Sucipto
menjalani kehidupan sehari hari sebagai pejabat pemerintah di Kota Semarang
dengan sejuta keangkuhan. Begitu
kokohnya jabatan yang diemban bertahuin- tahun di instansinya serasa tidak akan
pernah berakhir. Karuan saja semua hasrat hati yang terpendah dalam meretas
keindahan hidup yang semu, dia lampiaskan tiada batasnya. Meski dia memiliki
keluarga yang harmonis, bersanding dengan istrinya Nandia yang tergolong muda
dan cantik serta anak anak yang berkehidupan mewah.Namun anugerah Yang Kuasa
tersebut tidak pernah ia sukuri.
Nandiapun
merasakan kebahagian duniawi yang serba cukup, maka wajar saja dia bertingkah
ibarat noni belanda dengan dandanan yang mewah di balik kosmetik yang melekat di tubuhnya, yang tentu saja berharga
puluhanjuta. Setiap penampilan dia di
depan pesta kalangan instansi suaminya,dia terlebih dahulu bersolek di bawah tangan juru rias yang berkelas di
Semarang.Lantaran menghamburkan uang berjuta-juta bagi Nandia sama sekali tidak
berarti.
Hingga
akhirnya Nandia tidak mau repot bolak bolak ke salon langgananya, dia lebih
memilih pembantu yang juga pintar dalam mendandani si noni ini. Tidak sayang
Nandia menggaji Else dengan bayaran yang tinggi, asalkan Else mau menjadi juru
rias pribadinya, yang ibaratnya setiap saat mau mendandani Nandia dengan
asesori yang serba mahal dan serasi. Maka jadilah Nandia yang mirip dengan Rati
Inggris “Kate Middlelton”.
Hasrat
Nandia yang sudah kelewat mewah ini, sama sekali tidak pernah dihalangi oleh
suaminya. Bahkan kehadiran Else di rumah Sucipto, menjadikan laki laki setengah
baya yang seperti “kucing garong” di sambut tangan terbuka. Namun rupanya hanya
isi hati Sucipto saja yang tahu sebuah hasratyang terpendam.
Hari
berganti minggu, bulan demikian seterusnya, kemewahan hidup Sucipto masih saja
belum sirna. Saat itu di suatu hari yang kelam bernoda, Sucipto merayu Else
dengan segudang janji kemewahan hidup, seperti yang dia berikan pada Nandia,
asalkan Else mau melayani nafsu membara Sucipto. Di rumah yang sepi itu
terjadilah perbuatan durjana yang dilakukan dua insan yang sama sama melepas
nafsu birahi.
Rupanya
perbuatan itu membawa dua insan yang terus menerus dibuai kenikmatan sesaat,
Else berhasil mendapatkan kemewahan hidup apapun yang diminta Else dari Sucipto,
tanpa sepengetahuan Nandia. Hingga perbuatan laki laki durjana itu membuah
hasil sebuah janin di rahim Else. Elsepun menangis dan memohon di pangkuan
Sucipto untuk menikahi dirinya.
Namun
bagi Sucipto, menikahi Else adalah hal yang tidak mungkin dia lakukan demi
jabatan yang dia dapatkan dengan susah payah. Meski tangis itu setiap waktu
berada di pangkuan Sucipto, namun tetap saja Sucipto tidak mau bertanggung
jawab terhadap perbuatan biadab itu.
“Else, aku bertanggung jawab terhadap
semua perbuatanku, asal jangan sebuah pernikahan. Bukankah semua kemauanmu sudah aku berikan, rumah, pakaian dan mobil
yang harganya di atas apa yang dimiliki Nandia. Jadi perlu kamu tahu saja,
perbuatan kita berdua, adalah perbuatan yang tidak pernah aku janjikan dengan sebuah
pernikahan”
“Tapi, ini darah dagingmu sendiri.
Mas Cipro !!. kelak anak kita akan mencari bapaknya, aku tidak mau merobek
kebahagian anak kita.
