Terasa
hambar memang hubungan Rudi dan Rosella,
meski mereka saling menautkan kasih mesra sejak dari kelas sebelas SMA. Rudi memang memilih meniti karir dengan
menjadi pelukis jalanan di sepanjang Malioboro Jogja, setelah lulus SMA. Sedangkan Rosella memilih meneruskan studi di
perguruan tinggi di Semarang.
Prosa indah
yang mereka susun selama dua tahun ,
entah mengapa kini ditikam oleh egonya masing-masing, rindu
yang sering hinggap di sudut hati mereka masing-masing entah mengapa kini
terbang di bawa angina kembara. Rudi
begitu asyiknya gaul dengan
pelukis-pelukis ternama di Jogja, hingga tiada
sosok lain yang bisa menemani dia kecuali corat-coret di kanvasnya dengan seperasi warna yang menjadi gambaran hatinya.
Rosellapun begitu antusiasnya , ingin segera
merampungkan studinya hingga bisa
bekerja entah dimana untuk menggapai masa depanya, sikap ini memang terus saja
membujur di hatinya, karena dia adalah anak sulung, yang diharapkan mampu
membimbing adik-adiknya kelak. Meski umurnya dia baru menginjak 18
tahun namun kematangan pribadinya telah terjalin kuat melebihi kedewasaan sosok yang lebih tua darnya.
Berlainan
dengan Rudi yang menjadi korban bobroknya hubungan Mama dan Papanya di tengah
kehidupan materinya yang gemerlap. Makanya Rudi terbiasa dengan menyelesakan segala sesautu dengan kemampuan
dirinya sendiri. Ganjalan hati yang dalam dan kuat selalu diurai oleh dia
sendiri. Hanya Rosella saja yang mau menerima curhat dari cowok yang kesepian
ini
Kadang Rosella juga merasakan kerinduan yang dalam
dengan cowoknya itu, tetapi rindu itu disimpanya rapat-rapat di hatinya. Lantaran
dia tidak mau memberi harapan lebih kepada Rudi yang tidak pernah menginginkan
hadirnya siapa saja di sisinya, kecuali
melukis. Namun demikian kdang
pula terbesit rasa kagum pada cowok eksentrik itu. Walaupun bagaimana Rudi
adalah cowok pertama yang bisa merobohkan jantung hatinya, meski saat itu telah
berpuluh cowok yang lebih caem dari Rudi berusaha mencuri jantung hatinya.
Saat senja di
suatu hari, Hpnya Rosella berdering
panjang menggema di seluruh kamar
tidurnya.
“Ross, lagi ngapain ? kamu nggak
pergikan ?. Aku sekarang dah di Semarang. Aku lagi meluncur ke rumahmu. ”
”Aku nggak pergi, ya aku tunggu ! ” Berbagai bunga
warna warni kini tumbuh di hati Rosella. Lantaran sebentar lagi dia akan bertemu dengan cowok dekil dan
eksentrik, berambut panjang, hidung mancung dan kumis tipis menempel di atas
bibir yang tipis
Rosellapun
yakin bahwa Rudi di Jogja juga sering didekati
cewek-cewek gaul yang naksir dia. Tapi salah satu lkelebihan Rudi
ketimbang cowok lainnya adalah kesetiaannya kepada dia yang nggak bakalan bisa
luntur, meski mendapat halangan kaya apa gedenya.
” Met ketemu lagi Ross, maafin aku yang baru kali
ini jumpa kamu ” . Seru Rudi dengan pandangan mata sendu, Rosellapun tau persis dengan cowok ganteng
ini. Sikap seperti itu pertanda dia membutuhkan kasih mesra dari dia. Bagaikan
musafir yang membutuhkan seteguk air di tengah padang pasir yang gersang.
” Aku harus bicara apa sama kamu Rud, tiap kali kamu datang mesti ada kata maaf ”
” Iya deh aku nggak mau kaya gitu lagi ”
”Aku emang selalu maafin kamu, tapi kamu harus
konseken dong ”
”Udah deh
jangan diperpanjang lagi, jauh-jauh aku datang ingin jumpa kamu, bukanya ingin
kena damprat dari bidadari turun dari langit ” Seru Rudi sambil mendekatkan duduknya lebih rapat lagi.
” Aku
nggak mau kalau sikapmu kaya gitu lagi ”
”Percaya
dong Ros sama aku !, aku di Jogja enggak bakal ngapain-ngapain. Aku memang punya kelemahan . Kalau aku udah didekat
kanvas aku enggak bakal merasa ada di dunia lagi ”
”Kalau itu emang aku percaya, aku dah tau kamu,
dengan siapa aja bisa sedingin es. Tapi aku kan enggak bisa kamu biaran gitu aja dong !, Rud !. Setidaknya kamu bareng ngrayain tahun
baru kesini, kan nggak nyita waktumu kan
? ”
” Tapi aku kan udah kirim sms sama kamu pas tahun baru kemarin ”
” Ya udah sekarang kamu balik aja ke jogja, semua
kecengengan hati kamu kirim aja pakai sms, nggak usah ketemu aku lagi. Kamu jangan kalau ada maunya aja dong, Rud ? ”
”Ah enggak !, aku pengin ketemu kamu aja kok, aku dah kangen
”
”Terus kalau dah ketemu aku, kamu
mau ngapain ? ” Rudipun hanya nyengir saja , memang sering dia disudutkan seperti
itu sama Rosella, lantaran kadang Rudi punya sikap seperti anak
– anak .
”Oke deh Ros, sekali lagi maafin aku ” Pinta Rudi
sambil menggapai tangan Rosella dan membelainya dengan mesra. Pertanda cowok
ini telah mengakui kesalahannya dan kini dia butuh Rosella.
Dibibr Rosella kini ada senyuman tipis yang hangat
dan manja membuat jantung hati Rudi tambah berdegup keras.
”Ros , kamu mau ngikut ke Jogja ? ”
”Ada
acara apa ? ”
”Aku mau ngikut pameran lukisan tingkat nasional ”
”Bagus dong, Cuma
aku kan harus kuliah Rud. Papa
nggak boleh kalau aku bolos kuliah, Aku
hanya ke Jogja klo liburan aja. Itu aja
kalau kamu ngajak, Emangnya ada apa ? ”
” Udahlah jangan ungkit yang tadi lagi, Bener deh Ros, Cuma kamu yang ada di
hatiku.
”Oh ya tadi pameran nasional gimana ? ” tanya Rosella berusaha mengembalikan arah
pembicaraan mereka berdua.
