Kamis, 03 Mei 2012

Kanvas Cinta


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti
Terasa hambar memang hubungan  Rudi dan Rosella, meski mereka saling menautkan kasih mesra sejak dari kelas sebelas SMA.  Rudi memang memilih meniti karir dengan menjadi pelukis jalanan di sepanjang Malioboro Jogja,  setelah lulus SMA.  Sedangkan Rosella memilih meneruskan studi di perguruan tinggi di Semarang.
Prosa indah yang mereka susun selama dua tahun ,  entah mengapa kini ditikam oleh egonya masing-masing,   rindu yang sering hinggap di sudut hati mereka masing-masing entah mengapa kini terbang di bawa angina kembara.  Rudi begitu asyiknya  gaul dengan pelukis-pelukis ternama di Jogja, hingga tiada  sosok lain yang bisa menemani dia kecuali  corat-coret di kanvasnya dengan  seperasi warna yang  menjadi gambaran hatinya.
Rosellapun begitu antusiasnya , ingin segera merampungkan studinya  hingga bisa bekerja entah dimana untuk menggapai masa depanya, sikap ini memang terus saja membujur di hatinya, karena dia adalah anak sulung, yang diharapkan mampu membimbing adik-adiknya  kelak.  Meski umurnya dia baru menginjak 18 tahun namun kematangan pribadinya telah terjalin  kuat melebihi kedewasaan  sosok yang lebih tua darnya.
Berlainan dengan Rudi yang menjadi korban bobroknya hubungan Mama dan Papanya di tengah kehidupan materinya yang gemerlap. Makanya Rudi terbiasa dengan menyelesakan segala sesautu dengan kemampuan dirinya sendiri. Ganjalan hati yang dalam dan kuat selalu diurai oleh dia sendiri. Hanya Rosella saja yang mau menerima curhat dari cowok yang kesepian ini
Kadang Rosella juga merasakan kerinduan yang dalam dengan cowoknya itu, tetapi rindu itu disimpanya rapat-rapat di hatinya. Lantaran dia tidak mau memberi harapan lebih kepada Rudi yang tidak pernah menginginkan hadirnya siapa saja di sisinya, kecuali  melukis.  Namun demikian kdang pula terbesit rasa kagum pada cowok eksentrik itu. Walaupun bagaimana Rudi adalah cowok pertama yang bisa merobohkan jantung hatinya, meski saat itu telah berpuluh cowok yang lebih caem dari Rudi berusaha mencuri jantung hatinya.
Saat senja di suatu hari, Hpnya Rosella  berdering panjang menggema  di seluruh kamar tidurnya.
 “Ross, lagi ngapain ? kamu nggak pergikan ?. Aku sekarang dah di Semarang. Aku lagi meluncur ke rumahmu. ”
 ”Aku nggak pergi,   ya aku tunggu ! ” Berbagai bunga  warna warni kini tumbuh di hati Rosella. Lantaran sebentar lagi  dia akan bertemu dengan cowok dekil dan eksentrik, berambut panjang, hidung mancung dan kumis tipis menempel di atas bibir yang tipis
Rosellapun  yakin  bahwa  Rudi di Jogja juga sering didekati cewek-cewek  gaul yang  naksir dia. Tapi salah satu lkelebihan Rudi ketimbang cowok lainnya adalah kesetiaannya kepada dia yang nggak bakalan bisa luntur, meski mendapat halangan kaya apa gedenya.
” Met ketemu lagi Ross, maafin aku yang baru kali ini jumpa kamu ” . Seru Rudi dengan pandangan mata sendu,  Rosellapun tau persis dengan cowok ganteng ini. Sikap seperti itu pertanda dia membutuhkan kasih mesra dari dia. Bagaikan musafir yang membutuhkan seteguk air di tengah padang pasir yang gersang.
” Aku harus bicara apa sama kamu Rud,  tiap kali kamu datang mesti ada kata maaf ”
” Iya deh aku nggak mau kaya gitu lagi ”
”Aku emang selalu maafin kamu, tapi kamu harus konseken dong ”
 ”Udah deh jangan diperpanjang lagi, jauh-jauh aku datang ingin jumpa kamu, bukanya ingin kena damprat dari bidadari turun dari langit ” Seru Rudi sambil  mendekatkan duduknya lebih rapat lagi.
 ” Aku nggak mau kalau sikapmu kaya gitu lagi ”
 ”Percaya dong Ros sama aku !, aku di Jogja enggak bakal ngapain-ngapain. Aku memang punya kelemahan . Kalau aku udah didekat kanvas aku enggak bakal merasa ada di dunia lagi  ”
”Kalau itu emang aku percaya, aku dah tau kamu, dengan siapa aja bisa sedingin es. Tapi aku kan enggak bisa kamu biaran gitu aja dong !,  Rud !. Setidaknya kamu bareng ngrayain tahun baru kesini, kan nggak nyita waktumu kan  ? ”
” Tapi aku kan udah kirim sms sama  kamu pas tahun baru kemarin ”
” Ya udah sekarang kamu balik aja ke jogja, semua kecengengan hati kamu kirim aja pakai sms, nggak usah ketemu aku lagi. Kamu jangan kalau ada maunya aja dong,  Rud ? ”
 ”Ah  enggak !,  aku pengin ketemu kamu aja kok, aku dah kangen ”
”Terus kalau dah ketemu  aku,  kamu mau ngapain ? ” Rudipun hanya nyengir saja , memang sering dia disudutkan seperti itu sama  Rosella,  lantaran kadang Rudi punya sikap seperti anak – anak .
”Oke deh Ros, sekali lagi maafin aku ” Pinta Rudi sambil menggapai tangan Rosella dan membelainya dengan mesra. Pertanda cowok ini telah mengakui kesalahannya dan kini dia butuh Rosella. 
Dibibr Rosella kini ada senyuman tipis yang hangat dan manja membuat jantung hati Rudi tambah berdegup keras.  
”Ros , kamu mau ngikut ke Jogja ? ”
”Ada  acara  apa  ? ”
”Aku mau ngikut pameran lukisan  tingkat nasional ”
”Bagus dong, Cuma  aku  kan harus kuliah Rud.  Papa nggak boleh  kalau aku bolos kuliah, Aku hanya ke Jogja klo liburan aja.  Itu aja kalau kamu ngajak,  Emangnya ada apa ? ”
” Udahlah jangan ungkit yang tadi  lagi, Bener deh Ros, Cuma kamu yang ada di hatiku.
”Oh ya tadi pameran nasional gimana ? ”  tanya Rosella berusaha mengembalikan arah pembicaraan mereka berdua.