“Sudahlah Else, antara kita tidak
pernah ada ikatan apapun, jadi pulang
saja kamu ke Magelang, akan aku berikan deposito untukmu dan anakmu hingga
dewasa. Akutidak segan segan membuat kamu menderita bia kamu menuntutku untuk
menikahi kamu, iniah jalan yang terbaik untuk kita”
2
Tidak ada satu patah katapun yang
mampu Else lontarkan dari bibir yang sudah memucat. Laksana beribu batu
memberati kalbunya yang teriris pedih menghadapi hinaan dari Sucipto yang
mencapakan dia begitu saja. Langkah kaki terakhir dari lantai marmer rumah
gedongan Sucipto sangat menyisakan kenangan pahit, yang tidak pernah dapat Else
lupakan. Namu bagi Sucipto,kepergianElse dari hadapantiaa menyisakan kenangan barang sedikitpun,
meskipun uang ratusan juta rupiah telah lenyap begitu saja, yang bagi
Suciptotidak berarti apa apa.
***
Roda
waktu yang menggulirkan siang dan malamtidak
mampu dihentikanSucipto, karena dia
tetap manusia biasa, yang tidak punya daya upaya, termasuk juga umur dia yang
terus merambat.Sucipto kini harus
bertekuk lutut pada keputusan instansinya yang mempesiunkan dirinya.
Jelas
setelah pensiun, Sucipto tidak lagi mampu memberikan kebahagian duniawi bagi istrinya,
yang jauh lebih muda. Karena Nandia belum menginjak usia setengah baya, maka wajar
saja kalau Nandia terus menuntut untuk hidup bergelimang kemewahan, yang kini
tidak lagi mampu diberikan Sucipto. Hingga maghligai rumah tangga yang dahulu
seperti perjalanan perahu di laut lepas tak berombak, kini berganti dengan
perjalanan perahu di tengah ombak ganas yang dihempas badai, hingga pecahlah
perahu kayu yang tidak seberapa kuatnya itu.
Nandia
dan kedua anaknyapun meninggalkan Sucipto begitu saja, Nandia lebih memilih Hagi,
laki laki hidung belang yang jauh lebih muda dari Sucipto, namun sangat licik
bagaikan ular sanca, yang berniat menghisap harta yang dimiliki Nandia, yang
diperoleh kala Nandia menjadi istri bos besar “Sucipto”. Hingga tanpa terasa baik
Sucipto, maupun Nandia kini jatuh miskin.
Namun
bagi Sucipto, dia lebih memilih berpisah dengan Nandia dan hidup menyendiri di
rumah tuanya yang berada di atas bukit, di bilangan Semarang Selatan yang
sejuk. Sedangkan Nandia dan kedua anaknya pergi entah ke mana. Hari hari sepi
di tengah masa pensiunan dia isi dengan lamunan masa lalunya, yang sangat
berbeda dengan kehidupanya kini. Lamunan Sucipto mendadak lenyap, setelah dia
mendengar pintu depanya diketok oleh entah siapa.
“Maaf, apa betul ini rumah Bapak
Sucipto ?”
“Betul, betul, nak, Anda siapa”
“Boleh saya duduk Pak, sebab kalau
bapak Tanya siapa aku !, aku perlu menjelaskan panjang lebar.” Jawab tamu
Sucipto, yang ternyata seorang cewek yang cantik dan kelihatan gaul. Dari
dandanan yang dipakai tamunya itu, Sucipto dapat menilai bahwa tamunya adalah
seorang cewek yang kaya.
“Oh silakan, mba ?”
“Terimakasih, Pak ?” denganpd cewek itupun duduk di depan Sucipto tanpa
ragu ragu.
“Baiklah Pak Cipto, aku dating dari
Magelang, tujuan aku bertemu adalah untuk meminta tolong bapak ?”
“Minta tolong ?, apa yang bias aku
lakukan, mba. Aku hanya seorang pensiuanan yang miskin dan sakit sakitan dan
lagi aku belum kenal situ mba !”