” Ya diikuti pelukis ternama, Cuma aku aja
pelukis lokal yang masih ingusan ”
”Jangan
kecil hati dong Rud !, Apa
bedanya kamu sama mereka ? ”
”Itulah Ros, yang aku pikir. Karya
mereka biasa-biasa aja. Aku yakin
karyaku nggak kalah dengan mereka. Tapi mengapa karya mereka banyak diminati publik dan laku keras ”
”Ah mana
aku tahu lukisan Rud !, kamu kan yang lebih ahli . Cuma kamu aja yang merasa kalah duluan ”
”Mungkin juga gitu, ah nggak tahu. Tapi biarin
aja , aku ngikut etung-etung cari nama aja ”
”Gitu dong namanya Rudi, aku dukung kamu seratus persen ” jawab
Rosella sambil mendekatkan wajahnya persis di wajah Rudi, dan sebuah ciuman
kasih sayangpun kini diapatkan Rudi.
”Mungkin
juga warna-warnanya nggak sesuai dengan hati kamu ! ”
” Maksud kamu gimana ” Jawab Rudi penasaran.
”Mungkin
saja waktu kamu nglukis selalu saja ada gambaran masa lalu yang paling kamu
takuti ” Rosella mencoba ikut memberikan
solusi pada cowok pujaanya. Karena hanya dia yang tahu persis hati cowok
eksentrik ini.
”Kalau itu
selalu saja Ross, kadang pula aku
menjadi lama terdiam untuk mengusir bayang masa laluku. Barulah kalau dah
jernih hatiku aku mulai nglukis lagi. Tapi itu saja masih belum bisa konsentrasi bener ”
” Ya udah cuma kamu aja yang bisa ngrubah, maka Rud
buang jauh – jauh egomu itu. Untuk bisa mengetahui warna warni
kehidupan, kamu harus hidup terlebih
dahulu. Warnai dulu hati kamu dengan rona kehidupan ini. Aku rasa udah lama
kita kenal, tapi kamu belum bisa
berubah. Cobalah ya..... sayangku ” Begitu
indah makna rangkaian kata dari Rosella itu, apalagi wajahnya kini rebah d dada
Rudi. Seribu kekaguman kini
timbul di hati Rudi, lantaran dia
sering bersikap dingin dengan cewek ini,
tapi Rosella selalu saja mau menerima dia.
Oh alangkah indahnya kanvas lukisan ini, bila dihiasi dengan
kebaikan dan cinta kasih antar sesama.
Rembulan yang ayu kini persis di tengah langit, usai sudah pertemuan dua remaja ini. Bagi Rudi mkini ada sketsa lukisan dengan
rona warna warni keindahan yang selalu dituangkan dalam kanvas lukisan, sehingga
membuahkan sebuah lukisan yang indah.
Itulah sebuah refleksi dar kehidupan manusia.
Kenanga
terus menguntai senyumnya di bibir bertanam bunga mawar merah jambu. Seakan sedari pagi hingga tingginya sang mentari hari
ini, adalah miliknya. Lantaran Kenanga hari ini betul betul menuai keindahan, dengan
menyelipkan warna warni bunga di beranda hatinya. Sementara itu langit bagaikan
kelambu biru ranjang pengantinya, yang tergelar di empat kaki langit. Bunga
mawar berkelopak merah jambu, mulai Kenanga semaikan setelah sepotong kalimat
Indra betul betul bersemayam dengan kokohnya di keranjang hatinya. “Kenanga ,
aku suka kamu “. Sepotong kalimat inilah, yang menjadi rajutan kain sutra, yang
melilit di lubuk hatinya.
Kenanga
hanya mampu membalasnya dengan senyum berkemas lebay, mirip kala Kenanga di
depan mamanya, untuk merayu minta dibelikan mobil baru atau acessori terbaru
yang keren. “Ah, tapi Indra gimana ya, apa dia serius atau cuma making a
joke. Aku benar benar bingung. Cowok
jenius ini, tidak seperti biasanya, dia suka acuh tapi akhir akhir ini, dia seperti serius dan minta ampun romantisnya.
Memang dia penuh pesona, dengan rambut ikal, hidung mancung dan berkumis tipis
mirip penyanyi country Frankie, yang sanggup menerbangkan hatiku. Tapi rasa
salut juga aku berikan sama cowok ini, yang tergolong mahasiswa tidak mampu
tapi dengan penuh PD yang kuat dia berani pdkt aku, yang tak mampu menepisnya”.
Entah sayap malaikat mana yang mengipasi kalbu Kenanga hingga terus melamun.
“Kenapa
aku harus seperti cewek nggak gaul?, seribu cowok kaya Indra bisa aku dapatkan
dalam satu hari. Mengapa aku harus dibuat penasaran dengan rayuanya yang
nylonong begitu saja?”. Tak hentinya hati Kenanga dipenuhi rasa penasaran. Di salah
satu beranda hatinya, dia tidak mau seperti cewek yang tidak punya gengsi, tapi di beranda hati lainnya
diapun takut kehilangan cowok jenius yang misterius, meski kadang terkesan
cowok yang jadul. Tapi “duilah”, kalau cowok yang satu ini mulai bertutur kata,
dia mirip Morgan Smesh, bahkan lebih santun lagi.
***
Kenanga
menginjak pedal gas mobil sedan trendy merah metalik dengan pelan, melintasi
jalan aspal berdebu di depan kampusnya, meski beberapa cewek temen gaulnya
sudah melaju kencang mendahuluinya. Tatapanya kini dia lemparkan pada kaca
jendela sebelah kiri dan kanan secara bergantian. Siapa lagi kalau bukan Indra
yang dia telisik. Barangkali saja Indra di siang terik seperti ini masih
nongkrong sehabis kuliah.
Sedan
merah metalik yang flamboyant masih melaju pelan, meski beribu peluru senapan
mesin telah diberondongkan sokib sokibnya pada dia pagi hari tadi, yang sama
sekali tidak merestui Indra menjadi tambatan hati Kenanga,
“Eh
Inga!, gila kamu !, cowok dekil kaya Indra nggak usah diberi kesempatan dekat
dengan kamu!” sahut Ririn dengan mata tajam seakan berhasrat menelanjangi
seluruh tubuh Kenanga,
“Kamu
nggak kasihan sama papi dan mama kamu ?. Aku pernah dengar langsung dari mama kamu!.
Kamu tidak bakalan sengsara di masa depan, bila Aldo yang menjadi pendamping
hidupmu. Kurang apa lagi dengan Aldo, cowok gaul dan juga smart, tidak kalah
sama Indra, cowok jadul yang hidup di bawah kolong”. Ucapan Beti yang meluncur
begitu saja dan masih kuat melekat di sanubari Kenanga.
“Anga
!, aku sudah lama kenal kamu mulai dari SMA dulu, cewek seusia kamu bukan lagi
ABG, yang cuma kenal cinta buta dan ingusan. Apa yang diharapkan dari Indra.
Piss Anga !, ini kan demi kamu, kita ini
bener bener sokib yang sayang sama kamu ”. Pinta Resti sambil
melilitkan tanganya di leher Kenanga dan tak lama kemudian Restipun mencium
kedua pipi Kenanga, yang mulai dibasahi air mata bening cewek kolokan ini.