” Ya diikuti pelukis ternama, Cuma aku aja pelukis lokal yang masih ingusan ”
”Jangan  kecil hati dong Rud !,  Apa bedanya kamu sama mereka  ? ”
”Itulah Ros, yang aku pikir.  Karya mereka biasa-biasa aja.  Aku yakin karyaku nggak kalah dengan mereka. Tapi mengapa karya mereka banyak  diminati publik dan laku keras ”
”Ah  mana aku tahu lukisan Rud !, kamu kan yang lebih ahli . Cuma kamu aja yang merasa kalah duluan ”
”Mungkin juga gitu, ah nggak tahu. Tapi biarin aja , aku ngikut etung-etung cari nama aja ”
”Gitu dong namanya Rudi,  aku dukung kamu seratus persen ” jawab Rosella sambil mendekatkan wajahnya persis di wajah Rudi, dan sebuah ciuman kasih sayangpun kini diapatkan Rudi.
 ”Mungkin juga warna-warnanya nggak sesuai dengan hati kamu ! ”
” Maksud kamu gimana ” Jawab Rudi penasaran.
 ”Mungkin saja waktu kamu nglukis selalu saja ada gambaran masa lalu yang paling kamu takuti ”  Rosella mencoba ikut memberikan solusi pada cowok pujaanya. Karena hanya dia yang tahu persis hati cowok eksentrik ini.
 ”Kalau itu selalu saja Ross,  kadang pula aku menjadi lama terdiam untuk mengusir bayang masa laluku. Barulah kalau dah jernih hatiku aku mulai nglukis lagi. Tapi itu saja  masih belum bisa konsentrasi bener ”
” Ya udah cuma kamu aja yang bisa ngrubah,  maka Rud  buang jauh – jauh egomu itu. Untuk bisa mengetahui warna warni kehidupan,  kamu harus hidup terlebih dahulu. Warnai dulu hati kamu dengan rona kehidupan ini. Aku rasa udah lama kita kenal,  tapi kamu belum bisa berubah. Cobalah ya..... sayangku ” Begitu  indah  makna  rangkaian kata dari Rosella  itu, apalagi wajahnya kini rebah d dada Rudi.  Seribu kekaguman  kini  timbul  di hati Rudi, lantaran dia sering bersikap dingin dengan  cewek ini, tapi Rosella selalu saja mau menerima dia.  Oh alangkah indahnya kanvas lukisan ini, bila dihiasi dengan kebaikan  dan cinta kasih antar  sesama.
Rembulan yang ayu kini persis di tengah langit,  usai sudah pertemuan dua remaja ini.  Bagi Rudi mkini ada sketsa lukisan dengan rona warna warni keindahan yang selalu dituangkan dalam kanvas lukisan,  sehingga  membuahkan sebuah lukisan yang indah.  Itulah sebuah refleksi dar kehidupan manusia.

Kenanga dan Sebuah Kejujuran


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti

Kenanga terus menguntai senyumnya di bibir bertanam bunga mawar merah jambu. Seakan  sedari pagi hingga tingginya sang mentari hari ini, adalah miliknya. Lantaran Kenanga hari ini betul betul menuai keindahan, dengan menyelipkan warna warni bunga di beranda hatinya. Sementara itu langit bagaikan kelambu biru ranjang pengantinya, yang tergelar di empat kaki langit. Bunga mawar berkelopak merah jambu, mulai Kenanga semaikan setelah sepotong kalimat Indra betul betul bersemayam dengan kokohnya di keranjang hatinya. “Kenanga , aku suka kamu “. Sepotong kalimat inilah, yang menjadi rajutan kain sutra, yang melilit di lubuk hatinya.
Kenanga hanya mampu membalasnya dengan senyum berkemas lebay, mirip kala Kenanga di depan mamanya, untuk merayu minta dibelikan mobil baru atau acessori terbaru yang keren. “Ah, tapi Indra gimana ya, apa dia serius atau cuma making a joke. Aku benar benar bingung.  Cowok jenius ini, tidak seperti biasanya, dia suka acuh tapi akhir akhir ini,  dia seperti serius dan minta ampun romantisnya. Memang dia penuh pesona, dengan rambut ikal, hidung mancung dan berkumis tipis mirip penyanyi country Frankie, yang sanggup menerbangkan hatiku. Tapi rasa salut juga aku berikan sama cowok ini, yang tergolong mahasiswa tidak mampu tapi dengan penuh PD yang kuat dia berani pdkt aku, yang tak mampu menepisnya”. Entah sayap malaikat mana yang mengipasi kalbu Kenanga hingga terus melamun.
“Kenapa aku harus seperti cewek nggak gaul?, seribu cowok kaya Indra bisa aku dapatkan dalam satu hari. Mengapa aku harus dibuat penasaran dengan rayuanya yang nylonong begitu saja?”. Tak hentinya hati Kenanga dipenuhi rasa penasaran. Di salah satu beranda hatinya, dia tidak mau  seperti cewek yang tidak  punya gengsi, tapi di beranda hati lainnya diapun takut kehilangan cowok jenius yang misterius, meski kadang terkesan cowok yang jadul. Tapi “duilah”, kalau cowok yang satu ini mulai bertutur kata, dia mirip Morgan Smesh, bahkan lebih santun lagi.
***
Kenanga menginjak pedal gas mobil sedan trendy merah metalik dengan pelan, melintasi jalan aspal berdebu di depan kampusnya, meski beberapa cewek temen gaulnya sudah melaju kencang mendahuluinya. Tatapanya kini dia lemparkan pada kaca jendela sebelah kiri dan kanan secara bergantian. Siapa lagi kalau bukan Indra yang dia telisik. Barangkali saja Indra di siang terik seperti ini masih nongkrong sehabis kuliah.
Sedan merah metalik yang flamboyant masih melaju pelan, meski beribu peluru senapan mesin telah diberondongkan sokib sokibnya pada dia pagi hari tadi, yang sama sekali tidak merestui Indra menjadi tambatan hati Kenanga,
“Eh Inga!, gila kamu !, cowok dekil kaya Indra nggak usah diberi kesempatan dekat dengan kamu!” sahut Ririn dengan mata tajam seakan berhasrat menelanjangi seluruh tubuh Kenanga,
“Kamu nggak kasihan sama papi dan mama kamu ?. Aku pernah dengar langsung dari mama kamu!. Kamu tidak bakalan sengsara di masa depan, bila Aldo yang menjadi pendamping hidupmu. Kurang apa lagi dengan Aldo, cowok gaul dan juga smart, tidak kalah sama Indra, cowok jadul yang hidup di bawah kolong”. Ucapan Beti yang meluncur begitu saja dan masih kuat melekat di sanubari Kenanga.
“Anga !, aku sudah lama kenal kamu mulai dari SMA dulu, cewek seusia kamu bukan lagi ABG, yang cuma kenal cinta buta dan ingusan. Apa yang diharapkan dari Indra. Piss Anga !, ini kan demi kamu, kita  ini bener bener  sokib  yang sayang sama kamu ”. Pinta Resti sambil melilitkan tanganya di leher Kenanga dan tak lama kemudian Restipun mencium kedua pipi Kenanga, yang mulai dibasahi air mata bening cewek kolokan ini.
