Minggu, 20 Mei 2012

Beranda Hotel Cassablanca


Sejak  pemerintahan Belanda terusir dari Bumi Nusantara dan hengkang dengan wajah lesu, lantaran  kalah perang dengan Tentara Dai Nipon, Hotel Casablangka di pinggiran Kota Semarang sudah tidak lagi berdandan eksotis lagi, tapi lebih menyodorkan ornament-ornamen gaya Eropa yang ditelikung kepedihan. Gelas gelas piala Baverage Cock Tail Party kini merenungi nasibnya, terbengkelai di meja portir pub hotel itu berserakan bercampur debu.
Wanita wanita  “Inlander” penghibur para serdadu KNIL pun telah mengungsi entah kemana. Berandanyapun kini berdandan kekumuhan dan tiada lagi bersenyum ceria, berbeda dahulu  kala para perwira NICA dan KNIL mengumbar nafsu durjana dengan nafas berbau brandy, whisky ataupun vodka.
Angin gunung Ungaran kini menggantikan kecerian hotel itu dengan membawa kedinginan. Sementara itu suara burung kenari dan jalak kini menggantikan Gramaphone yang menyuguhkan  Mozart yang dahulu banyak digandrungi perwira NICA. Mereka dengan setianya masih menyanyikan lagu ceria tiap saat dibuai angin Gunung Ungaran
Hesti sang wanita penghibur dan primadona Hotel Casablangka kinipun merajuk hatinya sendiri untuk segera pulang ke desanya di kaki Gunung Merapi. Meninggalkan lembah hitam yang melilitinya, meski bedak dan gincu yang ia jadikan kawan setia guna menyodorkan cinta warna-warni, bak kembang kertas kepada anak buah Kapten Van Mook, bregundal NICA, yang saben hari menghujamkan nafsu gairah syetan kepada wanita Inlander tak berdaya. Hesti hanya bisa merenungi ketika gelas brendy sudah tiada lagi disisinya, ketika dia bermandikan Gulden hanya untuk sepenggal hidupnya,yang terkikis tajamnya badai kehidupan.
Namun Hesti masih menempatkan Kapten Burhanudin, pejuang TKR di sudut hatinya, yang kini entah terbawa angin revolusi, di belahan bumi mana atau hanya mengintip di balik awan hitam yang menaungi hidup Hesti. Tatap mata kapten pujaanya itu telah membawkanya sebuah cawan berisi aroma cinta dan berhasil meneduhkan hatinya. Kala hidupnya memang menjadi lekang dipusari ketidak adilan jaman. Apalah artinya lengan seorang wanita desa yang tiada berdaya melayani nafsu durjana anjing anjing itu, apalagi di bawah todongan revolver, ketika NICA menyerbu desanya. Dengan biadab pula mereka lantas menculikgadis-gadis desa dan mendekamnya di Hotel Casablangka.
Maka jeritan hati Hestipun tiada pernah padam lantaran  perahu cinta Hesti tiada pernah tertambatkan, meski Kapten Burhan pernah memberikan dia juga sekeranjang janji, untuk dibenahi bersama ketika malam penganten, entah kapan.
Roda jaman terus berputar, namun tetap saja tajam geriginya masih kokoh menguliti anak bangsa yang bergelora menghembuskan api revolusi. Nagasaki dan Hiroshima menjadi saksi korban ketajaman roda jaman, ketika semua daging telah terpisahkan dari ,kulitnya. Mulusnya kulit perawan perawan kedua kota itu, telah menghangus menjelma layaknya iblis yang menjerit menakutkan.Namun tiada yang menghiraukan, lantaran  pejaka pejaka Dai Nipon-pun ikut merasakan pedihnya seribu sembilu yang memenuhi tubuhnya. Angin kebiadaban dari sekutu benar benar kejam, tiada lagi punya hati untuk memeluk kasih berujud sayap malaikat penebar kasih sayang.
Desember 1945, menjadi bulan yang sangat mengiris hati Hesti. Karena pada bulan itu hari-hari kehidupannya di bawah Gunung Merapi, hanya berhias hujan dan angin dingin Gunung Merapi. Kini diapun hanya mampu merajut hari yang sepi dan meletihkan.
2
 Namun dari mulut ke mulut Hesti mendengar kabar, bahwa Ambarawa telah meradang bara dan kepulan mesiu, tatkala tentara NICA di bawah pimpinan Brigadir Bethell meregang hidup dan mati berhadapan dengan TKR yang dipimpin langsung oleh Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Soedirman, yang berintikan kekuatan Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto dan Yon. Soegeng.  Palagan Ambarawa mampu mengokohkan  sebagai tempat untuk mencurahkan peluh dan tetesan darah dan kini kembali membisu setelah di pertengahan Desemnber 1945 Tikus Tikus NICA mampu kembali menghirup udara bebas  setelah hampir satu bulan terkepung “supit urangnya” Pak Dirman. Namun dasar tikus,  sematan “kalah perang “ belum juga menyurutkan hasrat mereka.
Hati Hesti kembali sejuk, sebuah harapan kini hadir di sudut hatinya lantaran dia tahu persis “kapten pujaan hatinya” pastilah ikut menyalakan bedilnya demi kehormatan dan jiwa besarnya. Lenganya yang kokh dan tegap pastilah mampu melentingkan mitralyuir, water canon 12, 7, granat atau bahkan tankpun mampu dia bungkam.
Oh..Casablangka kau pasti akan berdandan ceria dengan bulan purnama di  atapmu, bunga anyelir, dahlia serta mawar merah membara akan mewangi di berandamu. Tunggulah Casablangka, aku akan bermandikan cinta mutu manikam dengan kapten pujaanku di berandamu, aku akan membawanya berjalan ke setiap penjuru ruanganmu bersama dia”. Berkali kali Hesti menyekun hatinya, agar bilah cintanya yang mongering kini tumbuh bersemi lagi.
***
Deru Jeep Willys buatan Amerika kini lalu lalang di halaman Cassablangka, namun angin Gunung Ungaran masih saja terasa liar dan terus menyelinapkan kedinginan di setiap tulang laskar TKR  yang baru saja merayakan kemenangan. Mereka kini sementara bermarkas di Cassablangka karena tergiur dengan eksotisnya, bak gadis desa yang lagi mandi di sungai desa dengan gemercik air yang dingin.
Kapten Burhan yang tergabung dengan Batalyon Soeharto kini melemaskan semua badanya dan memilih bersandar pada kursi berkulit macan di ruang lobby Cassablangka, yang hanya menyisakan kebisuan. Warna dindingnya telah kusam dan berdebu, mirip dinding rumah “ Palace of Vampir Princess”, Namun Kapten Burhan tiada pernah menjerambabkan anganya pada kebisuan hotel tak berpenghuni itu.
“Kapten, seorang wanita mata-mata berhasil ditangkap anak-anak. Tapi dia mengenalmu”Laporan komandan jaga Sersan Hamid tiba tiba saja menggetarkan kebisuan ruang lobby hotel itu.
“Suruh dia menghadapku”
“Siap, Kapten !”. Kapten Burhan menjadi terpanggang hatinya, lantaran sebuah rasa penasaran menyeruak dalam hatinya.
Kini tiba tiba saja warna pelangi mengungkungi langit Hotel Casablangka, yang telah terbelah dan menaburkan kembang warna warni, untuk hiasan  sebuah hati yang sedang memaknai cinta. Kapten Burhan tiba tiba saja menjelma menjadi “malaikat dengan sejuta sayap”, untuk menerbangkan hatinya jauh dari muka bumi.Sebuah fatamorgana hati yang tiada bisa terbayangkan oleh “kapten pujaan” ini.
“Hesti..!!!”

3
“Mas Burhan !!!”.
“Tapi,  apa benar engkau Hesti. Mengapa engkau ada di sini”
“Ceritanya panjang, Mas !”
“Tapi aku perlu jawaban darimu, mengapa kamu tahu aku ada di sini, agar mereka tidak menuduhmu mata-mata “

“Aku dengar dari beberapa anggota TKR Ambarawa, bahwa Batalyon Soeharto sementara bermarkas di hotel ini. Mereka juga menyebutmu turut dalam batalyon ini” Burhan kini tiada bedanya dengan  setiap ruangan Casablangka, yang memilih terpagut sepi. Burhan diam seribu bahasa, hanya pandangan mata liar beruntai “Tembang Asmaranda” menyelusuri setiap jengkal tubuh Hesti yang telah lima tahun berpisah.
Burhan mengajak Hesti untuk menebarkan sejuta rasa cinta di Beranda Hotel Casablangka yang berlatar belakang lukisan alam Gunung Ungaran. Namun demikian seberkas hasrat hati Hesti kini mulai tumbuh untuk menyodorkan kepada “kapten pujaannya” tentang dirinya selama menjadi wanita penghibur tentara NICA. Diapun kini membeberkan bait demi bait episode yang menggayuti kehidupan Hesti dengan rona warna yang hitam pekat.
Kapten Burhan menjadi pucat wajahnya, tiada pernah dia menemui sebuah keberanian sebesar ini untuk menerima Hesti kembali. Meski Thomson yang dipegang tangan kokohnya berhasil membabat habis semua NICA yang pernah menghadangnya. Namun hatinya kini, tiada selebar daun pohon durian yang tumbuh di depan beranda itu. Kepingan hatinya melebihi hancurnya tubuh Kolonel Van de Hudson yang tertimpa mitralyur TKR., Kebengisan apa lagi yang bakal aku hadapi di jaman yang tidak menentu ini. Bisik hatinya kini mendekam kuat di tengah hatinya.
“Itulah diriku,,Mas Burhan. Akupun tidak pernah akan memaksamu untuk menerimaku lagi. Biarlah aku pergi, apapun yang aku alami dahulu dan nantinya adalah memang harus aku hadapi. Bukankah kita hidup di jaman penjajahan, apapun bisa menimpa siapa saja”
“Akupun tahu Hes !, juga akupun tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang.Seorang pejuang apapun memilih mati ketimbang bekerjasama dengan anjing NICA. Maafkan aku Hes,aku sekarang tidak memiliki hati lagi untuk menghadapi ini semua”
“Ah jangan terlalu dipaksakan Mas, barangkali aku adalah wanita yang telah memiliki sebilah hati yang telah kokoh menerima penderitaan.Karena sejak kecil aku hidup dengan berbagai kesusahan”
“Hesti, aku tidak pernah menolakmu. Tapi maafkan aku, bila kali ini aku betul betul merasa berat untuk memberi jawaban. Berdoalah saja semoga kita bisa mengusir anjing NICA dan memerdekakan bangsa ini. Sementara pulanglah dulu kamu ke Selo, tunggulah aku pulang”
“Jadi itu keputusanmu,Mas Burhan ?.
Aku belum mampu memberimu jawaban, Hes. Aku minta waktu .Apalagi komadan brigif TKR menginstruksikan batalyon untuk kembali ke Solo, untuk menunggu tugas berikutnya. Toh kita alan berpisah lagi. Aku hanya mampu berjanji untuk menemui kamu setelah kembali bertugas”

4
Hestipun menghiasi wjahnya dengan senyuman tipisnya menambah kecantikan wajahnya. Burhan tidak munafik mengakui kecantikan Primadona Hotel Casablangka ini. Beranda hotel itupun menjadi saksi akan keteduhan hati Burhan kala berada di samping wanita tak berdaya ini.Ingin dia berlari sekuat tenaga dan membawanya mengarungi samudra guna menambatkan cintanya lebih erat lagi. Namun kembali hati itu menjadi tiada seberapa kokohnya menghadapi kenyataan di hadapannya. Waktulah yang akan memberinya sebuah kekuatan.
Kini perjuangan menggapai kemerdekaan telah membawa korban lagi, berujud ebuah perpisahan antara dua insan yang btermakan pusaran angin perjuangan kemerdekaan.