Kini
Kenanga benar benar tersudut, himpitan dari sokib sokibnya menuai kabut hitam
dan tebal di langit hatinya. Silih berganti bayangan Indra dengan senyum yang
tulus, yang mengisyaratkan apapun nantinya mereka berdua mengalami goncangan hidup,
Indra akan tetap disampingnya. Namun lecutan suara sokib sokibnyapun tak lama
kemudian menghilang terbawa kerontangnya angin kemarau dan bayangan Indra kini mulai menepis butir butir awan
gelap.
“Mengapa ini terjadi kala
Indra mulai ada di hatiku ?” Kenanga dengan wajah yang lugu dan lebai, mulai
berani menatap sorot mata sokib sokibnya.
“Ya,
udahlah Anga !, semua adalah semata saran untukmu. Apapun pilihanmu kami tetap
menjadi sokibmu. Karena pertemuan dan perpisahan semata milik Yang Kuasa, hanya
saja kamu harus merelakan cinta kamu di atas semua yang akan kamu hadapi, kalau
memang kamu memilih Indra”.
***
Setiap
sudut Kota Semarang kini terlihat kumal diterkam kemarau panjang., sementara
Kenanga masih terus menyelesuri jalan aspal yang melentingkan sinar mentari
yang menerpanya. Satu dua buah berkas angin kemarau di tengah hari yang ingin
berselingkuh denganya mulai menerobos kaca jendela mobilnya. Berkas angin
itupun mulai mampu mendinginkan hatinya, yang mulai menggulirkan bayangan
Indra, yang kini seperti biasanya sehabis kuliah, cowok “The Ice Cool” itu nongkrong di “Buffalo Café “ di salah
satu sudut bundaran Simpang Lima Semarang.
“Tidak
langsung pulang, Anga ?” sapa manis Indra, yang kini telah ibarat terhisap
dalam kontes “Miss Universe 2011” di Brasilia beberapa bulan yang lalu, yang
kini mereka semua telah menjelma menjadi Kenanga yang kini duduk disampingnya.
“May
I joint ?“ Pinta Kenanga dengan tetap menghiaskan senyum di bibir. Tapi
apakah Kenanga biasa bersikap kaya gini dengan cowok lainnya, atau memang sikap
manis ini hanya untuk aku, ataukah karena aku yang GR, ataukah memang aku nggak
bisa bersikap dewasa atau memang aku yang nggak mampu menilai hati wanita.
Tetapi bagi Indra. langit biru yang
mengungkungi mereka berdua seakan mampu menelikung dirinya, agar tidak mampu
lagi bergerak menjauh dari tempat duduk Kenanga.
“Tentu,
tapi seperti inilah tempatnya. Namanya aja Buffalo Café , sudah pasti
kan Anga?, tempat ini cocok untuk nongkrong mahasiswa dekil dan norak”
“No
problem, Dra!. Biarkan saja dulu!, aku kongkow di sini karena aku butuh “enjoy n refresh”
“Please
Anga !, kamu mau pesan menu apa?, biar
aku yang tlaktir, tapi menunya hanya bakso dan nasi pecel. Paling kamu nggak suka
menu kaya gitu. Menu seperti ini hanya cocok untuk mahasiswa yang udik, dekil
dan nggak gaul”
“Ah,
canda kamu tendensius!, emangnya aku ini
putri kahyangan atau sengaja kamu ingin menjaga jarak denganku, Indra?’
“Kamu
kok jadi aneh!, Anga!, aku Cuma bercanda. Ada apa kamu jadi sensitif seperti
itu?”
“Biarin
!!!, apa salahnya kalau aku marah. Kamu mau ngomomg aku cewek kolokan kan ?,
Aku cewek yang hanya bisa gaul dengan sokib dari kalangan the have saja
kan ?, aku cewek putra kesayangan mama papa, kan ?. Indra!. Model gaul kaya
gitu sudah bukan jamanya lagi. Aku nggak suka kalau kamu norak kaya gitu!. Oke !!!,
Dra kalau kamu terganggu dengan kedatanganku, lebih baik aku pulang saja”
“Eh,
nanti dulu, Anga !. Sure dech, aku sama sekali nggak bermaksud norak
sama kamu. Malah aku enjoy kamu mau gabung ?. Pleasestaying
for a while Anga !”
“Ok
!!! Dra, tapi aku minta kamu jujur, mengapa sikap kamu norak kali ini?,
ucapanmu tajam menyakiti aku”. Sepasang mata Kenanga yang bulat dan tajam kini
menusuk Indra dan siap untuk membelah isi jantung Indra.
“Nggak
apa apa, Anga !, tadi cuma nylonong begitu saja”
“Aku
kenal kamu sudah lama sejak dari semester tiga, aku selalu enjoy dekat
kamu, tapi belum pernah aku lihat sikap kamu yang nggak familiar seperti ini.
Dra!, jujur saja sama aku ?, Aku ingat
kamu sering ngajarin aku tentang pentingnya nilai kejujuran”
“Kamu
tadi ngumpul bareng Resti, Beti dan Ririn di kantin kampuskan ?”
“Tahu
dari mana ?, dan apa hubungan dengan kamu?”
“Aku
lihat sendiri, tapi aku milih nggak gabung sama mereka. Sekarang gantian kamu
yang jujur sama aku, mereka nggak mau dan takut kan kalau kamu dekat aku?”
Kenanga
mulai menghisap es jeruk dalam gelas piala perlahan, dia baru sadar kalau tenggorokanya mulai kering, debu dan
deru dari asap knalpot kendaraan yang merebak di bundaran Simpang Lima mulai
sedikit menyesakan dadanya, lantaran hari sudah lewat tengah hari. Hanya
suasana diam seribu bahasa menyelimuti hati mereka berdua meski hanya sesaat.
“Kamu
tersinggung, Anga ?”
“Tidak,
Dra!!!. Hanya saja aku harus bilang apa. Mereka bertiga tidak tahu bahwa hati
manusia sudah semestinya dihiasi dengan kelembutan dan kepedulian antar sesama,
ibaratnya taman bunga warna warni, tempat burung burung berceria di pagi hari,
termasuk hati aku ini, yang bebas disemai bunga yang aku sukai”. Setetas air
mata Kenanga mulai membasahi pipinya.
“Itulah
yang aku takuti. Anga ?”
“Apa
yang kamu takuti?, aku melihat dalam diri kamu bukan anak manja, tak mudah
menyerah dan tegar. Berbeda dengan aku, Dra !”
“Tetapi dalam hal ini, aku seperti anak
kecil yang diliputi ketakutan dan kebimbangan”
“Sekali lagi aku jadi nggak ngerti, apa sih
yang yang kamu takuti ?”
“Aku takut kamu terpengaruh sokib sokibmu, dan
aku harus kehilangan kamu, karena perbedaan antara kita. Itulah yang aku akui
dengan jujur, aku seperti anak kecil”.
