Minggu, 13 Mei 2012

Alamku Sekolahku


Dahulu kala terdapatlah sebuah sekolah  yang terletak di lereng Gunung Merapi. Meskipun letak sekolah tersebut sangat terpencil, namun sekolah itu cukup dikenal baik dikalangan raja-raja  Jawa ataupun rakyat jelata. Namun anehnya siswa yang menuntut ilmu di sekolah tersebut adalah putra- putri dari berbagai kalangan, baik putra bangsawan serta raja yang terpandang ataupun putra-putra rakyat jelata. Mereka semua diberi pembelajaran langsung oleh guru yang sudah kesohor seantero Pulau Jawa, karena kearifanya, bijaksana dan berhati mulia. Dalam pembelajaran sehari hari “sang guru“ tidak pernah mebeda-bedakan siswanya. Guru yang tersohor tersebut bergelar Resi Kaloko.
Tidak semua pembelajaran yang diberikan sang resi dilakukan di dalam kelas, kerap kali sang resi mengajak para siswa belajar di tengah alam. Bahkan dalam satu bulan tidak kurang dari tiga kali semua siswanya diajak menyelusuri alam sekitar atau mendaki bukit yang berdiri kokoh di belakang lingkungan sekolah dan asrama mereka. Demikian juga hari ini, Resi Kaloko merencanakan  mengajak semua siswanya berjalan mengelilingi Lembah Tasikmadu, yang hijau asri dan berhawa sejuk.
***
Pagi pagi benar mereka telah berkumpul di halaman sekolah lengkap dengan bekal dan air minum secukupnya. Setelah mereka sarapan secukupnya mereka diberi pengarahan oleh Resi Kalopo tentang rencana dan tujuan kegiatan mereka.
Semua siswa yang berkumpul di halaman itu terlihat berseri  wajahnya,  apalagi di cuaca pagi yang cerah dengan kuning sinar mentari mengakrabi mereka. Mereka semua nampak akrab dan tak ada sedikitpun perbedaan antara mereka berkat pembelajaran yang diberikan oleh Resi Kaloko.
Terlebih lebih bagi Bagus Prayogo putra ndoro Bupati Boyolali yang selalu dekat dengan Puguh, putra tukang rumput kuda milik sang resi, yang selalu ada disamping Bagus Prayogo  layaknya kakak beradik yang tidak ada yang mampu memisahkan mereka. Meskipun mereka berdua termasuk anak  yang baru gede, namun badan mereka mirip dengan pemuda yang telah dewasa, karena gemblengan “lahir batin” di tengah alam oleh sang resi.
Dengan penuh santun semua siswa berbaris rapi di depan sang resi untuk mendengarkan nasehat dan pengarahanya. Dengan jelas dan lantang sang resi berpesan: “Anak anaku banyak pelajaran yang dapat kita petik dari perjalanan kalian menyelusuri lembah Tasikmadu ini, jangan pernah merusak alam yang ada disekitar kamu, jadilah manusia yang peduli sesama meskipun kalian masih anak anak. Tolonglah teman temanmu dengan ikhlas apabila mereka menemui kesulitan. Mengerti anak- anaku ?”.
***
Tak beberapa lama mereka kini telah benar-benar di tengah alam, disela para petani yang mengolah sawah yang bertanam sayur. Sementara di depan mereka menjulang Gunung Merapi yang kini tersenyum ramah. Dari sela petani yang bermandi keringat di terpa terik sang surya, berlarian seorang petani yang rambutnya ditumbuhi uban dengan badan kurus kering
2
dan berwajah pucat.  Petani itu Nampak tergopoh gopoh mendekati Bagus Prayoga dan Puguf, yang berjalan paling belakang. Tak berapa lama kini petani tua itu telah berada di depan mereka.
“Aduh anakku, berilah kakek beberapa suap nasi.  Sudah beberapa hari ini kakek tidak makan karena kakek sudah tidak punya apa- apa lagi “, rintihan petani itu sangat memilukan bagi siapa yang  mendengarkan. Bagus Prayogo dan Puguh hanya bisa saling pandang.
“Kakek !, perjalanan kami menyusuri lembah ini masih jauh, sedangkan bekal kami hanya cukup untuk makan siang nanti. Kalau nasi bekal ini kami berikan pada kakek, kami akan kelaparan nanti  dan tidak ada yang mampu menolong kami “ jawab Bagus Prayogo.
“Ah, kami sama sekali tidak akan memaksamu, tolonglah aku nak !, hanya mengurangi sedikit bekalmu tidak akan membuat kamu kelaparan !” Kini giliran Puguh yang dimintai pertolongan kakek tua misterius itu.
“Kakek !, ambilah separo nasi dan lauk saya !, sedangkan sisanya sisihkan untuk makan siang  saya” Puguh segera menyodorkan keranjang bekal pada kakek itu. Dengan perlahan kakek itu mebuka keranjang dan daun pisang yang membungkus nasi itu. Namun petani tua itu hanya mengambil  beberapa suap nasi untuk dimasukan ke mulutnya. Sehingga rasa heran pada Puguh kini memenuhi hatinya.
“Kakek!, kenapa malu ?. Ambilah nasiku lagi !. Inikan belum separo ?”
“Sudah cukup anaku !, kakek mengambil sekedarnya hanya untuk megganjal perut kakek saja. Terimakasih atas kebaikanmu, silakan meneruskan perjalanan anaku !, semoga engkau berhasil “.Puguh bertambah bengong, ketika kakek misterius itu berlalu begitu saja dari hadapanya dan kini sudah berada di tengah petani yang bekerja di lahan mereka.
“Puguh !, kenapa kamu memberikan jatah nasimu ?. Lihat saja tadi !, dia hanya mempermainkan kamu kan ? Untuk apa kamu memberi kebaikan pada orang yang mempermainkanmu?.”Dengan muka  merah padam Bagus Prayogo melampiaskan kemarahan atas sikap kakek misterius itu.
“Ah, sudahlah Bagus !, aku hanya sekedar menolong kakek miskin itu” jawab Puguh.
“Tapi jangan sekali-kali kamu berani minta jatah dariku !”
“Bagus !, yang diambil kakek itu kan hanya beberapa suap, sama sekali tidak mengurangi jatah makanku. Kejadia seperti itu juga sring menimpa keluargaku bila bapak dan emaku tidak punya apa-apa”
Bagus Prayogo tidak menjawabnya, seketika itu juga dia menarik tangan kanan Puguh untuk meneruskan pejalanan, menikmati pemandangan hijau lereng Gunung Merapi. Hingga mentaripun sudah mulai bosan menyinari bumi, kini giliran sang rembulan yang menggantung di langit Gunung Merapi
***