Bedil Bedil Fixed Bounderies


Jalan   desa yang terbuat dari tanah di tengah musim kemarau yang kerontang,  kini berdebu merebaki pandangan pemuda yang menggelorakan revolusi. Dada mereka kini penuh sesak dengan kegalauan, lantaran      Met of zonder   kini merendakan bunga revolusi di tengah hati mereka. Akankah mereka mampu menerjang dan menyodori bara api itu ke Mayor A.G. Greenhalg.. Sang Tikus “Tentara Sekutu” yang mencoba melumuri revolusi mereka dengan kedurjanaan.

Di Tirus sebuah batas Kota Kecil Tegal di Jawa Tengah, kereta api-uap “fajar” baru saja melewati kota yang lengang di dera revolusi. Disamping rel yang baru saja dilewati itu, terdapat rumah papan kayu jati yang lusuh dan terlihat di dalamnya wajah-wajah sangar  AFNEI yang bermimpi “melamar bidadari Pertiwi” ini. Papan berhias cat warna merah membara di depan gardu itu bertulisan  Fixed Boundaries Tegal  meradangkan lengan lengan kecil, yang tiada seberapa dayanya, namun bersemangat untuk segera merobohkan kesombongan serdadu serdadu yang merengkuh kebiadaban.

Angin revolusi bertambah liar dan kencang  bertiup hingga tiap sudut kota kecil ini. Ketika AFNEI atau NICA sama saja, mereka telah menancapkan keangkuhan di bumi Surabaya dan mereka telah menyulut api revolusi yang menyalak di tiap dada yang sesak karena ketidakadilan. Sebuah  api revolusipun yang  memijar tak kalah panas ketimbang nyala  “ moncong    M3/M5 Stuart dan senapan mesin Browning M1919A4” yang selalu memuntahkan peluru  dan selalu pula mencari darah lengan lengan anak revolusi yang tak berdaya. Tetapi tak lekang berniat melempar tikus-tikus colonial menjadi tak berdaya.

Tantangan Sang Gubernur Surabaya “Surya” di kota jauh di timur, sempat di dengar oleh bedil-bedil tua dan dingin, namun tetap di genggam oleh tangan-tangan yang lahir dari tengah kepulan asap mesiu. Sang Surya tiada pernah mau menyerahkan kesakralan merah darah dan putih tulang kepada laksamana Lord Louis Mountbatten. Maka kembali dada para saksi pendzoliman kemanusiaan itu semakin menantang ke langit, untuk sekedar menghatur tawakal dan mengacungkan lengan, agar mampu melemparlan kekotoran AFNEI itu ke bibir neraka.

Bedil M1 Garand milik satu-satunya kini berpindah di tanganya dari bawah ranjang tua, sambil mengelus larasnya, sebuah anganpun lantas dia torehkan, selama dia bergumul mesiu dengan Tikus NICA, andaikata bedilnya itu mampu membungkam  Thompson M1928 dan  M2 Browning milik KNIL ataupun NICA. Barangkali saja dia sudah mengenyam kemerdekaan atau dia kini masih bersanding dengan istrinya, yang  empat tahun lalu meregang nyawa lantaran tidak kuasa melawan wabah kolera yang menyerang desa terpencil itu.

Kapten Soedibyo mengerutkan alisnya, wajahnya menjadi menegang, seakan melihat malaikat pencabut nyawa yang menghampirinya. Dia terjerambab anganya hingga pudarlah bayangan Sunarsih, istrinya yang kini hanya angan, ketika melihat anggota TKR, Letnan Taryono menyeringai dihadapanya seakan memberi kabar bahagia.

Surabaya, pecah dan terjadi pertempuran frontal”. Letnan Taryono lantas duduk di samping komandannya, di kursi penjalin yang kumal dan reot. Mendengar laporan anak buahnya merah padam wajah Kapten Soedibyo

 “Jadi mereka tetap menuntut balas kematian Brigjen Mallaby. Memang mereka pantas dimasukan ke dalam kawah gunung Merapi”

“Dan ada kabar dari intelejen bahwa Panglima Besar TKR, Pak Dirman memerintahkan kita untuk meneruskan gerilya dan menggigit NICA dengan masuk ke kota”

“Merdeka,Bung !. “ Kapten Soedibyo lantas mengepalkan tangan sambil terus menggelorakan api revolusi di dalam dadanya. Rasa benci muak kini bergayut di dinding hati. Sorot mata yang nanar segera bangkit,hingga berkali kali tanpa sadar, dia mengokang bedilnya Garand, seakan mendapat tantangan dari Tikus NICA, ataukah bedebah KNIL yang menjual bangsanya. Seluruh dinding rumah dengan kanvas lukisan yang murung dan suram, bagaikan kehidupan Kapten Soedibyo kini diam terbujur.

Ataukah lebih baik bagi kapten yang menjadi buah bibir kota kecil itu, .agar sigap menerjang Fixed Bounderies yang dibangun dari keangkuhan dan menjulang bagai wujud kemunafikan anak bangsa yang tega menjual sebuah nasionalisme. Kini dalam hati Soedibyo dan sejuta hati yang terhimpit, telah menggapai tekad dengan disaksikan seribu malaikat, yang sayapnya telah siap dibasahi merah darah mereka.

Sementara itu rel kereta api yang terbentang di tepi kota kecil itu telah berkilauan memantulkan sinar matahari musim kemarau. Matahari tepat di atas kepala mereka dengan garangnya tiada pernah merasa penat. Suara riuh burung  di padang alang-alang yang melambai di tiup angin kembara, adalah pertanda bahwa manusia bakal melampiaskan nafsu amarahnya yang merebak tiada henti di Bumi Pertiwi yang Elok dan Ayu. Kapten Soedibyo beserta anak buahnyapun siap memainkan episode ini. Bukankah episode ini memang harus dimainkan dalam roda jaman yang terus menggerus kehidupan ini.

Kota kecil itupun meradang pilu, setelah riuh suara api yang dilontarkan iblis iblis NICA,  dengan laras laras M1917 Revolver,  Thompson M1928, M2 Browning Maching Gun  M1903 Sringfield serta howitzer  dan menebar peluru tajam untuk merajang bambu runcing, pedang, golok, keris dan Garand milik Kapten Soedibyo. Namun tulang tulang berserakan itu kini mulai hidup lagi, setelah mati lantaran tiada pernah merasakan hidup di bawah kuku tajam penjajah. Awan yang menggambar kanvas langit kinipun meliuk lantaran hasrat untuk mengungkap misteri yang ada dalam diri manusia.

Sementara putih sinar mentari berganti dengan pengap lantaran asap mesiu, Namun Kapten Soedibyo tiada pernah mengenal itu. Hanya Sunarsih yang menari dengan hiasan selendang bergumul dengan asap mesiu. Ibaratnya mewangian yang mengundang hasrat Kapten Soedibyo yang telah letih dengan penantian. Sunarsihpun menyanyikan lagu Asmarandana denga menaburkan kembang setaman yang jatuh dari langit.  Nyanyian itupun kini menghipnotis Kapten Soedibyo dan berusaha menggapainya, setelah dada sebelah kirinya merasa pedih yang sangat.

Kapten Soedibyo sempat menoleh ke belakang, kala dia mendengar riuh suara anak buahnya , “ Kapten. Muduuuur,jangan maju…!!!!”. Sedangkan sebagian lagi memekikan “Merdeka, Kapten. Kuatkan dirimu,  jangan tinggalkan kami.Kami ingin merasakan kemerdekaan besamamu”. Namun suara suara itu bertambah pelan, Kapten Soedibyo kini menggandeng mesra Sunarsih untuk bersemayam di langit biru tempat Tuhan Yang Kuasa Bersemayam.

The FIGHTING COCK


September hari ke 18 tahun 1948, sebuah pengumuman dari Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tentang pembentukan Front Nasioanal Daerah menyelinap ke angkasa Kota Surabaya yang terpagut sepi, lantaran disekap hujan semalam.