Indra
tidak henti hentinya melempar sorot mata ke arah Kenanga, lantaran Indra
menginginkan kejujuran Kenanga, tentang tempat yang dia harapkan di bilik
jantung Kenanga, Sehingga tiap pagi hari dia bisa bermandikan cahaya pelangi
hanya milik Kenanga.
“Indra
!, aku bukan anak kecil lagi, dan mama papaku tak pernah bersifat otoriter
terhadapku. Sudah bukan jamanya lagi kita dikungkung dengan aturan kolot. Aku nggak suka kalau kamu bersikap seperti
itu”
“Tapi realita berkata lain, papa kamu
menginginkan Aldo menjadi pendampingmu”
“Jangan
kecewakan aku Dra !, seakan kita baru kenal kemarin sore. Mana sikap dewasa , yang
selalu kau tunjukan padaku
“Tapi
masalahnya bukan seperti itu ?”
“Jadi
seperti apa ?”
“Ah,
aku sendiri nggak tahu “
“Jadi
harus aku yang menebak isi hatimu?. Jujur saja aku menilaimu, kamu sekarang
kehilangan percaya diri berada di sampingku kan?, Kamu membandingkan dirimu
sendiri dengan Aldo yang kamu anggap segalanya lebih baik darimu, iya kan ?.
Terus dimana Indra yang kata temen temen sekampus, termasuk mahasiswa yang
gigih, hingga hampir menyelesaikan studinya dengan perjuangan yang tegar. Apa
sih perbedaan antara kita ?”
Indra
melemparkan semua kekesalanya kepada rumput di bundaran Simpang Lima dan
mengajak mereka agar mampu menepiskan sisi hatinya yang mulai robek diterkam
rasa bimbang dan ketidakpercayaanya.
“Ternyata kamu Kenanga yang aku harapkan bisa
memberi spirit bagi aku, yang sering merasa terpingit karena keadaan, sukurlah
kalau kamu bisa dewasa”
“Aku
memang harus bisa tegar dan tanpa mengenal surut untuk tiap yang aku pilih,
itulah yang mama papa harapkan. Aku
harus bergelut dengan apa yang harus aku raih. Dan ini semua aku dapatkan dari kamu”
Angin
musim kemarau mulai meniupkan daun daun palma di seputar Simpang Lima, kedua
insan itu kini mulai dipinang oleh rasa percaya diri yang hinggap pada diri
mereka masing masing, dengan tetap mengusung sebuah kejujuran dari Kenanga dan
Indra serta garis takdir yang bakal mereka lalui di masa depan. Entahlah mereka
sendiri tidak tahu apa yang mesti terjadi pada diri mereka kelak, hanya saja
kini lampu lampu jalan di bundaran Simpang Lima sudah mulai mengeksotiskan
wajah Kota Semarang. Kini merekapun
tenggelam dalam lautan asmara, yang hanya mereka sendiri yang merasakan.
Prima memang telah kencan dengan Sandi untuk bertemu di ultah cewek gaul ini seminggu
yang lalu. Ucapan Prima memang telah membalut begitu kuat di
setiap denyut nadinya. Lantaran malam
ultah sang princess of heart-nya,
seakan langit
akan berkubang seribu warna kembang api.
Setiap barisan ombak di lautpun akan berhenti sejenak, air terjun akan berganti memberi senyum yang
indah, kepada semua yang memadu cintanya,
saat saat detik tanggal lahirnya.
“ Ntar kita akan mejeng di mana , San “
seru Prima dengan hati yang berharap
cemas agar malam ultah Sandi segera tiba. Mataharipun telah Prima beri pesan supaya berputar lebih cepat.
“ Nggak tahu . Aku lebih
merasa romantis bila kita nikmati malam ultahku
di Malioboro saja. Gimana Pram ?
” jawab Sandi, gadis manis yang telah menghanyutkan seluruh
nadi dan jantung Prima dalam samudra pesonanya.
Prima hanya diam sesaat, seribu
bunga warna jingga kini melintas di
sudut hati cowok ganteng ini, lantaran hadirnya Sandi.
Kekaguman Prima pada Sandi
ternyata lebih menghanyutkan ketimbang
yang lain. Primapun baru sadar
ketika Sandi menggayutkan tangan di punda
Prima.
”Kok diam saja sih Pram
!. Apa kamu masih ingin enjoy lagi dengan
Anyelir, cewekmu dulu yang
seindah bunga sorga, yang beribu kali lebih baik dari aku, Pram ? “ .
Primapun tersentak kaget, mendengar
Sandi merajuk seperti anak kecil, yang
penuh cemburu . Menggayutkan lagi masa-masa silam ketika dia masih memiliki
Anyelir , yang kini di LA mengikuti ortunya yang bertugas sebagai bos perusahaan swasta.
” Sandi, aku tidak mau kamu menyebut nama itu lagi
di depanku . Kamu miliku Sandi.
Aku sudah lupa sama Anyelir. Biar
kamu saja yang singgah di hatiku
. Tolonglah San ! ”
”Habis kamu
tadi nggak dengerin omonganku Pram, aku
lihat tatapan mata kamu kosong. Kayanya kamu
mbayangin malam bertabur bunga bersama Anyelir. Maafin aku ya Pram ?
” Sandi menyodorkan tangannya
dengan mata di balik kacamatanya menatap
sendu. Prima merasakan seluruh tubuh ini terbang ke angkasa. Ah Sandi kamu begitu penuh
pesona, semoga engkau tidak
berlalu , seperti Anyelir,
begitu bisik hatinya.
Primapun menyambut tangan Sandi dengan senyuman yang tergambar
dari hati ini yang terindah, Sandiipun
melempar senyum tipis dari
bibirnya yang lembut sembari mengulurkan tangan kirinya
juga untuk merapatkan tubuhnya ke arah
Prima. Dan kini dia merebahkan
kepalanya di dada.
Primapun membalasnya dengan
mengusap rambut Sandi yang harum.
Sesekali diciumnya rambut Sandi
sembari membisikan segumpal kata sayang.
” Pram ,
aku sering cemburu , jujur saja
sama aku ya , Pram ! . Anyelir jauh lebih segalanya darui aku kan Pram ? ”
” Ah. . . kamu ini ,
aku kan nggak mau kamu menyebut-nyebut
dia lagi ! ”
” Tapi , Pram. Kalau kamu emang
pengin terus dekat aku, kamu
harus bisa melupakan dia. Itulah yang aku pinta ”
” Lho, emangnya aku masih memburu
Anyelir. Biarkan dia bahagia di
LA. Dia nggak kurang satu apapun ! “
“ Kok kamu tahu
dia bahagia di LA , kamu kontak
dia ya ?, Kamu
masih pengin lagi bersama dia, gadis
cuakep, kaya, pande lagi ? “ Tutur Sandi sambil menyurutkan langkah menjauhi
Prima cowok yang dia anggap
segalanya, Meski telah banyak cowok ganteng
dan gaul yang naksir dia. Namun
hanya Prima Antariksa
aja yang membuat dia
menyerahkan sebilah hati
miliknya.