3
“Anak anaku sekalian !, kemarin kalian sudah belajar mengenal, menjaga dan menghormati alam sekitar serta saling menghormati sesama makhluk hidup yang ada di lembah Tasik Madu ini. Hanya kepedulian sesama kita, masih belum bisa kalian lakukan” Suara Resi Kaloka cukup lantang hingga terdengar sampai penjuru dan belakang  kelas yang cukup besar.
“Puguh !, Aku sangat terkesan dengan budi baikmu !, sikap sepeti itulah yang dibutuhkan setiap pemimpin. Kamu mengerti maksudku, Puguh ?” .
“Mengeri Guru !”
“Bagus, anaku tersayang ?. Jangan kamu ulangi perilakumu yang kemarin. Begitu banyaknya orang orang di sekitar kita, yang butuh kepedulian kita bersama. Kepedulian pada orang lain juga dibutuhkan oleh seorang pemimipin. Mengerti, Bagus anaku ?”
“Tapi guru, kita mengadakan perjalanan yang jauh kemarin, bila sampai kita kehabisan bekal dan kelaparan. Apa kita bisa kembali  ke sini, Guru ?”
“Jangan kuatirkan itu anaku !. Bila kamu ringan tangan menolong sesama, pasti teman kamu lainnya pun akan ringan menolongmu. Bukankah aku sudah berpesan kepada kalian semua sebelum kalian menjelajah , untuk belajar peduli kepada orang lain dan ringan tangan menolong sesama. Mengerti, Bagus !!!”
“Eh, iya Guru !. Tapi guru tahu dari mana ?”
“Hehehe….kakek misterius di tengah lahan kemarin,  adalah orang desa yang aku suruh untuk menguji kalian semua. Baiklah anaku semua,  minggu depan kita  mencoba berjalan ke Kota Jogjakarta dengan pedati,  agar kalian bisa lebih peduli sesame kita dan mengenal kehidupan saudara saudara kita “
‘ Setuju guru ” semua siswa memberikan jawaban yang sama, di tengah keasyikan mereka belajar berhitung, menuis dan membaca.  Mereka semua kini sudah tidak sabar ingin cepat menjelajahi Kota Jogjakarta.

