Kamis, 17 Mei 2012

Melati dari Negeri Kaca


Bila engkau mampu seputih buih di laut,
tiada pernah membawa kebohongan hingga ke tepian
merentang sayap dan kelopakmu
hingga kau letakan, tangkai yang menyedu riak dan gelombang
agar menjadi ikatan mawar sehalus sutra.

Melati, tak kan lagi kau berseloroh dengan camar
Yang bergincu ‘nyanyian parau” dari tajamnya kerikil hidup
Benahilah wajah pagi semurni sudut jantungmu
Tajamkan sang waktu, hingga kau jinjng
bekal untuk tidur pulasmu,
Ketika rembulan malam mencibir dengan dandanan
eksotis hidup
meski hanya sebuah rumah bambu
namun mampu kau bersandar pada hijau huma
tempat sebilah hidup menawanmu dengan cemerlang
seputih mahkotamu
(Effi Nurtanti ,  Semarang, 14 Desember 2011)

Rabu, 16 Mei 2012

Diantara Peran Humanis dan Humoris Guru


Selalu saja semua pihak yang menseriusi, mencermati atau mengembangkan- gunakan pendidikan di Indonesia, hanya menyodorkan aspek kapasitas, kepiawaian dalam menerapkan model pembelajaran, profesionalisasi  dalam menyoroti figur guru untuk menyambut bola kemajuan pendidikan di negara kita. Padahal aspek Humanis yang melekat pada figur guru harus merupakan aspek yang tidak boleh ditepiskan. Peran Humanis guru selanjutnya akan lebih disambut peserta didik apabila guru menyodorkan juga aspek Humoris yang proporsional.
Sikap humanis adalah sikap yang dikedepankan oleh sesuatu pihak di lingkungan masyarakat yang di aplikasikan dengan sikap peduli kepada sesama anggota masyarakat. Sikap inilah yang menjadi dasar dalam proses interaksi sosial. Karena sekolah adalah suatu wahana yang efektif bagi kita untuk menginterprestakikan kepedulian tersebut,maka sudah sewajarnya aspek ini perlu diemban oleh pendidik,
Aspek humanis yang diusung oleh pendidik adalah sebuah  “peraga hidup”  yang dapat dengan handal membimbing peserta didik dalam ranah penanaman nilai dan norma dasar sosial pada peserta didik. Tanpa ini semua maka peserta didik yang nota bone adalah individu individu teenage yang masih belum kenal persisi tentang arti dan makna nilai sosial. Tanpa peranan humanis pendidik, maka pesera didikpun akan menempatkan kita sebatas hanya sebagai guru seperti pada sistim pendidikan feodal. Sistim ini bercirikan pada komunkasi pembelajaran yang searah, sehingga hanya gurulah yang dianggap sebagai sumber ilmu, yang tidak selayaknya disanggah, didebat, dikoreksi ataupun sikap tirani lainnya. Padahal kita harus ingat betul pada  pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”.
Figur yang humanis pendidik lebih dibutuhkan pada bahan ajar yang memiliki tingkat kompleksitas relatif tinggi,  yaitu pada bahan ajar matematika, bahasa inggris, fisika, kimia dan ekonomi akuntansi. Apabila aspek ini telah konsisten diberikan pendidik kepada peserta didik, pendidikpun tidak akan serta merta memvonis dalam aspek “kognitif” pada peserta yang memiliki prestasi minim. Pendidikpun akan mampu lebih cermat dalam mengeksplorasi faktor kendala sosial yang hinggap di peserta didik tersebut. Karena walaupun bagaimana peserta didik adalah bagian dari masyarakat yang ada di sekolah, keluarga ataupun lingkungan sosial yang melingkunginya.
Pengalaman empiris telah banyak dijumpai penulis tentang figur guru yang ditakuti peserta didik yang kemudian bersikap mengambil jarak  kepada pendidik tersebut. Kasus ini banyak ditemui pada pendidik yang mengampu matematika,kimia dan fisika, meski pendidik tersebut berwajah cantik/ganteng, rapi, cerdas. Bila telah terjadi deviasi model pembelajaran seperti tersebut di atas, maka peserta didik selalu menjumpai pembelajaran yang tidak fleksibel, menakutkan/menegangkan. Selain itu peserta didikpun tidak mampu mengoptimalkan semua indera mereka dalam menyerap bahan ajar.
Humoris tidak selalu bisa kita hubungkan dengan wibawa/pamor seorang pendidik, bila dia melakukan secara proposional. Pendidik yang humoris berlainan jauh dengan pelawak, yang miskin dengan gagasan dan moralitas. Pada profil pelawak hanya lawakan lawakan segar yang mengocok perut yang  perlu dikedepankan. Sehingga pada lawakan lawakan tersebut tidak jarang kita dengar kata kata konyol yang tidak perlu diucapkan.
Namun bagi pendidik aspek humoris yang dia sodorkan, bukan semata mata lawakan segar seperti di atas. Humoris yang dilakukan pendidik adalah semata mata untuk  “mengendorkan  semua indera peserta didik  yang telah menegang” dan yang paling penting adalah membuang jauh- jauh  kesan menakutkan/seram /garang yang dimiliki pendidik.
Humoris  tentunya tidak bisa dimiliki semua pendidik, karena sikap ini adalah sikap bawaan yang sudah barang tentu bagi yang tidak memiliki sifat ini akan sulit melakukanya. Namun humoris bisa juga dilakukan dengan menyodorkan pembelajaran  vokalistik, yaitu suatu pembelajaran yang dilakukan dengan model bernyanyi yang aktif dilakukan peserta didik tanpa mengganggu kelas lainnya.
Humanis dan Humoris sebenarnya adlah dua hal yang melekat bersama sama dalam instrumen kejiwaan setiap orang sebagai suatu yang kodrati . Namun pada kenyataan humanis sering ditanggalkan pendidik karena egonya. Misalnya sering kita jumpai seorang pendidik yang membiarkan siswanya merokok di luar jam sekolah atau di luar lingkungan sekolah. Bahkan terkadang pendidik hanya berpangku tangan apabila melihat perserta didik yang tawuran di wilayah sekolahnya.  Apabila humonis tetap dikedepankan di bawah sekolah yang berbasis masyarakat, tentunya sedikit banyaknya tawuran antara pelajar bisa kita cegah.
Penulis :