Kini Kenanga benar benar tersudut, himpitan dari sokib sokibnya menuai kabut hitam dan tebal di langit hatinya. Silih berganti bayangan Indra dengan senyum yang tulus, yang mengisyaratkan apapun nantinya mereka berdua mengalami goncangan hidup, Indra akan tetap disampingnya. Namun lecutan suara sokib sokibnyapun tak lama kemudian menghilang terbawa kerontangnya angin kemarau dan bayangan  Indra kini mulai menepis butir butir awan gelap.
“Mengapa ini terjadi kala Indra mulai ada di hatiku ?” Kenanga dengan wajah yang lugu dan lebai, mulai berani menatap sorot mata sokib sokibnya.
“Ya, udahlah Anga !, semua adalah semata saran untukmu. Apapun pilihanmu kami tetap menjadi sokibmu. Karena pertemuan dan perpisahan semata milik Yang Kuasa, hanya saja kamu harus merelakan cinta kamu di atas semua yang akan kamu hadapi, kalau memang kamu memilih Indra”.
***
Setiap sudut Kota Semarang kini terlihat kumal diterkam kemarau panjang., sementara Kenanga masih terus menyelesuri jalan aspal yang melentingkan sinar mentari yang menerpanya. Satu dua buah berkas angin kemarau di tengah hari yang ingin berselingkuh denganya mulai menerobos kaca jendela mobilnya. Berkas angin itupun mulai mampu mendinginkan hatinya, yang mulai menggulirkan bayangan Indra, yang kini seperti biasanya sehabis kuliah, cowok “The Ice Cool”  itu nongkrong di “Buffalo Café “ di salah satu sudut bundaran Simpang Lima Semarang.
“Tidak langsung pulang, Anga ?” sapa manis Indra, yang kini telah ibarat terhisap dalam kontes “Miss Universe 2011” di Brasilia beberapa bulan yang lalu, yang kini mereka semua telah menjelma menjadi Kenanga yang kini duduk disampingnya.
May I joint ?“ Pinta Kenanga dengan tetap menghiaskan senyum di bibir. Tapi apakah Kenanga biasa bersikap kaya gini dengan cowok lainnya, atau memang sikap manis ini hanya untuk aku, ataukah karena aku yang GR, ataukah memang aku nggak bisa bersikap dewasa atau memang aku yang nggak mampu menilai hati wanita. Tetapi bagi Indra.  langit biru yang mengungkungi mereka berdua seakan mampu menelikung dirinya, agar tidak mampu lagi bergerak menjauh dari tempat duduk Kenanga.
“Tentu, tapi seperti inilah tempatnya. Namanya aja Buffalo Café , sudah pasti kan Anga?, tempat ini cocok untuk nongkrong mahasiswa dekil dan norak”
“No problem, Dra!. Biarkan saja dulu!,  aku  kongkow di sini karena aku butuh “enjoy  n  refresh”
“Please  Anga !, kamu mau pesan menu apa?, biar aku yang tlaktir, tapi menunya hanya bakso dan nasi pecel. Paling kamu nggak suka menu kaya gitu. Menu seperti ini hanya cocok untuk mahasiswa yang udik, dekil dan  nggak gaul”
“Ah, canda kamu  tendensius!, emangnya aku ini putri kahyangan atau sengaja kamu ingin menjaga jarak denganku, Indra?’
“Kamu kok jadi aneh!, Anga!, aku Cuma bercanda. Ada apa kamu jadi sensitif seperti itu?”
“Biarin !!!, apa salahnya kalau aku marah. Kamu mau ngomomg aku cewek kolokan kan ?, Aku cewek yang hanya bisa gaul dengan sokib dari kalangan the have saja kan ?, aku cewek putra kesayangan mama papa, kan ?. Indra!. Model gaul kaya gitu sudah bukan jamanya lagi. Aku nggak suka kalau kamu norak kaya gitu!. Oke !!!, Dra kalau kamu terganggu dengan kedatanganku, lebih baik aku pulang saja”
“Eh, nanti dulu, Anga !. Sure dech, aku sama sekali nggak bermaksud norak sama kamu. Malah aku enjoy kamu mau gabung ?. Please staying for a while Anga !”
“Ok !!! Dra, tapi aku minta kamu jujur, mengapa sikap kamu norak kali ini?, ucapanmu tajam menyakiti aku”. Sepasang mata Kenanga yang bulat dan tajam kini menusuk Indra dan siap untuk membelah isi jantung Indra.
“Nggak apa apa, Anga !, tadi cuma nylonong begitu saja”
“Aku kenal kamu sudah lama sejak dari semester tiga, aku selalu enjoy dekat kamu, tapi belum pernah aku lihat sikap kamu yang nggak familiar seperti ini. Dra!,  jujur saja sama aku ?, Aku ingat kamu sering ngajarin aku tentang pentingnya nilai kejujuran”
“Kamu tadi ngumpul bareng Resti, Beti dan Ririn  di kantin kampuskan ?”
“Tahu dari mana ?, dan apa hubungan dengan kamu?”
“Aku lihat sendiri, tapi aku milih nggak gabung sama mereka. Sekarang gantian kamu yang jujur sama aku, mereka nggak mau dan takut kan kalau kamu dekat aku?”
Kenanga mulai menghisap es jeruk dalam gelas piala perlahan, dia baru sadar  kalau tenggorokanya mulai kering, debu dan deru dari asap knalpot kendaraan yang merebak di bundaran Simpang Lima mulai sedikit menyesakan dadanya, lantaran hari sudah lewat tengah hari. Hanya suasana diam seribu bahasa menyelimuti hati mereka berdua meski hanya sesaat.
“Kamu tersinggung, Anga ?”                               
“Tidak, Dra!!!. Hanya saja aku harus bilang apa. Mereka bertiga tidak tahu bahwa hati manusia sudah semestinya dihiasi dengan kelembutan dan kepedulian antar sesama, ibaratnya taman bunga warna warni, tempat burung burung berceria di pagi hari, termasuk hati aku ini, yang bebas disemai bunga yang aku sukai”. Setetas air mata Kenanga mulai membasahi pipinya.
“Itulah yang aku takuti. Anga ?”
“Apa yang kamu takuti?, aku melihat dalam diri kamu bukan anak manja, tak mudah menyerah dan tegar. Berbeda dengan aku, Dra !”
       “Tetapi dalam hal ini, aku seperti anak kecil yang diliputi ketakutan dan kebimbangan”
 “Sekali lagi aku jadi nggak ngerti, apa sih yang yang kamu takuti ?”
 “Aku takut kamu terpengaruh sokib sokibmu, dan aku harus kehilangan kamu, karena perbedaan antara kita. Itulah yang aku akui dengan jujur, aku seperti anak kecil”.
Indra tidak henti hentinya melempar sorot mata ke arah Kenanga, lantaran Indra menginginkan kejujuran Kenanga, tentang tempat yang dia harapkan di bilik jantung Kenanga, Sehingga tiap pagi hari dia bisa bermandikan cahaya pelangi hanya milik Kenanga.