“ Udahlah
San, kamu jangan mancing – mancing aku
terus dong. Aku harus
ngomong gimana. Itu kan masa- masa lalu San
?, Sekarang yang ada hanya aku dan
kamu ! ”. Primapun tahu persis perangai cewek kolokan
ini. Maka Primapun
tak mau buang waktu lama, dia
segera duduk mendampingi
cewek gaul ini di sofa warna biru laut, yang
lagi marah nggak karuan arahnya, tapi setianya amit- amit nggak ada yang mampu
menandingi, meski kadang kadang masih
suka kaya anak ABG aja wataknya .
Justru saat seperti
inilah yang ditunggu Prima ,
karena dia bisa melihat alami wajah cewek kolokan ini. Maka
diapun lantas membiarkan Sandi
hanya menghabiskan malam mingggu ini
dengan wajah berselimut mendung kelabu,
yang penting dia bisa melihat wajah
ayu Sandi.
Malam
kini berselimut kebisuan karena rembulan
telah hampir menyentuh tengah langit,
pertanda malam semakin larut. Udara dingin
kini terasa sekali menusuk tulang mereka, lantaran memang dari pagi hujan
tiada henti.
Sepanjang
perjalanan pulang melewati jalan Kota
Semarang yang membisu di telan dinginya gerimis, Prima
masih saja terkungkung
dengan makian Sandi. Bukan lantaran
sakit hatinya tadi, namun karena Sandi mengajaknya untuk menghadirkan kembali
Anyelir yang berusaha dia kubur dalam – dalam.
Bersama dengan air gerimis yang terus menerpa kaca mobil Xenianya,
Prima kembali angannya ke dua
tahun silam. Ketika dia mencoba datang
ke rumah Anyelir di Ungaran, yang beberapa hari sebelumnya nggak ngasih
kabar. Namun rumah
itu telah kosong tiada
berpenghuni, hanya kerabat Anyelir
saja yang masih menunggu rumah itu.
”Jadi kamu yang
bernama Prima Antariksa ? “ . Jawab lelaki setengah baya
yang ternyata Pamannya Anyelir.
” Benar Om,
Aku mau bertemu Irna
Om ? ”
” Lho apa
kamu belum tahu ? “
“ Belum Om, Emangnya ada apa ? ”
” Om nggak berani ngomong, Mas.
Hanya surat ini yang Irna titipkan untukmu. Silakan kamu baca. ”
” Surat apaan Om ? ”
“ Nggak tahu aku, Mas Pram,
Irna nggak pesan apa – apa hanya
menitipkan surat ini ”
Jantung Prima
semakin berdegup keras, kedua
tangannya terasa bergetar kala membuka amplop itu.
Meski Prima nggak tahu perisi isi
suratnya, namun dia sudah mampu menduga apa yang
terjadi. Sebaris dua baris dia baca
surat itu hingga baris terakhir , Adakah
sisa hatiku yang mampu aku naungi untuk
menerima kenyataan ini, demikian bisik hati Prima yang kini hanya mampu duduk
di sudut kursi tamu rumah Anyelir yangh
mewah.
Bukankah
Anyelir seminggu yang lalu biasa –biasa saja sikapnya, tidak ada sepotong katapun ia luncurkan tentang rencana
kuliah di LA. Ataukah memang dia pandai
menyimpan rahasia, atau mungkin
saja dia telah menyembunyikan cowok lain
yang jauh lebih baik segalanya dari aku. Pertanyaan itu berulang silih bergani
datang dan pergi dari hati Prisma. Meski
perhatiannya kini hanya tertuju pada jalan aspal yang ada di depanya.
Primapun menjalankan mobilnya dengan
pelan, menyusuri jalan Ungaran Semarang yang padat.
Malam
tahun baru hampir tiba, Sandi udah nyiapin pakaina baru lengkap
dengan assesorinya. Kesempatan itu udah
dia bayangin, betapa mesra dan berkesan nantinya bermalam tahun baru di
Malioboro gabung dengan ABG fansnya dari seantero mana aja.
Terlebih lagi pada pesta nanti dia akan bareng dengan cowok yang
singgah di hatinya, yang gantengnya kaya Arjuna turun dari kahyangan. Sesekali dia ngebel Prima, sekedar curhat ingin segera
bermalam tahun baru di Malioboro.
Primapun tidak ingin melepaskan saat saat romantis
nanti, meski dia masih terpagut dengan
bayangan Anyelir yang memberinya janji
akan ke Indonesia, saat malam tahun baru
setahun lalu. Tapi nyatanya janji itu hanya terbawa angin liar entah ke mana, barangkali
kehidupan di negara Paman Sam telah memberikan segalanya. Prismapun telah mati-matian melupakan sekuat
tenaga, berniat mengubur kuat-kuat
kenangan bersama Anyelir.
Namun penantian kali ini telah pupus sudah setelah hadirnya
Sandi, cewek yang ayu, berkulit kuning
dan semampai tubuhnya., apalagi dengan pemanis kaca mata minusnya yang menambah
seribu pesona bagi dirinya. Namun sifat kolokannya yang belum bisa dihilangkan, tapi bagi
Prima hal ini tak pernah digubrisnya
” Prima , ada telepon ” seru mamanya
dari ruang tamu yang sempat membangunkan lamunannya, pergi ke negri awan bergandengan tangan
dengan Anyelir. Membagi suka bersama
sekaligus menambatkan gelora hati. Tanpa
menunggu lama kini dia sudah memegang gagang telepon rumah.
”
Met pagi Pram, kamu masih hapal suara
ini. Boleh aku bicara sama kamu Pram ? ” papar sebuah suara dari dalam gagang
telepon.
” Kenapa nggak, kamu kan
temanku yang dulu pernah aku kenal ”
” Betul, Pram ?. Apa dari hatimu yang tulus ?, aku jauh – jauh dari LA sengaja ke sini hanya
untuk ketemu kamu Pram, Meski aku jauh dari Indonesia, namun bayangan kamu
tetap hadir di hatiku Pram. Aku kangen
sama kamu, boleh aku ketemu, kamu Pram ?
” .
”Tentu, Ir . Sekarang posisimu ada dimana ?, kalau udah di
Semarang biar aku jemput saja. Kebetulan hari ini aku nggak ada acara, ” pinta Prima
yang masih memiliki perhatian
yang lembut kepada cewek yang pernah fade-away sama dia
dengan hanya selembar surat
”Biar aku naik taksi aja , makasih sebelumnya Pram, kamu
emang cowok yang penuh perhatian dan lembut. Aku tahu persis dirimu lho
Pram, aku belum pernah ketemu cowok kaya
kamu, betul lho Pram aku ngomong sebenarnya ” seru Anyelir dengan suara
yang patah-patah lantaran barangkali ucapan itu emang keluar dari hati yang
paling dalam.