Mesin Waktu

Berlian segera mengemasi buku bukunya setelah terdengar bel panjang berbunyi. Nyaring suara bel itu memekakan telinganya, tetapi kini hatinya girang bukan kepalang. Lantaran dia dan dua temanya masing-masing Irene dan Hamdi berencana main ke rumah Galang, putra Prof Alfonso.

Nama Prof Alfonso sudah tidak asing lagi di telinga Berlian. Setiap wajah professor jenius itu  tertampang di televisi, Berlianpun terbesit dalam hatinya, ingin memiliki prestasi seperti dia. Kebetulan sekali Galang temen sekelasnya adalah putra Prof. Alfonso, maka hari itu sehabis sekolah dia berencana main ke rumah Galang, apalagi bila bisa berkenalan dengan professor itu. Meski hal ini sudah direncanakan jauh hari, namun baru saat ini niat Berlian bisa kesampaian. Berlian segera melonjak dan memburu ke tiga temanya yang sudah bersiap pulang juga.

Tidak beberapa lama sampailah mereka di halaman rumah Prof Alfonso, ahli Fisika yang sudah mendunia. Namun betapa kaget Berlian, ternyata rumah Prof Alfonso tidak semegah yang dia bayangkan. Tentunya sebagai ahli Fisika tingkat Internasional pasti memiliki rumah yang megah dan mewah, demikian bisik hati Berlian. Namu meskipun sederhana, rumah professor itu tertata rapi dan bersih. “Oh ini pertanda Prof. Alfonso adalah cendekiawan kondang yang biasa hidup teratur” demikian berkali kali bisik hati Berlian selama di dalam rumah professor.

***

“Silakan, teman-teman kita makan siang dahulu. Mama sudah menyiapkan makan siang untuk kamu. Berlian !, kamu tidak bisa berkenalan dengan papiku, karena papi baru saja ke Amerika”
 “Lantas, apa kegiatan papimu di Amerika ?” Berlian penasaran ingin tahu kegiatan papinya Galang.
“Entahlah, tapi papi sering crita sama mama kalau papi berhasil menemukan “mesin perjalanan waktu”. Kalau ke Amerikanya aku nggak ngerti !”.
“Mesin waktu ?, mesinya sebesar apa. Lang ?” Tanya Irene penasaran.
 “Aku nggak tahu mesinya yang mana, Cuma yang aku ngerti papa sering keluar masuk kamar yang terbuat dari kaca .Sekali papa masuk entah berhari-hari tidak kembali, nggak tahu tuh, papi ngapain aja ?”.
“Boleh aku ngeliat  mesinya, Lang “ Pinta Irene.
“Boleh aja, karena mesin itu sudah dimatikan papi sebelum ke Amerika, Kalau Cuma ngliatin itu nggak apa apa, asal jangan menyentuh panel panel yang ada di dinding kaca”
“Dari mana kamu tahu itu ?” Tanya Berlian.
“Ya dari papa, pas aku libur sering main main di kamar kaca tapi nggak berani main main tombol yang ada di panel “.