“Indra !, aku bukan anak kecil lagi, dan mama papaku tak pernah bersifat otoriter terhadapku. Sudah bukan jamanya lagi kita dikungkung dengan aturan kolot.  Aku nggak suka kalau kamu bersikap seperti itu”
 “Tapi realita berkata lain, papa kamu menginginkan Aldo menjadi pendampingmu”
“Jangan kecewakan aku Dra !, seakan kita baru kenal kemarin sore. Mana sikap dewasa , yang selalu kau tunjukan padaku
“Tapi masalahnya bukan seperti itu ?”
“Jadi seperti apa ?”
“Ah, aku sendiri nggak tahu “
“Jadi harus aku yang menebak isi hatimu?. Jujur saja aku menilaimu, kamu sekarang kehilangan percaya diri berada di sampingku kan?, Kamu membandingkan dirimu sendiri dengan Aldo yang kamu anggap segalanya lebih baik darimu, iya kan ?. Terus dimana Indra yang kata temen temen sekampus, termasuk mahasiswa yang gigih, hingga hampir menyelesaikan studinya dengan perjuangan yang tegar. Apa sih perbedaan antara kita ?”
Indra melemparkan semua kekesalanya kepada rumput di bundaran Simpang Lima dan mengajak mereka agar mampu menepiskan sisi hatinya yang mulai robek diterkam rasa bimbang dan ketidakpercayaanya.
 “Ternyata kamu Kenanga yang aku harapkan bisa memberi spirit bagi aku, yang sering merasa terpingit karena keadaan, sukurlah kalau kamu bisa  dewasa”
“Aku memang harus bisa tegar dan tanpa mengenal surut untuk tiap yang aku pilih, itulah yang mama  papa harapkan. Aku harus  bergelut dengan   apa yang harus aku raih. Dan ini semua  aku dapatkan dari kamu”
Angin musim kemarau mulai meniupkan daun daun palma di seputar Simpang Lima, kedua insan itu kini mulai dipinang oleh rasa percaya diri yang hinggap pada diri mereka masing masing, dengan tetap mengusung sebuah kejujuran dari Kenanga dan Indra serta garis takdir yang bakal mereka lalui di masa depan. Entahlah mereka sendiri tidak tahu apa yang mesti terjadi pada diri mereka kelak, hanya saja kini lampu lampu jalan di bundaran Simpang Lima sudah mulai mengeksotiskan wajah Kota Semarang. Kini merekapun  tenggelam dalam lautan asmara, yang hanya mereka sendiri yang merasakan.

Janji Anyelir


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti

Prima  memang telah kencan dengan Sandi untuk  bertemu di ultah cewek gaul ini seminggu yang  lalu.  Ucapan  Prima memang telah membalut begitu kuat di setiap denyut nadinya.    Lantaran malam ultah sang  princess of  heart-nya, seakan    langit akan berkubang seribu warna kembang api.  Setiap barisan ombak di lautpun akan berhenti sejenak,   air terjun akan berganti memberi senyum yang indah, kepada semua yang memadu cintanya,   saat saat detik  tanggal lahirnya.
“ Ntar kita akan mejeng di  mana , San “  seru  Prima dengan hati yang berharap cemas agar malam  ultah  Sandi  segera tiba. Mataharipun telah  Prima  beri pesan supaya berputar  lebih cepat.
 “ Nggak  tahu . Aku lebih merasa  romantis  bila   kita nikmati malam  ultahku  di Malioboro saja. Gimana   Pram ? ” jawab Sandi, gadis manis  yang  telah menghanyutkan  seluruh  nadi dan jantung  Prima dalam  samudra  pesonanya.
Prima  hanya diam sesaat, seribu bunga warna jingga kini melintas  di sudut hati cowok ganteng ini, lantaran hadirnya  Sandi.  Kekaguman Prima  pada Sandi ternyata lebih menghanyutkan  ketimbang  yang lain.     Primapun baru sadar ketika Sandi menggayutkan tangan di punda  Prima.
”Kok diam saja sih  Pram  !.   Apa  kamu masih ingin enjoy lagi  dengan  Anyelir,  cewekmu dulu yang seindah bunga sorga,  yang  beribu kali lebih baik dari aku, Pram ? “ . Primapun tersentak  kaget, mendengar Sandi merajuk  seperti anak kecil, yang penuh cemburu . Menggayutkan lagi masa-masa silam ketika dia masih memiliki Anyelir ,  yang kini di LA  mengikuti ortunya yang bertugas sebagai  bos perusahaan swasta.
” Sandi, aku tidak mau kamu menyebut nama itu  lagi  di depanku .  Kamu miliku Sandi.  Aku sudah lupa  sama  Anyelir. Biar  kamu saja yang singgah di hatiku  .  Tolonglah San ! ”
 ”Habis kamu tadi nggak dengerin omonganku Pram,  aku lihat tatapan mata kamu kosong.   Kayanya  kamu mbayangin  malam  bertabur bunga  bersama Anyelir. Maafin aku ya  Pram ?  ”  Sandi menyodorkan tangannya dengan mata di balik kacamatanya  menatap sendu.  Prima  merasakan seluruh tubuh ini  terbang ke  angkasa. Ah Sandi kamu begitu penuh pesona,  semoga  engkau tidak  berlalu , seperti Anyelir,   begitu  bisik hatinya.
Primapun  menyambut  tangan Sandi dengan senyuman yang tergambar dari hati ini yang terindah,  Sandiipun  melempar senyum  tipis dari bibirnya  yang  lembut sembari mengulurkan tangan kirinya juga untuk merapatkan tubuhnya ke arah  Prima.  Dan kini   dia merebahkan kepalanya   di  dada.  Primapun  membalasnya  dengan  mengusap rambut Sandi yang harum.  Sesekali diciumnya rambut  Sandi sembari membisikan  segumpal  kata sayang.
” Pram ,    aku sering cemburu , jujur saja  sama aku  ya , Pram ! .   Anyelir jauh lebih segalanya darui aku kan  Pram ? ”
” Ah. . . kamu ini ,  aku kan nggak mau  kamu menyebut-nyebut dia lagi ! ” 
” Tapi , Pram. Kalau kamu emang  pengin terus  dekat aku,    kamu harus  bisa melupakan  dia. Itulah yang aku pinta ”
” Lho, emangnya  aku  masih   memburu  Anyelir. Biarkan dia bahagia di LA.  Dia nggak kurang satu apapun ! “
 “ Kok  kamu tahu  dia bahagia di LA ,   kamu kontak dia  ya  ?,  Kamu masih pengin lagi bersama dia,  gadis cuakep,  kaya,  pande lagi ? “  Tutur  Sandi sambil menyurutkan langkah menjauhi Prima  cowok yang dia anggap segalanya,  Meski telah banyak cowok ganteng dan gaul  yang naksir dia. Namun hanya  Prima  Antariksa  aja yang membuat dia  menyerahkan  sebilah hati miliknya. 