3
“Memang
sengaja aku belum memperkenalkan diri, sebab apa Pak Cipto mau menerima
kenyataan ini apa tidak? Dan pertolongan bapak bagi kami sangatlah berarti
sekali”
“Tapi sebaiknya mba memperkenalkan
dulu. Apapun yang dapat saya bantu, dengan tangan terbuka pasti akan bapak
berikan”
“Baiklah, pak!, nama panggilanku
Leila, sedangkan nama lengkapku Lilo Tyas Ningsih. Kedanganku kemari adalah…”
“Mengapa mba menangis” Tanya Sucipto
yang terpana menghadapi isteri ini
“Sebab yang harus aku sampaikan pada
bapak adalah sebuah kepedihan, yang telah bertahun tahun aku alami” cewek itu
terus saja beguncang dadanya.
“Mba, bapaj jadi tidak mengerti, apa
maksud semua ini, apa aku menyakiti hati, mba ?. Kan baru kali ini aku bertemu
mba”
“Baik pak, memang semua ini harus
aku sampaikan> Bapak masih ingat wanita dalam foto ini?”
“Else..Else
!!!…mengapa mba kenal dia ?” Sucipto jadi tambah penasaran, hatinya kini
tercabik menjadi butiran debu. Selintas dalam hatinya timbul beribu penyesalan.
“Bukankah waktu bapak usir wanita
ini dalam keadaan hamil?’
“Iya mba, jadi mba anak Else ?”
“Betul, pak “ jawab Leyla dengan
dada berguncang dan tangisan yang bertambah melolong.
Sucipto bersandar pada kursi sudut
dengan tubuh lemas, bayangan perlakuan keji pada Else kembali muncul. Namun
pertemuan seperti inilah yang dia tunggu, sekedar meminta maaf pada Else
sebelum dia kembali menghadap Illahi.
“Lantas, mengapa ibumu tidak ikut,
anaku ?”
“Dia meninggalkan dunia ini setahun
yang lalu dan meninggalkan surat untuk diberikan pada bapak, silakan bapak
terima!”. Sucipto bertambah yakin bahwa cewek yang di depanya adalah benar
benar anaknya setelah membaca surat Else.
“Lantas apa yang bias bapak berikan
kepada kamu, sebagai penebus rasa bersalah bapak pada kamu dan ibumu?”
“Ibu telah memaafkan kesalahan bapak
dan perlu bapak ketahui bahwa minggu depan aku akan menikah, dan kami mohon
bapak berkenan menjadi wali nikah saya”
“Oh dengan senang hati, anaku.
Bawalah aku sekarang juga ke rumahmu agar bapak bias berziarah ke makam ibumu
dan berkenalan dengan calon suamimu”
***
Sucipto
menjadi kaget bukan kepalang, setelah mobil sedan yang membawa dia dan putranya
parker di sebuah rumah makan besar di pinggir jalan besar kota Magelang, yang
ternyata adalah milik Leyla dan mendiang ibunya. “Ah, ternyata nasib seseorang
memang
betul
seperti roda pedati, yang terkadang di atas ataupun di bawah, demikian juga
nasibku dan Else” demikian bisik hatinya.
Leyla
mengajak bapaknya, yang berpuluh tahun berpisah denganya, untuk berkeliling ke
rumah makan besarnya. Seluruh apa yang ada di rumah makan besar itu menjadi
saksi
4
pertemuan
yang membahagiakan kedua manusia itu, demikian juga dengan semua pelayan rumah
makan itu yang turut berbahagia.
Mata
Sucipto tebelalak lantaran kaget bukan kepalang menyaksikan ketiga pelayan
rumah makan yang tidak lain adalah istri dan kedua anaknya. Sucipto dengan
peasaan yang tidak percaya, memekik memanggil istri dan kedua putranya.
“Nandia
!, mengapa engkau ada di sini ?”