Namun pengumuman Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tersebut, seketika menghangatkan udara kota Surabaya. Embun yang turun di pagi hari sontak menepi, ditepis gelora juang hati para pemuda, termasuk Letnan Sudjiwo, anggota TKR Batalyon Mayangkara 503, di Perning Sidoarjo tepi batas kota. Surabaya yang merah membara akibat ulah anjing NICA pada November 1945, kini kembali bangkit lagi untuk menghempaskan “merah darah” yang hendak merenggut Bumi Madiun menjadi negara Beruang Merah.
Demikian juga Lt. Sudjiwo, hati letnan lajang itu meradang merah membara mendengar “kaum merah” yang menggagahi Madiun dengan sekehendak hati. Ibu pertiwi yang lagi bersolek penuh gairah bersyahwat dengan nasionalis setiap anak bangsa, guna mempertahankan sang kekasih dari sergapan dan tikaman bregundal dari daratan Eropa, yang telah berabad lamanya memasung hasrat Ibu Pertiwi “pemilik archipelago yang berpantai nyiur hijau”, telah terluka hatinya. Luka hatinyapun   tersayat bertambah dalam, lantaran bercampur dengan sebuah kerinduan semua anak bangsa akan makna sebuah kebebasan, yang telah menjadi fitroh , harkat dan martabat setiap nafas, yang telah banyak ditebus dengan apa saja yang mereka mampu kerjakan dan akan terus menjadi “penyulut” pergulatan panjang di pentas prosa sebuah bangsa.
Sang letnanpun telah tahu persis tabiat “kaum merah” yang liar tanpa nyanyian jiwa, maka Rakyat Madiunpun bakal menjadi  korban radikalisme tanpa mengenal “kehalusan akal perasaan” demi sebuah revolusi setan. Maka Perningpun menjadi saksi bisu akan semangat anak bangsa “asuhan negeri ratna mutumanikam Nusantara” untuk menerjang setiap hasrat yang menodai revolusi kemerdekaan ini. Mereka telah berkumpul di markas batalion itu untuk menunggu perintah Panglima Divisi I Jawa Timur Kolonel Sungkono.
Belum jelas betul jalan-jalan di Kota Surabaya akibat embun pagi yang menghalangi sang mentari. Sepanjang perjalanan hanya terlihat rumah rumah penduduk yang masih terbujur kaku dengan pintu yang masih tertutup rapat. Mereka betul-betul melupakan “ucapan selamat pagi” pada wajah pagi. Namun letnan lajang itu telah melaju dengan sepeda Bathavus menuju Ngagel guna menautkan hati dengan gadis yang selalu hadir di hatinya.
Irma gadis Ngagel yang dirindunya kini menghias bibirnya dengan senyum ceria, bak bunga mawar merah bermandikan embun pagi. Irma tiada mengira “Shodancho Sudjiwo”, yang dia kenal betul sejak jaman PETA, kini berada tepat di depannya meski hari masih tertutup embun.
“Ada perlu penting apa Mas !, pagi pagi sudah ke Surabaya. Ada sesuatu yang gawat rupanya ?”
“Betul, Ir !. Madiun diterjang orang merah. Musso dn pengikutnya bikin ulah. Nasibku tinggal menunggu telegram dari Pak Dirman. Untuk maju menyabung nyawa, sesuatu yang sangat aku benci dalam hidupku”
“Kenapa baru sekarang, Mas bicara masalah menyabung nyawa, Mas kan bukan anak kecil lagi. Sudah kenyang dengan pertempuran meregang nyawa sejak jaman Heiho,
PETA dan pembentukan Djawa Hookoo Kai. Semua anggota laskarpun menyabung nyawa dengan gagah berani“
 “Aku sendiri heran,  Irma .!, Mengapa begitu panjangnya tugas-tugas negara yang selalu saja menelibatkan aku. Padahal aku berharap semua akan berakhir . Sehingga aku bisa meniti kehidupan bersama kamu dalam satu rumah mungil.Tapi ya suadahlah…Ir, aku hanya akan pamit saja sama kamu, untuk menerjang Musso di Madiun”.
Irma hanya tersenyum manis mendengar keletihan jiwa pada letnan muda itu. Namun diapun memaklumi. Lantaran dia dan jutaan Rakyat Indonesia sudah letih pula dalam menggapai kehidupan adil makmur sentosa di masa mendatang. Keduanya kini hanya saling pandang, ketia roda-roda sepeda Bathavus sudah berada di depan rumah Irma Susanti, pejuang wanita yang dijumpai pertama kali oleh letnan lajang itu pada sebuah dapur umum.
Kolonel Sungkono tahu persis bahwa tidak setiap Rakyat Madiun adalah pengikut Musso, maka kekuatan pengikut Musso dan tentaranya tentunya hanya terkonsentris hanya di daerah tertentu saja.  Sejak Kolonel Sungkono diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, 19 September 1948, dia tidak menyisakan waktu barang satu menitpun bagi pasukannya untuk membiarkan pengikut Musso melarikan diri. Tangan tangan mereka yang berlumuran darah harus berhadapan dengan Divisi I TKR, yang terus menerjang maju dari arah timur Kota Madiun. Sementara dari atah barat mereka harus berhadapan dengan TKR Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto. Mereka tak kenal lelah maju melumat beruang merah yang kini tinggal terkonsentris di kota Madiun.
Bau mesiu dan asap meriam membahana di semua tempat di Kota Madiun yang meradang pilu. Setiap langkah maju dari pasukan TKR selalu dihadang dengan pekikan semangat menggelora dari pengikut Musso yang tiada kenal takut, mereka bagaikan mayat yang memanggul senjata. Namun bagi anggota TKR, sikap berani mati mereka tidak sempat menggoyahkan anggota TKR, barang sehelai ambutpun yang terus merangsek maju, menerjang peghalang apapun. Sehingga pertempuran frontal terakhir di tengah Kota Madiun tak terhindarkan.
Hari hari terakhir pertempuran hebat dirasakan oleh Letnan Sudjiwo sebagai hari yang panjang. Lantaran sudah 2 minggu dia bersama anggota TKR lainya menyabung nyawa melawn pengikuit Musso yang sudah tercuci otaknya. Mereka bertempur bagaikan melawan barisan “benteng ketaton”. Namun satu demi satu banteng-banteng merah tersebut berhasil digulung. Hingga hari ini, Hari yang ke – 30 Bulan September mereka telah berada di depan Hotel Merdeka tepat di tengah kota Madiun tempat markas para petinggi pemberontak , meski berjarak beberapa ratus meter.
“Letnan…Letnan Sujiwo”
“Ada apa kopral”
“Aku kurir dan diperintah Kapten menghadapmu”
“Jelaskan apa perintah Kapten Djarot”
“Peleton anda ditugasi membungkam beberapa water canon yang ada di mulut gerbang Hotel Merdeka”
“Tapi itu tak mungkin ?”
“Saya hanya menyampaikan pesan, Letnan !”           
“Baik akan aku jalankan, sampaikan pada Kapten aku akan bertempur semampuku “
Letnan Sujiwo mantan Sodancho gemblengan serdadu Dai Nippon tidak merasakan gentar barang sedikitpun menghadapi water cannon PKI yang terus menyalak. Rasa marah membara kini menghinggapi bilik jantungnya, ketika melihat beberapa anak buahnya lunglai ditebas peluru senapan mesin tersebut.
 “Sersan Santo!,  kumpulkan granat yang masih kita miliki ?”
“Siap letnan. Tapi untuk apa ?”
“Aku akan bungkam meriam itu sendirian”
“Lebih baik anak-anak saja, Letnan !”                                       
“Tentu saja mereka aku libatkan, tapi mereka harus dibelangku, akan aku hujani dengan granat. Setelah aku beri aba-aba majulah serentak semua anggota peleton “
“Baik, Let, laksanakan !”
Sudjiwo kini merangkak harimau di atas padang alang-alang menuju water canon di depan gerbang hotel itu. Kini resiko apapun tidak berhasil mengusik hatinya untuk melangkah surut. Hanya Irma saja yang sempat melintas di atinya, maka diapun  mengacungkan tanganya untuk meminta Sersan Susanto maju mengambil posisi di sampingnya.
“Sersan, maukah kamu menolongku !”
“Tentu saja, Letnan !”
“Kamu kenal Irma kan ?”
Sersan Susanto hanya diam seribu bahasa setelah mendengar pertanyaan aneh dari komandan peletonnya itu.
“He.. Sersan, kamu kenal Irma kan ?. Gadis Ngagel ?”
“Kan aku pernah diajak letnan ke rumahnya. Ada apa dengan Irma, letnan ?”
Di tengah desingan peluru berbagai ukuran Letnan Sudjiwo menarik nafas panjang, tak lama kemudian dia mengeluarkan kalung emas dengan bandul berlian yang disodorkan pada sersan di sampingnya.
“Berikan ini pada Irma, tolong Sersan”
“Sebentar lagi kita pulang ke Surabaya, kan letnan bisa berikan sendiri pada Irma”
            ‘Kali ini aku benar-benar minta tolong, kembalilah ke posisi semula.Bersiaplah menunggu aba-abaku. Aku yakin kita akan menang, selamat bertugas Sersan.Merdeka !”
            “Merdeka, jaga dirimu baik baik Letnan, aku harap kita akan bertemu lagi di kesatuan”
Letnan Sudjiwo hanya tersenyum tipis, kemudian mempercepat gerakmerayapnya hingga semakin dekat jarak dia dengan water cannon. Setelah  tinggal beberapa puluh  meter jarak dia dengan water cannon, dia lantas melengking memberi aba-aba gerakan maju sambil melempar beberapa granat aktif di tangan kanan dan kirinya. Berkali kali
terdengar ledakan dasyat di sekitar senapan mesin itu. Sehingga hacur kini senapan mesin itu bersama dengan penembaknya.
Tubuh letnan itu kini terpelanting membasahi bumi dengan darah pahlawannya,lantaran beberapa peluru 12, 7 telah menyobek dadanya. Seluruh anggota peletonya kini merangsek maju merebut gerbang itu, sementara anggota lainnya berhasil maju hingga ruang lobi. Tak beberapa lama Hotel Merdeka berada sepenuhnya dikuasai Batalyon Mayangkara 503. Kini tubuh Shodancho Sudjiwo yang terbujur kaku berada di pelukan peleton C bersama linangan air mata anak buahnya. Irmapun melepas kepergian letnan pujaanya itu  dengan hati tabah, pada upacara pemakaman pahlawan kusuma bangsa.

Letnan Cintaku


September hari ke 18 tahun 1948, sebuah pengumuman dari Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tentang pembentukan Front Nasioanal Daerah menyelinap ke angkasa Kota Surabaya yang terpagut sepi, lantaran disekap hujan semalam.