”Makasih banget yang kamu ucapin tadi, ya udah gampang nanti
kita bicara di rumah
Sekarang aku tunggu di rumah
ya, ”
” Betul
ya Pram , jangan pergi, jangan
menghindar Pram Aku serius ingin ketemu
kamu ”
” Sifat
kaya gitu nggak bakalan ada di hatiku, udah ya tutup aja telepon ini, aku
tunggu kamu di rumah. Met ketemu lagi ya
Ir ”. Prima segera menutup telepon itu,
Lantaran jantungnya berdegup keras, sekeras duat ahun lalu kala Anyelir
meninggalkan dia tanpa pesan.
Kegalauan hatinya ini bukan
karena pertemuannya nanti dengan Anyelir, namun Prmapun tahu acara dengan Sandi
bakalan kacau, padahal dia sudah
memberikan janji ama Sandi bakalan ngasih happy birthday di Malioboro malam nanti dan mestinya saat ini juga dia harus berangkat menjemput
cewek kolokan itu. Apa jadinya bila
dia ngaak nepatin janjinya itu, bisa-biasa terjadi kiamat 2012. Makanya
kini Primapun harus jujur berkata apa adanya terhadap Anyelir, meski
diapun tahu bakalan membuat luka hati
Anyelir.
Pintu belakang taksi kini
terbuka sudah, tak lama keluarlah Anyelir bersama Madam Ivon temen Anyelir dari Paman Sam. Kedua remaja inipun kini berpelukan kaya
dalam akting sinetron.
”Met ketemu
lagi Irna, silakan masuk saja ”.
Kedua remaja itu lama berpelukan, terutama Anyelir yang lama baru bisa
melepas pelukan itu, lantaran seribu
rasa kangen yang lama menggumpal di dalam hatinya.
Kini
hanya mereka berdua yang ada di berabda depan rumah Prima. Sementara itu Madam
Ivon lagi tenggelam asyik bersama-sama dengan Mama dan Papanya Prima lagi punya acara sendiri ke Bandungan.
” Kamu
tambah kurus Pram, Ayo dong enjoy.
Sambut aku yang dari jauh dengan ceriamu dong.
Mana Prima yang dulu amat mesra
dan lembut itu, ayo dong ? ” . Anyelir
sengaja merapatkan duduknya di samping Prima.
Namun cowok ganteng itu memang udah nggak kaya dulu lagi.
Lantaran janji Anyelir yang hanya di bibir saja.
” Ah biasa aja kok Ir, emang
beginilah tampang Prima, sedari dulu juga emang kaya gini, cowok yang
nggak punya apa-apa , hanya bisa menerima janji-janji doang “ .
”Aku tahu hatimu Pram, aku memang bersalah meninggalkan kamu setega
itu. Namun apa dayaku Pram melawan kemauan
Papa dan Mama. Papa ditugaskan ke
LA oleh
Om William untuk memimpin perusahaannya di sana. Sedangkan aku diminta papa untuk
kuliah di sana. Emang saat itu aku kalut
sekali Pram . Apalah aku ini bila nggak dekat kamu ” Terlihat Anyelir sudah basah matanya menahan
kegalauan hatinya.
” Aku juga nggak tahu harus bagaimana saat itu, Seharusnya
kamu bisa sms atau kirim email sama aku, Seberapa beratnya sih kirim sms
apa email ?. Sehingga aku jadi tahu apa arti semua ini ”
” Maksud kamu gimana Pram ? ”
” Seandainya aku harus menunggu kamu
sampai kamu balik ke Indonesia,
sampai studi kamu berhasil akupun sanggup menunggu,. Tapi ya udahlah Ir.
Kamu udah menentukan demikian ya udah ”
Kini
hanya terlihat mata dan pipiAnyelir yang
basah penuh air mata, demikian
juga hati Prima yang masih merasakan
perih lantaran sembilu cinta telah
mencabik hatinya. Anyelirpun tidak mampu berbuat apa lagi, kini hanya pelukan mesra kepada
cowok yang dikhianatinya sekaligus diharapkan cintanya lagi. Lama Anyelir
berada di pelukan Prima, sehingga
pipi Prima kini hanya dipenuhi air mata Anyelir. Setelah kembali Anyelir menemukan
hatinya lagi, maka dilepaskanya pelukannya itu, sementara
Primapun masih terlihat diam membujur.
” Inilah lemahnya seorang wanita ,
apalagi menghadapi papa yang sikapnya keras ”
” Emangnya kamu diapain ? ”
” Papa dan Mama minta aku untuk
hidup bersama dengan Om Chandra, bawahan Papa yang juga ngikut kita ke
LA. Meskpun dia tak kurang suatu apapun,
namun hanya kamu yang singgah di hatiku hingga kini,
Pram ! ”
” Kasihan dia dong kamu tinggalkan , jangan sakiti dia seperti kamu
nyakiti aku dulu, Ir ”
” Teganya kamu bilang begitu Pram. Apa dah nggak ada lagi hatimu ? ”
” Aku juga tahu perasaanmu Ir, tapi kamu juga harus tahu betapa
goncangnya diriku saat kamu tinggalkan, berhari-hari tak secuil nasipun masuk
ke prutku, hingga aku sakit Sejak kita
duduk di bangku SMP kita sudah saling dekat.
Tujuh tahun kita selalu
bersama, tapi kamu tinggalkan begitu saja, hanya selembar surat perpisahan yang
kamu pinta sendiri. Sampai mama dan papa
membawaku kerumah sakit agar aku sembuh, Saat itu datanglah Sandi yang
mendampingiku, aku tahu dah lama dia ingin dekat aku, tapi aku selalu milih
kamu ”
Terdengar
isak tangis memenuhi ruang beranda itu
yang kini dipagut kisah cinta dua remaja yang
saling harus mengerti arti saling memahami satu sama lain. Keduanya kini
hanya terdiam , masing-masing kini dililit lamunan yang membawa mereka ke angan masing-masing.
”
Pram, ajak aku kemana aja untuk ber-happy
ending bareng kamu, sebelum aku balik ke Jakarta. Barangkali ini
untuk perpisahan kita. Kan dua tahun lalu aku nggak sempat ngucapin perpisahan
sama kamu. Kamu mau kan ?, kamu masih seperti Pram yang dulu kan ? ” Pinta Anyelir dengan mata sayu seakan meminta Prima
menuruti kemauannya.
”Aku memang Prima yang masih
seperti dulu, sahabatmu. Tapi aku nggak mau meluikai hati dia.