Mereka bertiga kini sudah di depan “mesin waktu”. Merekapun sangat kagum dengan mesin temuan papinya Galang, belum pernah mereka melihat mesin secanggih itu. Sebuah kamar yang terbuat dari kaca anti gores dan anti panas. Kaca tersebut
melingkungi sebuah ruangan yang serba berisi panel-panel otomatis, yang mereka sendiri tidak tahu fungsinya.
“Boleh aku masuk, Lang ?” pinta Berlian.
“Tentu, tapi jangan kamu pegang kaca bagian dalam, karena berisi tombol tombol serat optik dan serba otomatis”
“Ah, jangan masuk Yan, nanti malah kamu terlempar ke jaman lain” usul Irene pada Berlian.
“Oh, nggak apa--apa kalau Cuma masuk, kan sudah dikunci papi. Yan yang penting kamu jangan pegang panel panel itu ?”. Berlian hanya mengganggukan kepala, maka diapun memberanikan diri masuk untuk mengobati penasaran hatinya disusul ke tiga temanya itu. Mengapa kendaraan waktu ini bentuknya tidak seperti pesawat, kereta api ataupun bus atau bahkan kapal selam, apa pula bahan bakarnya.

Galangpun menemani temanya bertiga dan berusaha menjelaskan tentang mesin waktu itu menurut yang dia tahu. Sistim itu hanya melempar molekul molekul di tubuh kita dengan gelombang elektonika ke sasaran ” tahun waktu” yang kita tuju.
“Molekul ?, ah aku jadi nggak mengerti “ potong Irene.
“Gelombang elektronika itu yang kaya apa, Lang ?” seru Berlian
“Ya, kata papi sih, cahaya matahari juga  termasuk gelombang elektronika“
“Kalau gitu, badan kita terasa sakit dong kalau naik mesin waktu ini?” sahut Irene.
“Mana aku tahu ?”
“Seandainya aku mau ke Jaman Majapahit, seperti pelajaran tadi pagi, aku tinggal klik aja sudah ketemu Patih Gajah Mada, ya Lang “ pekik Hamdi sambil berjalan memutar mutar kamar itu dengan kedua tanga direntangkan mirip pesawat terbang. Sikap lucu tadi segera diikuti Galang, Irene dan Berlian yang lagi senang hatinya. Tanpa mereka sadari kekonyolan mereka menyebabkan hidupnya “mesin waktu” Prof. Alfonso, karena mereka telah mengakfifkan panel mesin. Sehingga secara otomatis pintu utama tertutup, dan semua sistim  di mesin itu aktif dan siap melempar mereka ke waktu Jaman Kerajaan Majapahit.

Mata mereka terbelalak seketika dengan jantung yang seakan akan mau lepas. Mereka berempat hanya mampu berpelukan satu sama lainya. Namun yang mereka rasakan hanya seperti naik lift di gedung bertingkat. Tidak beberapa lama seketika “mesin waktu” itu berhenti bergerak,  pintu otomatispun bergerak terbuka.

Terlihat sebuah gedung tidak seberapa tingginya terbuat dari batu hitam yang kokoh, menjulang di depan mereka. Gedung itu dikelilingi prajurit yang beraneka macam persenjataanya, tak berbaju dan hanya bercelana pendek warna merah. Beberapa diantaranya sudah mengerumini mereka dengan terkagum kagum. Bahkan sebagian lagi berlarian karena ketakutan. Tetapi seorang prajurit yang berjambang dan berbadan tegap, menghampiri mereka sambil membentak, “He siapa kamu dan darimana?”.

“Temen temen saya yakin ini istana Majapahit, seperti permintaan Hamdi tadi.  Kita sudah terlanjut sampai disini, kita tidak bisa mundur lagi. Sekalian saja kita berpura pura duta dari kerajaan apa, aku sendiri belum tahu. Kita harus berlaku sopan sehingga mereka
tidak menyakiti kita . Kalian jangan takut. Biar aku saja yang bicara denga mereka” Bisik Berlian kepada mereka bertiga yang sudah kelihatan pucat wajahnya.
“Tapi kata Bu Guru kita nggak boleh berbohong “ desak Irene.
“Apa prajurit itu tahu tentang “mesin waktu”, apa mereka percaya kita dari tahun 2025. Inilah jalan satu satunya bagai kita. Tidak usah takut temenku, ini bukan salah siapa siapa, ini salah kita bersama terbawa “mesin waktu”.  Ujar Berlian mencoba membesarkan hati teman temanya.