 “ Udahlah San,  kamu jangan mancing – mancing aku terus  dong.  Aku harus ngomong gimana.  Itu kan masa- masa lalu  San  ?,  Sekarang yang ada hanya  aku dan  kamu   ! ”.  Primapun tahu persis perangai  cewek kolokan  ini.   Maka   Primapun  tak mau buang waktu lama,   dia segera   duduk  mendampingi  cewek  gaul ini di sofa  warna biru laut,  yang  lagi  marah nggak karuan arahnya,  tapi setianya amit- amit nggak ada yang mampu menandingi,  meski kadang kadang masih suka kaya anak ABG aja  wataknya .
Justru  saat  seperti inilah  yang ditunggu  Prima ,   karena dia  bisa melihat  alami wajah cewek kolokan ini.  Maka  diapun lantas  membiarkan Sandi hanya  menghabiskan malam mingggu ini dengan  wajah  berselimut mendung  kelabu,  yang penting dia bisa melihat wajah  ayu  Sandi. 
Malam kini berselimut kebisuan karena  rembulan telah hampir menyentuh  tengah langit, pertanda  malam semakin larut. Udara  dingin kini terasa sekali menusuk tulang mereka, lantaran memang dari pagi hujan tiada  henti.
Sepanjang perjalanan pulang melewati jalan Kota  Semarang yang  membisu  di telan dinginya gerimis,  Prima   masih saja  terkungkung dengan  makian Sandi. Bukan lantaran sakit hatinya  tadi, namun karena  Sandi  mengajaknya untuk menghadirkan kembali Anyelir  yang   berusaha dia kubur  dalam – dalam.
Bersama dengan air gerimis yang terus menerpa kaca mobil  Xenianya,  Prima kembali  angannya ke dua tahun silam. Ketika dia mencoba  datang ke rumah  Anyelir di Ungaran,  yang beberapa hari sebelumnya nggak ngasih kabar.  Namun  rumah  itu telah kosong  tiada berpenghuni, hanya  kerabat Anyelir saja  yang masih menunggu rumah itu.
”Jadi  kamu yang bernama  Prima  Antariksa ? “ . Jawab  lelaki setengah  baya  yang  ternyata  Pamannya Anyelir.
 ” Benar   Om,   Aku  mau bertemu  Irna  Om  ? ”
” Lho apa  kamu belum tahu  ? “
“ Belum Om,  Emangnya ada apa ? ”
” Om  nggak berani  ngomong, Mas.  Hanya  surat ini yang  Irna titipkan untukmu. Silakan  kamu baca. ”
 ” Surat  apaan Om ? ”
 “ Nggak tahu aku, Mas Pram, Irna  nggak  pesan apa – apa  hanya  menitipkan surat ini ”
Jantung  Prima  semakin berdegup keras,  kedua tangannya terasa bergetar  kala membuka amplop  itu.  Meski  Prima nggak tahu perisi isi suratnya,  namun  dia sudah mampu menduga apa yang terjadi.  Sebaris dua baris dia baca surat itu hingga baris terakhir ,  Adakah sisa  hatiku yang mampu aku naungi untuk menerima kenyataan ini, demikian bisik hati Prima yang kini hanya mampu duduk di sudut kursi tamu rumah Anyelir  yangh mewah.
Bukankah Anyelir seminggu yang lalu biasa –biasa saja sikapnya, tidak ada  sepotong katapun ia luncurkan tentang rencana kuliah di LA.  Ataukah memang dia pandai menyimpan rahasia,  atau mungkin saja  dia telah menyembunyikan cowok lain yang jauh lebih baik segalanya dari aku. Pertanyaan itu berulang silih bergani datang dan pergi dari hati Prisma. Meski  perhatiannya kini hanya tertuju pada jalan aspal yang ada di depanya. Primapun menjalankan mobilnya dengan  pelan, menyusuri jalan Ungaran Semarang yang padat.
Malam tahun baru  hampir tiba,  Sandi udah nyiapin pakaina baru lengkap dengan assesorinya.  Kesempatan itu udah dia bayangin, betapa mesra dan berkesan nantinya bermalam tahun baru di Malioboro gabung dengan  ABG  fansnya dari seantero mana aja.
Terlebih  lagi pada pesta  nanti dia akan bareng dengan cowok yang singgah di hatinya, yang gantengnya kaya Arjuna turun dari kahyangan.  Sesekali dia ngebel Prima,  sekedar curhat ingin  segera  bermalam tahun baru di Malioboro.
Primapun  tidak ingin melepaskan saat saat romantis nanti, meski dia masih  terpagut dengan bayangan Anyelir yang  memberinya janji akan ke Indonesia,  saat malam tahun baru setahun lalu. Tapi  nyatanya  janji itu hanya  terbawa angin liar entah ke mana, barangkali kehidupan di negara Paman Sam telah memberikan segalanya.   Prismapun telah mati-matian melupakan sekuat tenaga,  berniat mengubur kuat-kuat kenangan bersama Anyelir.
Namun  penantian  kali ini telah pupus sudah setelah hadirnya Sandi,  cewek yang ayu, berkulit kuning dan semampai tubuhnya., apalagi dengan pemanis kaca mata minusnya yang menambah seribu pesona  bagi dirinya.  Namun sifat kolokannya  yang belum bisa dihilangkan, tapi bagi Prima  hal ini tak pernah digubrisnya
” Prima , ada telepon  ”  seru mamanya  dari ruang tamu yang sempat membangunkan lamunannya,  pergi ke negri awan bergandengan tangan dengan Anyelir.  Membagi suka bersama sekaligus menambatkan gelora hati.  Tanpa menunggu lama kini dia sudah memegang gagang telepon rumah.
 ”  Met pagi Pram, kamu masih hapal suara  ini.  Boleh aku bicara  sama kamu Pram  ? ” papar sebuah suara dari dalam gagang telepon.
” Kenapa nggak,   kamu kan temanku  yang dulu pernah  aku kenal ”
 ” Betul, Pram ?.  Apa dari hatimu yang tulus ?,  aku jauh – jauh dari LA sengaja ke sini hanya untuk ketemu kamu Pram, Meski aku jauh dari Indonesia, namun bayangan kamu tetap hadir di hatiku Pram.  Aku kangen sama kamu,  boleh aku ketemu, kamu Pram ? ” .
 ”Tentu, Ir .  Sekarang posisimu ada dimana ?, kalau udah di Semarang biar aku jemput saja. Kebetulan hari ini aku nggak ada acara, ”  pinta Prima  yang masih memiliki  perhatian yang lembut kepada  cewek yang pernah fade-away  sama dia  dengan hanya selembar surat
”Biar   aku naik taksi aja ,  makasih sebelumnya Pram,  kamu  emang cowok yang penuh perhatian dan lembut. Aku tahu persis dirimu lho Pram, aku belum pernah ketemu cowok kaya  kamu, betul lho Pram aku ngomong sebenarnya ” seru Anyelir dengan suara yang patah-patah lantaran barangkali ucapan itu emang keluar dari hati yang paling dalam.