Sekarang nggak ada lagi yang aku miliki
selain dia. Maafin aku ya
Ir. Sungguh berat memang yang namanya
perpisahan, tapi aku harus gimana lagi ?. Kamu cantik lho Ir, aku yakin kamu
akan mudah mencari penggantiku
’Aku
., ya udah Pram. Semoga Tuhan
Mempertemukan aku lagi, Boleh aku mengajukan permintaan Pram ? ”
” Akukan sahabatmu, kenapa enggak ”
”Aku akan mengucapkan met ultah
untukmu diamanapun aku berada, sebagai
penebus atas kesalahan aku sama kamu. Dan sebuah pertemuan yang indah
untuku. Meski engkau telah bersanding
dengan Sandi, aku tak perduli. Bolehkah
Pram ? ”
” Tentu saja Ir, akupun akan
selalu menunjungimu dimanapun kamu berada bila nanti aku ke Jakarta, Asal kamu
tetap memberiku alamat ”
Kedua
remaja itupun kini kembali berpelukan
entah untuk yang terakhir kali. Yang jelas dalam hati kedua remaja tersebut sebenarnya
masih ada benih cinta, namun karena kedua saling
menyayangi dan saling mambahagiakan, maka merekapun kini saling mengambil jalan
sendiri-sendiri..
Malam di Kota
Semarang kini menjadi saksi
terjalinya benih cinta antar Sandi dan
Prima. Meski kedatangan Prima ke rumah Sandi terlambat, namun Sandipun menerima
alasan demi mereka berdua. Kini mereka bermandikan cahaya warna-warni kembang
api tahun baru.
Ariel hanya mencoba menyelipkan
apa yang terasa lembut di tiap sudut hatinya, kala dia berusaha sekuat hati mengendapkan
semua keresahan yang terus
saja bergayut di hati yang telah lama terbujur kaku. Arielpun kadang hanya bisa
berkaca pada seberkas hidup yang dia tapaki, waktu demi waktu hingga datanglah Isabella yang hanya
meninggalkan entah kebisuan dan Arielpun
mencoba menggambar dalam kanvas hatinya itu.
Warna merah jambu yang dia torehkan pada kanvas pergulatan hatinya, kala
dia menunggu Isabella, yang bersayap
lembut dan seringkali menengok langit kehidupannya, mampukah dia menelikung
sayapnya untuk sekedar mengarungi pohon palma yang berdiri tegak kala pagi hari.
Kala biru kanvas hatinya dibarengi dengan nyanyi burung kenari di beranda
hidupnya.
Isabellapun hanya menguraikan
rambut yang harum ke tiap nafas Ariel yang tidak tahu entah memburu ketidak
pastian. Namun hati yang telah tajam menyelinap di tengah hati yang lagi
menyabung cintapun, tiada mungkin untuk dibiarkan sendiri di sudut ruang
hidupnya. Isabella kemanakah kamu,
biarlah aku temui kamu dengan keranjang bunga bermandi sinar mentari dan
harum kembang setaman.
Suara pagi hari yang dihiasi
nyanyian alam membangunkan mimpinya, maka Arielpun bergegas untuk menjemput
hidupnya, yang kadang menakutkan bagai
raksasa yang gampang saja menelikung segalanya. Atau hidup yang dia miliki
kadang menjelma menjadi putri salju mirip malaikat yang akan menebarkan keindahan
di hadapan Ariel. Maka di pagi inipun bergegas menyongsong hidupnya.
Lambat tapi terus memburu waktu, sepeda motor butut milik Ariel dipacunya menembus jalan – jalan Kota Semarang yang masih basah
diguyur hujan semalam. Pagi itu udara masih terasa
menyengat tulang, karena telah empat hari hujan tiada henti, Sesekali Ariel
menggigil kedinginan bila terasa
hembusan angin menerpa kulitnya, meski jaket kulit lusuh selalu membalut tubuhnya. Angannya selalu
saja melekat kuat akan Bella , kini Bandara Achmad Yani sudah
nampak di depannya. Degupan jantung ini makin terasa, seaka Bella sudah di depanya mengulurkan
kedua tangannya, menaburkan segala kelembutan. Layaknya bunga warna –
warni yang dia sendiri sangat menantinya.
Tanpa seorang temanpun dia duduk di kursi
tunggu, hanya sebatang rokok filter yang melekat di mulutnya. Dihisapnya perlahan – lahan
sekedar untuk mengusir rasa
bosan. Kembali sebatang rokok
yang sudah setengah mengalunkan lamunannya, tentang masa hampir
tiga tahun lalu sejak masih dia di SMA, kala Bella dan dia selalu bareng di kelas XI. Pandangan mata Bella kala menusuk jantungnya
yang hanya berdegup tiada daya. Namun yang memiliki mata indah itu hanyalah sosok dingin yang nggak pernah
peduli pada hati Ariel yang membara.
Tap apa mau di kata, Bella
adalah kembang wangi milik semua teman sekolahnya, berbagai kumbang jalang
berhasil mendekatinya, namun entahlah
Ariel selalu saja menempatkan Isabella di relung hatinya. Namun
Isabella tiada pernah satu kalipun menengok hatinya yang kadang hampir layu karena
kepurtus asaan, namun Arelpun tahu bahwa
seberkas hidupun pada dasarnya adalah penantian panjang untuk meraih
segalanya. Jantung yang saat itu
disemayamkan pada harap dan asa, kini berdegup keras seakan hampir lepas, ketika Announcer memberitahukan sebentar lagi
pesawat dari Jakarta akan mendarat. Dihabiskan rokok yang sudah nyampe batas filternya, lalu dibuang ke
tempat sampah.
Kini Isabella sudah berjalan mendekati ruang tunggu. Ariel segera melempar senyum dengan
harapan sebuah kejutan untuk
Isabella tidak membuatnya marah.
Bellapun segera menyunggingkan senyum heran dengan temen lamanya ini yang rada bengal, yang
sering dihukum guru-guru mereka,
lantaran Ariel yang norak sikapnya,
kini Ariel sudah di depanya penuh
misteri.
”Biar aku bawakan tasmu, Bel ”
pinta Arielpun memberanikan diri layaknya Don Juan yang sedang merayu bidadari.
” Makasih, Ril. Kok kamu ada di sini ? ” Bella melontarkan
keheranan akan kedatangan Ariel yang entah tahu dari mana.
”Semalam aku main ke rumahmu, dan tahu dari Rima, kamu bakal pulang hari ini dari Jakarta ”. Sengaja Ariel ceritakan kedatangnya
semoga di hati Bella terbesit sedikit goresan hati untuknya.