Tuhan aku datang lagi


Tuhan, aku datang lagi....
Dengan kemasan kado berbalut kain pasrah....
Telah meluruh bintang-gemintang...
Saat aku pingit di kering tenggrokanku....
.
Aku dengan genggaman yang longgar..
Saat menerkam semua belantara bermanik hitam....
Melilit dan memelantingkan, hingga.....
tinggal satu dua nafas yang aku punguti.....
Lantas aku ikat dalam ikatan bunga ibadah....
Hingga aku tersungkur.....
Menelan ludahku sendiri....

Aku dalam ritmis yang sahaja
Mengokohkan AsmaMU, di tiap rentangan angan
Berbatas tiada dan tiada
Engkaupun datang dalam bahasa angin, hujan dan debu
Namun hanya batas pandangku yang dapat
kuhadirkan ~Engkau tiada terkira
gemerlap semua puncak gunung dan padang
untuk menyunting bulan dan bintang

aku dalam pangkuanMU (Semarang, 3 /2/12).

Sepotong Roti Hangat Cintaku


Sepotong  cinta  yang kau sedu dengan sepotong roti  hangat
adalah  “suka cita”, yang lebih  menyihir ketimbang
lampu-lampu “mercusuar”, meski terpagut sepi
Belum cukup lajunya sang waktu
yang “menelikung” semua sayap-sayapmu
agar berbenah di istana senja bersusun
pelangi seribu warna.

Semarang, 22 Nopember 2011

Engkau dan Aku

Menepikan sejenak semua bekal hidup
Lantas kau sandarkan, “puting beliung” yang memusari
seluruh dahaga dan mata nanar
lalu lalang belalang  yang siap menerkam
ulu hatiku yang tiada seberapa luasnya
biar saja aku lipat, untukmu yang disisiku

Aku susun bantal beruntai kain emas
Agar kau rebah dan membisikan sebuah cerita
tentang birunya gejolak hati
aku menyepi….
Hanya aku tautkan pada awan jingga

Sekali sekali engkaupun berteriak
Kala kebon bunga di samping rumah
Telah mengering, ditawan sinar kuning mentari
Akupun tetap menjaganya,
Biarlah secawan “air segar” kehidupan
Terus saja memburu,
semua pilu dan gundah

satu dua hari, aku hitung
dan terperangah dalam lakon birama hidup
engkaupun mengenakan gaun pemgantin
bertabur gemerlap pantulan sinar mentari’
aku jinjing, meski lenganku berteriak

patahkan iri dengki…dengan halimun pagi hari (Semarang, 22 Nopember 2011)

Tengoklah  Jantungku

Tak kentara, sebuah nyanyian dari jantungku
Kau dengar, meski engkaupun tak selesai
Menyododorkan telingamu

Sebuah nyanyian dan orchestra,
Jangan kau tepis dengan biola parau
yang kau hirau, dalam galau yang melibas
semua lagu lagu tentang “nyanyi rindu”

Tetap simpanlah rapi rapi, untuk
“Bunga  Pengantin” dalam semaimu,
bila telah kau mulai membaurkan warna
di atas kanvas dalam jantungku,,,,,
(Semarang, 22 Nopember 2011)

Negeriku


Impian Untuk Negeriku

 “Sang Baghaskara”, kala mengintip dengan malu
Pada tiap penjuru “Negeri dengan dandanan sulaman
beludru biru”. Menapaki “Tanah tanah legam Papua”
dan sebentar membasuh wajahya, di “ Pemandian Arafuru”

Kita mengulum senyum, dengan bola mata
menyisir setiap “ Lekuk tubuh Borneo dan Minahasa”.