”Makasih  banget   yang kamu ucapin tadi, ya udah gampang nanti kita  bicara  di rumah
Sekarang aku tunggu di rumah ya,  ”
” Betul ya Pram ,  jangan pergi, jangan menghindar  Pram Aku serius ingin ketemu kamu ”
” Sifat kaya gitu nggak bakalan ada di hatiku, udah ya tutup aja telepon ini, aku tunggu kamu di rumah. Met  ketemu lagi ya Ir ”.   Prima segera menutup telepon itu,  Lantaran jantungnya berdegup keras,  sekeras duat ahun lalu kala Anyelir meninggalkan dia tanpa pesan.
Kegalauan hatinya ini bukan karena pertemuannya nanti dengan Anyelir, namun Prmapun tahu acara dengan Sandi bakalan kacau,  padahal dia sudah memberikan janji ama Sandi bakalan ngasih happy birthday  di Malioboro malam nanti dan mestinya  saat ini juga dia harus berangkat menjemput cewek kolokan itu.  Apa jadinya bila dia  ngaak nepatin janjinya itu,  bisa-biasa terjadi kiamat 2012.  Makanya  kini Primapun harus jujur berkata apa adanya terhadap Anyelir, meski diapun tahu bakalan  membuat luka hati Anyelir.
Pintu belakang taksi kini terbuka sudah,  tak lama keluarlah  Anyelir bersama Madam Ivon  temen Anyelir dari Paman Sam.  Kedua remaja inipun kini berpelukan kaya dalam akting sinetron. 
”Met ketemu lagi Irna,  silakan masuk saja  ”.  Kedua remaja itu lama berpelukan, terutama Anyelir yang lama baru bisa melepas pelukan itu,  lantaran seribu rasa kangen yang lama menggumpal di dalam hatinya.
Kini hanya mereka berdua yang ada di berabda depan rumah Prima. Sementara itu Madam Ivon  lagi tenggelam asyik bersama-sama  dengan Mama dan Papanya Prima  lagi punya acara sendiri ke Bandungan.
” Kamu tambah kurus Pram,  Ayo dong enjoy. Sambut aku yang dari jauh dengan ceriamu dong.  Mana Prima yang dulu amat mesra dan lembut itu, ayo dong ? ” .  Anyelir sengaja merapatkan duduknya di samping Prima.  Namun cowok ganteng itu memang udah nggak kaya  dulu lagi.   Lantaran  janji Anyelir yang  hanya di bibir saja.
” Ah biasa aja kok Ir,  emang beginilah  tampang Prima,  sedari dulu juga emang kaya gini, cowok yang nggak punya apa-apa , hanya bisa menerima janji-janji doang “  .
 ”Aku tahu hatimu Pram,  aku memang bersalah meninggalkan kamu setega itu. Namun apa dayaku Pram melawan kemauan  Papa dan Mama.  Papa ditugaskan ke LA  oleh   Om William untuk memimpin perusahaannya di sana.  Sedangkan aku diminta  papa untuk kuliah di sana.  Emang saat itu aku kalut sekali Pram . Apalah aku ini bila nggak dekat kamu ”  Terlihat Anyelir sudah basah matanya menahan kegalauan hatinya.
” Aku juga nggak tahu harus bagaimana saat itu,  Seharusnya  kamu bisa sms atau kirim email sama aku, Seberapa beratnya sih kirim sms apa email ?. Sehingga aku jadi tahu  apa arti semua ini ”
 ” Maksud  kamu gimana Pram  ? ”
” Seandainya  aku harus  menunggu kamu  sampai kamu balik ke Indonesia,  sampai studi kamu berhasil akupun sanggup menunggu,. Tapi ya udahlah Ir. Kamu udah menentukan demikian ya udah ”
Kini hanya terlihat mata dan pipiAnyelir yang  basah penuh air mata,  demikian juga  hati Prima yang masih merasakan perih lantaran  sembilu cinta telah mencabik hatinya.  Anyelirpun tidak mampu berbuat apa lagi, kini hanya pelukan mesra kepada cowok yang dikhianatinya sekaligus diharapkan cintanya lagi.  Lama Anyelir  berada di pelukan Prima,  sehingga pipi Prima kini hanya dipenuhi air mata Anyelir.  Setelah kembali Anyelir menemukan hatinya  lagi,   maka dilepaskanya  pelukannya itu,  sementara  Primapun masih terlihat diam membujur.
” Inilah  lemahnya seorang wanita , apalagi menghadapi papa yang sikapnya keras ”
” Emangnya kamu diapain ? ”
 ” Papa dan Mama minta aku untuk hidup bersama dengan   Om  Chandra, bawahan Papa yang juga ngikut kita ke LA.  Meskpun dia tak kurang suatu apapun,  namun  hanya kamu yang singgah di hatiku hingga kini, Pram ! ”
” Kasihan dia dong kamu tinggalkan , jangan sakiti dia seperti kamu nyakiti aku dulu, Ir ”
” Teganya kamu bilang begitu Pram. Apa dah nggak ada lagi hatimu ? ”
” Aku juga tahu perasaanmu Ir, tapi kamu juga harus tahu betapa goncangnya diriku saat kamu tinggalkan, berhari-hari tak secuil nasipun masuk ke prutku, hingga aku sakit  Sejak kita duduk di bangku SMP kita sudah saling dekat.  Tujuh tahun kita selalu bersama, tapi kamu tinggalkan begitu saja, hanya selembar surat perpisahan yang kamu pinta sendiri.  Sampai mama dan papa membawaku kerumah sakit agar aku sembuh, Saat itu datanglah Sandi yang mendampingiku, aku tahu dah lama dia ingin dekat aku, tapi aku selalu milih kamu ”
Terdengar isak tangis memenuhi ruang beranda  itu yang kini dipagut kisah cinta dua remaja yang  saling harus mengerti arti saling memahami satu sama lain.  Keduanya kini hanya terdiam , masing-masing kini dililit lamunan yang  membawa mereka ke angan masing-masing.
            ” Pram, ajak aku kemana aja untuk ber-happy ending  bareng kamu,  sebelum aku balik ke Jakarta. Barangkali ini untuk perpisahan kita. Kan dua tahun lalu aku nggak sempat ngucapin perpisahan sama kamu.  Kamu mau kan ?, kamu masih seperti Pram yang dulu kan ? ” Pinta Anyelir dengan mata sayu seakan meminta Prima menuruti kemauannya.