”
Lalu kamu mau njemput siapa Ril ”
” Ya jelas njemput kamu Bell,. Aku kasihan sama kamu. Irma
cerita semalam Papi dan Mamimu sedang ke Bandung. Jadi...Boleh kan aku jemput kamu ”
”Ah , kenapa sih Ril kamu repot-repot. Aku cuma kasihan sama kamu,
sepagi ini kamu udah nyampe sini. Oke Ril
aku tak nyari taksi. ”
” Nggak usah lah Bel, aku bawa motor kok ”
” Tapi bawaan aku banyak Ril ”
” Gak masalah Bel, biar
aku yang mbawa aja ! ”
” Aduh Arielku kamu kok baik
banget sih ”
” Kan demi
kamu, Bel ” Ariel harap – harap cemas
” Sejak
kapan sih kamu genit kaya gitu, Ril ”
Keduanya kini telah melaju di jalan Kota Semarang,
menembus sinar mentari yang kini mulai
menguning. Sehangat hati Ariel yang baru kali ini bsa mengenal lebih dekat Bella, meski hanya pada tepi hatinya sendiri, sementara Bella biarlah terbawa angannya sendiri. Kala Ariel memang harus menitipkan hatinya
pada Bella yang sudah lama bersemayam di sudut hatinya, Arielpun
akan lebih realitis lagi dalam mendekati Bella. Namun Arielpun masih saja senang berada di balik
mendung hatinya.
Karena seberkas cinta yang akan
dia sodorkan kepada Bella, adalah
sesuatu yang paling berharga,
adalah juga sesuatu yang harus mampu menghantarkan Ariel pada makna hidup. Lamunan itu
kembali terjaga kala Bella memintanya
mampir di warung bakso di depan
Kolam Renag Jati Diri, untuk
sekedar mengisi perutnya.
” Kamu sekarang kerja apa kuliah Ril ” .
Bella masih asik menyantap
baksonya, sementara senyuman
tipis kembali menghias wajah ayu boneka
Berby. Arielpun kembali menemui
telaga tempat menampung air pagi hari yang mampu menyejukan
hatinya.
” Aku sekarang menjadi reporter Majalah Remaja dan sore
hari aku kuliah di Hubungan Internasional ”
” Ah . . . keren dong kamu
sekarang Ril ”
” Keren apanya kan masih keren kamu dong Bell ”
” Akukan hanya bisa kuliah dari biaya
Papi, kalau kamu kan dah bisa nyari
doku. Keren dong Ril ”
” Kamu coba aja Bell, ngikut casting, aku bisa nyariin producer
yang sip, Bel. Kamu cantik kok ” Aril tidak tau mengapa pujian kepada Bella
terlontar begitu saja. Bukankah selama ini dia menunggu kesempatan ini.
Bella hanya menundukan wajahnya, warna merah jambu
terlihat di kedua pipinya, semenatara sesekali dia memandang cowok ganteng yang
misterius di depanya. Cowok ini yang
sudah bertyahun dikenalnya, namun terlihat seperti gunung es.
”
Jadi kamu biasa dong Ril, gaul sama
cewek cuakep ”
” Hampir tiap minggu aku ketemu sebritis,
untuk wawancara di Jakarta ”
” Mereka cantik – cantik Ril ? ”
” Ah biasa aja, cantik dan nggak kan ada di dalam sini Bell.
Bagi mereka yang hanya melihat dari media bisa menaksir
kecantikan mereka, tetapi kalau udah
dekat , ya biasa aja. Apa sih beda mereka dengan kita ” Ah . . bodo kamu Ril,
masa nggak mau punya pacar selebritis ”
” Mereka yang bodo, kenapa mereka mau sama aku. Siapa sih sebritis yang mau sama reporter amatiran ”
” Jangan gitu dong Ril, siapa tahu
ada yang mau sama kamu ”
”Aku tiap minggu meliput kisah kebobrokan mereka, kehidupan mereka memang penuh dengan sensasi,
itu aja yang dibutuhkan mereka, nggak
usah aja lah Bel punya pacar selibritis.
Mendingin aku pilih yang biasa saja. Lalu
kamu di Jakarta ngapain, Bel ? ”
” Cuma molor dan main – main aja, aku nggak tahu mau kuliah di mana. Papi mintanya aku ke Amerika untuk kuliah di sana. Tapi aku lebih
milih Indonesia, aku masih pingin kumpul ama temen-temen ”
” Kenapa Aldo nggak njemput kamu Bel ”. Bella sejenak terdiam dari
matanya terlihat kabut tpis air mata kesedihan. Pertanda sesuatu telah terjadi dengan mereka berdua, yang tahun lalu dinobatkan sekolah
sebagai siswa siswi teladan
”
Bel, maafin aku ya . sungguh aku nggak
tahu. Aku nggak sengaja nanya kamu kaya gitu ”
” OK is all right, dia memang
cowok yang belum dewasa Ril nggak kaya kamu
”
Ya sudah Bell, nggajk usah kamu pikirkan, kan masih banyak cowok yang naksir
kamu, Kamu cantik Bell ”.
Untuk yang keberapa kali Bella
menghiasi wajahnya dengan senyuman tipisnya, kelihatan jelas hidung yang
mancung, kulit wajah yang bersih dan mata yang menatap Aril dengan sendu.
Arilpun kini tlah tahu bahwa seberkas cinta Isabella mulai tertanam dan
menggores hatinya.
”Aku mnta kamu jangan seperti Aldo, yang gampang mempermainkan cewek, Aku nggak
ngira segitu gampangnya, kasihan nanti cewekmu Ril ”
” Sudahlah Bel, kan masih
ada banyak kesempatan buat kamu
untuk menggapai masa depan ”
”Aku sudah bisa melupakan
dia, meskipun banyak cowok
yang ndekati aku, tapi aku nggak mau cowok modal kaya Aldo ”
” Sekarang udah siang kita
pulang dulu Bell, kamu kangen sama
Papi dan Mami kan ? ”. Issabela hanya
menggangguk kecil, berdua kinipun melaju menuju rumah Bella menembus debu dan panasnya kota
Semarang. Sebuah keceriaan baru
bagi Ariel kini terpagut di sisi
hatinya, dan sebuah harapan
baru yang diberikan Issabella
kinipun mulai singgah dihatinya. Namun Arilpun
belum bisa menemukan kata pasti.
”Bell, kita kemana
sekarang, kebetulan ada temu penulis cerpen di kantorku,
mau nglihat ? ”. Di sautu malam merekapun bertemu kembali lantaran sudah
akrab antara mereka berdua
” Ah nggak dulu Ril, aku lagi pengin di rumah, kamu nggak apa –
apa kan ? ”
” Nggak apa – apa, kebetulan
aku nggak megang liputan
sastra dan budaya ”
” Bener Ril, kamu nggak marah kan ? ”
” Ngapain marah, aku sekarang kan lagi
bersanding dengan sang ratu yang cantik
turun dari kayangan
” Kaya anak kecil aja, kan masih
lebih cantik selebritis yang kamu liput ”
” Nggak Bel kamu yang paling cantik, aku pengen dekat sama kamu terus ”
Bella hanya menatap Ariel sendu,
seberkas senyuman kembali tersungging di bibirnya. Kini Bella memegang
tangan Ariel dengan lembut,
pertanda goresan cinta telah
bertaut pada dua insan manusia