Dalam telanjangnya nafas ,
dan sejauh kita mampu meluruskan pandang mata,
Sejauh itu pula, bersolek bukit, lembah dan pematang sawah,
dengan bedak dari halimun
dari celah bukit dan puncak puncak gunung.
Bibir gincu perawan desa, adalah apa yang harus kita
saksikan. Dari eksotis tiap ramahnya padang dan sawah.

Apakah masih ada, sebuah keluh dari sepotong peluh
Hingga merontanya tangan kita, yang telah kosong  dari
guratan-giratan petuah nenek moyang kita
ataukah kita hanya ingin menjadi “tiupan prahara”
yang merontangkan tiap bunga bunga persembahan
sang pengantin baru.

Lantas sepi, hanya asap kedurjanaan.

Kita bentangkan tudung saji berkain biru,
Melengkung dari dua samudra lepas
Mengait pada “Laut Kidul” dan “Laut China Selatan”
Agar “Sang Atmosfer” di atas sana
Tidak menyeruakan lagi tentang kabar sumbang
Tentang ngarai yang hijau
di pinggir permadani kuning padi padi yang masak.

“Puncak Mahameru”, tak kan mungkin goyah
Untuk sebuah tambatan, dari hati yang menerjangkan
Bara api.
Kita jaga bersama
Agar sawah dan ngarai
Terus hadir dalam mimpi kita  (Semarang, 21 Nopember 2011)

Gadis Desa

Si gadis desa mengecup pagi ini,
Lantaran hanya itu yang dia miliki,
Berjajar beribu bunga menjadi pagar rumahnya
Dan sebuah basuhan air embun
Nurlela berikan tiap, mentari di Timur.
Karena hanyalah hidup damai yang dia
impikan.

Gadis desa sejenak menyambangi cermin miliknya
Di dinding bambu rumah panggung
Keriput dan lipatan wajahnya
Kini lebih kentara
Apa karena ini gambaran hidupnya ?
Dari apa yang pernah ia dengar
tentang dandanan seronok kehidupan ini.

Gadis desa,
Lebih memilih, merapikan tiap pagi
Yang hadir, pada tiap sendi tulangnya
Ketimbang menikam hidup
ini menjadi “pecahan kaca yang tajam” ….(Semarang, 21 Nopember 2011)

Ilalang Awang Awang Kumitir


tatkala semua sisi  Jonggring Saloka
meggemparkan dengan tautan warna hari,
senandung lirih menyertai dalam rajutan  Negeri Kahyangan
angin angin yang jeli menyeruak dari  Sekar Kedaton
dalam taman, semua tak berkata dusta
aku terpojok dalam sudut hati
hingga aku melepas ikatan dalam benak  syak wasangka
tak kusadari aku terbaring
di tengah kelambu langit penuh benang kasih
hingga aku sepeti  sang penghuni Indraphrasta

luluh lantak yang terberai dalam cakrawala semu
aku punguti kembali,
aku semaikan dalam kelopak Edelweis,  namun tak kunjung mengering
menjulang dalam tatapan langit
sempat aku baca guratan yang berlalu
aku benamkan dalam lazuardi di balik dada

satu hari melaju…..
bermetamorfosis dalam peredaran bulan dan matahari
sehingga tak terasa satu dua bukit terlampaui
satu dua pulau, telah  akrab dengan pelanginya sendiri
akupun terjebak dalam canda terpingit hari
apalagi bila kembang warna warni turut berprosa
dalam bait yang runtut, namun hening dalam damai

satu hari terkapar
wajah hari lainnya mensemilirkan angin musim
satu hari meradang nanar dalam sorot mata binal
hari lainya menyodorkan Puncak Mahameru
dalam adonan Asmarandhana
hingga aku terpelanting dalam kicau pipit
kutilang, nuri dan burung penjaga pagi
kita di sebersit warna pelangi yang meluruh
karena putaran roda pedati yang rakus tak henti
aku mengusap peluh, engkau mengatur nafas
kita masih tetap dalam waktu

(Semarang, 6 April 2012