 ”Aku memang Prima yang masih seperti dulu,  sahabatmu.  Tapi aku nggak mau meluikai hati dia. Sekarang nggak ada lagi yang aku miliki  selain dia. Maafin aku ya  Ir.  Sungguh berat memang yang namanya perpisahan, tapi aku harus gimana lagi ?. Kamu cantik lho Ir, aku yakin kamu akan mudah mencari penggantiku
            ’Aku ., ya udah Pram.  Semoga Tuhan Mempertemukan aku lagi, Boleh aku mengajukan permintaan Pram ? ”
” Akukan sahabatmu, kenapa enggak ”
 ”Aku akan mengucapkan met ultah untukmu diamanapun aku berada,  sebagai penebus atas kesalahan aku sama kamu. Dan sebuah pertemuan yang indah untuku.  Meski engkau telah bersanding dengan Sandi,  aku tak perduli. Bolehkah Pram ? ”
” Tentu saja Ir, akupun  akan selalu menunjungimu dimanapun kamu berada bila nanti aku ke Jakarta, Asal kamu tetap memberiku alamat ”
Kedua remaja itupun kini kembali berpelukan  entah untuk yang terakhir kali. Yang jelas  dalam hati kedua remaja tersebut sebenarnya masih ada benih cinta, namun karena kedua saling menyayangi dan saling mambahagiakan, maka merekapun kini saling mengambil jalan sendiri-sendiri..
Malam  di Kota Semarang  kini menjadi saksi terjalinya  benih cinta antar Sandi dan Prima. Meski kedatangan Prima ke rumah Sandi terlambat, namun Sandipun menerima alasan demi mereka berdua. Kini mereka bermandikan cahaya warna-warni kembang api tahun baru.

Issabella


 Cerpen Remaja Effi Nurtanti
Ariel  hanya mencoba menyelipkan apa yang  terasa  lembut di tiap sudut hatinya,  kala  dia berusaha sekuat hati mengendapkan semua  keresahan  yang  terus saja bergayut di hati yang telah lama terbujur kaku. Arielpun kadang hanya bisa berkaca pada seberkas hidup yang dia tapaki, waktu demi waktu hingga  datanglah Isabella yang hanya meninggalkan  entah kebisuan dan Arielpun mencoba menggambar dalam kanvas hatinya itu.
Warna merah jambu yang dia torehkan pada kanvas pergulatan hatinya, kala dia  menunggu Isabella, yang bersayap lembut dan seringkali menengok langit kehidupannya, mampukah dia menelikung sayapnya untuk sekedar mengarungi pohon palma yang berdiri tegak kala pagi hari. Kala biru kanvas hatinya dibarengi dengan nyanyi burung kenari di beranda hidupnya.
Isabellapun hanya menguraikan rambut yang harum ke tiap nafas Ariel yang tidak tahu entah memburu ketidak pastian. Namun hati yang telah tajam menyelinap di tengah hati yang lagi menyabung cintapun, tiada mungkin untuk dibiarkan sendiri di sudut ruang hidupnya. Isabella kemanakah kamu,  biarlah aku temui kamu dengan keranjang bunga bermandi sinar mentari dan harum kembang setaman.
Suara pagi hari yang dihiasi nyanyian alam membangunkan mimpinya, maka Arielpun bergegas untuk menjemput hidupnya,  yang kadang menakutkan bagai raksasa yang gampang saja menelikung segalanya. Atau hidup yang dia miliki kadang menjelma menjadi putri salju mirip malaikat yang akan menebarkan keindahan di hadapan Ariel. Maka di pagi inipun bergegas menyongsong hidupnya.
Lambat tapi terus  memburu  waktu,   sepeda motor butut milik Ariel  dipacunya menembus  jalan – jalan Kota Semarang yang masih basah diguyur hujan semalam.  Pagi itu udara masih terasa menyengat tulang, karena telah empat hari hujan tiada henti, Sesekali Ariel menggigil kedinginan  bila terasa hembusan angin menerpa kulitnya, meski jaket kulit lusuh  selalu membalut tubuhnya. Angannya selalu saja melekat kuat akan Bella , kini Bandara Achmad Yani  sudah  nampak di depannya. Degupan jantung ini makin terasa,  seaka Bella sudah di depanya mengulurkan kedua tangannya, menaburkan segala kelembutan. Layaknya bunga warna – warni  yang dia sendiri sangat  menantinya.
Tanpa seorang temanpun dia duduk di kursi  tunggu, hanya sebatang rokok filter yang melekat di mulutnya. Dihisapnya perlahan – lahan sekedar   untuk    mengusir rasa  bosan.  Kembali sebatang rokok yang  sudah setengah  mengalunkan lamunannya, tentang masa hampir tiga tahun lalu sejak masih dia di SMA, kala Bella dan dia selalu  bareng di kelas XI.  Pandangan mata Bella kala menusuk jantungnya yang hanya berdegup tiada  daya.  Namun yang memiliki mata indah itu  hanyalah sosok dingin yang nggak pernah peduli pada  hati Ariel yang membara.
Tap apa mau di kata,   Bella adalah kembang wangi milik semua teman sekolahnya, berbagai kumbang jalang berhasil mendekatinya, namun  entahlah Ariel  selalu saja  menempatkan Isabella di relung hatinya. Namun Isabella tiada pernah satu kalipun menengok hatinya yang kadang hampir layu karena kepurtus asaan,  namun Arelpun tahu bahwa seberkas hidupun pada dasarnya adalah penantian panjang untuk meraih segalanya.  Jantung yang saat itu disemayamkan pada harap dan asa, kini berdegup keras seakan hampir lepas,  ketika Announcer memberitahukan sebentar lagi pesawat dari Jakarta akan mendarat. Dihabiskan rokok  yang  sudah nyampe batas filternya, lalu dibuang ke tempat sampah.
Kini  Isabella sudah berjalan mendekati ruang  tunggu. Ariel segera melempar senyum dengan harapan sebuah kejutan  untuk Isabella  tidak membuatnya  marah.  Bellapun segera menyunggingkan senyum heran dengan  temen lamanya ini yang rada bengal, yang sering dihukum guru-guru mereka,  lantaran Ariel yang norak sikapnya,   kini Ariel sudah di depanya  penuh misteri.

”Biar aku bawakan tasmu, Bel ” pinta Arielpun memberanikan diri layaknya Don Juan yang sedang merayu bidadari.
 ” Makasih, Ril. Kok kamu ada di sini ? ” Bella  melontarkan  keheranan akan kedatangan Ariel yang entah tahu dari mana.
 ”Semalam aku main ke rumahmu,  dan tahu dari Rima,  kamu bakal pulang hari ini  dari Jakarta ”.  Sengaja Ariel ceritakan kedatangnya semoga  di hati Bella  terbesit sedikit goresan hati untuknya.