Namun pengumuman Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tersebut, seketika menghangatkan udara kota Surabaya. Embun yang turun di pagi hari sontak menepi, ditepis gelora juang hati para pemuda, termasuk Letnan Sudjiwo, anggota TKR Batalyon Mayangkara 503, di Perning Sidoarjo tepi batas kota. Surabaya yang merah membara akibat ulah anjing NICA pada November 1945, kini kembali bangkit lagi untuk menghempaskan “merah darah” yang hendak merenggut Bumi Madiun menjadi negara Beruang Merah.
Demikian juga Lt. Sudjiwo, hati letnan lajang itu meradang merah membara mendengar “kaum merah” yang menggagahi Madiun dengan sekehendak hati. Ibu pertiwi yang lagi bersolek penuh gairah bersyahwat dengan nasionalis setiap anak bangsa, guna mempertahankan sang kekasih dari sergapan dan tikaman bregundal dari daratan Eropa, yang telah berabad lamanya memasung hasrat Ibu Pertiwi “pemilik archipelago yang berpantai nyiur hijau”, telah terluka hatinya. Luka hatinyapun   tersayat bertambah dalam, lantaran bercampur dengan sebuah kerinduan semua anak bangsa akan makna sebuah kebebasan, yang telah menjadi fitroh , harkat dan martabat setiap nafas, yang telah banyak ditebus dengan apa saja yang mereka mampu kerjakan dan akan terus menjadi “penyulut” pergulatan panjang di pentas prosa sebuah bangsa.
Sang letnanpun telah tahu persis tabiat “kaum merah” yang liar tanpa nyanyian jiwa, maka Rakyat Madiunpun bakal menjadi  korban radikalisme tanpa mengenal “kehalusan akal perasaan” demi sebuah revolusi setan. Maka Perningpun menjadi saksi bisu akan semangat anak bangsa “asuhan negeri ratna mutumanikam Nusantara” untuk menerjang setiap hasrat yang menodai revolusi kemerdekaan ini. Mereka telah berkumpul di markas batalion itu untuk menunggu perintah Panglima Divisi I Jawa Timur Kolonel Sungkono.
Belum jelas betul jalan-jalan di Kota Surabaya akibat embun pagi yang menghalangi sang mentari. Sepanjang perjalanan hanya terlihat rumah rumah penduduk yang masih terbujur kaku dengan pintu yang masih tertutup rapat. Mereka betul-betul melupakan “ucapan selamat pagi” pada wajah pagi. Namun letnan lajang itu telah melaju dengan sepeda Bathavus menuju Ngagel guna menautkan hati dengan gadis yang selalu hadir di hatinya.
Irma gadis Ngagel yang dirindunya kini menghias bibirnya dengan senyum ceria, bak bunga mawar merah bermandikan embun pagi. Irma tiada mengira “Shodancho Sudjiwo”, yang dia kenal betul sejak jaman PETA, kini berada tepat di depannya meski hari masih tertutup embun.
“Ada perlu penting apa Mas !, pagi pagi sudah ke Surabaya. Ada sesuatu yang gawat rupanya ?”
“Betul, Ir !. Madiun diterjang orang merah. Musso dn pengikutnya bikin ulah. Nasibku tinggal menunggu telegram dari Pak Dirman. Untuk maju menyabung nyawa, sesuatu yang sangat aku benci dalam hidupku”
“Kenapa baru sekarang, Mas bicara masalah menyabung nyawa, Mas kan bukan anak kecil lagi. Sudah kenyang dengan pertempuran meregang nyawa sejak jaman Heiho,
PETA dan pembentukan Djawa Hookoo Kai. Semua anggota laskarpun menyabung nyawa dengan gagah berani“
 “Aku sendiri heran,  Irma .!, Mengapa begitu panjangnya tugas-tugas negara yang selalu saja menelibatkan aku. Padahal aku berharap semua akan berakhir . Sehingga aku bisa meniti kehidupan bersama kamu dalam satu rumah mungil.Tapi ya suadahlah…Ir, aku hanya akan pamit saja sama kamu, untuk menerjang Musso di Madiun”.
Irma hanya tersenyum manis mendengar keletihan jiwa pada letnan muda itu. Namun diapun memaklumi. Lantaran dia dan jutaan Rakyat Indonesia sudah letih pula dalam menggapai kehidupan adil makmur sentosa di masa mendatang. Keduanya kini hanya saling pandang, ketia roda-roda sepeda Bathavus sudah berada di depan rumah Irma Susanti, pejuang wanita yang dijumpai pertama kali oleh letnan lajang itu pada sebuah dapur umum.
Kolonel Sungkono tahu persis bahwa tidak setiap Rakyat Madiun adalah pengikut Musso, maka kekuatan pengikut Musso dan tentaranya tentunya hanya terkonsentris hanya di daerah tertentu saja.  Sejak Kolonel Sungkono diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, 19 September 1948, dia tidak menyisakan waktu barang satu menitpun bagi pasukannya untuk membiarkan pengikut Musso melarikan diri. Tangan tangan mereka yang berlumuran darah harus berhadapan dengan Divisi I TKR, yang terus menerjang maju dari arah timur Kota Madiun. Sementara dari atah barat mereka harus berhadapan dengan TKR Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto. Mereka tak kenal lelah maju melumat beruang merah yang kini tinggal terkonsentris di kota Madiun.
Bau mesiu dan asap meriam membahana di semua tempat di Kota Madiun yang meradang pilu. Setiap langkah maju dari pasukan TKR selalu dihadang dengan pekikan semangat menggelora dari pengikut Musso yang tiada kenal takut, mereka bagaikan mayat yang memanggul senjata. Namun bagi anggota TKR, sikap berani mati mereka tidak sempat menggoyahkan anggota TKR, barang sehelai ambutpun yang terus merangsek maju, menerjang peghalang apapun. Sehingga pertempuran frontal terakhir di tengah Kota Madiun tak terhindarkan.
Hari hari terakhir pertempuran hebat dirasakan oleh Letnan Sudjiwo sebagai hari yang panjang. Lantaran sudah 2 minggu dia bersama anggota TKR lainya menyabung nyawa melawn pengikuit Musso yang sudah tercuci otaknya. Mereka bertempur bagaikan melawan barisan “benteng ketaton”. Namun satu demi satu banteng-banteng merah tersebut berhasil digulung. Hingga hari ini, Hari yang ke – 30 Bulan September mereka telah berada di depan Hotel Merdeka tepat di tengah kota Madiun tempat markas para petinggi pemberontak , meski berjarak beberapa ratus meter.
“Letnan…Letnan Sujiwo”
“Ada apa kopral”
“Aku kurir dan diperintah Kapten menghadapmu”
“Jelaskan apa perintah Kapten Djarot”
“Peleton anda ditugasi membungkam beberapa water canon yang ada di mulut gerbang Hotel Merdeka”
“Tapi itu tak mungkin ?”
“Saya hanya menyampaikan pesan, Letnan !”           
“Baik akan aku jalankan, sampaikan pada Kapten aku akan bertempur semampuku “
Letnan Sujiwo mantan Sodancho gemblengan serdadu Dai Nippon tidak merasakan gentar barang sedikitpun menghadapi water cannon PKI yang terus menyalak. Rasa marah membara kini menghinggapi bilik jantungnya, ketika melihat beberapa anak buahnya lunglai ditebas peluru senapan mesin tersebut.
 “Sersan Santo!,  kumpulkan granat yang masih kita miliki ?”
“Siap letnan. Tapi untuk apa ?”
“Aku akan bungkam meriam itu sendirian”
“Lebih baik anak-anak saja, Letnan !”                                       
“Tentu saja mereka aku libatkan, tapi mereka harus dibelangku, akan aku hujani dengan granat. Setelah aku beri aba-aba majulah serentak semua anggota peleton “
“Baik, Let, laksanakan !”
Sudjiwo kini merangkak harimau di atas padang alang-alang menuju water canon di depan gerbang hotel itu. Kini resiko apapun tidak berhasil mengusik hatinya untuk melangkah surut. Hanya Irma saja yang sempat melintas di atinya, maka diapun  mengacungkan tanganya untuk meminta Sersan Susanto maju mengambil posisi di sampingnya.
“Sersan, maukah kamu menolongku !”
“Tentu saja, Letnan !”
“Kamu kenal Irma kan ?”
Sersan Susanto hanya diam seribu bahasa setelah mendengar pertanyaan aneh dari komandan peletonnya itu.
“He.. Sersan, kamu kenal Irma kan ?. Gadis Ngagel ?”
“Kan aku pernah diajak letnan ke rumahnya. Ada apa dengan Irma, letnan ?”
Di tengah desingan peluru berbagai ukuran Letnan Sudjiwo menarik nafas panjang, tak lama kemudian dia mengeluarkan kalung emas dengan bandul berlian yang disodorkan pada sersan di sampingnya.
“Berikan ini pada Irma, tolong Sersan”
“Sebentar lagi kita pulang ke Surabaya, kan letnan bisa berikan sendiri pada Irma”
            ‘Kali ini aku benar-benar minta tolong, kembalilah ke posisi semula.Bersiaplah menunggu aba-abaku. Aku yakin kita akan menang, selamat bertugas Sersan.Merdeka !”
            “Merdeka, jaga dirimu baik baik Letnan, aku harap kita akan bertemu lagi di kesatuan”
Letnan Sudjiwo hanya tersenyum tipis, kemudian mempercepat gerakmerayapnya hingga semakin dekat jarak dia dengan water cannon. Setelah  tinggal beberapa puluh  meter jarak dia dengan water cannon, dia lantas melengking memberi aba-aba gerakan maju sambil melempar beberapa granat aktif di tangan kanan dan kirinya. Berkali kali
terdengar ledakan dasyat di sekitar senapan mesin itu. Sehingga hacur kini senapan mesin itu bersama dengan penembaknya.
Tubuh letnan itu kini terpelanting membasahi bumi dengan darah pahlawannya,lantaran beberapa peluru 12, 7 telah menyobek dadanya. Seluruh anggota peletonya kini merangsek maju merebut gerbang itu, sementara anggota lainnya berhasil maju hingga ruang lobi. Tak beberapa lama Hotel Merdeka berada sepenuhnya dikuasai Batalyon Mayangkara 503. Kini tubuh Shodancho Sudjiwo yang terbujur kaku berada di pelukan peleton C bersama linangan air mata anak buahnya. Irmapun melepas kepergian letnan pujaanya itu  dengan hati tabah, pada upacara pemakaman pahlawan kusuma bangsa.