***

“Ayo jawab anak kecil, Siapa kamu dan dari mana ?” Tanya kepala prajurit itu.
“Kami dari jauh, dari kerajaan Atas Angin. Kunjungan kami ke sini, sekedar untuk berjumpa dengan Mahapatih Gajah Mada. Kami hanya ingin menyambung persahabatan dengan Negeri Majapahit yang Agung” Jawab Berlian.
“Mengapa Kerajaan Atas Angin hanya mengirim anak kecil ?, apa tidak punya utusan lainnya ?”.
“Di negeri kami, anak anak adalah lambang perdamaian dan persahabatan. Maka raja kami mengirim kami semua. Apabila maksud kami diterima maka raja kami sendiri yang akan menghadap Tuanku Raja Hayam Wuruk. Tapi pada kesempatan ini ijinkan kami bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada terlebih dahulu “
“Mana upeti tanda persahabatan kamu ?”
“Akan dibawa langsung oleh raja kami nanti !“ Jawab Berlian dengan berusaha meyakinkan kepala prajurit yang garang itu.
“Baiklah ikuti kami, akan kami bawa ke pesanggrahan Mahapatih Gajah Mada.

Sang Mahapatih dengan wajah yang penuh wibawa, duduk di kursi kepatihan, di kelilingi para Senopati Prajurit Majapahit dengan wajah tertunduk. Merekapun segera menghanturkan hormat, dan langsung dipersilakan duduk di kursi tamu kerajaan.
“Jadi engkau anak anak wakil dari kerajaan Atas Angin ?. Di daerah mana itu ?”
“Di daerah…Jayakarta “
“Oh,,aku tahu itu, dekat dengan Kerajaan Banten, mengapa baru  ini aku mendengar ?”
“Negeri kami hanya negeri kecil, tentu saja Tuanku belum mendengar”. Jawab Berlian.
“Aku kagum dengan keberanianmu, anak anaku ?. “
“Raja kami terpaksa mengirim kami, karena berharap dapat menjalin persahabatan dengan Negeri Besar Majapahit. Anak anak di negeri kami dijadikan lambang cinta kasih, Tuanku ! ”.
“Oh, kami terima dengan tangan terbuka dan sampaikan salam hormat Majapahit untuk raja dan Rakyat Atas Angin. Istirahatlah kalian semua, silakan nikmati apa saja yang kalian suka ?”
“Jawaban dari Baginda Mahapatih Gajah Mada sangat ditunggu raja kami. Maka mohon maaf kami tidak bisa lama disini”
“Baiklah, anak anaku. Aku sangat terkesan dengan sopan santunmu. Tapi nikmati dahulu hidangan kerajaan silakan”

***

Mereka sudah kembali ke dalam mesin waktu, sementara Prajurit Majapahit lengkap dengan panji kebesaranya melepas kepergian mereka dengan penuh persahabatan. Galang berusaha sekuat tenaga mencari tombol mengaktifkan mesin waktu itu dibantiu ketiga temanya. Beberapa saat mereka mengalami kesulitan dan kepanikan. Di tengah kepanikan itu, Hamdi kemudian berteriak “Hai mesin waktu, kembalikan kami ke rumah Prof. Alfonso !”

Mereka kini berpelukan karena gembira, mesin waktu telah aktif dan dengan sesaat berhasil melemparkan mereka ke waktu tahun 2025, tepat di halaman rumah Prof. Alfonso.  Setelah pintu utama terbuka secara otomatis, berhamburan sejumlah orang menghampiri mereka berempat. Mereka diantaranya adalah Prof. Alfonso, orang tua mereka berempat, para wartawan dan masyarakat luas.

“Oh, terimakasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan anaku kembali setelah tiga bulan lamanya mereka hilang terbawa mesin buatanku sendiri “ seru Prof Alfonso di tengah kerumunan yang berisi peluk dan cium.