            ” Lalu kamu mau njemput siapa Ril ”
” Ya jelas njemput kamu Bell,. Aku kasihan sama kamu. Irma cerita semalam Papi dan Mamimu sedang ke Bandung. Jadi...Boleh kan aku  jemput kamu ”
”Ah , kenapa sih Ril kamu  repot-repot. Aku cuma kasihan sama kamu, sepagi ini kamu udah  nyampe sini.  Oke  Ril aku tak  nyari taksi. ”
” Nggak usah lah Bel,  aku bawa motor kok ”
” Tapi bawaan aku banyak Ril ”
 ” Gak masalah Bel,  biar  aku  yang mbawa aja ! ”
” Aduh Arielku kamu kok baik banget sih ”
”  Kan demi  kamu, Bel ”  Ariel  harap – harap cemas
 ”  Sejak kapan sih kamu genit kaya gitu, Ril ”
Keduanya  kini telah melaju di jalan Kota Semarang, menembus  sinar mentari yang kini mulai menguning. Sehangat hati Ariel yang baru kali ini  bsa mengenal lebih dekat Bella,   meski hanya pada tepi hatinya sendiri,   sementara Bella biarlah  terbawa angannya sendiri.  Kala Ariel memang harus menitipkan hatinya pada  Bella yang sudah  lama bersemayam di sudut hatinya, Arielpun akan lebih realitis lagi dalam mendekati Bella. Namun  Arielpun masih saja senang berada di balik mendung hatinya.
Karena seberkas cinta yang akan dia sodorkan kepada Bella, adalah  sesuatu yang paling berharga,  adalah juga sesuatu yang harus mampu menghantarkan Ariel  pada makna hidup.  Lamunan itu  kembali terjaga kala Bella memintanya   mampir di warung bakso di depan  Kolam Renag Jati Diri,  untuk sekedar mengisi perutnya.
” Kamu sekarang kerja  apa kuliah Ril ”  .  Bella masih asik menyantap  baksonya, sementara  senyuman tipis kembali  menghias wajah ayu boneka Berby.  Arielpun kembali menemui telaga  tempat  menampung air pagi hari yang mampu menyejukan hatinya.
 ” Aku sekarang menjadi reporter  Majalah Remaja  dan sore  hari aku kuliah di Hubungan Internasional ”
” Ah . . . keren dong kamu sekarang Ril ”
” Keren  apanya kan masih  keren kamu dong Bell ”
” Akukan hanya bisa kuliah  dari  biaya Papi,   kalau kamu kan dah bisa nyari doku. Keren dong  Ril ”
” Kamu coba aja Bell,   ngikut casting, aku bisa nyariin producer yang sip, Bel. Kamu cantik kok  ”  Aril tidak tau mengapa pujian kepada Bella terlontar begitu saja. Bukankah selama ini dia menunggu kesempatan ini.
Bella  hanya menundukan wajahnya, warna merah jambu terlihat di kedua pipinya, semenatara sesekali dia memandang cowok ganteng yang misterius di depanya. Cowok ini  yang sudah bertyahun dikenalnya, namun terlihat seperti gunung es.
            ” Jadi kamu biasa dong Ril, gaul sama  cewek cuakep ”
 ” Hampir tiap minggu aku ketemu sebritis, untuk wawancara di Jakarta ”
 ” Mereka cantik – cantik Ril ?  ”
” Ah biasa aja,  cantik dan nggak kan ada di dalam sini Bell. Bagi  mereka yang  hanya melihat dari media bisa menaksir kecantikan mereka,  tetapi kalau udah dekat , ya biasa aja. Apa sih beda mereka dengan kita ” Ah . . bodo kamu Ril, masa nggak mau punya pacar selebritis ”
” Mereka yang bodo,  kenapa mereka mau sama aku.  Siapa sih sebritis yang mau sama  reporter amatiran ”
             ” Jangan gitu dong Ril, siapa  tahu  ada yang mau sama kamu ”
 ”Aku tiap minggu meliput kisah  kebobrokan mereka,  kehidupan mereka memang penuh dengan sensasi, itu aja yang dibutuhkan mereka,  nggak usah aja lah Bel punya pacar  selibritis. Mendingin aku pilih yang biasa saja. Lalu  kamu  di Jakarta ngapain, Bel ? ”
” Cuma  molor  dan main – main  aja, aku nggak tahu mau kuliah di mana. Papi mintanya aku ke  Amerika untuk kuliah di sana. Tapi aku lebih milih Indonesia, aku masih pingin kumpul ama temen-temen ”
” Kenapa  Aldo nggak njemput kamu Bel ”. Bella sejenak  terdiam dari  matanya terlihat kabut tpis air mata kesedihan. Pertanda  sesuatu telah terjadi dengan mereka berdua,  yang tahun lalu dinobatkan sekolah sebagai  siswa siswi teladan
            ” Bel, maafin aku ya .  sungguh aku nggak tahu.  Aku nggak sengaja nanya kamu  kaya gitu ”
” OK   is all right,  dia memang  cowok yang belum dewasa Ril nggak kaya kamu
            ” Ya sudah Bell, nggajk usah kamu pikirkan, kan masih banyak cowok yang naksir kamu,  Kamu cantik Bell ”.
Untuk yang keberapa kali Bella menghiasi wajahnya dengan senyuman tipisnya, kelihatan jelas hidung yang mancung, kulit wajah yang bersih dan mata yang menatap Aril dengan sendu. Arilpun kini tlah tahu bahwa seberkas cinta Isabella mulai tertanam dan menggores hatinya.
 ”Aku mnta kamu jangan seperti Aldo,   yang gampang mempermainkan cewek, Aku nggak ngira segitu gampangnya, kasihan nanti cewekmu Ril ”
” Sudahlah Bel,  kan masih  ada banyak   kesempatan buat kamu untuk  menggapai masa  depan ”
”Aku sudah bisa melupakan dia,  meskipun  banyak cowok  yang  ndekati aku,  tapi aku nggak mau cowok modal kaya Aldo ”
” Sekarang udah siang kita pulang dulu Bell,    kamu kangen sama Papi dan Mami kan ? ”.  Issabela hanya menggangguk kecil,  berdua kinipun  melaju menuju rumah Bella  menembus debu dan panasnya  kota  Semarang. Sebuah   keceriaan baru bagi Ariel kini  terpagut di sisi hatinya,  dan sebuah   harapan baru yang diberikan Issabella  kinipun  mulai  singgah dihatinya.  Namun Arilpun  belum bisa  menemukan kata pasti.
”Bell, kita  kemana  sekarang,  kebetulan ada temu  penulis cerpen di   kantorku,  mau nglihat ? ”. Di sautu malam merekapun bertemu kembali lantaran  sudah  akrab antara mereka berdua
” Ah  nggak dulu Ril, aku  lagi pengin di rumah, kamu nggak apa – apa  kan ? ”
” Nggak apa – apa, kebetulan aku nggak  megang  liputan  sastra dan budaya ”
” Bener  Ril, kamu nggak marah  kan ? ”
 ” Ngapain marah, aku sekarang kan lagi bersanding dengan  sang ratu yang cantik turun dari kayangan
” Kaya anak kecil aja,   kan masih  lebih cantik  selebritis  yang kamu liput  ”
” Nggak Bel kamu yang  paling cantik,  aku pengen dekat sama kamu terus ”
Bella hanya menatap  Ariel sendu,  seberkas  senyuman kembali  tersungging di bibirnya. Kini Bella  memegang  tangan Ariel dengan lembut,   pertanda  goresan cinta  telah  bertaut  pada dua  insan manusia