Balada Kasno dan Minah


Senja   kini telah menyelimuti Dukuh Selo di kaki Gunung Merapi, temaram sinar mentari telah pula merambah wajah dukuh itu yang diselingi menebalnya kabut dingin, yang mengubah wajah dukuh Selo menjadi senyap dan pohon-pohon rindang terlihat terbujur kaku. Sementara itu kegiatan bertani dari semua penghuni menjadi terhenti. Mereka segera berbenah  menyongsong malam-malam panjang dibuai angin dingin Gunung Merapi.
Silih berganti warna kehidupan mereka sebagai petani gurem yang tidak menentu, tanpa mereka perdulikan, Asal saja tanaman sayuran yang mereka pelihara,  berhasil mereka panen berarti pula masih ada secercah kehidupan yang berhasil mereka lalui. Kalau toh tanaman sayuran telah membusuk dimakan serangga atau hama lainnya, pertanda mereka harus bekerja  lebih keras lagi di  masa mendatang. Merekapun terima dengan penuh tawakal.
Namun hidup adalah perwujudan cinta yang berasal dari pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa kepada makhlukNYA, tak perduli siapopun berhak menerimanya, asalkan kita  tetap ingin menjadi insan yang berniat mengisi karunia ini  dengan ikhlas dan tawakal.
Cinta kasih antara sesama mereka sebagai manusia juga berhak mereka terima dan berikan  kepada satu sama lainnya,  meskipun  kehidupan sebagai petani gurem sangatlah tidak banyak menjanjikan kebahagian duniawai.  Dengan demikian apakah terlarang bagi mereka untuk merenda cinta kasih antara dua sejoli yang telah menjadi fitroh, apalagi bila mereka adalah dua sejoli yang saling sepakat untuk  membangun bahtera kehidupan.
Beruntunglah bagi mereka yang mengejawantahkan hidup ini bukan melulu dari kebahagian duniawai. Bukankah kehidupan yang mereka harapkan adalah kehidupan yang saling memberikan manfaat satu sama lainnya dengan belaian kasih sayang. Seperti yang dijalani di kehidupan sehari-hari oleh Karso bersama dengan keluarganya sebagai petani gurem.        Karso sebagai putra sulung dari keluarga Pasangan  Randeng dan Tumirah beserta dengan tiga saudaranya yang hidup sangat sederhana, melewati hari-hari kehidupannya dengan membanting tulang, memanfaatkan tegalanya yang tidak seberapa luas, ditambah dengan penghasilan tambahan sebagai kuli bangunan atau apa saja yang mampu menghasilkan uang halal.
Sudah barang tentu Karso yang hanya tamat SMK itupun juga tidak tinggal diam untuk membantu bapak dan emaknya dalam menjalankan roda kehidupan. Termasuk juga biayasekolah ketiga adiknya yang masih kecil.  Maka wajar saja bila Karso tumbuh menjadi remaja yang tegar hidupnya dan tegap badanya sekaligus memiliko otot yang berisi dan berwarna legam karena harus bergelut dengan sinar matahari.
Namun bukan itu semua yang diinginkan Karso,  melainkan kegigihan dan pantang kehilangan harapan untuk membenahi kehidupan di masa depanya,  itu sudah cukup bagi remaja yang telah didewasakan oleh kehidupannya ini.
Idealis yang tertanam kuat di benaknya semenjak dia masih duduk di bangku sekolah, untuk semenatara luluh-lantak dimakan kebutuhan untuk membantu ortunya.  Jangankan untuk kuliah di kota besar, untuk makan sehari-haripun dia harus bergelut dengan tegalan dan sayurnya. Bergelut pula dengan nasib sebagai anak desa yang akrab dengan penghidupan yang tiada menentu.
Apa mau dikata nasib telah mencetaknya demikian, namun sungguh beruntung sekali Karso yang telah ditempa lahir batin oleh Randeng bapaknya,  sebagai petani gurem yang
telah banyak memakan garam dan kesabaran kehidupan.  Kehidupan dan kesuksesan meski hanya sejengkal tidak akan datang begitu saja. Semua harus diraih dengan
berkorban untuk diri kita sendiri. Mengapa tidak ?, bukankah semua kehidupan Randeng dan Tumirah walau seberapa kecilnya, selalu diraih dengan pundak mereka sendiri ?.
Karsopun menyadari hal tersebut, maka wajar saja bila dia  bertekad untuk memulai segalanya dari kegiatan bertani sayuran di kebon bapaknya ini. Tak perduli apapun yang harus dia alami, bukankah kesuksesan tidak harus dimulai dengan berlimpahnya harta. Telah cukup  banyak dia saksikan kesuksesan saudagar-saudagar kaya dikampungnya dimulai dari kegiatan bertani seperti dia. Jangan harap bisa meraih kesuksesan bila kita sendiri menjadi musuh kesuksesan yang dapat kita raih.
Demikian bisik hati kecil Karso di tengah kebonya yang hanya ditemani tajamnya sinar mentari yang membakar tubuhnya.  Tangkai cangkul yang kini telah dibasahi keringatnya  dikeringkan  agar tidak licin lagi, sementara dia kini  berjalan menuju bawah pohon yangrindang di tepi kebunnya , untuk meneguk air putih guna membasahi tenggorokannya yang kering sambil beristirahat sejenak. Karena matahari kini telah berada tepat di atas kepalanya.
Sambil menikmati air teh bekal yang dibawanya dari rumah, anganya kini kembali ke masa-masa dia masih sekolah. Sungguh indah cita-cita yang dulu pernah dimiliki, sama seperti teman-temanya kala mereka masih gaul bareng.  Diantara Karso dan temen-temenya tiada satupun yang bercita-cita apa adanya. Selalu saja mereka bareng memiliki cita-cita yang setinggi langit. Namun apalah artinya sebuah cita-cita, toh semuanya terhempas dengan kenyataan hidup ini.
Termasuk juga cita – cita yang pernah dia ungkapkan kepada Minah, cewek gedongan  yang manis manja, putra kesayangan juragan Iskandar,  tuan tanah yang paling sukses di desanya. Kadang pula Karso merasa malu sendiri, terlebh  bila berpapasan dengan cewek kolokan itu,  bila melihat kenyataan dengan cita-cita yang pernah dia ungkapkan di depan bunga desa itu.
Biar saja bumi ini akan berputar terbalik, asal saja matahari dan bulan tetap saja pada kedudukannya masing-masing, meski saling berseberangan, sementara tiupan angin gunung inipun kuharapkan masih memberi secercah kehidupan bagi diriku.  Biar saja yang aku miliki hanya angan tak berbatas, asalkan saja bahuku yang legam ini masih mampu menyandarkan hidupku.
Meski cita –citaku dulu sangat bersebrangan dengan kenyataan, namun bumi belum berhenti berputar.  Karso belum gagal untuk mendapatkan kehidupan ini, masih ada pula tempat di sudut bumi ini yang akan memberikan kesuksesan bagi dirinya walau hanya sejengkal. Itulah suara hati  nurani yang selalu berkumandang dari kalbu remaja desa yang tidak pernah mengenal menyerah.
Udara panas tengah hari kini terasa lebih menyengat, Karso segera menyandarkan punggungnya di pohon akasia di salah satu pojok kebonnya.  Topi capingnya ia kipaskan untuk mengurangi gerahnya tubuh, yang sudah dibasahi keringat Kedua kakinya telah diluruskan untuk mengurangi kepenatan, karena sejak pagi dia terus berdiri mencangkul
Basah peluh tubuhnya kini menjadi saksi akan kegalauan hatinya, masihkan bisa dia bareng  Minah berangkat sekolah naik mobil bak terbuka seperti dulu lagi,   berdesak-desakan dengan pedagang sayur  yang mau ke pasar.   Meski Minah sebenarnya mampu
bersepeda motor ke sekolah bila dia mau, namun dia lebih memilih bersama temen-temen sekampung bercanda-ria di atas mobil sayur , termasuk bareng dengan Karso.
Canda–ria tiada batas antara mereka  terasa sangat mengasyikan, meski mereka bersekolah di sekolah yang berlainan.  Namun keakraban antara remaja desa yang tiada
memandang perbedaan membuat mereka merasakan kesenangan yang tersendiri. Kelok jalan desa ditambah dengan naik-turunya jalan, tiada mereka takuti meski mereka berada di tumpukan sayuran.
Desiran hati Karso terasa begitu tajam  bila dia beradu pandang dengan Minah, yang juga tersipu malu wajahnya. Apalagi bila Karso memandanginya lebih tajam, wajah Minah menjadi merah tersipu malu, dan tak lama kemudian merekapun saling melempar senyum. Kedua remaja itu kinipun mulai merasakan kebahagiaan. Mereka mulai mengerti , arti dari sebuah senyuman. Apalagi bila mereka  satu hari tak bertemu, merekapun menjadi gelisah mendambakan saat pertemuan.
Karsopun belum berani menyimpulkan ini sebagai suatu cinta yang bersemi di hati mereka berdua. Apakah arti semua ini ?.  Toh wajar saja bila mereka yang dah lama saling kenal dan  konco bareng berangkat ke sekolah mengalami hal-hal yang seperti itu. 
Ah.. . . betapa indahnya hari itu kala  dia  bersama Minah pulang sekolah berdesakan di bak  mobil sayur,   Karso teringat pula saat dulu entah karena apa  sebelum mereka mencapai rumah, mesin  mobil sayur yang ditumpangi itu mogok secara tiba-tiba. Akhirnya semua penumpangnya  turun dan berjalan kaki bareng. Kebetulan hanya dia dan Minah yang rumahnya paling jauh, sehingga kini tinggalah mereka berdua berjalan seiring menyelusuri jalan desa yang turun-naik dan berkelok.
Mengalami kejadian ini Minah bukannya bersikap uring-uringan, tetapi malahan sebaliknya senyum manis tersungging di bibir tipisnya yang merah merekah dan langsung saja dia menggandeng Karso untuk menyelesuri jalan desa ini.
“ Ayo So !, kita jogging aja !,  dah deket kok  rumah kita “
“Entar lu cuapek, Min ?. Kita tunggu aja mobil yang akan lewat “ . Karso sebenarnya tidak tega membiarkan Minah,  berjalan di bawah terik matahari.
 “ Hualah ngenyek lu, jaraknya paling nggak seberapa kok So “
“Ya udah terserah lu aja “ jawab Karso yang terheran dengan sikap cewek gedongan ini, lantaran tidak seperti biasanya  Minah bersikap mau mandiri seperti ini.
 “Nggak keberatan kan So !, jalan bareng sama aku ? “. Sekali-kali Minah memang suka manja sama siapa aja, termasuk entah mengapa dia juga seneng manja dengan temen deketnya Karso.
   “ Waduh ! , , , siapa  sih yang keberatan jalan bareng ama lu “
  “Emangnya kenapa ! “  tanya Minah sambil menghadapkan wajahnya kepada Karso lebih dekat lagi dan  melemparkan pandangan matanya kepada Karso dalam-dalam, seakan akan Minah mengharapkan jawaban yang jujur dari Karso.  Sesaat pandangan mata kedua remaja ini saling bertemu dan tak lama kemudian tinggal tersisa senyum kedua remaja yang tersungging di bibir masing-masing.
           