Ayam Jago


Ibu memiliki dua belas  ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan yang tubuhnya cukup besar dan   biasa  dipanggil  Si Jago.  Semua ayam  ibu tadi dibuatkan kandang di belakang rumah, sehingga kalau malam mereka tidak tidur di sembarang tempat.
Pagi – pagi benar sebelum Ibu memasak untuk sarapan,  semua ayamnya diberi makanan  berupa nasi  dan sayur  sisa.     Meskipun makanan itu semuanya sisa tadi malam,  namun ayam –ayam tadi mau makan dengan lahapnya. Maka tidak mengherankan, bila semua ayamnya Ibu gemuk dan sehat.
Beberapa ayam betina sekarang  sudah mulai bertelur, sementara ayam betina  lainnya  sudah mulai mengerami telurnya. Perasaan Ibupun menjadi senang melihat ayam piaraanya bertelur dan mengerami.  Setiap  hari tak lupa Si  Jago selalu menjaga mereka, sehingga telur – telur yang ada di kandang tidak di makan tikus.
Namun Si Jago akan membiarkan saja bila Ibu mengambil salah satu telur mereka untuk digoreng.  Tetapi bila ada hewan lain yang mendekati kandang-kandang ayam betina Si Jagopun akan marah dan segera menerjang dan mematuknya.  Ibupun sangat sayang dengan ulah Si Jago ini.
Berbeda  jauh dengan Amran yang sama sekali tidak suka dengan ayam-ayam ini. Jangankan memberi makan,  dekat dengan ayam –ayam ini saja dia tidak mau, bahkan dia sering mengejar ayam ayam itu dan kadang kadang melempar dengan benda apa saja. Makanya semua ayamnya Ibu sangat ketakutan bila dekat dengan Amran.
Suatu hari saat Amran jalan kaki bersama teman – temannya pulang dari sekolah, dia bertemu dengan Ibu Siti pemilik warung  makan, yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.
”Amran,  coba kamu tanya ibumu, berapa harga telur ayam kampung. Bu Siti tiap hari butuh untuk dimasak. Nanti coba tanyakan, ya ”  pinta Bu Siti.
”Ya Bu, nanti segera aku tanyakan sama Ibu ,  Bu Siti butuh telur berapa ? ” jawab Amran.
”Sebanyak – banyaknya,  nanti aku tunggu kamu di warung , ya ! ” 
” Ya, bu ! “.

Menjumpai tawaran Bu Siti  tadi, timbulah niat jahat Amran untuk mencuri telur – telur ayam milik Ibunya.  Niat Amran bertambah kuat, setelah  rencana jahatnya itu didukung oleh teman karibnya,  yaitu  Leo dan Joko.  Maka tanpa pikir panjangpun Amran segera membulatkan tekadnya. Bahkan kini dia telah punya rencana,  setelah makan siang nanti dia akan berpura-pura belajar mengerjakan soal – soal di LKS.
Amran tahu betul setiap selesai dia makan siang, Ibunya langsung pergi tidur siang dan kadang kadang dia diajak Ibunya untuk bareng tidur siang. Namun kali ini dia beralasan tidak menemani tidur siang Ibunya,  karena banyak PR di LKS, yang harus dia dikerjakan.  Sementara itu sejak dia makan siang tadi, hingga kini beberapa kali sempat dia dengar kokok ayam betina  pertanda baru saja mereka bertelur.
Hati Amran bergembira tiada terkira, setelah dia mendapatkan 5 telur yang masih baru. Maka kini  tanpa menunggu waktu lagi,  dia bergegas menyerahkan telur itu pada Ibu Siti dan Amranpun menerima uang dari Ibu Siti sebesar lima  ribu rupiah dan kini diapun bergabung dengan Leo dan Joko  untuk main play – station di ruko depan sekolah mereka.
Demikian seterusnya hari demi hari ulah Amran tiada pernah berhenti, sampai suatu hari Ibunya kaget bukan kepalang.  Lantaran telur ayam – ayamnya diluar dugaan sekarang berkurang banyak.  Maka diapun  segera mengadukan Bapaknya Amran tentang  hilangnya telur – telur yang harusnya dierami oleh ayam mereka.  Bapaknya Amranpun segera meneliti hilangnya telur – telur tersebut.
Ini    mungkin  dimakan tikus apa  kucing, Bu ? ” jawab Bapaknya Amran setelah meneliti kandang ayam mereka.
” Tapi Si Jago kok diam Pak,  biasanya kalau ada tikus. Si Jago langsung berkokok ”
” Mungkin sudah, tapi Ibu yang nggak dengar ”
 Ya sudah,  makanya  kalau siang hari jangan sering tidur.  Nanti di atas kandang Bapak pasang lampu. Sehingga kalau malam tikus  tidak berani menyerang dan untuk kandangnya biar Bapak lapisi dengan anyaman kawat ”
Hari itu seharian Bapaknya Amran sibuk memperbaiki kandang ayam mereka sekaligus memasang lampu penerangan.  Kegiatan ini sudah barang tentu membuat hatI Amran dan kedua temanya bersedih.  Lantaran ketiganya hari ini tidak bisa bermain play – station.
Barangkali hanya perasaan ayam – ayam tersebut dan Si Jgo tentunya  yang merasa marah dengan ulah Amran.  Hanya saja mereka tidak mampu mengadukan kepada kita semua,  barangkali saja rasa marah dari ayam – ayam itu sudah memuncak, lantaran telur mereka sering di ambil Amran.  Merekapun akan membuat perhitungan bila  ulah si Amran dilakukan lagi.