“Mas
Cipto, mengapa ada di sini >”
Aetelah
sebuahpelukan mesra dari Nandia dan
kedua putranya itu, Suciptopun memperkenalkan pada Leila bahwa Nandia adalah
istri dia yang lama meninggalkan dirinya. Ketiga insane itupun seharian hanya
menuangkan semua isi hatinya pada pertemuan itu. Suciptopun meminta agar Leyla mengganggap
Nandia sebagai ibunya sendiri, sebagai ganti kepergian Else. Keluarga itupunh
kini mulai berlayar dengan perahu yang tenang dan damai setelah lama berpisah,
dengan sebuah pertemua yang dihiasi rasa penyesalan masing masing.
Barangkali saja manusia memang
harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa
didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus
mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada
tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi
Transmigrasi Kalsel. Setelah lima
tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk
mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka
berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.
Sementara Sugiarti kini lebih
memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal
transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang
mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir
separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari
Jawa begitu rapuhnya. Mereka berduapun telah cukup sudah menyematkan sebuah
pengabdian yang besar kepada petani sawit dengan rela menjadi pendidik, tanpa
memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur
kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka
kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.
***
Suatu senja di tengah lahan
sawit, sebuah perpisahanpun tak mampu mereka tepis.
“Itulah kenyataannya, Mas.
Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti
di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.
“Yah!, kalau memang itu maumu,
kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan,
semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun
berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.
“Aku harap engkau mengerti, Mas
“
“Nggak jadi masalah!, Toh aku
sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK
penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita
harus siap menerima tantangan apa saja”
“Tapi bagi kamu, Mas. Masalah
ini kan lain.
Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan
ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak
berdaya, Mas !”
“Akupun mengerti, Giarti. Hanya
aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan
separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia
yang berhak mendapatkan bahagia”
“Betul, Mas !, apa hanya di
bibir saja ?”
“Pernahkah aku bohong padamu ?”
“Nggak, pernah Mas !”
Giarti tidak mampu lagi menjawab
ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun
masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan
perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini.
Sugiartipun telah tahu bahwa
tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang
lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani
sawit.Bumi transmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua
hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah
perpisahanpun nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji
saling mengerti.
Memang merekapun masih berharap
bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu
memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang
ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki
langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya
sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.
Bagi Sofyan liku-liku hidup
adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang
terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski
dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan
sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu.
Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki
dengan realita.
***
Sang waktu pula yang membawanya
menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur
hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan
sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas
tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu
bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja
terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali
teringat Sugiarti, meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu
pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping
hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya
bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.
Herningsihpun dengan senyum
tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap
anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya. Akhirnya pada senja kali
ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak
menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka
terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan
berjalan menghampiri mereka.
“Silakan masuk Bang Hardiman,
mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu
terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.
“Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf
manganggu acara kalian semua”
“Oh sama sekali tidak, kami
hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini,
sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”
“Betul Bang, ini semua tentang
adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan.
Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan
Sugiarti.
“Kenapa dengan Kak Sugiarti,
Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar
sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.
“Ah aku sudah tidak mampu
berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”
“Sugiarti, sakit apa, Bang ?”
“Dokter menemukan adanya kanker
pada kedua ginjalnya, Bang “
“Lantas, menurut dokter
bagaimana cara penyembuahanya ?”
“Itulah, Bang yang membuat saya
menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi,
kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini
aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil
menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”
Terlihat menegang wajah Sofyan
mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun
bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai
meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah
suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.
“Mam, gimana bila Bapak mencoba
untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”
“Silakan saja Papi, tapi apa
kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”
“Gimana Bang, aku sebenarnya
pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak
memungkinkan”
“Ah saya sendiri tidak tahu,
Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter
mengijinkan”
Herningsih tertunduk lesu, dalam
hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya
dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan
suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia
merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya
itu.