“Apabila kembang mekar menebarkan wewangian ke semua penjuru mata angin, maka pastilah datang kumbang berniat hinggap di kelopaknya, sambil menikmati indahnya warna-warni kembang itu” .
           
“ Ini lagunya siapa, So ? “
           
“ Ini bukan lyric lagu, tapi puisi bebas karangan aku sendiri “
“Kirain album terbaru KD, So !   Lu kan belum jawab pertanyaanku,  kenapa lu seneng jalan bareng aku sih ? “
“ Ya . . .itu  tadi jawabanku, pakai puisiku tadi “
“So aku bukan sastrawan atau maestro atau apa itu pengarang lagu, aku nggak ngerti maksudnya, Jawab dong So ? “. Pinta Minah dengan rengekan kecil mirip anak kecil yang  manja.
“Kamu itu cuakep . tuan putri !. Bagaikan kembang mawar yang sedang mekar dan menawarkan wewangian ke semua kumbang yang dahaga. He. . .he.. .he. . .maka siapa saja seneng kalau main bareng sama lu !. Sudah selesai jawaban hamba, tuan putri ! “
“Idiih, kamu genit So, “ jawab Minah sambil berusaha mencubit punggung Karso. Karsopun segera menghindar cubitan Minah. Kini terlihat kedua remaja yang sedang bercanda ria, berkejaran mirip acting film India, tak memperdulikan teriknya matahari dan hilir-mudiknya  mobil sayur yang melewati jalan itu.
Sekali - sekali terdengar bunyi klakson mobil dan makian sang supirnya, lantaran ulah mereka yang menganggu lalu lintas. Hingga suatu ketika terdengarlah klakson  yang keras diiringi bunyi ban yang berderit tajam dari arah belakang mereka berdua. Secara spontan Karso memeluk Minah dan mendorongnya ke arah pinggir jalan. Sehingga kini mereka berdua bergulingan di tanah dan selamatlah kedua insan itu dari terjangan mobil dibelakangnya.
Kontan saja sang supirpun menjadi berang bukan kepalang, apa jadinya bila truk sayur  yang dikemudikan menggilas tubuh mereka berdua. Namun kedua remaja itupun tidak  menggubrisnya,  karena mereka  kini telah  terjerambab di tepi jalan dengan posisi saling berpelukan.  Pososo Karso yang kebetulasn diatas menindihi Minah, kemudian melepaskan pelukannya dan perlahan-lahan bangkit sambil menjulurkan tangan kepada Minah umtuk membantunya berdiri.
“Trimakasih So,  telah menyelamatkan aku “ seru Minah dengan raut muka yang memerah lantaran tersipu malu. Karsopun tidak tahu harus berbuat apa, karena kejadian itu sama sekali bukan hal yang direncanakan. Yang ada dibenaknya kini hanya rasa malu yang  tiada terkira,  karena perbuatan itu menurutnya adalah tetap saja perbuatan yang tidak senonoh.
“ Maafin aku ya  Min !, aku tidak  bermaksud. . .. . . ”
“Udahlah So, aku tahu kau tidak bermaksud kurang-ajar,  thank a lot of So “ .  Minah  sama sekali menyadari perbuatan Karso tadi. Meski diwajahnya masih menyimpan perasaan malu, tapi apalah jadinya tadi bila tak diselamatkan Karso. Sehingga  yang ada di perasaannya kini hanyalah perasaan terlindungi. Meski  beberapa pasang mata ikut menyaksikan kejadian  romantis tadi.  Bahkan hanya Minahlah yang mampu menjelaskan perasaan yang timbul dari benaknya yang paling dalam. Maka kini hanyalah senyum manis yang menghias wajah Minah gadis desa yang selangit.
“Eeh . . ayo dong kita pulang, jangan bengong aja kaya patung “   Minah segera menarik lengan Karso yang masih berdiri bengong, lantaran masih tidak percaya dengan kejadian tadi.
Karsopun kini hanya melangkah menuruti kemauan Minah. Kedua remaja itupun kini kembali dengan nuansa-nuansa canda-ria sepanjang jalan desa menuju rumah masing.
Sementara di kanan-kiri jalan desa yang mereka lalui,  terlihatlah daun-daun rumput gajah yang meliuk ke kanan kiri diterpa angin Gunung Merapi, menimbulkan suara gemirisik . Menghantarkan  salam cinta kepada dua remaja yang sedang di mabuk asmara.
Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Sementara itu Karso masih asyik dibuai lamunannya tentang kisah indah yang lalu kala di masih duduk di SMK  di Boyolali. Tak beberapa lama Karsopun terbangun dari lamunannya, lantaran suara ramai burung-burung gereja yang  bersenda-gurau di dahan atas pohon akasia.
“ Aku perhatikan dari tadi selalu saja sampeyan terbawa lamunan masa lalumu , So !. Itu nggak baik untuk pemuda seperti sampeyan. Lihatlah aku ini . So !, Apapun yang aku alami, selalu saja aku terima dengan lapang. Yang penting upaya kita untuk masa depan jangan pernah diabaikan “. 
Seru Kang Amri  mencoba mendekati Karso,  yang sedang duduk istirahat di bawah pohon akasia. Sementara bekal dari emaknya masih utuh belum dimakan sedikitpun oleh sahabatnya itu.  Pertanda dalam diri sahabatnya kini sedang dihinggapi kegetiran hati.  Menjumpai  keadaan  seperti ini,  dalam hati Kang Amripun timbul rasa prihatin yang mendalam  terhadap Karso.
Karuan saja Karso menjadi tersentak kaget mendengar penuturan sahabatnya itu yang kini tiba-tiba saja sudah duduk disampingnya, karena dari tadi Karso tidak memperdulikan kehadiran teman setianya  itu.
 Meski mereka berdua memiliki nasib yang sama-sama tak menentu, namun  perhatian antar mereka berdua sungguh tiada duanya.  Kebetulan saja Kang Amri juga petani sayur  yang  menggarap lahan disamping lahan milik Karso.  Hanya saja Kang Amri berumur 4 tahun lebih tua dari Karso, dan baru tahun kemarin Kang Amri membina maghligai keluarga dengan gadis desa tetangganya yang bernama Ngatini.
Sehingga Kang Amripun tahu persis apa yang ada di benak sahabatnya itu.  Terlebih-lebih mereka berdua adalah sahabat kental sejak masa kecil. Maka tentu saja Kang Amri telah mengetahui hitam-putih diri Karso. Yang jelas segala nasehat ataupun saran yang akan mampu membuat perubahan baik untuk dirinya,  Karsopun tidak segan-segan untuk menerima dengan lapang dada. Maka langsung saja Kang Amri berniat untuk menguatkan hati sahabatnya itu,  agar mau bertekad membuang jauh-jauh lamunan  Karso yang tak berujung itu
“Ah. . . aku hanya kecapaian, Kang ! “. Karso berusaha menutupi apa yang bersemayam dalam sudut hatinya.
“Aku juga pernah muda, So !. Tiada yang mampu membuat anak muda menjadi tak berdaya, kecuali menghadapi kegagalan cinta “.
“ Aku dah melupakan Minah kok, Kang ! ”
 “Sukur kalau sampeyan bertekad seperti itu, tapi hati sampeyan belum bisa !.  Selamanya kalau sampeyan tidak bertekad menghapus kenangan lama,  akan membuat sampeyan tidak gairah  “
“ Gairah apa to Kang ? “
“ Ya. . . namanya orang hidup, pasti ingin mendapatkan segala-galanya agar hidup kita bahagia, tentram dan damai. Meski kita hanya petani sayur , yang nggak punya masa depan.           Karso hanya terdiam seribu bahasa, pandangan kini jauh ke depan.   Mencoba membangkitkan angan-angan tentang apa yang akan dilakukan untuk masa mendatang. Bukankah dia masih memiliki rentang waktu yang masih panjang, untuk mengisi hidup ini dengan segala sesuatu yang dapat berguna untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat di sekelilingnya.