Benar saja ternyata rencana mereka tidak hanya omong kosong belaka. Kala Amran sudah mengantongi 5 buah telur di saku bajunya, semua ayam betina kontan bersamaan berkokok sekeras – kerasnya. Hal ini tentu saja membuat Amran kaget bukan kepalang. Ditambah lagi tanpa diduga sebelumnya Si Jago langsung ,menerjang dia dengan cara melompat ke arah muka Amran sambil mencakar wajahnya.
Serangan Si  Jago ini akhirnya membuat Amran terjatuh karena  kehilangan keseimbangannya dan mengakibatkan telur – telur yang ada di kantongnya pecah membasahi bajunya.  Sudah barang tentu kegaduhan ini membuat Ibunya  Amran terbangun dari tidur siangnya dan  menjadi kaget melihat Amran menangis dan berdarah di pipinya.  Perasaan Ibunya menjadi bertambah kaget ketika melihat bajunya Amran dibasahi telur yang pecah.
” Oh jadi kamu Amran !, yang mengambil telur.  Perbuatanmu itu tidak baik, Anaku ! ” Seru Ibunya sambil menerik telinga Amran
 ” Ampun Bu,   betul Bu, Amran yang ambil ”
 ”Baik, nanti Ibu adukan perbuatanmu pada Bapakmu, biar nanti Bapak yang menghukum kamu ” ancaman Ibunya itu membuat Amran  takut setengah mati.
 ” Jangan Bu, Amran kapok, betul Bu ”
”Kalau kamu takut sama Bapak kamu, Ibu ingin kamu berjanji di depan Ibu tidak akan mengulangi perbuatanmu ! ”
Amranpun berjanji di depan Ibunya  tidak akan berbuat jahat lagi.

Selamat Pagi Emak


PUISI ANAK
Mama, biarkan aku bercerita.....
Sambil melahap singkong rebus yang mama berikan
Di awal pagi bergerimis
Setelah semalam aku becanda
dengan teman-temanku
melalui facebooku
Aku ceria, hingga tak terasa malam
semakin larut.

Mereka semua mengucapkan
Selamat ulang tahun…
Padahal di sawah ladang bapak
Tidak mengenal ulang tahun, dengan kue tart
Singkong, padi dan palawija miik Bapak
Terus tumbuh sepanjang waktu

Aku ucapkan saja
Semoga kita sehat
(Desember, 25 Desember 2011).
 
Mimpiku

Bapak membelikanku mobil sport merah jambu
Mampu menderu di jalan-jalan Kota Semarang
Aku tertawa sepanjang hari
Mama tidak menyuruhku pergi ke ladang
Aku meneguk es kelapa muda di rumah makan
besar,  di etalase kaca dipampang sejuta menu makanan
Tapi, tidak ada menu daun singkong dan sambal kacang

Tapi aku tetap tertawa
Mama disampingku mengelus pipiku
“Anaku sayang !, bangunlah hari sudah siang, pergilah
ke  sawah membantu Bapak !”
(Desember, 25 Desember 2011).