Namun apapun alasanya , Herningsih
hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan
kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya dan juga menyisakan sorot
mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan
kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya.
Di kamar ICU itu Sugiarti masih
terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari
seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan
Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat.
Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan
kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas
Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.
Hardiman kini hanya mampu
meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan
hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera
merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya,
pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang
Kuasa menghendaki. ***
Barangkali saja manusia memang
harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa
didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus
mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada
tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi
Transmigrasi Kalsel. Setelah lima
tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk
mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka
berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.
Sementara Sugiarti kini lebih
memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal
transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang
mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir
separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari
Jawa begitu rapuhnya. Mereka berduapun telah cukup sudah menyematkan sebuah
pengabdian yang besar kepada petani sawit dengan rela menjadi pendidik, tanpa
memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur
kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka
kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.
***
Suatu senja di tengah lahan
sawit, sebuah perpisahanpun tak mampu mereka tepis.
“Itulah kenyataannya, Mas.
Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti
di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.
“Yah!, kalau memang itu maumu,
kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan,
semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun
berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.
“Aku harap engkau mengerti, Mas
“
“Nggak jadi masalah!, Toh aku
sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK
penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita
harus siap menerima tantangan apa saja”
“Tapi bagi kamu, Mas. Masalah
ini kan lain.
Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan
ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak
berdaya, Mas !”
“Akupun mengerti, Giarti. Hanya
aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan
separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia
yang berhak mendapatkan bahagia”
“Betul, Mas !, apa hanya di
bibir saja ?”
“Pernahkah aku bohong padamu ?”
“Nggak, pernah Mas !”
Giarti tidak mampu lagi menjawab
ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun
masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan
perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini.
Sugiartipun telah tahu bahwa
tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang
lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani
sawit.Bumi transmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua
hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah
perpisahanpun nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji
saling mengerti.
Memang merekapun masih berharap
bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu
memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang
ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki
langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya
sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.
Bagi Sofyan liku-liku hidup
adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang
terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski
dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan
sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu.
Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki
dengan realita.
***
Sang waktu pula yang membawanya
menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur
hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan
sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas
tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu
bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja
terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali
teringat Sugiarti, meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu
pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping
hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya
bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.
Herningsihpun dengan senyum
tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap
anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya. Akhirnya pada senja kali
ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak
menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka
terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan
berjalan menghampiri mereka.
“Silakan masuk Bang Hardiman,
mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu
terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.
“Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf
manganggu acara kalian semua”
“Oh sama sekali tidak, kami
hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini,
sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”
“Betul Bang, ini semua tentang
adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan.
Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan
Sugiarti.
“Kenapa dengan Kak Sugiarti,
Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar
sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.
“Ah aku sudah tidak mampu
berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”
“Sugiarti, sakit apa, Bang ?”
“Dokter menemukan adanya kanker
pada kedua ginjalnya, Bang “
“Lantas, menurut dokter
bagaimana cara penyembuahanya ?”
“Itulah, Bang yang membuat saya
menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi,
kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini
aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil
menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”
Terlihat menegang wajah Sofyan
mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun
bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai
meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah
suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.
“Mam, gimana bila Bapak mencoba
untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”
“Silakan saja Papi, tapi apa
kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”
“Gimana Bang, aku sebenarnya
pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak
memungkinkan”
“Ah saya sendiri tidak tahu,
Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter
mengijinkan”
Herningsih tertunduk lesu, dalam
hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya
dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan
suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia
merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya
itu.
Namun apapun alasanya , Herningsih
hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan
kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya dan juga menyisakan sorot
mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan
kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya.
Di kamar ICU itu Sugiarti masih
terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari
seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan
Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat.
Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan
kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas
Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.
Hardiman kini hanya mampu
meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan
hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera
merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya,
pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang
Kuasa menghendaki. ***