Apakah kehidupan yang selama ini tidak bersahabat dengan dirinya ini, masih bersedia menempatkan dirinya menjadi manusia yang bernasib sesuai yang diimpikan Karso, ataukah dia hanya cukup seperti ini saja. Pertanyaan seperti itu tiada henti-hentinya melintas di benak Karso, bila dia mengalami kegalauan hati, akibat dari kehidupan yang sudah mulai pengap ia rasakan.
Sedangkan Karsopun tahu bahwa Minah adalah gadis desa yang tidak mendewakan duniawi, namun setidak-tidaknya Karso tidak ingin bila keluarga yang dimiliki kelak hanya puas sebagai petani gurem.  Meski dia selama ini mampu menghadapi kehidupannya dengan tangguh dan pantang menyerah, namun belum tentu putra-putranya kelak bisa bersikap seperti dia..
Masih saja melintas di hatinya untuk bisa memiliki Minah, cewek yang begitu kuat melekat di hatinya. Hanya  kepada dialah Karso berniat untuk mewujudkan segala impiannya. Meskipun impian yang dimilikinya itu telah kandas.
Apalagi selama ini dia menyaksikan sendiri betapa ulet dan gighnya  orang tuanya dalam membiayai pendidikan dia meski hanya sampai tingkat SMK,  Suatu kebanggaan sendiri bagi Pak Randeng yang sudah begitu sarat dengan hidup yang membebaninya. Akankah perjuangan ortunya selama ini akan sia-sia saja.
Karso hanya tertunduk lesu, disekanya keringat yang masih saja deras membasahi wajahnya. Cangkul yang sejak tadi pagi melekat kuat di tangannya yang kokoh, kini dibiarkan saja melintang di depannya. Pandangan matanya  mulai sayu lantaran dia merasakan himpitan penderitaan yang demikian beratnya.
Belum lagi beban biaya sekolah ke tiga adiknya, tentu saja semua ini seharusnya menjadi tanggungannya, karena kedua bahu Pak Randeng sudah tak sekokoh dahulu. Ditambah lagi kehidupan petani gurem sudah tidak banyak menjanjikan kehidupan yang layak.
“Pendek kata, So !.  Selama kita belum mampu berhasil memperjuangkan nasib kita sendiri,  selalu saja  kepahitan hati yang akan kita temui dan disitulah letaknya manusia harus banyak bersabar “. Kata-kata Kang Amri tadi sedikit membuat hati Karso agak terbuka dan Karsopun merasa menemukan sedikit obat hati yang dimasukan dalam-dalam ke lubuk hatinya.
“ Lantas aku harus bagaimana Kang !. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa
“Desa ini tidak mampu menjanjikan apa-apa untuk pemuda sepertimu “ Jawab Kang Amri dengan tegas.
“ Maksud Kakang gimana  ? “
 “Merantaulah ke Jakarta atau Semarang atau lainnya,  bila sampeyan  tangguh. sampeyan akan mampu merubah nasib “
“ Rasanya nggak mungkin Kang ! ”
 “Mengapa nggak mungkin,  aku memang tahu,  berat rasanya bagi sampeyan meninggalkan desa ini. Apalagi Kang Randeng sudah sakit-sakitan. Tapi ingat lho So !,
Sampeyan adalah tamatan SMK Jurusan automotif, Sampeyan nggak bakal bisa memanfaatkan ijazah sampeyan. Sayang lho So, bila engkau tetap menjadi petani gurem “ .
 “Bapak mungkin nggak ngasih ijin, Kang ! Sebenarnya aku juga punya rencana kaya gitu ! . Tapi aku berpikir juga, nanti siapa sih yang akan membantu bapak di sawah ? “.
Dalam hati Karso memang timbul rasa bimbang untuk menentukan pilihan itu.  Lantaran kondisi bapaknya yang  sudah mulai sakit-sakitan. Sehingga Karsopun tetap memilih untuk tinggal di desa ini, sambil membimbing dan mengawasi ke tiga adiknya yang masih kecil.
Apalagi semenjak Minah kuliah di Jogja setahun yang lalu, dia sama sekali sudah nggak betah tinggal di desa ini. Dia ingin segera melupakan Minah tambatan hatinya yang sengaja di kuliahkan di Jogja oleh Juragan Iskandar, agar putri kesayangannya bisa melupakan dirinya. Entahlah Karso tidak tahu harus berbuat apa, agar dia mampu melupakan Minah demi kebahagian Minah sendiri.
Terkadang pula Karsopun berniat untuk membuktikan kepada Juragan Iskandar, bahwa dia  bukanlah pemuda yang bisa dipandang rendah dan dicaci sesuka juragan itu. Kejadian satu tahun yang lalu memang sungguh menyayat hati dia dan ortunya. Cacian dan hinaan yang dilontarkan juragan itu di depan orang banyak, sungguh selalu terngiang di telinganya kemanapun Karso pergi. Belum lagi tangis emaknya  yang begitu dalam menahan sakit hati atas perlakuan itu.
Meskipun Pak Randeng lebih mampu menahan perasaan sakit hatinya, namun tetap juga bapaknya Karso itu tidak mamupu menyembunyikan kegetiran hatinya. Pertanda dari raut mukanya yang kelihatan bertambah tua. Lebih sering menderita sakit demam, terutama bila tengah malam yang bercuaca dingin.  Namun karena bapaknya adalah laki-laki yang sejak kecil akrab dengan penderitaan hidup , maka Pak Randeng lebih mampu bersikap tegar.  Dan untuk yang satu ini,  Karsopun  bangga dengan sikap bapaknya yang bisa dijadikan teladan.
Jujur saja Karso mengakui bahwa dengan ketegaran dan kedewasaan yang dimiliki bapaknya, sudah cukup bisa dijadikan bekal hidup bagi pemuda sederhana itu,  apabila Karso mampu berdiri setegar bapaknya. Karena kekayaan materi hanya salah satu bentuk saja dari suatu kebahagian yang diperjuangkan setiap manusia. Namun hakekatnya kaya dan miskin terletak di dalah relung hati tiap insan itu sendiri.
Bukankah Minah sendiri yang sering bertandang ke rumah Karso yang reot untuk mengajak jalan-jalan menyusuri jalan desa yang menembus kebon-kebon sayur milik warga desa itu,  untuk bercumbu rayu dengan Karso kekasih hatinya. Pemuda yang menurut Minah memiliki pribadi yang matang dan dirasakan mampu  melindungi Minah sera bertanggung-jawab. Sikap ini sangat bertolak belakang dengan watak Minah itu sendiri.
Minah merasakan kelembutan belaian kasih sayang Karso terhadap dirinya,  meski Karso hanya anak seorang petani gurem. Segala macam peluk dan cium selalu Minah dapatkan apabila mereka berdua memadu kasih, disaksikan oleh temaramnya senja di Desa Selo Kaki Gunung Merapi. Minahpun  merasakan tiada dunia selain disisi Karso. Sehingga hanya kepada pemuda inilah Minah akan menyerahkan hidupnya.
Meski dia nantinya hanya berperan sebagai istri seorang petani gurem, bila Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menjodohkannya. Namun ada hal yang terselip di hati Minah yang tidak mampu ditebus oleh  apapun jua, yaitu cintanya yang bening kepada Karso pujaannya. Demikian pula kasih-sayang yang demikian lembut dan tulusnya, mampu Minah dapatkan dari pujaan hatinya.
Rupanya drama cinta yang telah diperankan dua insan ini terdengar hingga ke telinga Juragan Iskandar.  Satu dua kali kabar yang didengarnya tak pernah digubrisnya. Namun kabar tentang putri kesayangannya itu semakin santer terdengar di telinganya. Ditambah lagi sering Juragan Iskandar jumpai perubahan sikap Minah yang suka ngelayab,   malas
membantu ibunya di rumah dan kadang pula sering dia temui sikap Minah yang sering melamun.
Maka pada suatu hari, Karsopun ingat betul betapa dia  tak mampu melupakan begitu saja kisah yang sangat menyakitkan itu. Juragan Iskandar dengan dikawal beberapa anak buahnya melabrak Karso di rumahnya.  Kebetulan saat itu Minah sedang bertandang ke rumah Karso. Saat Minah. Pak Randeng dan Tumirah emaknya Karso sedang  asyik berbicara di ruang tamu yang berdinding bambu,  masuklah rombongan Juragan Iskandar tanpa basa-basi menanyakan keberadaan Karso.
Beberapa  anak buah Juragan Iskandar tanpa permisi Pak Randeng,  dengan kasarnya menyeret tubuh Minah dan membawanya pulang. Sedangkan sebagian lainnya langsung masuk ke dalam rumah Pak Randeng yang hampir roboh itu untuk mencari Karso.  Setiap sudut rumah  Pak Randeng tidak ada yang luput dari pengamatan mereka.
Sementara teriakan minta tolong dari Tumirah dan Minah yang diculik secara kasar telah membuat para tetangga Pak Randeng berhamburan keluar, tetapi apa yang dapat mereka lakukan. Karena memang telah kesohor dimana-mana bahwa anak buah Juragan Iskandar tidak  pernah mengenal  belas kasihan dan bertangan dingin dan dengan cara seperti inilah Juragan Iskandar mampu mengelola dagangnya hingga berkembang pesat.
Tak lama kemudian mereka berhasil menyeret Karso hingga sampai halaman rumah. Dengan wajah dingin dan tak mengenal belas kasihan,  mereka beramai-ramai melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Karso yang terus menerus berteriak kesakitan.
“Karso !, Ingat – ingat pesanku ! , kalau kamu ingin selamat. Jangan sekali-kali engkau mendekati  anaku lagi. Kalau  kau ulangi lagi perbuatanmu, maka kau akan tahu sendiri akibatnya. He. . . anak muda ini baru permulaan “. Ancam Juragan Iskandar kepada Karso,  yang terus-terusan memohon ampun, namun tidak pernah digubris oleh sang juragan yang sombong itu. Sementara kini terlihat di sudut bibir Karso dan hidungnya telah mengalir darah segar.
“Silahkan  bapak berbuat sesuka hati kepadaku, Namun perlu bapak ketahui, antara aku dan Minah tidak mungkin akan berpisah. Tanyakan sendiri pada Minah!, bila bapak tidak percaya !“
            “Kurang ajar !, dasar anak  tak tahu diri. Rasakan ini ! “ . Teriak Juragan Iskandar sambil melayangkan bogem mentah ke arah pipi Karso. Sementara itu karena Karso tidak sempat menghindar, maka kini dia melangkah surut sambil terhuyung-huyung kemudian roboh, akibat pukulan Juragan Iskandar yang keras mendarat tepat di rahang bawah.
Melihat anak sulungnya limbung dianiaya  Juragan Iskandar, Pak Randeng segera memapah tubuh anaknya yang sempoyongan. Namun  sama seperti nasib putra sulungnya, beberapa bogem mentah dari anak buah Juragan Iskandar kini mendarat di beberapa bagian tubuhnya.
“Randeng !, suruh anakmu yang tak tahu diri ini untuk bercermin, apakah pantas dia mendapatkan anaku.  Termasuk kau juga,  jangan coba-coba punya niat ingin menjadi besanku. Dengar tidak ! “  bentak juragannya itu seraya mengangkat krah baju Randeng yang hanya bisa menangis menahan kehancuran hatinya itu.
Karena kekayaannya begitu melimpah, maka  mata hati Juragan Iskandar  hanyalah mampu melihat segala sesuatu dari sudut duniawi. Begitu juga perlakuan terhadap putri kesayanganya yang menjadi bunga desa. Apapun yang Minah inginkan selalu saja Juragan Iskandar penuhi.  Bahkan untuk calon suami Minahpun, sudah dipilihkankan,

