 5. Jadi aku agak stress ?”
“Sama !,  aku juga nilainya seperti itu. Tapi nggak usah sedih dong !, kan UN masih lama. Yang penting kita siapkan nanti setelah lulus UN “
“Oh, ya Andi !. Kamu mau kuliah di mana ?”
“Aku sudah ngomong sama papa, aku akan balik ke Jakarta untuk kuliah di sini. Kita bisa gabung bareng lagi Keane. Ntar kalau kita lulus,  kita bareng nyari universitas yang cocok untuk kita berdua, OK ?”
“OK !, “
Meskipun malam minggu ini , Keane masih sendiri tanpa Andi disisnya, namun baginya sudah cukup bahwa malam minggu ini menjadi milik mereka berdua***

 Effi Nurtanti