yang sudah barang tentu tidak sembarangan pemuda yang berkenan di hati juragan kaya itu.
 Tidak heran bila Minah dijodohkan dengan pemuda gedongan dari Kota Magelang, yang berprofesi sebagai dokter internist terkenal di kotanya.  Pemuda itu putra seorang kontraktor besar teman bisnis Juragan Iskandar. Meski selisih umur Minah dengan calon suaminya itu cukup banyak, namun tidak menjadikan halangan bagi kedua ortu untuk menjodohkan putranya.  Demikianlah kabar yang santer dari mulut ke mulut, yang tersebar di seluruh penghuni Dusun Selo.
Karso tersentak kaget dari lamunannya,  kala Kang Amri menyodorkan kopi hangat kepadanya.  Diteguknya kopi hangat tadi, hingga Karso kini terlepas dari lamunan=lamunan yang selalu datang dan pergi kemanapun Karso pergi.
 “Sudahlah So !, sekarang bulatkan tekadmu !, merantaulah kemana sampeyan suka. Ini akan melupakan dirimu dari bayang-bayang masa lalu. Tentang ijin bapakmu,  tidak usah kuatir. Minggu kemarin Kang Randeng telah setuju agar sampeyan meninggalkan desa ini demi secercah kehidupan. Bahkan pakmu tidak tega melihat sampeyan bernasib seperti ini “. 
Setelah memberi saran Karso seperti itu.  Direguknya berkali-kali kopi hangat yang ada di depan Kang Amri , hingga tinggal gelasnya saja yang telah kosong.
  “Jadi bapak setuju , Kang ?. Oh syukurlah, sebenarnya aku ingin ke Jakarta  membantu Lik Udin yang memiliki bengkel kecil-kecilan. Aku ingin membantunya meski Lik Udin belum mampu menggajiku “
 “Akupun setuju dengan rencanamu, So !. Aku sarankan jangan memikirkan gajimu dulu, So !. Engkau diterima  Likmu saja sudah syukur.  Lantas kapan sampeyan berangkat ?. Aku sarankan sebelum berangkat telepon dulu  Likmu So !. “
  “ Aku belum bisa memutuskan kapan berangkat, Kang !. entahlah Kang ! “
   “Kalau Cuma untuk beli tiket Senja Utama Solo Balapan,  sampeyan nggak usak kuatir, biar aku bantu untuk membeli tiketnya “
  “Matur nuwun, Kang !. Nggak usah lah Kang. Nanti ngrepoti sampeyan. Aku punya sedikit tabungan kok, Kang ! “
  “He. . .he.. he nggak usah malu-malu So ! ,  betul aku ikhlas , Tabunganmu biar untuk uang sakumu selama di Jakarta,  Nanti malam habis isya datanglah ke rumahku, ya….? “. Pinta Kang Amri kepada Karso yang dibalas dengan senyuman kecil  Karso.
 “Mengapa sampeyan begitu baik sama aku, Kang !. Padahal hidup sampeyan masih sengsara sama seperti aku, lho Kang ! “
 “Jangan malu, So. Perlu sampeyan ingat, kala aku jatuh seperti sampeyan tidak ada yang mau menolongku, kecuali Lik Randeng Beruntunglah sampeyan memiliki bapak seperti dia “.
 “ Apa  benar, Kang ! “
  “Lho kapan aku bohong sama sampeyan “. Jawab Lik Amri sambil menggandeng tangan Karso untuk segera pulang, karena hari telah sore. Kini kedua insan itupun saling tertawa berderai,  bersendau-gurau di liku jalan desa sepanjang perjalanan ke rumah mereka.
__________000______
Kabut tebalpun kini mulai menyelimuti lereng Gunung Merapi itu, sebagian besar penghuni Dusun Selo telah mengenakan baju hangat mereka,  Suara desir angin gunung bertambah kuat seiring datangnya rembulan malam.
 Sementara di dalam rumah bambu yang reot itu Karso sibuk membimbing belajar adik-adiknya disaksikan oleh Tuminah emaknya sambil tersenyum bahagia memperhatikan anak-anaknya  yang tumbuh sehat.
Malam semakin larut, ketiga adik Karso kini telah berselimut rapat di tengah kedinginan malam yang membawa mereka tidur dengan nyenyaknya. Tinggalah Karso dan emaknya yang duduk di kursi bambu tua yang mereka miliki, sambil menikmati singkong rebus dan kopi panas. Mereka berdua asyik mengobrol.
            Tak lama kemudian terdengarlah batuk-batuk kecil dari Pak Randeng yang terbangun dari tidurnya dan segera bergabung dengan pembicaraan mereka berdua.
            “Jadi sudah bulat niatmu untuk ke Jakarta, Nang ? “  tanya Pak Randeng sambil merapatkan sarungnya ke seluruh badannya.
            “Nggih, Pak !. Besok pagi-pagi Karso berangkat menuju ke Jakarta. Kebetulan barusan aku dari Kang Ramli untuk pinjam HP dan berhasil SMS Lik Udin “
            “ Terus gimana jawaban Likmu  ? “.
            “Alhamdullillah Pak, Lik Udin akan menjemputku di satatiun Gambir, dan sebenarnya sudah lama kedatangan saya ditunngu Lik Udin “.
            “Syukrlah kalau begitu Nang, berangkatlah setelah adik-adikmu pergi ke sekolah. Sehingga mereka tidak  merengek minta ikut. Yang aku takutkan bila mereka bersedih mengetahui keberangkatanmu ke Jakarta “ seru Pak Randeng.
             “ Emak nggak bisa ngasih uang saku untukmu Nang,  hanya sekedar untuk makan di perjalanan saja. Yang sabar ya Nang.  Dari mulai engkau lahir hingga kini bapak dan emakmu hanya bisa sabar dan tawakal.  Kalau engkau bisa meniru bapakmu ini, niscaya hidupmu tidak akan pernah merasa kekurangan “ . Kini emaknya ikut nimbrung pembicaraan mereka. Dari kedua matanya yang sudah keriput mengumpulah titik air mata kesedihan.
             Sebenarnya sangat berat hati Tumirah melepas kepergian Karso, namun lantaran dia dan suaminya sangat mendambakan keberhasilan putranya. Maka dengan ikhlaspun Tumirah merelakan kepergian Karso, yang menjadi kebanggaan dia dan suaminya.
            “Janganlah merasa berhasil dalam hidup ini, So. Sebelum kau tunjukan kepada seluruh warga desa ini, bahwa keluarga kita tidak serendah apa yang pernah mereka tuduhkan kepada kita. Ingat So, apa yang pernah manusia  dapatkan  bisa berubah dalam sekejap bila Tuhan yang ada diatas menghendaki demikian “. Pak Randeng dengan suara datar dan berat mencoba untuk memotivasi putra sulungnya agar mampu berbesar hati menghadapi kehidupan nantinya di Jakarta.
            “ Nggih. Pakne.  Karso mohon doa restu, agar cita-cita kita berhasil “
            “ Aku dan emakmu, siang dan malam selalu berdoa semoga dalam perjalanan hidup ini engkau selalu mendapat bimbingan dari Tuhan yang Kuasa  dan selalu diberi kekuatan hati agar mampu menghadapi cobaan hidup ini. Aku dan emakmu berusaha sekuat hati agar selalu tabah

12
 dan pasrah dalam menghadapi cobaan-cobaan yang baru saja kita lewati. Ini semua  harus engkau tiru,  bila kamu memang pengin menikmati hidup yang sebenarnya “  seru Pak Randeng.
             “Insya Allah, Pakne. Di masa yang akan datang kita tidak akan mengalami hal-hal seperti tahun lalu, ini semua karena kesalahan Karso Pak “
             “Dalam hal ini Bapakmu tidak pernah menyalahkan siapapun.  Karena semua ini hanya lelakoning urip dan kita tidak mungkin mampu menghindari. Setelah engkau mengalami hal-hal seperti tahun lalu, aku harap engkau mampu menjadi pemuda yang dewasa, lapang dada, gigih dan tidak cepat puas mendapatkan segala sesuatu “. Pak Randeng diam sejenak sambil menyalakan  rokoknya yang mati dan selalu menempel di mulutnya.
            “Aku memang bertekad untuk melupakan Minah, Pakne !. Gadis itu memang bukan selayaknya menjadi teman hidupku “
            “Syukurlah, Nang. Bila engkau memiliki tekad seperti  itu. Emak sangat senang bila engkau bisa melupakan dia. Sebenarnya Minah gadis yang baik, hanya saja bukan kelasmu untuk mendapatkannya “ pinta emaknya dengan nada sungguh – sungguh.
             “ Anaku ! , Bapakmu tidak pernah melarang engkau untuk mendapatkan Minah. Karena bapak tahu, Minah adalah gadis yang baik. Namun tentunya engkau belum siap segalanya untuk mendapatkannya, bila engkau telah siap membahagiakan silahkan saja itu hakmu, Anaku !.  Tetapi bila engkau berat melakukan hal itu, pilihlah gadis lainnya yang orang-tuanya lebih terbuka menerimamu . Jangan lupakan pesan, bapakmu ini, ya So ! “
            Masing-masing yang terlibat dalam pembicaraan malam itu tiada ada yang kuasa lagi meneruskan pembicaraan, lantaran mereka semua terhanyut dengan kepahitan, kegetiran dan birama kehidupan mereka masing-masing.
            “ Sepertinya aku tidak kuasa lagi menerima Minah lagi, Pakne !. Karena sikap Juragan Iskandar yang sungguh keterlaluan dengan diri kita.  Belum lagi sikap  warga desa ini yang telah
mencibir kita baik yang di belakang punggung ataupun yang jelas-jelas langsung dilontarkan pada emak dan bapak, atas hasutan juragan sombong itu “,
            “Jangan begitu anaku, jangan dulu menaruh dendam pada orang yang tidak bersalah seperti Minah,  Hilangkan rasa benci yang mendalam terhadap juragan Iskandar,  sebab itu akan menyiksa hatimu sendiri.  Apalagi disaat dirimu sedang prihatin seperti ini, rasa benci inilah yang akan terus menggrogoti hatimu, hingga engkau lupa akan kebutuhan dirimu sendiri. “
             “ Ah. . . lantas aku harus bagaimana, Pakne ? “
            “Anggaplah engkau terlahir kembali di Jakarta, sehingga masa lalumu telah terkubur dalam-dalam. Lalui jalan hidupmu dengan gigih. Bukankah engkau melihat sendiri bagaimana pakmu ini selalu menghadapi liku-liku hidup ini dengan ketabahan. Barangkali ini bisa engkau jadikan pedoman kerjamu di Jakarta. Apabila engka kangen dengan adik-adikmu, tidak usah kau pulang, cukup bapak dan emakmu beserta adikmu yang akan ke Likmu, jangan khawatir biayanya. Anaku !. bapakmu ini masih punya beberapa sapi untuk ongkos ke Jakarta.. Pakmu dah ngantuk, tak tidur dulu “
            Semua lampu di rumah Pak Randeng telah dipadamkan, hanya lampu neon 10 watt yang ada di halaman rumah mereka yang masih menyala. Seisi rumah gubug reot
itupun kini telah beristirahat, merenda mimpi-mimpi malam. Agar esok hari tubuh mereka segar kembali guna menjalankan roda kehidupan masing-masing.
            Karsopun mulai terlelap di dalam tidurnya, yang kini berusaha sekuat hati melupakan  Minah si jantung hati, apalagi mulai esok  dia sudah di Jakarta. Sehingga perpisahan ini diharapkan akan membukan Karso pada lembaran hidup yang baru.

_________________________